Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-2 Wat Saket, Golden Mount, Grand Palace, Khaosan

Rencana perjalanan di hari kedua  masih Saya fokuskan untuk mengunjungi area Rattanakosin dan sekitarnya. Karena pada hari sebelumnya gagal mengunjungi Golden Mountain, hari ini Saya akan mengulangi kunjungan ke tempat tersebut. Ada cerita  lucu dibalik kunjungan Saya ke sana. Di awal tahun 2013 Saya pernah memasang foto Golden Mount dihalaman sosial media Saya. Saya berharap bisa mengunjungi tempat ini ketika Saya memajangnya sebagai foto. Kalau di The Secret ini yang disebut sebagai Law of Attraction, Alhamdulillah di tahun yang sama Saya bisa melihat secara langsung Golden Mount yang Saya impikan. Saya naik bus 47 lagi dari National Stadium untuk menuju Wat Saket dan lagi-lagi Saya tidak ditarik ongkos oleh kondektur bus.

Bus di Bangkok

Bus di Bangkok

Golden Mount ini memang identik dengan stupa emas yang berada di atap kuil. Untuk mencapai stupa tersebut Saya harus menaiki ratusan anak tangga. Di sepanjang perjalanan Saya menaiki tangga ini terdengar lantunan doa dari biksu yang dikeluarkan melalui pengeras suara. Walaupun memiliki ratusan anak tangga, berjalan di sini tidak membuat kita cepat lelah sebab tangga didesain landai. Di beberapa titik juga terdapat tempat untuk beristirahat dan lonceng-lonceng serta gong. Lonceng-lonceng ini dibunyikan oleh orang-orang sambil mengucapkan doa.

Golden Mountain - Tangga menuju Golden Mountain

Golden Mountain – Tangga menuju Golden Mountain

Sebelum mencapai atap puncak bangunan ini, Saya masuk dulu kesebuah ruangan yang berfungsi sebagai altar berdoa umat Budha. Saya sempat menyaksikan beberapa umat melakukan ibadah diruangan yang sangat sejuk ini. Selain tempat ibadah, tempat ini juga memiliki kedai kecil yang menjual pernak-pernik Budha serta makanan dan minuman ringnan. Tidak banyak turis yang datang kesini padahal lokasi ini  tak kalah cantiknya dengan kuil-kuil yang lebih terkenal. Stupa  emas di atas atap ini memang layak dinamakan Golden Mount. Dari atas Saya bisa melihat sekeliling Kota Bangkok termasuk King Rama Bridge yang melintas di atas Chao Praya.

Pemandangan dari atap Golden Mountain - Orang beribadah di dalam Golden Mountain - Altar - Sikap Budha

(clock wise) Pemandangan dari atap Golden Mountain – Orang beribadah di dalam Golden Mountain – Altar – Sikap Budha

Puas menikmati lokasi ini Saya segera turun dan keluar dari area Wat Saket. Saya kembali melewati rute jalan kaki hari sebelumnya untuk menuju Grand Palace. Banyak sekali keuntungan yang Saya dapat ketika berjalan kaki di sebuah tempat baru. Dengan berjalan kaki Saya bisa melihat lebih dekat dan merasakan lebih dalam suasana kota. Seperti sudah Saya ceritakan di bagian sebelumnya, hari ini Saya juga melihat wanita yang sempat bertanya-tanya pada Saya tetapi sepertinya wanita itu tidak berani lagi mendekati Saya.

Dibelakang Grand Palace ada bangunan megah yang tidak kalah cantik. Bangunan berkonsep Eropa kuno yang merupakan kantor Kemeneterian Pertahanan Thailand. Lebih seru lagi karena bangunan seperti ini tidak memiliki pagar malah dikelilingi oleh taman-taman bunga yang semakin menberikan kesan warna-warni dan tentunya sangat indah dipandang. Saya belok kanan dari ujung pertigaan Kalayana. Pintu Grand Palace ini memang sangat banyak, tidak heran jika banyak orang tertipu oleh supir tuk-tuk yang mengatakan bahwa tempat ini tutup karena ada acara kerajaan. Pintu masuk Grand Palace memang hanay satu dan terletak di bagian utara. Di pintu masuk pun sudah diberikan peringatan kepada wisatawan untuk tidak mempercayai orang-orang berpakain rapi yang menawarkan keliling kuil dengan tuk-tuk.

DSC00294 copy

Sebagai destinasi utama di Bangkok, Grand Palace tidak pernah sepi wisatawan. Grand Palace buka setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam setengah 5 sore. Setiap pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar THB 500 termasuk tiket untuk mengunjungi Vimanmek Mansion dan Abishek Dusit Throne Hall yang terletak di area Dusit. Pintu masuk Grand Palace dibedakan menjadi dua untuk wisatawan asing dan warga lokal Thailand. Saya pernah mendapat cerita ada kawan-kawan backpacker Indonesia yang pernah masuk ke sana melalui pintu khusus warga lokal sehingga tidak dikenakan biaya. Namun hal seperti ini kurang bagus tentunya, jadi jangan dicontoh ya.

Outer Area Grand Palace

Outer Area Grand Palace

Di dalam area seluas lebih dari 20 ha ini tidak hanya terdapat Grand Palace yang tersohor. Namun juga berapa lokasi yang tidak kalah menariknya. Secara umum Grand Palace dibagi menjadi empat bagian yaitu area terluar, area dalam, area tengah, dan The Emerald Budha. Setelah melewti pintu masuk,  pengunjung akan langsung diarahkan menuju Wat Phra Khrew. The Emeral Budha merupakan salah satu tujuan yang paling terkenal di sini. Sama halnya seperti di Wat Pho, pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki untuk masuk di dalam bangunan dimana terdapat patung Emeral Budha. Tempat ini merupakan tempat ibadah yang digunakan oleh keluarga kerajaaan. Pengunjung yang ingin mengenal tempat ini lebih detil bisa mendaftar untuk mengikuti tur secara gratis yang disediakan setiap pukul 10.30 dan 13.30.

Disepanjang dinding yang mengelilingi area ini terdapat lukisan yang menggambrarkan sejarah Thailand. Selain itu juga ada tempat orang meletakkan sesajen dan sembahyang. Keluar dari area ini, Saya langsung bisa melihat area tengah Grand Palace yang megah. Area tengah (middle court) ini adalah wilayah yang paling luas dan bisa diakses oleh pengunjung. Selain dapat menikmati arsitektur megah Phra Thinang Chakri Maha Prasat, di bagian bawah gedung ini juga ditampilkan senjata-senjata khas Thailand yang digunakan dalam pertempuran. Sayangnya, museum senjata ini dilarang diabadikan oleh pengunjung. Di depan lokasi ini ada taman luas yang banyak digunakan untuk beristirahat oleh wisatawan. Ada beberapa penjaga yang bertugas ditempat ini. Mereka melakukan pergantian penjaga setiap beberapa jam sekali. Saya sempat menyaksikan bagaimana proses pergantian penjaga ini.

Wat Phra Khew

Wat Phra Khew

Area terakhir yang bisa dikunjungi adalah area terluar tempat Saya baru saja masuk. Lapangan hijau yang luas dengan latar belakang stupa Wat Phra Khrew dan atap-atap Grand Palace yang mengintip dari balik tembok, tidak salah jika tempat ini merupakan atraksi utama para turis. Area dalam (inner) merupakan area terlarang untuk dikunjungi. Area ini hanya dikhususkan untuk keluarga kerajaan dan hanya digunakan jika ada acara-acara kerajaan.

Butuh waktu hampir 4 jam untuk mengunjungi tempat ini. Jadi sediakan waktu yang panjang untuk mengunjungi bekas tempat tinggal raja yang satu ini. Usahakan untuk datang pagi hari sehingga setelah mengunjungi tempat ini bisa dilanjutkan mengunjungi kuil lainnya seperti Wat Pho, Wat Mahathat, dan Wat Arun. Pastikan juga untuk mengenakan pakaian yang sopan ketika berkunjung ke Grand Palace sebab banyak sekali turis (terutama turis Barat) yang harus mengantri menyewa kain untuk menutupi baju mereka yang kurang sopan. Paling tidak kenakan baju berkerah dan tidak berlengan pendek, celana panjang, dan alas kaki yang sopan agar tidak dihadang petugas pintu masuk.

Grand Palace

Grand Palace

Saya segera melanjutkan perjalanan menuju Khaosan Road melewati Sanam Luang, sebuah taman yang berlokasi di sebelah barat daya Grand Palace. Waktu itu sekitar pukul 3 sore tetapi matahari masih sangat terik. Sebenarnya jarak antara kedua tempat ini tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit berjalan kaki. Saya sempat menanyakan ongkos naik tuk-tuk tetapi penawaran mereka masih terlalu mahal (THB 200). Rupanya masih terlalu siang ke Khaosan jam 3 sore. Walaupun sudah ramai, suasana jalanan disini tidak berbeda dengan kawasan berbelanja pecinan. Saya berhenti sebentar disebuah  kedai yang menjual padthai,  makanan khas Thailand yang banyak dijumpai di Khaosan. Padthai adalah perpaduan kwetiau, bakmi, dan bihun yang dimasak dengan sayuran segar, serta dibumbui gula pasir. Biarpun hanya sesederhana itu, padthai memiliki rasa yang sangat enak (atau mungkin perut Saya yang sangat lapar). Satu porsi padthai dihargai antara THB 35-60 tergantung isian yang diinginkan seperti daging ayam, telur, udang, atau campuran ketiganya.

Atas : Patthai Bawah : Khaosan Road siang dan malam hari

Atas : Patthai
Bawah : Khaosan Road siang dan malam hari

Saya menyusuri kawasan Khaosan ini hingga ujung. Ketika hampir sampai diujung jalan, Saya seperti mendegar suara orang-orang berkumpul meneriaki seseorang yang sedang berpidato (berorasi lebih tepatnya). Saat mendekati, Saya melihat ada keramaian yang berasal dari Democracy Monument. Nampak banyak sekali orang yang berdiri di sana. Saya baru tahu setelah pulang ke hotel bahwa apa yang Saya lihat adalah salah satu bentuk “Revolusi Bangkok” yang saat itu sudah mulai memanas. Saya melihat dari dekat bagaimana orang-orang meneriakkan semangat perubahan. Walaupun tidak tahu artinya, Saya bisa merasakan tekad orang-orang Thailand menuntut PM Thailand untuk mundur dari jabatannya.

Uniknya, di sepanjang jalan Democracy Monument ini disediakan makanan gratis bagi para pendemo. Saya ikut mengantri bersama warga lokal lainnya untuk mendapatkan makanan tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Saya merasa dijamu langsung oleh Kota Bangkok karena  bisa menikmati makanan khas secara gratis. Keramahan orang Thailand adalah salah satu hal yang membuat turis betah berwisata kesini. Mereka punya cara yang tertib untuk berdemo, membantu mereka yang berdemo dengan menyediakan makanan, serta mengadakan eksibisi lukisan yang dipajang disepanjang jalan.

Makanan gratis di area Bangkok Revolution

Makanan gratis di area Bangkok Revolution

Dari Democracy Monument Saya kembali ke Khaosan yang sudah mulai ramai. Dentuman musik dimana-mana,teriakan pelayan bar dan kafe-kafe juga mulai terdengar disepanjang jalan. Jalanan pun sudah ditutup dari mobil yang melintas. Saya tidak mendapatkan makanan yang Saya cari disini, kabarnya Khaosan terkenal dengan makanan ekstrim seperti gorengan serangga. Mungkin belum beruntung ya, suatu saat Saya akan kembali ke Khaosan lagi. Khaosan area bisa jadi merupakan tempat favorit para backpacker karena banyak penginapan rumah, all night entertainment, makanan murah, dan dekat dengan lokasi wisata. Tetapi, Khaosan juga bisa jadi tempat yang kurang nyaman bagi turis yang tidak terlalu suka keramaian. Oleh karena itu, ada baiknya menentukan lokasi menginap sebelum berkunjung.

Atas: Suasana demo di di Democarcy Monument siang dan malam hari Bawah: Pameran lukisan ekspresi demonstran

Atas: Suasana demo di di Democarcy Monument siang dan malam hari
Bawah: Pameran lukisan ekspresi demonstran

Dari Khaosan ada bus langsung menuju hotel bernomor 60. Membutuhkan waktu hampir satu jam dari Khaosan sampai ke hotel dengan ongkos sebesar THB 17 saja. Bus AC warna kuning yang membawa Saya kembali ke hotel menutup perjalanan hari kedua di Bangkok dengan penuh perasaan senang dan perut yang kenyang. Hari ketiga besok akan Saya manfaatkan untuk mengunjungi salah satu kota tertua di Thailand yang terkenal dengan reruntuhan kuil-kuilnya.

Pengeluaran hari ke-2

Pengeluaran hari ke-2

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-2 Wat Saket, Golden Mount, Grand Palace, Khaosan

  1. wah boleh neh jadiin itin saya, rencana februari ini ke thailand (Bangkok – KRabi) semoga udah gak ada demo, thx u reviewnya😀
    Jika berkenan bisa kunjungi WP petualangan saya http://deffautama.wordpress.com/

    • Hai Deff,
      terimakasih ya komennya. Happy Traveling Bangkok – Krabi!

      • ya sama2 mas, itinnya boleh saya pake ya mas heheh😀

      • boleh kok, tambahan dikit ya hari ke-3 saya ke ayutthaya cuma belum sempet saya posting di blog.🙂

      • Siap tr klo dh posting saya baca lagi deh🙂

      • Melia

        Mas,saya rencana mau ke bkk bulan agustus. Bagaimana kesan tentang penginapan Nasa Vegas nya? Tq

      • Hai Melia,
        Kalau dilihat dari harga dan fasilitas yang Saya dapat, menurut Saya Nasa Vegas sangat recomended. Walaupun agak jauh dari pusat kota, keberadaan stasiun ARL sangat membantu untuk jalan-jalan. Kamarnya bersih, kamar mandi juga oke, tidak ada komplain lah ketika menginap di sana.

  2. mass aku juga mau backpack gitu..
    >.<
    blog mu bkin ak mupeng nemen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: