Terbang (sebuah trilogi – 3)

Tidakkah kau paham kawan bahwa hidup terlalu mudah dengan hanya duduk atau berdiri saja. Kita butuh sedikit lecutan agar tak terbuai dengan nyamannya berada di atas bulatan yang diberi nama bumi. Maka, kuputuskan terbang. Jika dengan berlari saja aku harus berdesakkan dengan ribuan makhluk yang mencari hal sama, aku terbang melihat situasi dari atas saja.

Map coklat masih di tangan. Kini bentuknya semakin lencu karena sudah aku remas sepanjang hari. Mengapa tak kunjung menemukan pemilik map coklat ini? Apa kubuang saja? Atau bahkan kubakar hingga jadi abu saja? Ah kawan, mana mungkin aku menyerah begitu saja.

Satu… dua… tiga… hap hap ternyata aku sudah melayang. Pertama masih jelas kulihat manusia-manusia hilir mudik. Kemudian yang kulihat hanya mobil-mobil yang sibuk memadati jalan yang super panas. Lantas aku hanya bisa melihat puncak-puncak pentasbihan kota-kota besar, gedung pencakar langit.

Tak dapat kupercaya, aku kini mengambang. Benar rupanya, aku tak terhalang lagi, aku bebas kemana aku ingin pergi. Sambil terbang, aku rapikan lagi kemeja kebangganku serta aku kembangkan senyum terbaikku. Aku siap menjadi yang pertama dan terbaik. Kubolak-balik map coklat, dia menggeliat seakan menuntunku kepada jalannya. Ditunjuknya sebuah kantor. Itu kantor dimana para akuntan berlomba-lomba menganalisa sebuah laporan yang katanya sakti mandraguna. Jika laporanya tidak benar tentu perusahaan tidak mendapatkan investornya. Semakin dekat semakin semangat.

Kini kutapaki lobi bermarmer putih mengkilap, aku bisa mengaca dari atasnya. Kupandang diriku sejenak. Masih rapi dan masih layak untuk sebuah posisi. Melangkahlah aku dengan pasti menuju sebuah meja penuh misteri yang mungkin akan menjadi jembatan awal untukku meriah mimpi kemarin sore. Benar! Ku dapat mimpiku. Lihatlah kawan, betapa mudah jika kita memaksa diri untuk berbuat lebih dari apa yang dilakukan orang lain.

Saat orang lain tertidur, bangunlah!
Saat orang lain bangun, berjalanlah!
Saat orang lain berjalan, berlarilah!
Saat orang lain berlari, terbanglah!

Categories: Nyastra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: