Tunggu Aku Lebih Pagi

Duduk menghadap jendela, kabarnya mentari akan datang tepat pukul 5 pagi. Aku masih enggan menyapa mesra dingin udara yang dari semalam mengigitku. Berharap dia pergi dan sinar hangat menggantikannya. Kulihat sepotong kue disuguhkan di atad meja

Jika hidup sepotong brownies tentu nikmat rasanya. Satu gigit kurasa manis coklat, dua gigit kurasa pahit dan keras, tiga gigit aku sadar aku sudah tidak memegang sepotong pun.

Sayagnya, hidup bukan sekedar satu, dua, atau bahkan 3 gigit roti saja. Hidup lebih dari itu. Tidak cuma satu atau hanya dua rasa yang bisa dikecap. Ah, besok aku mau hidup rasa kembang gula. Tak apa walau esoknya lagi hidup harus menjadi rasa tahi ayam. Tapi yang jelas saya tidak mau hidup hanya segigit. Hidup itu “bergigit-gigit”.

Matahari menepati janjinya. Pukul 5 tepat dia sudah siap di depan rumahku. Mengetuk pintu rumah, kemudian meninggalkan satu bungkus sinar hangat bagi mereka yang sudah setia menunggunya. Matahari mengucap maaf kepada mereka yang tidak kebagian oleh-oleh cantik darinya. Dia hanya berpesan “besok tunggu aku lebih pagi”.

Categories: Nyastra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: