Manajemen Tukang Cukur

Pernah melihat tukang cukur? Bukan yang di salon atau barber shop tapi tukang cukur yang biasanya membuka jasanya dipinggir jalan. Miungkin sebagian cowok familiar ya dengan keberadaan tukang cukur pinggir jalan ini. Jujur saja, saya juga salah satu pengguna jasa ini dari SD sampai SMA. Saat kuliah sampai sekarang saya lebih sering ke salon. Hehehe..

No no no, i won’t talk about my experience of being cut by a barber. Saya tergerak bikin tulisan “Manajemen Tukang Cukur” setelah beberapa waktu lalu dosen saya bercerita tentang bagaimana mereka bekerja. Walaupun terkesan simpel but it realy does.

Yang pertama. Tukang cukur pinggir jalan menyapa langsung pelanggannya. Tidak ada resepsionis seperti di salon-salon yang menanyakan apa yang kita inginkan atau menyilakan kita duduk. Tukung cukur langsung menyilakan pelanggannya menunggu jika saat itu ada beberapa orang datang.

Kedua. Tukang cukur mengerjakan tugasnya sendiri memangkas rambut pelanggannya. Hampir tidak pernah dijumpai ada dua orang yang memangkas rambut seorang saja. Dia menanyakan sendiri mau model macam apa kemudian mengerjakan sendirian.

Ketiga. Setelah selesai mencukur rambut. Yang kita lakukan adalah membayar jasanya kan. Coba ingat-ingat siapa yang menerima uang kita? Tukang cukur itu lagi ya? Yang ngasih kembalian kalau uang kita lebih? Dia juga kan. Wah, fungsi kasir pun juga dilakukan oleh seorang tukang cukur pinggir jalan.

Keempat. Tempat cukur tentunya menjadi tempat yang cukup kotor karena rambut berserakan dimana-mana. Lagi-lagi di sini dia membersihkan ruangan kerjanya sendiri. Menyapu rambut hasil pangkasan untuk dibuang.

Dari empat  hal tadi kita bisa menarik kesimpulan bahwa seorang tukang cukur benar-benar bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak terbayang di era modern seperti sekarang ini masih ada hal-hal yang bisa dilakukan sendiri.

Nah inilah yang tidak bisa kita contoh dari seorang tukang cukur. Kita bisa saja mencontoh kegigihannya dalam bekerja namun dalam pekerjaanya tidak ada unsur organisasi yang memungkinkan orang lain untuk membantunya. Jika organisasi didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang mempunyai visi sama dan bekerja bersama-sama. Maka saat berorganisasi atau menjadi bagian dari sebuah organisasi, janganlah bekerja sendiri. Kemampuan team work akan lebih efketif dan efisien untuk menyelesaikan masalah-masalah .

Categories: Campur-Campur | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: