Menjajal Semeru (Part 1)

This slideshow requires JavaScript.

Menjajal Semeru siapa yang tidak mau? Merasakan sensasi berdiri di gunung tertinggi di Pulau Jawa ini.  Ada dua jalur untuk mencapai lokasi titik awal mendaki Semeru. Yang pertama lewat Tumpang, Kabupaten Malang dan jalur lainnya lewat Senduro, Kabupaten Lumajang. Untuk pendaki-pendaki yang suka sensasi “batu-batuan” pintu Malang patut dicoba.

Dari pintu Lumajang atau Tumpang, keduanya akan berhenti di titik awal pendakian Semeru yaitu di Ranu Pane. Sebuah Danau diketinggian sekitar 2200 mdpl. Di titik awal ini terdapat pos untuk ijin masuk Semeru, pondok pendaki, dan dua warung kecil. Pondok pendaki  biasanya digunakan sebagai tempat istirahat pendaki yang sampai sana terlalu malam jadi harus bermalam dulu. Sebagai informasi, pendakian biasanya ditutup sampai jam 4 sore. Setelah itu, silakan berangkat keesokan harinya.

Pos Pendakian Ranu Pane

Dari Ranupane kita harus meminta perijinan dari pos penjagaan terlebih dahulu (tips dan cara akan dibahas ditulisan berikutnya). Prosesnya cepat asal ikuti perintah petugasnya. Setelah dapat ijin langsung deh bisa mengawali kegiatan trekking menuju Semeru. Tidak langsung ke Semeru sih sebenarnya, ada beberapa titik yang akan kita lewati.

Tujuan awal pendaki adalah Ranu Kumbolo. Jaraknya sekitar 10,5 km dari Ranupane dengan jarak tempuh tiga hingga empat jam tergantung kecepatan jalannya. Di awal-awal ini jalur trekking tergolong mudah dan tidak terlalu menanjak. Ada 4 pos istirahat kalau kelelahan.  Sekitar satu jam setelah trekking saya sampai di titik Landengan Dowo, trek sepanjang 500 meter lurus tanpa kelok.” Landengan” yang dalam bahasa Jawa artinya jalan dan “Dowo” artinya panjang. Sesuai memang dengan sebutannya, jalan ini panjang dan cukup mudah untuk dilewati.

3 km dari landengan dowo kita segera sampai di titik berikutnya yang bernama Watu Rejeng. Watu rejeng adalah sebuah bukit atau tebing lebih tepatnya yang berbatu. Dari jauh sih cukup seram ya melihat tebing yang tinggi dan curam ini. sudah 6 km terlewati, berikutnya 4,5 km menuju Ranu Kumbolo. Mungkin kita akan terasa capek dan terengah-engah berjalan 2 jam lebih tapi itu belum apa-apa. Sebab, jalur dari Ranupane hingga Ranu Kumbolo cenderung mudah walaupun agak sedikit menanjak. Perjalanan menuju Ranu Kumbolo menuju Watu Rejeng memakan waktu 1,5 jam dengan pemandangan yang tak kalah bagusnya. Ada satu titik dimana pohon-pohon mati dan tumbang memberi kesan seperti setting film Twilight.

Perjalanan cukup jauh langsung lupa ketika tidak lama setelah itu dihadapan saya terbentang sebuah danau berwarna hijau dikelilingi gunung dan dihiasi kabut putih, tibalah saya di Ranu Kumbolo. Tidak benar-benar sampai  karena dari titik awal bisa melihat danau itu masih butuh waktu 30 menit untuk sampai di titik istirahat Ranu Kumbolo. Jadi, jangan terkecoh.

Ranu Kumbolo terletak di ketinggian 2400 mdpl. Bisa dibayangkan bagaimana suhu airnya yang sejuk. Danau ini memiliki luas 15 ha membuat saya tidak bisa berkata apa-apa just “it was amazing”/  Ada peringatan untuk tidak mandi dan berenang di sini ya. Kalau sekedar cuci muka atau membasuh tangan setelah berjalan kaki 4 jam diperbolehkan. Di daerah ini banyak para pendaki yang mendirikan tenda. Tempatnya memang strategis cukup luas dan landai terlebih ada semacam bangunan yang biasa digunakan sebagai tempat memasak. Selain itu, ketersediaan air yang cukup disini juga menjadi alasan banyak pendaki yang bermalam disini.

Ranu Kumbolo

Cukup beristirahat di Ranu Kumbolo saya langsung melanjutkan perjalanan ke Kalimati, tempat terakhir untuk mendirikan tenda. Pilihan menginap di Ranu Kumbolo itu tergantung berapa hari akan trekking, karena saya hanya 2 hari 1 malam saya langsung lanjut ke Kalimati. Perjalanan diawali dengan menanjaki bukit yang dinamai “tanjakan cinta”. Konon, kalau bisa menanjaki bukit ini tanpa menoleh kebelakang dan berhenti sedikitpun keinginan kita akan seseroang akan terkabul alias cepet dapt jodoh. Sayang sekali saya tahunya setelah saya lewat. Jangan remehkan tanjakan ini ya walaupun kelihatannya mudah.

Dari tanjakan cinta tadi kemudian terhampar savana ilalang yang luas sekali dan bukit-bukit seperti bukit teletubbies. Saya berjalan di balik sisi bukit yang menghadap Ranu Kumbolo. Berjalan di jalan setapak ini jadi terasa semakin kecil saja. Saya menikmati perjalanan yang berangin dan cukup terik siang itu.

Tanjakan Cinta

Dari savana ilalang kita sampai di titik Cemoro Kandang. Bukit cemara yang menanjak dan banyak pohon-pohon cemara tumbang.  Menyusuri cemoro kandang ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit setelah itu baru sampai di Jambangan. Dari Jambangan masih membutuhkan waktu 30 menit. Perjalanan yang melelahkan lagi sepanjang Cemoro Kandang hingga Kalimati. Jalan akan tetap menanjak hingga Jambangan. Setelah itu jalan landai dan turun mendekati Kalimati.

Categories: Jalan-Jalan | Tags: , , , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Menjajal Semeru (Part 1)

  1. Waw, nice Travel buddy. Next Trip for Me…. Hehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: