Monthly Archives: January 2011

Berdiri (sebuah trilogi -2)

WANGI!!! Aku sudah selesai berbenah diri setelah beberapa jam hanya diam duduk dan melihat. Aku telah memakai pakaian terbaikku. Sepotong kemeja bergaris biru dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam dan sepatu pantovel. Minyak wangi pun sudah kusemprotkan. TAMPAN!!! Ya itulah aku. Aku begitu merasa tampan. Biarlah orang menganggapku teralu percaya diri. Tapi jelas aku tampan.

Aku berdiri di depan pintu. Memandang matahari yang terik tepat sepenggalah di atas kepala. Waktu dhuha dan aku telah siap untuk melangkahkan kaki ke jalanan aspal yang pana. Satu amplop coklat, beberapa lembar ijazah, kertas folio, lem, dan pasfoto ukuran 4 x 6 telah tersususn rapi dalam sebuah map yang kumasukkan ke dalam tas cangklong hitamku.

Hari begitu panasnya seperti hendak memecahkan matahari dari peredarannya. Aku masihy tak peduli. Ku terjang hawa tak bersahabat ini dengan menenteng sebotol jus jeruk yang aku bawa dari rumah tadi. Semakin panas, kulihat baru jam 9 pagi. Rasanya sudah setahun kutinggalkan pulau kapuk di tengah ruangan berukuran 3 x 5 meter. Masih bau bantal nampaknya. Masih ingin menikmati sisa kopi tadi pagi.

Aku tak kuat. Aku duduk saja di halte. Menunggu bus kota yang padat penumpangnya. Hah…nampaknya akan semakin panas dicampur keringat-keringat manusia yang juga sedang berusaha berdiri sepertiku. Belum berjalan, apalgi berlari. Hanya berdiri. Karena sesunguhnya aku dan mereka masih berada dalam titik koordinat yang sama dengan tadi pagi.

Tapin tunggulah tak lama lagi akan kuberjalan. Berpindah seperseribu bujur dan lintang. Demi sesuatu yang bisa membuatku berjalan tapi juga terbang. Yah…ini semua karena mimpi kemarin malam. Yang sempat membuatku duduk lama hanya untuk memandahg jendela dari dalam kamar. Biarlah untuk saat ini aku hanya bisa berdiri, tetap sambil berpikir bagaimana ditempat tujuan nanti akan dibuuatnya aku tak sekedar berlari tapi juga terbang.

TERBANG…..
to be continued….

Categories: Nyastra | Leave a comment

Duduk (sebuah trilogi -1)

Pagi masih meneteskan embunnya ketika aku baru bangun dari tidur panjang. Aku lelah karena semalam telah membuat mimpi. Ya… aku membuat mimpi. Menyusun lembaran-lembaran cerita untuk ku scan menjadi kumpulan file-file yang siap kumasukkan ke memori berkapasitas rendah dalam otak. Kemudian ku simpan ke dalam folder bernama mimpi dan aku siapa bermimpi.

Kudapati pagi ini aku begitu lesu. Bukan karena letih atau capai. Tapi terlebih karena aku tak tahu untuk apa ku simpan mimpi didalam sini. Sedang ku yakin harusnya mimpi itu dinyatakan bukan disimpan. Aku duduk disebuah kursi rotan menghadap keluar ditemani secangkir minuman hangat dan sepotong “roti sumbu”. Terus menatap hingga minuman tadi mendingin dan sumbu roti pun telah meldakkan senyawa-senyawa karbonnya.

Satu jam, aku masih duduk. Masih tetap menatap keluar. Memandangi orang-orang yang telah sibuk dengan perkaranya masing-masing. Aku tersenyum, aku merasa beruntung tidak sesibuk orang-orang itu. Aku bisa menikmati pagi dengan duduk-duduk santai menfasir mimpi semalam. Tok…tok… seseorang mengetuk pintu kamarku. Tak lama orang itu berteriak, “cepat mandi!! hari sudah siang…”. Orang itu ternyata ibuku, wanita yang setia memnaggilku ketika pagi datang dan aku masih saja santai-santai duduk di dalam kamar.

Dua jam. Ku lihat jam dinding sudah pukul 8 pagi. Hhh…berarti aku telah menghabiskan 2,5 jam dengan membayangkan mimpi yang kuharap akan menjadi nyata. Tapi,pagi sudah mulai tak sejuk. Perlahan matahari juga mulai bekerja. Menguapkan embun yang tadi sempat ku rasakan. Memanaskan kesejukan yang tadi semilir ditelingaku.

Aku sadar, aku telah lama terduduk. Kini saatnya aku untuk berdiri….

to be continued….

Categories: Nyastra | Leave a comment

Tetap Tersenyum, Saudaraku!

Saya tahu ini tidak mudah. Tapi dalam bahasa matematika tidak mudah bukan berarti sulit dan tidak dapat diselesaikan. Mungkin ada yang menganggap tidak mudah adalah tidak bisa dikerjakan namun sebenarnya yang ada hanya kurang kemauan.

Saya paham betul bahwa setip detik yang kita lalui mengandung sebuah konsekuesni yang harus dipertanggungjawabkan kemudian hari. Ya,, walaupun kita tidak tahu kapan yaumul hisab akan datang tetapi setidaknya kita masih mempunyai orang-orang yang menunggu pertanggungjawaban dari atas sebuah amanah yang telah diberikan kepada kita.

Berat?? tentu saja. Itulah alasan mengapa orang berbagi tugas. Kalau ringan-ringan saja mungkin saya tidak akan butuh kalian. Saya hanya membutuhkna sepasang mata, telinga, kaki dan tangan serta sebuha hidung untuk mengerjakan. Tetapi mengapa kadang kita lupa punya otak yang sudah terinterigasi dengan buah akal dan pikiran. Coba gunakan keduanya maka kita tidak akan pernah melimpahkan pekerjaan mudah dan remeh kepada orang lain. Berpikir bahwa ini mudah dan saya dapat mengerjakannya.

Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya melebihi apa yang hamba-Nya sanggup untuk meminggulnya. Kecuaali kita seorang saudagar bodoh yang memaksa keledai-keledai kita membawa beban yang bahakan tak sanggup dibawa olehnya. Membawa seperangkat barang-barang kita memenag tugas-tugas keledai itu -banyak orang yang bilang keledai bodoh, maka mereka mengumpat orang bodon dnegan makian keledai-. Lantas siapa keledai itu sebenarnya? Sayakah orang yang telah menuyuruh keledai untuk membawa barang melebihi kekuatannya?

Lagi-lagi saya harus berpikir keras memecahkan teka-teki rubik yang saya pegang. Seseorang telah mengacaknya dan ketika bongkah plastik itu berada di tangan saya maka saya yang menyelesaikan. Nampak bodoh memang karena saya tidak jago bermian rubik. Tapi bukankah tidak ada yang sia-sia. Malam ini saya ahrus bisa memcahkan satu dari 6 bagian warna rubik. Besok satu lagi, beosknya satu lagi, dan saya bisa membuat rubik itu kembai seperti semula seperti ketika dibeli pertama kali di toko mainan.

Hidup tidak seperti keledai yang dipaksa membawa segala muatan. Hidup -walaupun susah- tapi bisa diselesaikan seperti teka teki rubik. Maka…tersenyumlah apapun yang saya rasakan. Tidak akan ada dosa karena berbagi senyum dengan orang yang ada disekeeliling kita. tetap tersenyum, saudaraku…

Categories: Nyastra | Leave a comment

Tunggu Aku Lebih Pagi

Duduk menghadap jendela, kabarnya mentari akan datang tepat pukul 5 pagi. Aku masih enggan menyapa mesra dingin udara yang dari semalam mengigitku. Berharap dia pergi dan sinar hangat menggantikannya. Kulihat sepotong kue disuguhkan di atad meja

Jika hidup sepotong brownies tentu nikmat rasanya. Satu gigit kurasa manis coklat, dua gigit kurasa pahit dan keras, tiga gigit aku sadar aku sudah tidak memegang sepotong pun.

Sayagnya, hidup bukan sekedar satu, dua, atau bahkan 3 gigit roti saja. Hidup lebih dari itu. Tidak cuma satu atau hanya dua rasa yang bisa dikecap. Ah, besok aku mau hidup rasa kembang gula. Tak apa walau esoknya lagi hidup harus menjadi rasa tahi ayam. Tapi yang jelas saya tidak mau hidup hanya segigit. Hidup itu “bergigit-gigit”.

Matahari menepati janjinya. Pukul 5 tepat dia sudah siap di depan rumahku. Mengetuk pintu rumah, kemudian meninggalkan satu bungkus sinar hangat bagi mereka yang sudah setia menunggunya. Matahari mengucap maaf kepada mereka yang tidak kebagian oleh-oleh cantik darinya. Dia hanya berpesan “besok tunggu aku lebih pagi”.

Categories: Nyastra | Leave a comment

Pantai Jonggring Saloko

Jika Anda berkunjung ke Kabupaten Malang tak lengkap rasanya jika Anda tidak mengunjungi salah satu andalan wisata alam yang ada di sini. Terutama bagi Anda yang suka sekali dengan petualangan harus mengunjungi satu pantai yang terletak di Kecamatan Donomulyo. Donomulyo terletak sekitar 48 km dari Kota Malang. Kecamatan yang topografinya berupa lembah dan bukit ini memiliki hawa yang cukup sejuk serta mempunyai  10 desa yaitu Tulungrejo, Banjarejo, Kedung Salam, Tempursari, Mentraman, Donomulyo, Purworejo, Sumberoto, and Purwodadi. Kebanyakan orang di sini bekerja sebagai petani , PNS, guru, dan sebagian ada yang menjadi TKI / TKW di Malaysia, Brunei, dan Singapura.

Di Donomulyo terdapat pantai Jonggring  Saloko yang sangat indah. Dengan menghadap langsung ke arah laut lepas Samudra Hindia. Akan sangat menyesal jika Anda tidak sempat menikmati keindahan alam ini. Selayaknya pantai yang menghadap ke samudera, pantai Jonggring Saloko memiliki ombak yang cukup besar. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena di dekat pantai ini terdapat batu-batuan karang yang menahan ombak sehingga kita masih bisa bermain-main dibibir pantai merasakan deburan ombak Samudrea Hindia.

Jonggring Saloko berjarakn 69 km dari Malang dan terletak di Desa Mentraman. Di cerita pewayangan Jonggring Saloko adalag tempat tinggal Batara Naradha dimana dikisahkan bahwa tempat ni adalah tempat yang sejuk, indah dan sangat nyaman serta mempunyai pemandangan yang indah. Anda akan menemukan dua hal yang menarik di temapat ini yaitu pantai pasir hita dan “ngebross”. Dinamakan pantai pasir hitam tentu saja bukan karena pasirnya benar-benar hitam. Namun pantai ini memberikan hamparan pasir pantai yang terlihat berwarna hita bila diliat dari jauh. Tentu saja ini hal yang cukup menarik jika dibandingkan dengan pantai-pantai yang kebanyakan berwarna putih.

Dan satu hal lagi yang mungkin tidak Anda temukan di pantai lain yaitu ngebross. Negbross ini adalah istilah yang  oleh warga sekitar atas fenomena alam yang terjadi. Di pantai ini terdapat satu batu karang yang sangat besar dan memiliki lubang ditengahnya. Setiap air laut mulai pasang maka air akan mengisi rongga yag terdapat dibatu karang tersebut. Karena tekanan air yang besar dan jumlah air yang banyak menyebabkan ada air yang keluar dari lubang yang ada di batu tersebut. Dengan mengelurkan sejenis uap dan berbunyi seperti “brosss”. Itulah mengapa ada sebagiain orang yang menyebutnya sebagai pantai ngebros. Unik bukan?

Pantai yang ada di Malang selatan berbeda dengan kebanyakan pantai yang ada di daerah lain. Untuk bisa mencapai pantai kita harus melewati daerah lembah dan perbukitan yang tidak jarang jalannya masih berbatu atau macadam. Begitu juga yang akan Anda alami ketika Anda berkunjung ke sini. Tapi saya rasa itu tidak masalah. Karena selama perjalanan Anda yang “menyenangkan” , Anda akan dihibur dengan pemandagan yang masih sangat rimbun dan ketika Anda sampai di pantai Anda akan berteriak “WOW!”.

Jalan dari Malang hingga Donomulyo berupa jalan aspal biasa yang sudah halus. Anda mungin akan menghabiskan waktu sekitar 40 menit dengan mengendarai motor. Perjalanan belum selesai begitu saja. Begitu sampai di gapura Desa Mentraman Anda akan segera merasakan “suasana” yang berbeda.  Dari Gapura hingga pantai membutuhkan waktu sekitar 45 menit dengan jarak hanya 11 km. Bisa dibayangkan bagaimana kondisinya kan? Mengenaskan? Tentu bukan mengenaskan. Topografi alam yang berbukit dan berlembah membuat kita untuk sedikit sabar dan telaten untuk mencapai tujuan. Tapi, semua itu akan terbayar ketika Anda sampai di pantai.

FYI, jika Anda berminat dating ke tempat ini saya sarankan untuk berangkat pagi sehingga siang hari Anda bisa kembali ke Malang. Sebab, di daerah pantai sendiri tidak terdapar sumber penerangan listrik. Jumlah penduduknya pun juga masih tidak begitu banyak. Benar-benar menantang adrenaline bagi Ada yang suka sekali bertualang. Sempatkanlah untuk datang kesana dan rasakan sendiri keindahan pantai dengan pasir hitam dan “ngebros” nya itu.

 

Categories: Jalan-Jalan | 2 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: