[Lomba Fiksi Fantasi 2012] [Rajah Ajaib dan Pasar Malam Rahasia]

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Rajah Ajaib dan Pasar Malam Rahasia

Keyword : Pasar malam, pohon pisang, cerpelai, rajah, palung, polkadot, gula-gula.

 Sore itu senja enggan datang, hujan yang sejak pagi mengguyur kota tak kunjung berhenti. Matahari dibuat malas menampakkan wajah walau sepintas. Jalanan basah, mobil menyipratkan semburat air ke samping jalan dan…

            “Ish, mobil sialan! Basah kan bajuku”, Evan.

           “Hahahaha….!”, empat anak lainnya tertawa melihat temannya terkena air cipratan mobil yang baru saja lewat.

            Mereka adalah Evan, Julia, Devina, Izar, dan Yudha. Lima orang anak SMP yang baru saja pulang dari bereksperimen di rumah kosong dekat gedung sekolah mereka. Layaknya anak usia 13 tahun yang penasaran isi rumah yang tak lagi berpenghuni tersebut, mereka meringsek masuk mencari entah apa berharap harta karun tersimpan di dalamnya.

            “Tuh kan, apa kubilang. Udah basah-basah gini ga dapet juga kan harta karunnya. Kamu sih sok tahu, Van”, Julia.

            Kelima anak tadi masih saja berseteru tentang rumah kosong yang tak ada isinya sama sekali.  Kali ini pihak laki-laki melawan pihak perempuan. Evan, Izar, dan Yudha yakin sekali bahwa ada sesuatu terdapat di rumah misteri itu. Sedangkan Julia dan Devina menolak mentah-mentah opini gila para lelaki.

            Adzan maghrib dan mereka telah sampai di rumah masing-masing. Evan masih termenung dan terlihat berpikir keras. Ia yakin bahwa di dalam rumah itu ada pasar malam rahasia. Pak Bondan, tetangga depan rumahnya, sempat memberikan kode tentang itu.

            Kriiiiiing…………

            Seketika ratusan siswa berseragam biru-putih keluar kelas dengan gembiranya. Ujian akhir semester telah selesai dan mereka bebas mengisi waktu liburnya. Nampaknya, lima jagoan sok tahu tadi juga telah siap dengan rencana-rencana gila.

            “Kamu yakin mau langsung tanya ke Pak Bondan?”, tanya Izar dengan nada tidak yakin.

            Tak banyak yang mengenal Pak Bondan. Terlebih sejak masuk rumah sakit Jiwa 10 tahun yang lalu. Dia kemudian pindah ke perumahan tempat Evan tinggal bersama orangtuanya. Orang-orang tak berani menyapa bapak tua yang selalu setia membawa seekor cerpelai dipundaknya itu.

            Evan bersikeras ingin agar idenya diterima oleh teman-temannya. Dia membujuk teman-temannya untuk ikut dengan proyek gilanya mencari tahu isi rumah misteri. Pak Bondan lah satu-satunya jalan keluar untuk misteri ini. Mau tak mau empat orang lainnya menurut kepada perintah ketua kelompok yang selalu memakai kacamata itu.

            Rumah Pak Bondan hanya rumah biasa. Tak banyak ornamen kecuali sebuah pohon pisang yang dibiarkannya tumbuh di muka rumah. Lampu dirumahnya hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 10 malam saja. Setelah itu, gelap sampai esok matahari datang lagi.

            Tok…Tok…Tok…

            “Permisi…..”, ucap mereka bersama-sama.

            Tak ada respon seperti yang diharapkan mereka.

            “Sepertinya Pak Bondan ga ada di rumah, teman-teman”, celetuk Yudha.

            Evan, Julia, Devina, Izar, dan Yudha kecewa sebab orang yang dipikirnya akan memecahkan misteri ternyata sedang tidak di rumah. Mereka memandangi pintu coklat yang nyaris mengelupas catnya. Hingga saat mereka berbalik hendak pulang,

            “Aaaaaaaaaa!!!”,

            Pak Bondan tiba-tiba muncul dari arah depan sambil mengelus-elus cerpelai yang menggelayut manja di pundak kanannya. Semuanya kaget melihat kedatangannya secara mendadak. Tercekat seketika membuat semua  lupa tentang hal yang ingin mereka sampaikan.

            Bapak tua yang umurnya sekitar 60 tahun tadi langsung menghampiri anak-anak yang terduduk dibawah jendela rumah. Mereka semakin gemetar karena takut akan diapa-apakan oleh Pak Bondan.

            “Apa yang kalian cari? Mencariku?”, ujarnya semabri melangkahkan kaki ke pintu dan membuka pintu rumahnya. “Masuklah ke dalam, aku buatkan teh untuk kalian semua”.

            Dengan langkah ragu mereka masuk ke rumah Pak Bondan. Mulut mereka kembali menganga ketika mereka melihat ornamen-ornamen antik berjejer rapi di dinding. Ada lukisan palung dengan hiasan batuan koral warna-warni, badut berbaju polkadot yang memainkan bola tenis, dan foto-foto pasar malam yang sarat akan lampu-lampu cantik nan gemerlap.

            Tidak lama kemudian terhidang enam cangkir berisi teh hangat dan sepiring biskuit kelapa di meja tamu. Anak-anak yang tadinya gemetar mulai seidkit lega karena Pak Bondan tidak semisterius yang mereka kira. “Ini pasar malam dimana ya, Pak? Saya belum pernah melihat pasar malam sebagus itu”, Izar memulai pembicaraan.

            Entah kenapa, sepertinya orang yang ditanyai tampak tidak antusias dengan pertanyaan Izar. Dia hanya melemas dan merunduk lesu di kursi goyang yang diletakkan di pojok ruangan. Dia kemudian mengambil cangkir teh nya dan mulai menceritakan sedikit kisah hidupnya. Anak-anak nampak menjadi serius menyimak cerita yang disampaikan.

            “Itu yang difoto memang bukan pasar malam sembarangan. Itu pasar malam rahasia.”, jawabnya pelan.

            “RAHASIA?!!”, anak-anak melongo mendengar jawaban tersebut.

            Mereka tidak percaya bahwa Pak Bondan jago mendongeng. Sampai-sampai dia menyebutkan sebuah pasar malam rahasia. Tidak ada yang percaya tapi juga tidak ada yang  berani menanyakan kebenaran cerita itu. Pak Bondan melanjutkan ceritanya.

            Dulunya, Pak Bondan tinggal disebuah rumah yang cukup megah bersama seorang istri dan kedua anaknya. Yang laki-laki namanya Reza dan yang perempuan namanya Lisa. Reza dan Lisa adalah anak yang cerdas dan selalu menjadi juara di kelasnya.

            Suatu hari ketika Pak Bondan sedang bekerja dia mendapat telepon dari istrinya bahwa anaknya hilang saat bermain-main. Segera dia pulang ke rumah karena panik anaknya hilang. Sesampainya di rumah dia mendapati istrinya menangis. Dia segera mendekati istrinya yang duduk di depan komputer Reza.

            “Mana anak-anak? Bagaimana mungkin mereka bisa hilang?”, Pak Bondan bertanya panik kepada istrinya.

            Istrinya menggeleng, dia hanya menunjuk-nunjuk layar komputer bergambar sebuah bianglala raksasa dengan hiasan lampu diseluruh tiangnya. Pak Bondan jelas tak paham maksud istrinya. Dia menenangkan istrinya dan memberikannya segelas air putih.

            “A…nak kita masuk ke dalam komputer itu. Mereka melihat ada pasar malam tiba-tiba Reza dan Lisa hilang, Pa”, jelas Ibu Tika dengan sedikit menangis.

            Sungguh tidak bisa dipercaya. Anaknya hilang ditelan oleh komputer. Tak ada petunjuk bagaimana mereka bisa hilang dan bagaimana menyelamatkan anaknya yang bisa saja terkurung di pasar malam rahasia itu selamanya.

            Yang jelas waktu kejadian, Ibu Tika sedang pergi berbelanja sedang Pak Bondan bekerja di kantornya. Pak Bondan adalah pemilik sebuah Kantor Akuntan Publik yang cukup terkenal di kota. Dia banyak sekali mendapat pekerjaan dari perusahaan besar untuk melakuka auditing. Tak heran, rumahnya besar dan kaya raya.

           Istrinya belum bisa menerima hilangnya buah hati mereka yang saat hilang sedang bersekolah di bangku SMP. Reza kelas 2 SMP dan Lisa kelas 1 SMP. Dia yang selalu murung akhirnya disarankan dokter untuk dirawat di rumah sakit khusus kejiwaan. Ini pukulan berat bagi Pak Bondan yang kehilangan anaknya dan kini harus merelakan istrinya menjadi gila.

            Dia ingat satu hal. Hari pada saat anaknya hilang, istrinya membawa sebuah kertas buram bertuliskan huruf dan angka-angka yang sama sekali tidak di pahami. Dia mengira itu adalah mantra untuk bisa menembus pasar malam rahasia. Satu lagi peninggalan anaknya adalah seekor cerpelai yang menjadi binatang kesayangan Reza dan Lisa.

            Sepuluh tahun berlalu, yang menjadi temannya hanya seekor cerpelai yang menggantung lucu dipundaknya. Kertas mantra tadi disimpannya di dalam dompet. Foto-foto pasar malam yang ada di dindingnya adalah foto dari komputer yang dicetaknya. Dia meninggalkan rumah megahnya begitu saja.

            “Rumah Pak Bondan yang ada di dekat sekolah kami kah?”, Tanya Julia ragu.

            Pak Bondan mengangguk. Benar saja, teka-teki rumah misteri itu kini terpecahkan. Itu adalah rumah Pak Bondan yang ditiggalkan sepuluh tahun yang lalu. Bukan harta karun yang tersimpan di dalamnya tetapi sebuah pasar malam rahasia.

            “Pak, boleh kami lihat kertas ajaibnya?”, ucap Evan yang sok tahu.

            Tidak lama kemudian selembar kertas berada di tangan Evan dan dengan hati-hati dibukanya selmbar kertas itu. Dia menggeleng, kemudian mengangguk, lalu mengangat sebelah alisnya. Entah apa yang dibaca, semua penasaran tak terkecuali Pak Bondan.

            “Saya tidak pernah mengerti apa maksud kertas itu, itu seperti sebuah mantra untuk mereka yang percaya dengan ke-mustahil-an”, Pak Bondan.

            Jika Pak Bondan tidak percaya, anak-anak tadi malah asyik menyelesaikan teka-teki yang tersembunyi di dalamnya. Dan secara ajaib huruf acak tadi berubah tulisannya menjadi berbunyi

            “BUMI 45, BULAN 50, MATAHARI?”

            “Hanya satu soal ini?”, ujar Yudha remeh.

            Semuanya kembali berpikir apa maksud mantra ini. Bumi, bulan, dan matahari seperti pejaran IPA saja. Tapi mereka belum paham maksud angka 45 dan 50. Sambil berpikir mereka menyeruput teh yang sudah muali dingin.

            “Pak, bagaimana kalau besok pagi kita pergi ke rumah itu saja? Kami juga sudah menyimpan penasaran sejak beberapa waktu lalu”, ajak Evan meyakinkan.

            Semuanya setuju. Tulisan di kertas tadi mereka salin dan mereka bawa pulang. Di rumah, mereka berpikir keras mengenai kode yang belum terpecahkan tersebut. Mungkin dengan kode tersebut mereka bisa masuk ke pasar malam dan menemuka Reza dan Lisa yang sudah hilang sepuluh tahun ini.

            Evan menelungkupkan badannya di atas kasur sambil memandang secarik kertas yang dianggapnya ajaib. Kertas itu mungkin jalan satu-satunya cara membuka portal menuju pasar malam rahasia. Tapi apa maksudnya? Dia tak kunjung mendapatkan ide dari tulisannnya.

            Evan kemudian menuliskan huruf A-Z secara vertikal dan menomori A sebagai angka 1, B angka 2, dan seterusnya. Hingga akhirnya dia menemukan formulanya.

            Keesokan paginya kelima anak pemberani ini sudah siap di depan rumah misteri ditemani Pak Bondan. Pak Bondan menbambil komputer yang disimpannya di dalam gudang. Komputer yang sudah sepuluh tahun menghentikan operasinya kini berjalan lagi di tangan anak-anak cerdas. Setelah komputer siap, Evan langsung memilih shotcut “pasar malam rahasia” dan ketika diminta kodenya, dengan percaya diri Evan mengetik angka 71.

            Tiba-tiba angin menderu masuk ke dalam rumah. Angin yang cukup kencang hingga mereka tidak sadar bahwa rumah telah berubah menjadi sebuah tempat yang berbeda. Pasar malam rahasia!

            Bianglala besar berputar dihiasi lampu kelap-kelipnya. Seorang badut berbaju polkadot menari-nari ditengah kehampaan, dan seorang penjual gula-gula wanita yang menunggu pengunjung semu. Pak Bondan langsung mengenali badut dan penjual gula-gula itu. Mereka adalah Reza dan Lisa yang sudah sepuluh tahun terpenjara di dalam pasar malam rahasia.

            Perasaan haru dan sedih kemudian menghampiri keluarga yang lama terpisah tadi. Mereka berpelukan sambil tak percaya akan apa yang mereka hadapi saat ini. Terpisah sepuluh tahun dan sekarang bertemu di dunia yang entah dimana letaknya.

            “Segera cari komputer tadi dan shutdown komputernya, itu jalan untuk keluar dari sini”, teriak Evan.

                                    ******

            Evan benar-benar anak yang cerdas. Dia menemukan bahwa jika huruf diibaratkan angka, maka BUMI berjumlah 45 dengan B (2) + U (21) + M (13) + I (9) = 45. Begitu juga untuk BULAN dan MATAHARI.

            Mereka semua selamat dan terpecahkan sudah misteri rajah ajaib dan pasar malam rahasia.

NB : Informasi lomba fiksi fantasi bisa dilihat di http://9lightsproduction.multiply.com/journal/item/12/Lomba_Fiksi_Fantasi_2012

Categories: Nyastra | 1 Comment

Post navigation

One thought on “[Lomba Fiksi Fantasi 2012] [Rajah Ajaib dan Pasar Malam Rahasia]

  1. Pingback: [UPDATE PESERTA] Lomba Fiksi Fantasi 2012 « ninelights

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: