Jalan-Jalan ke Melaka, a 24-hrs Journey that Blow Your Mind Up

Dataran Merdeka

Dataran Merdeka

Melaka (Malacca) sudah menjadi top list Saya sejak beberapa tahun yang lalu. Rasa penasaran akan kota yang katanya sangat kental dengan peninggalan bersejarahnya, mebawa saya berkunjung ke sana tidak lama ini. Walaupun tak lebih dari 24 jam menikmati kota seluas 1600 km persegi ini, rasa penasaran saya terjawab sudah.  Saya berangkat dari Kuala Lumpur (Terminal Bersepadu Selatan) menuju Melaka pukul 10 pagi naik bus Metro seharga RM 10 (Rp 35.000). Perjalanan memakan waktu 2 jam hingga tiba di terminal Melaka Sentral. Dari Melaka Sentral ada banyak bus yang menuju banyak lokasi ke seluruh area kota.

Salah satu (atau mungkin satu-satunya) bus dalam kota yang beroperasi di Melaka adalah Panorama Bus. Bus ini berwarna dominan merah dengan ongkos antara 1-2 ringgit sekali jalan tergantung jarak tempuh. Saya naik bus Panorama nomor 17 yang langsung membawa penumpang ke dataran merah atau Stadhuyst, landmark  paling terkenal karena bangunan merahnya banyak dipajang dimana-mana. Memang tidak semua tempat wisata bisa dikunjungi dalam waktu yang sangat singkat. Tapi tidak mengapa, jika hanya punya waktu yang terbatas pun tetap bisa keliling ke tujuan-tujuan utamanya saja.

Di Melaka saya menginap di Jalan-Jalan Hostel, penginapan minimalis yang cukup nyaman untuk merebahkan badan yang capek diajak berkeliling seharian. Dengan harga RM 44 (Rp 130.000), Saya menyewa kamar twin bed dengan kipas angin. Harga yang cukup murah untuk kamar tanpa AC dan kamar mandi dalam. Lokasinya juga tidak jauh dari dataran merah, hanya sekitar lima menit jalan kaki dan hanya 1 menit dari pasar malam Jonker Street Night Market yang hanya buka tiap Jumat dan Sabtu Malam.

Setelah check in hostel dan meletakkan barang bawaan tempat pertama yang dituju adalah dataran merah. Di tempat ini beberapa obyek yang sering sekali dijadikan latar belakan foto adalah Christ Church, kincir angin mini, Dutchsquare, dan The Stadthuys. Di sekitar lokasi banyak sekali jasa trishaw yang unik karena dihias dengan pernak-pernik yang sangat berwarna. Dari area ini saya naik ke gedung Stadthuys yang terhubung dengan lima museum, yaitu Museum Sastera, Museum Pendidikan, Museum Pendidikan, Galeri Pendidikan dan Museum Cheng Ho. Biaya masuk kelima tempat tersebut hanya RM 10, sedangkan untuk jumat pagi  pengunjung bisa masuk tanpa dipungut biaya alias gratis.

Perjalanan menikmati kota dilanjutkan naik ke bukit Famosa. Di Bukit ini obyek yang terkenal  yaitu Ruins of Saint Paul dan Porta de Santiago. Dari atas bukit sini pula, pengunjung bisa melihat sekeliling area yang dinobatkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia. Bangunan-bangunan gagah bergaya Eropa (Portugis)  tampak memenuhi setiap sudut kota yang berpadu dengan cantiknya ornamen-ornamen oriental yang menghiasi bangunan lainnya. Tidak ketinggalan pula pemandangan sungai melaka yang semakin  menyempurnakan keindahan kota.

Dari bukit Famosa, kami turun melewati taman-taman dan tiba di belakang benteng A Famosa. Di depan benteng terdapat situs meriam yang menjadi saksi betapa kokohnya pertahanan bangsa portugis pada masa sejarah Melaka. Tak jauh dari Famosa ada musem prokalamasi kemerdekaan Melaka yang juga masih bergaya Eropa. Dari sana Saya kembali menyusuri jalan ke arah utara hingga melewati taman kota yang di salah satu ujungnya berdiri Menara Taming Sari.

Pemandangan dari Menara Taming Sari

Pemandangan dari Menara Taming Sari

Menara Taming Sari bisa dikatakan sebagai salah satu ikon kota Melaka. Tinggi menara yang mencapai 120 meter membuatnya bisa dilihat dari beberapa titik yang agak jauh. Menara tersebut dilengkapi dengan deck khusus untuk penumpang yang akan membawa penumpang naik hingga ke puncak menara. Setiap penumpang dikenakan biaya sebesar RM 20 untuk sekali naik dan fasilitas tambahan kue khas Melaka, air mineral, serta peminjaman teropong. Deck akan berputar 360 derajat sambil berputar naik,sehingga pengunjung bisa melihat kota secara utuh. Dari atas menara dapat terlihat pula selat Melaka yang memisahkan semenanjung melayu dengan Pulau Sumatera. Durasi perjalanan naik turun Menara Taming Sari sekitar 15 menit.

Sungai MelakaHari sudah semakin sore kurang lebih pukul 5 sore tetapi cuaca masih terik. Turun dari Menara tujuan berikutnya adalah menyusuri Sungkai Melaka dari hilirnya. Di hilir sungai terdapat beberapa perahu mesin yang siap beroperasi membwa turis menjelajahi sungai sepanjang 6000 meter ini. Obyek yang terkenal di tepian sungai ini antara lain museum bahari dan kincir air raksasa yang terletak tepat di sisi sungai. Museum ini sangat unik karena bangunannya berbentuk kapal bajak laut (atau mungkin memang kapal yang dimuseumkan). Setelah itu ada kincir air yang sering dan selalu dijadikan obyek foto sebagai tanda bahwa kita pernah berkunjung ke sana.

Bagi Saya, kota Melaka ini unik di setiap sudutnya. Bangunan khas Eropa dan Cina mampu berdampingan dengan rapi tanpa meninggalkan identittas aslinya. Salah satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah menikmati serunya Jonker Walk Nigth Market. Pasar malam ala orang Melaka ini hanya dibuka pada hari Jumat dan Sabtu malam saja. Berragam kuliner khas disajikan seperti sotong bakar, sate, masakan-masakan oriental, makanan ringan, minuman, dan main-mainan serta kerajinan Melaka. Di ujung jalan Jonker, ada panggung besar dimana banyak orang tua yang mayoritas keturunan Tionghoa berkumpul. Mereka bernyanyi bersama dengan kayar TV besar dan speaker yang menggelegar menyanyikan lagu-lagu Mandarin hingga lagu Indonesia. Pasar dimulai pukul 7 malam dan berakhir tengah malam. Saya sendiri memilih Laksa Nyonya, salah satu hidangan wajib di Jonker Walk, untuk makan malam. Jadi jika ingin pergi ke Melaka sebaiknya cocokkan dengan jadwal diadakannya pasar malam yang sangat meriah ini.

Categories: Jalan-Jalan, Malaysia | Tags: , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

Post navigation

5 thoughts on “Jalan-Jalan ke Melaka, a 24-hrs Journey that Blow Your Mind Up

  1. Amanda Kiky

    Salam kenal mas🙂
    Nice posting! Nambah pengetahuan ttg Malaka, kebetulan Februari rencana mau liburan kesana juga😀

    • Salam kenal juga, Mbak Amanda.
      Pokoknya kalau ke Melaka ga perlu ribet mikir itinerary, mbak. Dibawa nyante banget lebih seru…

      • Amanda Kiky

        Wah bener ya mas, aku suka liat tatanan kota Melala yg (kelihatannya) rapih dan enuh bangunan sejarah. Sekalian deh masukin ke daftar list buat ke Malaysia besok hehe🙂
        Btw, Mas Tio nginep di hotel mana pas di Melaka?

      • Kemarin nginep di Jalan-Jalan Hostel sih. Kalau mau cari hotel di sana juga banyak yang murah-murah kaya Chengho Hotel gitu. Kemarin nyari di traveloka juga banyak kok yang murah dan deket dari pusat wisata itu. Jangan lupa disana nyobain chicken rice ball dan kalau bisa pas jumat/sabtu biar bisa datang ke Jonker Night Market.

      • Amanda Kiky

        Sipdeh, makasih infonya ya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: