Saya Malu Menjadi Duta Wisata

Sekarang ini Saya kuliah di kampus yang menjuluki dirinya sebagai kampus multikultural. Means mahasiswanya memang berasal dari banyak suku yang ada di Indonesia. Pendidikan multikultural pun menjadi salah satu mata kuliah wajib kampus. Kalo di tempat kuliah Saya dulu nama mata kuliahnya Budaya Nusantara.

Kemarin malam, kampus bikin acara penutupan ospek yang dibikin meriah dengan unsur budaya yang emang bakalan ditonjolkan selama acara. FYI, di kampus Saya emang cukup banyak mahasiswa yang berasal dari daerah Kalimantan, dan Indonesia bagian Timur. Bisa dipastikan dari mulai tari-tarian dan musik tidak luput dari budaya dayak, sumba, dan ambon. Luar biasa!

Several weeks before main event, ada audisi untuk menyeleksi pengisi acara yang akan tampil. Ada audisi tari, vokal, band, dan bentuk kesenian lain. Disinilah rasa heran muncul. Ternyata yang daftar audisi itu banyak banget. Mungkin ini yang dimaksud dengan primodialisme ya? Tapi tidak sekadar bangga “Aku wong Jowo”, atau “Abdi urang Sunda” gitu aja. Mereka membanggakan budayanya dengan tampil di pentas.

Rasa terpukau makin besar saat penampilan di malam puncak penutupan. Wow amazing!! Tarian dayak ditampilkan dengan sangat memukau oleh mereka –mahasiswa asli Kalimantan- yang kuliah di Malang. Sekitar empat belas orang penari dan delapan pemain musik. Semuanya kompak sehingga tarian yang ditampilkan pun benar-benar terlihat spektakuler.

Lanjut ke tarian dari Sumba. Masih tari massal juga yang dimainkan oleh enam pasang muda-mudi yang ceritanya sedang memadu kasih dan bersenang-senang. Uniknya tarian ini (namanya lupa, tapi ada kata rano gitu deh) tidak memakai alat musik sama sekali. Ya…musik yang mengiringi tariannya itu ada seorang penyanyi laki-laki yang berteriak melagukan backsound tarian. Kemudian tarian dilanjutkan dengan perang ala pemuda sumba, kali ini mereka membawa sebilah golok yang diayun-ayun.

Tarian dari ambon juga turut memeriahkan acara dengan lagu yang rancak dan gerakan yang menurut Saya monoton, toh ternyata bisa memukau hampir seribu lebih mahasiswa yang ada. Tarian dari Madura yang sempet bikin histeris cewek-cewek gara ditengah tarian pake acara melempar celurit, senjata khas Madura. Utung itu celuritnya ge kena kepala orang.

Malu sebernarnya mengakui  kalau pengetahuan budaya Saya itu kurang banget. Saya ga bisa tuh nari-nari Jawa. Yang saya bisapun Cuma tarian Kridho Retno yang saya pelajari untuk nampil di SEA GAMES 2011 kemarin di Palembang. Selain itu benar-benar saya ga tahu budaya apa yang tersimpan di tanah Jawa Saya ini. Saya tahu sih jenis-jenis keseniannya seperti nembang,  tari topeng, seni wayang dan dalang, dan masih banyak lagi. Saya bisa apa?

Teman-teman saya tadi yang menari, mereka bukan duta wisata tetapi kemampuan mereka memperkenalkan budayanya harus diacungi jempol. Dimana bisa kita temukan  anak muda yang mau dan sanggup memperkenalkan kekhasan daerahnya. Nembang aja Saya ga bisa. Huft… inget-inget slempang duta wisata Saya yang ada dirumah.

Selama hampir dua tahun menjabat sebagai duta wisata, sepertinya Saya belum banyak berkontribusi untuk perkembangan wisata di daerah Saya. Selain karena tidak tahu  bagaimana caranya, Saya juga ga tahu mana wisata yang harus dikenalkan. Saya malah sibuk mencari eksistensi berkumpul bersama teman duta wisata lainnya. Apakah menjadi duta wisata hanya bertanggung jawab atas wisata itu sendiri?

Kemudian dimana tanggung jawab terhadapt budayanya? Bukankah budaya dan kesenian mejadi faktor penunjang untuk menarik wisatawan datang. Ini yang kadang Saya lupakan. Berkoar-koar soal wisata tapi tidak menguasai budaya setempat. Ibarat jualan DVD bajakan, Saya kurang tahu apakah filmnya bagus atau ga.

Teman-teman Saya tadi tidak perlu disuruh untuk menjadi duta wisata, tetapi secara sadar mereka berlomba-lomba menampilkan kesenian terbaiknya. Lhah Saya? Kadang-kadang malah harus ditarik-tarik dan dipaksa-paksa belajar wisata dan kebudayaan. Pas ada kesempatan selalu ada alasan “Ya ampun, aku besok ada ujian”. Hahahaha… lebay deh tapi emang seperti itu kenyataanya. Ketika budaya hanya dijadikan pesyaratan untuk mengikuti sesuatu, setelah itu lupa bahwa budaya dan wisata itu dilestarikan tapi bukan hanya untuk dihapal.

Categories: Campur-Campur | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Saya Malu Menjadi Duta Wisata

  1. putu indra

    hahaha…. keinget hadiah nya juara duta wisata yg tahun 2011. tiket liburan ke singapura. hadiah yg bodoh dr mereka yg bodoh buat para pemenang yg gak ngerti n gak pede dengan budaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: