Monthly Archives: March 2012

Achievement is Everywhere

Cerita ini tentang teman saya yang membuat saya semakin sadar  bahwa berprestasi bisa dimana saja.

Kemarin malam seorang teman dekat yang lama tidak mengirim pesan, tiba-tiba menyapa saya di Whats App Mesenger. Berbasa-basi menyakan kabar masing-masing dan sekadar asking “how’s life?”. Banyak cerita menarik yang saya dapat, salah satunya adalah pengalamannya menjadi karyawan teladan.

Menjadi karyawan teladan mungkin adalah hal yang biasa saja. Tetapi kalau terbaik se-Indonesia tentu menjadi sesuatu yang luar biasa. Teman saya ini umurnya hanya selisih satu tahun dibawah saya. Sejak lulus SMK dia memutuskan bekerja. Pernah menjadi karyawan perusahaan retail dan terkahir dia bekerja di sebuah supermarket sebagai kasir.

Entah bagaimana ceritanya, malam itu dia menceritakan pengalamannya ke Jakarta karena mendapat penghargaan sebagai kasir terbaik, terbaik se-Indonesia. Kemudian saya banyak bertanya bagaimana dia bisa mendapatkan prestasi sekeren itu. Katanya, penghargaan ini dinilai dari pusat. Menilai keramahan, kecepatan, dan ketilitian seorang kasir. Seriously, I never tought about it previous.

Menurut saya sih dia keren. Membuka pemikiran kita bahwa untuk berprestasi bisa dimana saja. Selama ini setiap berbelanja di supermarket tersebut saya atau kamu mungkin tidak menyadari ya kalau pekerjaan sebagai seorang kasir punya tanggung jawab yang besar dan ada penilaian di dalamnya. Dari cerita ini saya jadi sedikit mengerti.

Terus terang saya malu. Sudah seberprestasi apakah saya di bidang yang saya kerjakan sekarang ini? Membayangkan teman saya diajak keliling Jakarta dan mendapat penghargaan langsung dari pusat tentu sebuah hal yang membanggakan. Ini sebuah lecutan buat saya pribadi untuk semakin menguatkan ide-ide sehingga mampu berkarya lebih.

Tapi kapan sebuah prestasi itu kita anggap sebagai prestasi?

Advertisements
Categories: Campur-Campur | Leave a comment

Remo Dance

In this moment, I’d like to introduce you about one of traditional dance well-born from East Java. Yes, it is Remo. Remo is a dance performance which is usually performed at the beginning of ludruk, also one of traditional role play from East Java. But this dance has been evolved as greeting dance in many formal occasions such governmental event and ceremonial. Remo tells about a prince who fought at battlefield. Nowadays, not only man who can perform but also woman do. If the dancer is woman, people call it Remo Putri.

There are many types of Remo based on the region in East java ; Remo Surabaya, Remo Jombang, Remo Malang,  and Sawunggaling. Each region has its uniquely. Visible difference is about the costume wore by dancer. For Surabaya, dancer use red headband, black  long-sleeve shirt without button, and  ¾ trousers. Black shirt reflects to costume of Javanese kingdom at 18th century instead of another region use a white long-sleeve shirt.

Main characteristic of its dance is dynamic and smart ankle motion. It is supported with bells hanging in ankle. It sounds so great and very attractive. Another characteristic is scarf used in shoulder, the scarf is called sampur. The motion of the head, face expression, and gallant pose make the dance become more attractive.

Here I embed a video of Remo. Enjoy!!

Categories: Jalan-Jalan | Leave a comment

Meyakini Tuhan

Meyakini bahwa segala sesuatunya akan berjalan lancar seperti meyakini bahwa sebuah kekuatan besar menyertai setiap langkah kita. Tak peduli seberapa berat beban yang terangkat di pundak atau betapa kasar jalanan yang rusak diterjang hujan, berjlaanlah seperti tidak ada waktu untuk beristirahat.

Bila pagi datang maka segeralah mencari apa yang seharsunya menjadi milikmu seutuhnya. Menjelang siang jangan pernah berpikir sekalipun untuk berhenti ketika matahari sedang kuat-kuatnya menyinari. Saat sore, santailah sejenak, bukan untuk melupakan mimpi tapi untuk berancang-anacng untuk malam pkeat yang mengancam. Dan bila malam sudah pekat, yakinlah semakin dekat surya mengampiri kita.

Apa yang tidak disediakan Tuhan? Jika Dia menciptakan pedih, bahagia akan muncul sesudahnya. Tidak peduli seberapa lelah kau berusaha, manis yang kau terima juga tak kalah lekat dari apa yang kau perbuat. Melebihkan usaha dari orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih.

Kita tidak sendiri atau lebih tepatnya tidak benar-benar sendiri. Jika tak ada teman tentu Tuhan lebih dekat dari urat leher kita. Jika tak ada Tuhan, mampukah kau bernafas saat ini?

Categories: Nyastra | Leave a comment

Manajemen Tukang Cukur

Pernah melihat tukang cukur? Bukan yang di salon atau barber shop tapi tukang cukur yang biasanya membuka jasanya dipinggir jalan. Miungkin sebagian cowok familiar ya dengan keberadaan tukang cukur pinggir jalan ini. Jujur saja, saya juga salah satu pengguna jasa ini dari SD sampai SMA. Saat kuliah sampai sekarang saya lebih sering ke salon. Hehehe..

No no no, i won’t talk about my experience of being cut by a barber. Saya tergerak bikin tulisan “Manajemen Tukang Cukur” setelah beberapa waktu lalu dosen saya bercerita tentang bagaimana mereka bekerja. Walaupun terkesan simpel but it realy does.

Yang pertama. Tukang cukur pinggir jalan menyapa langsung pelanggannya. Tidak ada resepsionis seperti di salon-salon yang menanyakan apa yang kita inginkan atau menyilakan kita duduk. Tukung cukur langsung menyilakan pelanggannya menunggu jika saat itu ada beberapa orang datang.

Kedua. Tukang cukur mengerjakan tugasnya sendiri memangkas rambut pelanggannya. Hampir tidak pernah dijumpai ada dua orang yang memangkas rambut seorang saja. Dia menanyakan sendiri mau model macam apa kemudian mengerjakan sendirian.

Ketiga. Setelah selesai mencukur rambut. Yang kita lakukan adalah membayar jasanya kan. Coba ingat-ingat siapa yang menerima uang kita? Tukang cukur itu lagi ya? Yang ngasih kembalian kalau uang kita lebih? Dia juga kan. Wah, fungsi kasir pun juga dilakukan oleh seorang tukang cukur pinggir jalan.

Keempat. Tempat cukur tentunya menjadi tempat yang cukup kotor karena rambut berserakan dimana-mana. Lagi-lagi di sini dia membersihkan ruangan kerjanya sendiri. Menyapu rambut hasil pangkasan untuk dibuang.

Dari empat  hal tadi kita bisa menarik kesimpulan bahwa seorang tukang cukur benar-benar bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak terbayang di era modern seperti sekarang ini masih ada hal-hal yang bisa dilakukan sendiri.

Nah inilah yang tidak bisa kita contoh dari seorang tukang cukur. Kita bisa saja mencontoh kegigihannya dalam bekerja namun dalam pekerjaanya tidak ada unsur organisasi yang memungkinkan orang lain untuk membantunya. Jika organisasi didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang mempunyai visi sama dan bekerja bersama-sama. Maka saat berorganisasi atau menjadi bagian dari sebuah organisasi, janganlah bekerja sendiri. Kemampuan team work akan lebih efketif dan efisien untuk menyelesaikan masalah-masalah .

Categories: Campur-Campur | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: