How I Spend My Money in Japan

I’ve been asked slightly similar questions about how I ended up in Kyoto. Pertama, pertanyaan tentang pakai beasiswa apa di Kyoto. Kedua, setelah saya jawab pakai beasiswa apa, dilanjutkan beberapa pertanyaan seperti; lebih besar beasiswanya dari LPDP? Ada tunjangan anak-istri? Cukup beasiswanya untuk kebutuhan sehari-hari?

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan seperti itu, but I feel urge to clarify why and how. Cukup tergelitik ketika ditanya mengapa akhirnya saya memutuskan ambil beasiswa ini alih-alih beasiswa yang lain-lain. Unfortunately, I won’t cover the reasonings through this writing, instead of explaining how I spent the given funds.

Saat ini saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang untuk menyelesaikan studi master di Graduate School of Economics, Universitas Kyoto. Beasiswa yang saya dapatkan secara umum meliputi: tiket pesawat pergi (dan pulang setelah lulus), 100% SPP yang langsung dibayarkan ke pihak universitas, dan biaya hidup. Here I’d like to note that the latest, the living cost, is the allowance given for supporting my life, except my life-style because those are two distinctive things.

Continue reading

Advertisements
Categories: Campur-Campur, Jepang | Tags: , , , , | Leave a comment

Certificate of Eligibility:Surat Sakti Membawa Keluarga Tinggal di Jepang

IMG_5769.JPGButuh usaha ekstra melanjutkan ke luar negeri namun dalam kondisi sudah berkeluarga. Banyak pertimbangan seperti situasi negara tujuan, jarak, serta kemungkinan mendapatkan beasiswa. Mungkin, Jepang salah satu negara di luar Indonesia yang tidak memberlakukan persyaratan terlalu tinggi kepada mahasiswa asing yang akan belajar di sini. Sebab, di negara lain meminta uang jaminan yang sangat banyak untuk membawa keluarga sebagai dependent. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya membawa serta keluarga ke Jepang, lebih tepatnya ke Kota Kyoto.

Sebelum berangkat ke Kyoto pada akhir September 2017, saya sudah mencari banyak informasi mengenai memboyong keluarga ke Jepang. Persyaratan utama yang harus segera diurus adalah CoE, Certificate of Eligibility, yang menjadi ‘surat sakti’ mendapatkan visa dependent (visa untuk keluarga tinggal di Jepang). Dari beberapa cerita yang saya baca, salah duanya adalah blog ini saya menyimpulkan ada beberapa cara yang dapat dilakukan:

Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , | 2 Comments

Nagoya Castle: Kastil Megah Lintas Zaman

IMG_3747

Video Nagoya Castle

Salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat pergi ke Nagoya, tentu saja adalah Nagoya Castle. Buka setiap hari mulai pukul sembilan pagi hingga setengah lima sore, pengunjung hanya dikenakan biaya masuk sebesar 500 yen saja atau setara enam puluh ribu rupiah. Setelah membeli tiket, pengunjung masuk melalui gerbang utama, Nishinomaru Enokida.

 

Dibangun pada zaman Edo sekitar awal abad ketujuh belas, kastil ini dulunya merupakan kastil utama yang menghubungkan dua jalur perdagangan, Tokaido dan Kansendo. Setelah memasuki gerbang utama, pengunjung melewati jalur hitsuji-saru di sisi barat laut kastil. Jika beruntung, di perjalanan ada pertunjukkan ninja yang bisa diajak foto bersama. Meskipun pernah direstorasi beberapa kali, bangunan yang terlihat hingga sekarang tetap mempertahankan penggunaan batu granit dan kayu sebagai material utama.

 
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , | Leave a comment

Menjadi Mahasiswa Universitas Kyoto: From Scratch to Catch! (2\2)

IMG_20171008_090237_419

source: instagram.com/heruekoprast

Tahap 3 – Wawancara Skype

Setelah mendapatkan persetujuan dari calon sensei, pihak fakultas kemudian memberikan jadwal wawancara Skype. Kali ini, saya berhadapan dengan empat penguji sekaligus. Jujur saja, ini merupakan kali pertama bagi saya untuk wawancara via internet. Saya coba mencari info sebanyak-banyaknya tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama melakukan wawancara.

Dari beberapa website dan youtube yang saya cari dengan kata kunci “how to make successful skype interview, saya memahami beberapa poin penting. Pertama, adalah kuasai materi yang akan disampaikan dan tidak terlalu bertele-tele dalam memperkenalkan diri. Dengan waktu yang sangat terbatas, kurang lebih 30-45 menit, saya harus bisa menyampaikan maksud proposal riset yang ingin saya kerjakan dan juga alasan logis saya mendaftar program tersebut. Kedua, gunakan pakaian yang sesuai, tidak harus berkemeja dan berdasi lengkap dengan jas. Pakaian yang sesuai dengan identitas akan lebih nyaman digunakan untuk menghadapi situasi yang tak terduga selama wawancara.

Bagian berikutnya adalah memastikan suasana ruangan tempat kita wawancara adalah tempat yang nyaman, tenang, dan bebas gangguan. Jika ingin melakukannya di kamar, pastikan mengambil titik dengan latar belakang yang minimalis (misal tidak terlihat pakaian, poster, dan hiasan dinding yang berlebihan). Hal ini secara tidak langsung dapat menunjukkan tingkat keprofesionalitasan. Dan terakhir, yang tidak kalah penting adalah koneksi internet yang dipakai untuk wawancara. Mengusahakan tempat dengan jaringan internet yang bagus dan stabil merupakan sebuah keharusan.

Beberapa hari sebelum wawancara yang sebenernya, staf fakultas meminta saya untuk melakukan tes skype. Hal ini bertujuan untuk mengobservasi apakah tempat yang akan saya gunakan cukup representatif untuk melakukan tes. Tempat yang saya pilih saat itu adalah kos-an ber-wifi tempat teman saya tinggal. Setelah cek ricek sekitar lima menit diputuskan itu lokasi yang baik. Sebelumnya saya sudah mencoba menggunakan warnet VIP. Jaringan dan gambarnya sangat bagus, sayang agak berisik karena ada latar musik operator yang terdengar dari kejauhan.

Continue reading

Categories: Campur-Campur | Tags: , , | Leave a comment

Menjadi Mahasiswa Universitas Kyoto: From Scratch to Catch! (1\2)

Gerbang Universitas Kyoto

Gerbang Universitas Kyoto (self credit)

Nanakarobi yaoki, pepatah Jepang yang berarti “jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali”. Tidak peduli berapa kali pun saya terjatuh, ada proses bangkit yang lebih menyakitkan tetapi membuahkan hasil yang cukup manis. Dinyatakan DO alias drop out  dari kampus kedinasan tahun 2009 silam mungkin salah satu kegagalan yang selalu saya ingat. Ada juga cerita batal berangkat ke Kanada mewakili propinsi untuk sesuatu yang saya masih belum paham hingga sekarang dan masih banyak cerita lainnya. The point is how to start again from scratch, instead of falling to pieces then stop.

Of course I’m not gonna telling you about the detailed timeline of me being failed. Kali ini saya mencoba menuliskan pengalaman saya mendaftar kuliah di Universitas Kyoto (Kyodai), which indeed one of  the very top universities worldwide. Terhitung pertanggal 2 Oktober 2017, saya resmi menyandang status sebagai mahasiswa master di Graduate School of Economics. Lebih spesifik saya mengambil jurusan East Asia Program Economic Sustaianble Development.

Akhir 2015 saya sudah pernah berangkat ke Kyoto untuk mengikuti winter course di tempat yang sama selama dua bulan. It’s my first time experiencing winter and touching snow by the way. Program ini merupakan program kerjasama antara Kyodai dan UGM dimana saat itu saya sedang menjalani semester tiga di Magister Sains Akuntansi FEB UGM. I was completely blank about the course I wished to take for program. Hingga hampir masa dua bulan tersebut selesai, saya menyadari sesuatu yang baru dan berbeda dari keilmuan akuntansi yang saya pelajari selama hampir 7 tahun. Segera setelah kembali dari program short course itu, saya menyelesaikan tesis dan berharap bisa kembali lagi menjadi mahasiswa reguler di Kyodai.

Continue reading

Categories: Campur-Campur | Tags: , , | 1 Comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: