Tetap Tersenyum, Saudaraku!

Saya tahu ini tidak mudah. Tapi dalam bahasa matematika tidak mudah bukan berarti sulit dan tidak dapat diselesaikan. Mungkin ada yang menganggap tidak mudah adalah tidak bisa dikerjakan namun sebenarnya yang ada hanya kurang kemauan.

Saya paham betul bahwa setip detik yang kita lalui mengandung sebuah konsekuesni yang harus dipertanggungjawabkan kemudian hari. Ya,, walaupun kita tidak tahu kapan yaumul hisab akan datang tetapi setidaknya kita masih mempunyai orang-orang yang menunggu pertanggungjawaban dari atas sebuah amanah yang telah diberikan kepada kita.

Berat?? tentu saja. Itulah alasan mengapa orang berbagi tugas. Kalau ringan-ringan saja mungkin saya tidak akan butuh kalian. Saya hanya membutuhkna sepasang mata, telinga, kaki dan tangan serta sebuha hidung untuk mengerjakan. Tetapi mengapa kadang kita lupa punya otak yang sudah terinterigasi dengan buah akal dan pikiran. Coba gunakan keduanya maka kita tidak akan pernah melimpahkan pekerjaan mudah dan remeh kepada orang lain. Berpikir bahwa ini mudah dan saya dapat mengerjakannya.

Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya melebihi apa yang hamba-Nya sanggup untuk meminggulnya. Kecuaali kita seorang saudagar bodoh yang memaksa keledai-keledai kita membawa beban yang bahakan tak sanggup dibawa olehnya. Membawa seperangkat barang-barang kita memenag tugas-tugas keledai itu -banyak orang yang bilang keledai bodoh, maka mereka mengumpat orang bodon dnegan makian keledai-. Lantas siapa keledai itu sebenarnya? Sayakah orang yang telah menuyuruh keledai untuk membawa barang melebihi kekuatannya?

Lagi-lagi saya harus berpikir keras memecahkan teka-teki rubik yang saya pegang. Seseorang telah mengacaknya dan ketika bongkah plastik itu berada di tangan saya maka saya yang menyelesaikan. Nampak bodoh memang karena saya tidak jago bermian rubik. Tapi bukankah tidak ada yang sia-sia. Malam ini saya ahrus bisa memcahkan satu dari 6 bagian warna rubik. Besok satu lagi, beosknya satu lagi, dan saya bisa membuat rubik itu kembai seperti semula seperti ketika dibeli pertama kali di toko mainan.

Hidup tidak seperti keledai yang dipaksa membawa segala muatan. Hidup -walaupun susah- tapi bisa diselesaikan seperti teka teki rubik. Maka…tersenyumlah apapun yang saya rasakan. Tidak akan ada dosa karena berbagi senyum dengan orang yang ada disekeeliling kita. tetap tersenyum, saudaraku…

Categories: Nyastra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: