Skripsi Butuh Spasi

Ada spasi dalam skripsi, ada kisah kasih saat menulis skripsi. Hanya setahun yang lalu, kami hanya teman yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir demi gelar Sarjana Ekonomi. Bersama beberapa teman lainnya, perpustakaan menjadi “sarang” baru bagi kami. Mencari refereni, membaca, menelaah, kemudian menuliskan berbaris-baris teori bahan skripsi, dengan spasi.

Hanya hampir setahun yang lalu, aku berdiri di teras fakultas. Menemani seorang teman yang ujian skripsi. Menyemangatinya yang hampir lesu karena takut diberondong pertanyaan penguji. Karena skripsi butuh spasi, karena sebelum diuji kita butuh disemangati.

Hanya hampir setahun setelahnya, dia yang ku temani saat ujian skripsi sekarang tengah bersiap menjadi seorang ibu. Tidak hanya menemani mengerjakan skripsi, kami sekarang berumah tangga. Membangun istana dalam ruang tanpa batas, tanpa spasi, namun penuh dengan esensi.

Spasi, sebuah prosa karangan Dewi Lestari nampaknya menginspirasiku menulis catatan ini. Berawal dari hubungan pertemanan mengerjakan skripsi, kami menemukan kisah kasih yang layak untuk dibagi. Siapa yang sangka hanya dari berlembar-lembar kertas putih berisi teori, kini kami menjadi sepasang kekasih yang siap mendidik Si Buah Hati.

Spasi yang menginspirasi, spasi yang mengilhami, spasi yang membuat jarak tapi malah semakin mendekatkan dan memberi arti. Prosa yang apik dan menarik.

Di akhir prosa, Dewi Lestari menuliskan beberapa kalimat yang aku rasa sangat baik mendeskripsikan bagaimana spasi, jarak, menjadikan dua manusia menguasai kisah.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Karena Skripsi Butuh Spasi, Spasi pun Menjadi Saksi

Karena Skripsi Butuh Spasi, Spasi pun Menjadi Saksi

Categories: Nyastra | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Skripsi Butuh Spasi

  1. Spasi itu dari buku Filosofi Kopi ya, Mbak? Aku juga suka banget quotenya. Semoga selalu ceria bersama suami🙂

    • Halo Mbak Eus,
      Ini yang nulis cowok alias suaminya bukan istriku. Hehehe
      Iya aku ambil dari buku Filkop. Amin doanya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: