Tak Kan Kau Temui Orang Sepertiku Meski Engkau Lelah Sekalipun

“Dam. Udah terima, kan? Dam… Dam… Adam??”
Tut..tut…tut….

Adam menutup teleppon dan kembali melangkahan kakinya dijalan depan kantor yang masih basah sebab hujan sedari siang. Hujan nampaknya bisa membasahi sedikit keringnya hati seorang lelaki yang kini memutuskan. Dia tak gentar, melawan sibuknya jalanan super macet. Kali ini dia berhenti di halte untuk menunggu metromini yang siap membawanya ke depan gang rumah kecilnya.
*********

“Adam kenapa ya, Ra?”
“Hmm..gue ga nyalahin dia juga sih. Berat kali, Tan buat dia. Lagian elo ngomongnya jelas banget sih?”

Malam itu dikamar seukuran 3×5 meter Intan dan Rara menumpahkan segala rasa bimbang yang sempat menghantui. Intan yang berambut lurus sebahu dan berkulit putih. Sedang Rara yang begitu feminimnya terlihat begitu saltum disesi curhat kali ini. Dua gadis tadi sibuk memilih model kebaya yang cocok.
*******

Dalam hati Adam melamun. Emang salah ya gue sedih? Gue juga mau sedih kok. Gue cuma mau ada gitu orang yang paham sama situasi kaya gini. Ini berat dan gue harus ngadepin sendiri. Gue sih ga mau terlibat jauh sama feeling yang emang udah ga belong to me lagi. Tapi…

Adam sibuk membolak-balik semacam kertas bersampul dan berwarna merah semburat kuning. Masih terbungkus rapi oleh plastik dengan tempelan nama undangan “Adam Prasetya, SE”. Dia tidak percaya ini ada. Pikirannya kembali melayang saat dulu di semester lima dirnya sibuk belajar auditing demi sebuah nilai A. Intan, gadis yang dia temani selama kuliah akan segera menikah dengan calon yang diplihkan ayahnya.
“Ah…gue ga boleh larut kaya gini. Toh Intan nikah sama siapa itu adalah takdirnya dia. Kalaupun dia akhirnya mengarungi bahtera rumah tangga dengan orang lain itu adalah segenap pilihannya”.

Never mind i’ll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
Don’t forget me
I’ll beg
I remember you said
Sometimes it last in love
But sometimes it’s hard instead
(Someone Like You – Adele)
*******

“Eh Tan ada panggilan masuk tuh, kok Adam?”
Intan kaget dan segera meraih telepon genggamnya. Sesaat dia ragu menkan tombol accept, tapi akhirnya dia berani berbicara. Wajahya tak lagi galau, sebersit senyum mulai muncul dari kedua ujung bibirnya. Dia tak kuasa menahan tangis bahagianya. Dia mengangguk-angguk, kemudian menutup teleponnya.
“Ra, Adam bilang dia datang di pesta pernikahan gue”.
Ruangan hening seketika.
*******

Kamu udah bahagia, Tan. Aku ga akan tinggal dalam kesedihan. Terimakasih udah jadi yang paling spesial selama delapan semester sampai kita dapetin gelar Sarjana Ekonomi. Kini aku menjalani hidupku sendiri dulu. Aku datang, Tan. Aku datang ke pesta pernikahan kamu sebagai seorang teman yang menyaksikan temannya mengukir sejarah bahagia.
Semoga tidak egois bila aku katakan “Tak kan kau temui orang sepertiku meski engkau lelah sekalipun”

Categories: Nyastra | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: