Menjadi Mahasiswa Universitas Kyoto: From Scratch to Catch! (2\2)

IMG_20171008_090237_419

source: instagram.com/heruekoprast

Tahap 3 – Wawancara Skype

Setelah mendapatkan persetujuan dari calon sensei, pihak fakultas kemudian memberikan jadwal wawancara Skype. Kali ini, saya berhadapan dengan empat penguji sekaligus. Jujur saja, ini merupakan kali pertama bagi saya untuk wawancara via internet. Saya coba mencari info sebanyak-banyaknya tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama melakukan wawancara.

Dari beberapa website dan youtube yang saya cari dengan kata kunci “how to make successful skype interview, saya memahami beberapa poin penting. Pertama, adalah kuasai materi yang akan disampaikan dan tidak terlalu bertele-tele dalam memperkenalkan diri. Dengan waktu yang sangat terbatas, kurang lebih 30-45 menit, saya harus bisa menyampaikan maksud proposal riset yang ingin saya kerjakan dan juga alasan logis saya mendaftar program tersebut. Kedua, gunakan pakaian yang sesuai, tidak harus berkemeja dan berdasi lengkap dengan jas. Pakaian yang sesuai dengan identitas akan lebih nyaman digunakan untuk menghadapi situasi yang tak terduga selama wawancara.

Bagian berikutnya adalah memastikan suasana ruangan tempat kita wawancara adalah tempat yang nyaman, tenang, dan bebas gangguan. Jika ingin melakukannya di kamar, pastikan mengambil titik dengan latar belakang yang minimalis (misal tidak terlihat pakaian, poster, dan hiasan dinding yang berlebihan). Hal ini secara tidak langsung dapat menunjukkan tingkat keprofesionalitasan. Dan terakhir, yang tidak kalah penting adalah koneksi internet yang dipakai untuk wawancara. Mengusahakan tempat dengan jaringan internet yang bagus dan stabil merupakan sebuah keharusan.

Beberapa hari sebelum wawancara yang sebenernya, staf fakultas meminta saya untuk melakukan tes skype. Hal ini bertujuan untuk mengobservasi apakah tempat yang akan saya gunakan cukup representatif untuk melakukan tes. Tempat yang saya pilih saat itu adalah kos-an ber-wifi tempat teman saya tinggal. Setelah cek ricek sekitar lima menit diputuskan itu lokasi yang baik. Sebelumnya saya sudah mencoba menggunakan warnet VIP. Jaringan dan gambarnya sangat bagus, sayang agak berisik karena ada latar musik operator yang terdengar dari kejauhan.

And finally that was the day! Saya mendapatkan jadwal wawancara pukul 17 waktu Kyoto (JST) atau pukul 15 WIB. Saya mempersiapkan segala hal termasuk menempel banyak contekan di tembok di belakang layar laptop untuk jaga-jaga kalau saya lupa materinya.

Pukul 15.00 tepat Skype saya berbunyi, kali ini staf fakultas yang mengecek kesiapan saya Indonesia. Empat orang penguji sudah siap menanti di sebrang sana. Setelah lima menit persiapan wawancara, saya diminta untuk memperkenalkan diri secara singkat, nomor peserta, dan tujuan saya mendaftar program ini. Bagian berikutnya mengalir begitu saja dengan pertanyaan semacam apa yang pernah, sedang, dan ingin saya pelajari. Bagian berikutnya, pertanyaan lebih spesifik mengenai proposal riset. Saya berlatar belakang akuntansi, sensei berlatar belakang manajemen, dan topik yang saya ajukan sangat ekonomi. Jadi beberapa kali saya mengalami kegagapan menjawab beberapa pertanyaan yang belum saya kuasi betul.

Sometimes, accident did happen. Sekitar 13 menit wawancara berlangsung tiba-tiba laptop saya mengalami malfunction alias crashed alias ngadat sehingga koneksi terputus. Saya panik seketika berusaha menyalakang ulang laptop. Laptop sempat menyala 10 menit sampai dia hang  lagi untuk kedua kalinya. Saya semakin panik dan tidak punya ide apa-apa menghadapi wawancara yang nyaris gagal. Laptop teman saya pun tidak mendukung untuk melakukan video Skype. Saya paksa menggunakan laptop hingga ngadat ketiga kalinya. Beruntung ada seorang teman yang memiliki Iphone dengan program Skype di dalamnya. Seketika saya meminjam gawainya untuk meneruskan wawancara yang terputus. This is the last chance so I had to make it perfectly done!

Tidak semua bisa saya jawab, atau lebih tepat bisa saya jawab dengan baik. Tetapi pertanyaan terakhir mengenai apakah saya tetap ingin belajar disana jika tidak dinominasikan untuk beasiswa MEXT membuat saya menghela napas sejenak. This is the time to NEVER SAY NEVER.  Dengan singkat saya menjawab “Bagi saya yang penting adalah dapat bersekolah tentu saja akan sangat membantu jika saya mendapatkan beasiswanya. Tapi saya yakin ada banyak cara untuk itu”. Jawaban yang sangat retoris ya? Hehehe. Sampai wawancara berakhir dengan seribu permintaan maaf atas kejadian hari itu selesai, saya tidak pernah tahu apakah nama saya akan masuk daftar yang diterima.

Tahap 4 – Pengumuman

IMG_2748.jpgPengumuman itu seharusnya datang tanggal 13 Februari 2017. Tetapi di suatu Rabu pagi pukul 10 tanggal 8 Februari 2017, sebuah pemberitahuan dengan subyek [046: Kyoto University: Materials preparation for MEXT Scholarship] masuk ke email saya. Saya baca isinya dengan seksama untuk mencermati informasi yang baru diterima. Isi email itu kurang lebih mengumumkan bahwa meski belum resmi diumumkan, pihak fakultas sudah setuju untuk memilih saya sebagai salah satu kandidat mahasiswa diterima dan dinominasikan untuk MEXT. Email itu dikirimkan lebih dulu karena saya harus mengirimkan dokumen tambahan sesegera mungkin.

Alhamdulillah, sampai tahap ini saya dinyatakan lolos ujian masuk Graduate School of Economics Kyoto University. Ya, baru dinyatakan lolos ujian masuk saja sebab untuk dinyatakan diterima saya harus membayar biaya ujian masuk agar Letter of Acceptance, LoA, dapat diterbitkan. Saya dikecualikan dari tahapan ini karena telah dinominasikan untuk mendapat beasiswa Monbukagakusho (MEXT), beasiswa yang diberikan langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jepang. Untuk itu, saya harus menunggu pengumuman tambahan lagi apakah dokumen yang saya serahkan sebagai kelengkapan beasiswa diterima.

Pada email yang pertama kali saya terima sudah disebutkan bahwa pengumuman MEXT akan dilakukan pertengahan Juli. Itu artinya ada waktu sekitar lima bulan sampai ada pengumuman resmi yang menyatakan saya diterima di Graduate School of Economics dengan beasiswa MEXT. Masa-masa menunggu ini merupakan masa yang sangat membuat gegana, gelisah galau merana, hehehe. Apalagi saat sudah lewat tengah Juli namun belum juga ada notifikasi. Saya coba buka-buka forum beasiswa MEXT di internet juga belum ada titik cerah. Kemudian, saya mendapatkan email bahwa pengumuman MEXT diundur hingga akhir Juli. Wah, rasanya tidak bisa dibayangkan saat itu sebab harus menunggu lebih lama lagi.

Hari yang ditunggu-tunggu itu datan juga. Saat saya sedang ada tugas luar kota, di perjalanan HP saya berbunyi. Sebuah email dari Fakultas meneruskan informasi dari MEXT bahwa aplikasi beasiswa saya dinyatakan LOLOS. Akhirnya, penantian panjang selama setengah tahun terakhir ini memberikan hasil yang manis. I’d mark that day as one of the best day in my life! Jadi, kurang lebih begitulah perjalanan saya mendaftar program Master di Graduate School of Economics Universitas Kyoto, Jepang. Pada bagain berikutnya saya akan meceritakan mengenai beasiswa MEXT yang saya terima. Selalu dan selalu saya pegang kutipan terfavorit saya dari novel The Alchemist yang ditulis oleh Paulo Coelho yang berbunyi “When you realy want something, all the universe conspire in helping you to achieve it”.

 

Advertisements
Categories: Campur-Campur | Tags: , , | Leave a comment

Menjadi Mahasiswa Universitas Kyoto: From Scratch to Catch! (1\2)

Gerbang Universitas Kyoto

Gerbang Universitas Kyoto (self credit)

Nanakarobi yaoki, pepatah Jepang yang berarti “jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali”. Tidak peduli berapa kali pun saya terjatuh, ada proses bangkit yang lebih menyakitkan tetapi membuahkan hasil yang cukup manis. Dinyatakan DO alias drop out  dari kampus kedinasan tahun 2009 silam mungkin salah satu kegagalan yang selalu saya ingat. Ada juga cerita batal berangkat ke Kanada mewakili propinsi untuk sesuatu yang saya masih belum paham hingga sekarang dan masih banyak cerita lainnya. The point is how to start again from scratch, instead of falling to pieces then stop.

Of course I’m not gonna telling you about the detailed timeline of me being failed. Kali ini saya mencoba menuliskan pengalaman saya mendaftar kuliah di Universitas Kyoto (Kyodai), which indeed one of  the very top universities worldwide. Terhitung pertanggal 2 Oktober 2017, saya resmi menyandang status sebagai mahasiswa master di Graduate School of Economics. Lebih spesifik saya mengambil jurusan East Asia Program Economic Sustaianble Development.

Akhir 2015 saya sudah pernah berangkat ke Kyoto untuk mengikuti winter course di tempat yang sama selama dua bulan. It’s my first time experiencing winter and touching snow by the way. Program ini merupakan program kerjasama antara Kyodai dan UGM dimana saat itu saya sedang menjalani semester tiga di Magister Sains Akuntansi FEB UGM. I was completely blank about the course I wished to take for program. Hingga hampir masa dua bulan tersebut selesai, saya menyadari sesuatu yang baru dan berbeda dari keilmuan akuntansi yang saya pelajari selama hampir 7 tahun. Segera setelah kembali dari program short course itu, saya menyelesaikan tesis dan berharap bisa kembali lagi menjadi mahasiswa reguler di Kyodai.

Continue reading

Categories: Campur-Campur | Tags: , , | Leave a comment

Ke Singapura Lewat Senai Airport: Pengalaman Mendapatkan Tiket Murah hingga “Ditahan” Imigrasi Singapura

Tugu Pesawat di Senai Airport (dokumen pribadi)

Bulan Februari lalu saya mendapatkan tiket promo AirAsia Surabaya-Johor seharga Rp 650.000 pulang pergi. Meski sudah sering singgah di Johor Bahru, ini merupakan pengalaman pertama masuk Malaysia melalui Bandara Senai. Setelah mencari info yang cukup detail mengenai Bandara Senai dan cara menuju ke kota, Bulan April akhirnya saya berkesempatan mendarat di kota paling selatan di semenanjung Malaysia itu.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Malaysia | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Smarter without Smartphone

Sudah sekitar dua minggu lebih saya tidak menggunakan telepon pintar atau smartphone. Beberapa hari pertama rasanya gelisah karena tidak ada sesuatu untuk dipegang dan dilihat-lihat. Tetapi, beberapa hari setelahnya malah enjoy aja dan belum terpikir untuk beli hp baru. Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan selama tidak memegang gadget  sama sekali, termasuk ketika bepergian ke Singapura beberapa waktu lalu. Awalnya saya ragu apakah mungkin traveling tanpa membawa satu alat komunikasi pun. Meski sudah sering pergi ke Singapura, saya merasa akan lebih “aman” jika ada hp selama jalan-jalan di sana. Nyatanya, bepergian tanpa memiliki koneksi internet justru merupakan hal yang sangat menarik.

Menurut saya, hal tersulit atas ketiadaan hp adalah sulitnya mengakses jalur dan peta selama berkeliling. Tidak ada panduan real time kapan dan dimana saya bisa naik MRT dan bus  menuju suatu tempat. Nyatanya, tidak membawa smartphone justru membuat saya lebih jeli mengamati peta kertas, jadwal dan laluan bus, serta merencanakan perjalanan. Saya tidak sibuk log in media sosial dan mengecek berapa like yang saya terima. Alih-alih sibuk bermedia sosial, saya jadi lebih fokus pada hal-hal yang sebelumnya tidak menarik perhatian saya.

Sebagian dari Anda yang membaca tulisan ini mungkin akan melontarkan beberapa komentar serupa seperti; “Di Singapura mah emang udah gampang kali transportasinya” atau “coba di Indonesia ngga pakai smartphone, bisa ngga loe?”, dan lain sebagainya. Saya akui, bepergian tanpa hp di Singapura memang lebih mudah dibandingkan saat berada di Indonesia.

Barangkali saya tidak pernah sadar bahwa hidup saya sudah terlalu bergantung dengan media sosial dan ponsel pintar hingga ponsel saya raib. Salah satu hal yang sudah seperti “candu” adalah akses transpotasi daring yang begitu mudah dan murah. Setibanya di Stasiun Wonokromo pukul setengah dua hari, saya tidak tahu apapun agar bisa sampai di Bandara Juanda sebelum pukul lima pagi. Di luar stasiun, ada beberapa angkot yang sudah siap mengangkut penumpang sampai ke Terminal Purabaya. Oke, saya naik angkot itu dengan ongkos…….SEPULUH RIBU RUPIAH! I was like uhmm it would be less expensive to order Uber or Gocar. Tetapi kemudian saya ingat bahwa saya tidak memiliki akses untuk itu.

Pun ketika sampai Terminal Purabaya saya seperti orang bingung yang sedang menunggu Shuttle Bus Damri beroperasi. Bus ini biasanya akan mulai beroperasi pukul tiga atau empat pagi, tetapi saat itu baru pukul dua dini hari. Saya ada pilihan untuk menunggu bus tersebut hingga seorang bapak ojek yang cukup tua datang dan menghampiri saya bermaksud menawarkan jasanya. “Berapa, pak?”, tanya saya. “Sudah seperti biasanya saja, tiga puluh lima ribu rupiah”. Dengan TIGA PULUH LIMA RIBU RUPIAH sebenarnya saya bisa pesan gojek dari Stasiun Gubeng ke Juanda tanpa tawar menawar.

Lain lagi cerita sepulangnya dari Singapura. Mendarat di Bandara Juanda pukul 12 siang, saya dihadapkan dengan pilihan moda transportasi untuk sampai ke Stasiun Wonkoromo. Setidaknya saya sudah harus sampai disana sebelum pukul 13.30 agar bisa mengejar kereta Sri Tanjung tujuan Yogyakarta. I wish I had booked a seat. Karena tidak bisa memesan tiket secara daring, tentu saja saya tidak siap ketika petugas loket mengatakan bahwa tiket yang ingin saya beli sudah habis. Padahal dengan aplikasi Traveloka atau KA, saya bisa dengan mudah mendapatkan tiket kereta dalam beberapa kali sentuhan jari.

Baru setelah pindah ke Stasiun Gubeng naik angkot, yang saya pun tidak tahu jurusan apa dan berapa bayarnya, saya mendapatkan tiket kereta Sancaka pukul 17.30. Itu artinya, saya harus menunggu kurang lebih empat jam. Empat jam tanpa hp ternyata cukup lama diibandingkan saat sedang asyik berselancar di explore instagram. Social media is surely a time killer.

Selama  perjalanan saya berpikir which one is smarter; the phone or the person? Memang benar bahwa dalam banyak hal, ponsel pintar menjadi andalan untuk menyediakan layanan yang efektif dan efisien. Seseorang tidak harus berlama-lama menunggu bus atau angkot, tidak juga harus kehabisan tiket kereta, dan tersesat karena tidak tahu arah. Tetapi apakah itu cukup untuk menjadikan manusia menjadi lebih pintar daripada ponselnya?

Bepergian dengan cara konvensional memang melelahkan dan membuang banyak uang, tenaga, dan waktu. Tetapi, saya memiliki lebih ruang gerak dan imajinasi membayangkan rute yang harus saya ambil, menghitung pengeluaran dengan lebih teliti, dan menggunakan kemampuan bertanya “secara fisik” jika kebingungan. Kemampuan otak yang beberapa tahun belakangan digantikan oleh keberadaan Google kembali saya manfaatkan. Ada proses berpikir yang lebih dalam sebagai pengganti ponsel pintar yang hilang.

Tanpa hp, saya tidak bisa setiap saat memberikan kabar terbaru kepada keluarga di rumah. Tidak juga secara cepat merespon surel yang berhubungan dengan kerjaan. Akibatnya, saya membuat prioritas pesan mana yang harus saya balas terlebih dahulu atau hal mendesak apa yang harus saya sampaikan. Hal yang tidak saya lakukan ketika WhatsApp, Gmail, dan sebagainya begitu mudahnya saya buka. Semua pesan menjadi penting dan memiliki urgensi untuk segera dibaca dan diberikan umpan balik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan dar kita bahkan bisa melakukan rapat kapan pun dan dimana pun. Dokumen rapat pun dengan mudah bisa dibagikan melalui aplikasi pesan-yang-tak-lagi-singkat.

Terjadi reaksi kaget yang berlebihan ketika hal ini saya ceritakan kepada seorang rekan dari Australia. Satu kalimat yang dia lontarkan, “Do you really have the meeting through WhatsApp?”. Unfortunately yes! Saya bukan orang yang paham IT tapi kalau boleh menebak, mungkin orang ini penasaran mengapa kita –orang Indonesia – begitu mudahnya berbagi dokumen resmi (dan mungkin bersifat penting dan rahasia) melalui jaringan yang tidak aman (?). Ya…ini hanya dugaan saya saja kok.

Saya belum tahu sampai kapan saya bertahan tanpa smartphone, mungkin seminggu, dua minggu, atau sebulan lagi. Jari saya sih sebenernya sudah tidak tahan untuk berselancar di instagram, Path, dan media sosial lainnya yang kemarin-kemarin sudah menyita banyak waktu. Tanpa hp saya mampu menyelesaikan sebuah novel selama perjalanan, hal yang tidak banyak saya lakukan dengan hp. Sebab, dengan hp saya malah sibuk nonton drama korea yang saya simpan.

Fakta bahwa smartphone membantu manusia dalam banyak aktivitas memang tidak dapat dipungkiri. Teknologi yang mumpuni memberikan kesempatan pada manusia untuk mempergunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Tetapi jangan menggerutu saat tiba-tiba ada telepon tidak dikenal menawarkan jasa asuransi.”Darimana mereka dapat nomerku?”, mungkin saja dari data pribadi yang secara sukarela kita bagikan lewat penyedia layanan transportasi online atau situs jual beli barang bekas. Tidak ada yang gratis bahkan untuk mendapatkan diskon 20 ribu pembelian tiket pesawat lewat aplikasi dalam smartphone. Tenang saja, saya juga sudah tidak sabar memiliki smartphone lagi dan membagi-bagikan data pribadi secara percuma.

 

Categories: Campur-Campur | 3 Comments

Transportasi di Bangkok: dari MRT hingga Ojek Motor

Peta Transportasi Bangkok (courtesy: Bangkok.com)

Berdasarkan data INRIX Inc, Bangkok merupakah salah satu negara yang memiliki tingkat kemacetan terparah dengan rerata 64.1 jam setahun. Itu artinya, pengguna jalan di Bangkok menghabiskan lebih dari 60 jam  secara sia-sia. Meski tingkat kemacetan sangat tinggi, Bangkok adalah salah satu negara yang banyak menawarkan alternatif transportasi seperti MRT, bus kota, hingga ojek motor. Setidaknya ada delapan moda transportasi yang pernah saya gunakan selama di Bangkok, berikut adalah ulasannya.

  1. Airport Rail Link (ARL)

Jalur SA City Line (source: http://suvarnabhumiairport.com/)

Airport Rail Link menghubungakan Bandar Udara Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok yang berjarak 30 km. Suvarnabhumi Airport (SA) City Line berhenti di enam stasiun antara lain; Lat Krabang,  Ban Thap Chang, Hua Mak, Ramkamhaeng, Makkasan, dan Ratchaprarop, sebelum tiba di pemberhentian terakhir yaitu Phayathai dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Tarif SA City Line bervariasi antara 25-45 baht sekali jalan bergantung jarak.

ARL beroperasi mulai pukul 6 pagi hingga tengah malam dengan frekuensi 10-15 menit sekali. Menggunakan ARL dari dan ke bandara terjangkau bagi pejalan yang bepergian berdua dan tidak membawa barang atau koper terlalu banyak. Jika bepergian dalam rombongan lebih dari tiga orang dan membawa banyak barang dapat mempertimbangakan untuk naik taksi dengan ongkos sekitar 300 baht hingga ke hotel tujuan di daerah kota. Stasiun SA City Line terletak di lantai paling bawah (1st level) Bandara Suvarnabhumi.

 

  1. Bangkok Train System (BTS)

Bangkok Sky Train (source: http://www.bangkok.com/)

BTS memiliki dua rute yaitu Sukhumvit Line dan Silom Line. Sukhumvit Line terbentang dari utara, Stasiun Mo Chit yang merupakan stasiun terdekat dengan Chatuchak, hingga ke timur tepatnya di Stasiun Bearing. Setiap stasiun diberi kode N untuk utara dan E untuk timur, dengan 1 kode angka yang meunjukkan urutan stasiun. Silom Line terbentang dari barat, Stasiun National Stadium yang dekat dengan MBK/Siam, hingga ke selatan berakhir di stasiun Bang Wa. Kode untuk setiap stasiun menggunakan huruf W untuk barat dan S untuk Selatan.

Tarif menggunakan BTS berkisar antara 20-55 baht sekali jalan. Beberapa stasiun populer selain Mochit dan National Stadium diantaranya adalah; Central (CEN) tepat di persimpangan Siam (Siam Center, MBK, Paragon), Saphan Thaksin (S6) dermaga perahu ke Grand Palace, Ratchadewi (N1) terdekat dengan KBRI di Bangkok, Phayathai (N2) terhubung dengan ARL, Victory Monument (N3), Asok (E4) tersambung dengan skywalk  Terminal 21 Mall, dan Ekkamai (E7) dekat dengan terminal bus ke Pattaya.

 

  1. Mass Rapid Transit (Metro)

    Stasiun bawah tanah Metro (source: http://www.bangkok.com/)

Berbeda dengan BTS yang jalurnya ada di atas tanah (atau lebih tepatnya melayang), MRT di Bangkok memiliki jalur bawah tanah seperti di Singapura.

Bangkok hanya memiliki satu jalur MRT yang menghubungkan Hua Lamphong dan Bang Sue. Meski berbeda jalur, penumpang masih bisa transit ke jalur BTS atau ARL. MRT terhubung dengan BTS Sukhumvit Line di Stasiun Asok dan BTS Silom di Stasiun Sala Daeng. Bagi penumpang yang menuju Bandara Suvarnabhumi dapat naik MRT tujuan Petchaburi kemudian disambung jalan kaki menuju Stasiun Makkasan naik ARL ke bandara.

 

 

  1. Bus kota

Bus di Bangkok

Bagi saya, bus kota di Bangkok adalah moda transportasi yang misterius. Ada bus kota yang penampilannya sangat “tua” seperti Metromini dan bus AC yang mirip seperti bus Patas Damri. Pengalaman pertama naik bus di Bangkok tahun 2013, saya akan menuju ke Golden Mountain. Karena tidak paham Bahasa Thai saya jadi susah mengutarakan tujuan kepada kondektur, pun sebaliknya dia juag kesusahan memahami kalimat yang saya ucapkan. Saya hanya melihat google map selama di bus berjaga-jaga kalau bus sudah dekat dengan lokasi. Begitu hampir tiba, kondektur tidak mau menerima uang yang saya berikan karena dia kira saya kesasar.

Bus tidak memiliki monitor untuk memberi tahu halte mana yang akan dilewati. Jadi, penumpang asing akan sangat kesusahan untuk menjajal bus ini. Tipsnya hanya satu, selalu perhatikan arah jalan bus lewat Google Maps. Ongkos naik bus kota biasa hanya 5-10 baht saja, sedangkan bus AC mulai 15 baht ke atas tergantung jarak yang ditempuh. Mungkin tidak terlalu direkomendasikan naik bus di Bangkok, tapi perlu sesekali “menyasarkan” dan bergabung dengan orang Bangkok.

 

  1. River boat

    Dermaga Maharaj Tha Chang di pinggir Chao Phraya

Ini dia transportasi yang paling unik di Bangkok! Saya salut dengan orang Bangkok yang setiap hari pergi bekerja harus pindah-pindah moda transportasi dari bus kota, BTS, MRT, hingga naik perahu yang melintasi Sungai Chao Praya. Setahu saya memang tidak ada tempat yang benar-benar dilewati oleh semua jenis transportasi atau bahkan hanya ada satu jenis transportasi di suatu daerah. Misalnya daerah Rattanakosin (Grand Palace dan Wat Pho) yang paling mudah dijangkau dengan boat. Ada bus yang lewat tapi ya itu tadi, tidak jelas arahnya (hanya supir, kenek, dan orang Bangkok yang tahu).

Terdapat lima jenis perahu yang melayani rute sepanjang Chao Phraya, dimana setiap perahu ditandai dengan warna bendera yaitu kuning, hijau, biru, oranye, dan tanpa bendera. Bendera biru adalah Tourist Express boat yang berhenti di spot wisata saja dengan tarif 40 baht sekali jalan. Bendera oranye dan perahu tanpa bendera berhenti di hampir semua dermaga dengan ongkos 15 baht sekali jalan. Bendera kuning juga disebut tourist boat tetapi hanya melayani pada saat jam sibuk (pagi dan sore) dengan tarif 20-29 baht. Terakhir adalah bendera hijau yang lebih banyak melayani penumpang pekerja dari bagian utara sungai.

Bagi wisatawan yang hendak menuju destinasi terkenal cukup perhatikan bendera biru dan oranye saja. Perahu tanpa bendera juga hampir sama dengan bendera oranye tetapi hanya beroperasi pada hari kerja. Beberapa dermaga penting tujuan wisata adalah; Central Pier terhubung dengan BTS Saphan Thaksin, Tha Tien (N8) untuk Wat Pho dan Wat Arun, Maharaj Tha Chang (N9) untuk Grand Palace, Phra Arthit (N13) untuk Khaosan dan Thammasat University, serta Wat Rajsingkorn (S3) untuk ke Asiatique.

 

  1. Taksi

Taksi Bangkok (source: http://www.bangkok.com/)

Bagi sebagian budget traveler, taksi mungkin bukan pilihan yang tepat ya? Tapi tidak perlu khawatir karena taksi di Bangkok argonya masih cukup terjangkau. Dengan desain warna taksi yang warna-warni, tidak ada salahnya mencoba naik taksi dan “uji nyali” dengan sopir yang kadang hanya bisa berbahasa Thai. Tarif buka pintu taksi di Bangkok mulai 35 baht atau sekitar Rp 16.000 saja. Argonya bertambah 2-3 baht perkilometer, sedangkan untuk waktu tunggu taksi sebesar 1,25-1,5 baht permenit.

Mengambil taksi bisa jadi pilihan tepat jika sudah terlalu malam dan kemacetan sudah terurai. Pada jam sibuk argo taksi bisa lebih mahal 1,5 kali lipat daripada jam biasa. Masalahnya adalah Bangkok yang tidak pernah tidak macet cukup menguras waktu dan energi. Sebagai contoh dari Platinum Fashion Mall ke Asiatique yang berjarak 11 km, saya merogoh kocek sebanyak 100 baht (Rp 80.000). Harga tersebut sudah termasuk waktu tempuh selama hampir 50 menit karena saya bepergian pada jam sibuk pukul 7 malam.

Mencoba memesan taksi melalui aplikasi, seperti Uber dan Grab,juga menyenangkan dan mudah. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh beda dengan taksi konvensional. Hanya saja, kadang aplikasi taksi memberikan banyak diskon kepada pengguna sehingga terlihat lebih murah. Tetapi pada dasarnya tarif taksi konvensional dan modern tidak jauh berbeda.

 

  1. Tuk-tuk

Moda transportasi yang satu ini tidak ada di tempat lain kecuali di Bangkok. Hampir mirip seperti bajaj, tuk-tuk mampu menampung penumpang lebih banyak. Beberapa pengemudi tuktuk yang nekad, bisa membawa hingga 6 penumpang sekali jalan padahal normalnya Cuma 3-4 saja termasuk barang bawaan.

Percaya tidak percaya, ongkos naik tuk-tuk ini lebih mahal daripada naik taksi lho. Misalnya saja saya naik tuk-tuk dari MBK menuju Phaythai. Jika naik taksi saya hanya membayar 50 baht saja, tetapi dengan tuk-tuk malah harus membayar 100 baht. Karena tidak ada tarif resmi, satu-satunya cara adalah menawar ongkosnya kepada pengemudi. Tentu ini adalah hal yang melelahkan ya karena kendala bahasa inggris yang pas-pasan. Tapi tak apa lah, kapan lagi bisa naik tuk-tuk sambil merasakan terpaan angin kencang karena pengemudi yang ngebut?

 

  1. Ojek

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang pengalaman saya naik ojek di Bangkok. Tapi yang jelas, naik ojek sangat efisien waktu dan biaya. Para tukang ojek yang mangkal di daerah-daerah keramaian biasanya sudah punya tarif sendiri. Di beberapa tempat mereka malah sudah menuliskan tarif pasti ke tujuan tertentu. Dari MBK ke Platinum naik ojek saya dikenakan ongkos ojek sebesar 40 baht saja dengan waktu tempuh 3 kali lebih cepat daripada naik taksi. Tidak perlu tawar menawar, langsung saja sebut tujuan maka wuuzzzzz…tukang ojek akan megantarkan kita.

Itu tadi delapan moda transportasi di Bangkok yang pernah saya coba. Semuanya menyenangkan dan membuat saya seolah-olah jadi warga Bangkok. Kendala bahasa mungkin memang masalah tapi justru di situlah seni menikmati negeri yang kita kunjungi.

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: