Inside Out, Drama Korea, dan Pola Asuh Anak

Barangkali belum tentu setahun sekali Saya mau menulis topik parenting. Tapi, ide ini muncul setelah beberapa hari lalu Saya tergelitik dengan cerita dalam film Inside Out. Film yang rilis pada musim panas 2015 lalu ini adalah film Disney, yang menurut Saya sukses memberikan pesan moral yang sangat mengena bagi setiap penontonnya terutama bagi Saya dan istri yang baru berperan sebagai orang tua selama 7 bulan terakhir.

Semula Saya tak menyadari cerita yang diangkat dalam film karena Saya tidak membaca sinopsisnya terlebih dulu. Barulah setelah film berjalan sekitar 10 menit Saya mulai mengerti kemana alur akan dibawa oleh penulis ceritanya. Kemunculan tokoh Joy, Sadness, Disgust, Fear, dan Anger dalam tubuh (otak) Riley, gadis kecil asal Minnestoa,  bukan satu kebetulan tentunya. Nama tokoh-tokoh tersebut terinspirasi dari lima emosi dasar manusia yaitu gembira, sedih, jijik, takut, dan amarah. Ingatan akan emosi Riley menghasilkan bola berwarna sesuai dengan emosi masing-masing. Emas untuk Joy,biru untuk Sadness, hijau-abu-merah masing-masing untuk Disgust, Fear, dan Anger. Voila! Tiba-tiba seperti muncul bolam terang menyala di otak.

Masing-masing tokoh, sebagai analogi emosi dasar manusia, mempunyai perannya masing-masing. Joy yang berperan dalam ingatan-ingatan menyenangkan, Fear yang menjaga Riley selalu waspada, Anger yang menyerukan keadilan, Disgust yang memproteksi Riley dari bahaya keracunan (baik fisik dan sosial), dan Sadness yang menjadi sumber kesedihan. Setiap kejadian yang berkontribusi dalam ingatan Riley akan menjadi ingatan inti atau core memory yang membangun kepribadian Riley. Sayangnya, Sadness tak pernah mendapatkan porsi dalam ingatan Riley atau bahkan tidak mengetahui apa sebenarnya tujuan Sadness ada di sana.Hingga suatu hari, muncullah ingatan inti berwarna biru (kesedihan).

Lalu apa hubungannya dengan K-Drama? Karena Saya penggemar K-drama tidak ada salahnya kan menghubungan cerita Disney dengan cerita romantis dari negeri ginseng? Beberapa drama terakhir yang Saya tonton memiliki kemiripan ide dasar cerita, semuanya bercerita tentang kepribadian dan bagaimana masa lalu membentuk kepribadian tokoh utama. Sebut saja drama yang diperankan oleh Jo In Sung dalam It’s Okay That’s Love atau drama yang sempat trending Kill Me Heal Meyan dibintangi So Ji Sub. Satu lagi drama yang bercerita tentang kepribadian ganda yang dibintangi oleh Hallyu Star Korea, Hyun Bin. Tokoh-tokoh utama pria dalam drama tersebut memiliki kenangan masa lalu yang sangat pahit dan membekas di ingatannya. Walaupun secara fisik tidak terlihat ada luka di bagian mana, dalam drama diceritakan bagaimana kepribadian-kepribadian dan ingatan tersebut saling mempengaruhi hidup pemilik tubuh.

Saya setuju dan sepakat bahwa di usia putri Saya yang baru menginjak 7 bulan ini akan banyak sekali kejadian-kejadian yang nantinya akan berperan dalam membentuk kepribadiannya. Orang-orang menyebutkan bahwa 1000 hari pertama terhitung sejak janin dalam kandungan adalah masa emas (golden age) yang tidak boleh disia-siakan. Sejak anak Saya lahir, Saya dan istri terbiasa mengasuh bayi berdua saja karena kami tinggal jauh dari orang tua. Orang tua di Malang sedangkan kami berada di Yogya. Praktis, pola asuh yang kami terapkan pada bayi terbatas pada pengetahuan kami yang terbatas karena tidak bisa dengan leluasa tanya sana sini atau  jika “beruntung” mendapat petuah dari orang tua cara mengasuh anak.

Salah satu cara yang kami lakukan untuk menambah khasanah dalam bidang pengasuhan anak adalah dengan membeli buku-buku parenting, membaca sumber-sumber terpercaya dari internet, dan jika ada waktu mengikuti kegiatan-kegiatan kajian pengasuhan anak. Tentu itu saja tidak cukup jika hanya teori saja. Semuanya butuh kesabaran dan ketelatenan karena tidak semua anak bisa diperlakuan dengan cara yang sama. Misalnya sekarang ini, anak Saya sedang belajar makan sendiri. Iya, makan sendiri dengan tangannya. Ketika kebanyakan orang tua di luar sana menyuapi anak-anaknya dengan begitu lahapnya, Saya dan istri membiarkan anak bereksplorasi dengan panca inderanya sendiri mulai dari memegang makanan sampai memasukkannya ke mulut. Efeknya makanan jadi ceteh kemana-mana, tidak semua makanan masuk ke mulut, dan kotor di baju sana-sini. Tapi biarlah, itu pembelajaran.

Lain hal lagi dengan membiasakan anak berbahasa asing di lingkungan rumah. Saya seniri, terbiasa mengajak anak berbicara dalam tiga bahasa sekaligus, bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris. Setiap dia bangun pagi kami ucapkan “Selamat Pagi” dan  “Good Morning”. Kasus lain misalnya saat anak terserang penyakit batuk pilek untuk pertama kalinya. Sebagai orang tua rookie tentu kami panik harus diapakan bayi ini. Dan masih-masih banyak kasus lainnya yang menantang orang tua untuk selalu berpikir maju dan tidak ketinggalan jaman.

Kembali ke film Inside Out, di akhir cerita setelah Joy dan Sadness yang tersesat di otak Riley akhirnya berhasil kembali ke ruang kendali utama, keadaan mulai berubah. Sadness akhirnya memiliki peran penting dalam mengembangkan kepribadian Riley. Jika saja saat itu Sadness tidak ambil bagian dan membuat Riley menangis, mungkin perasaan mengganjal yang ada pada tubuh anak tersebut tidak akan diketahui oleh kedua orang tuanya. Artinya, emosi apapun itu penting bagi pertumbuhan anak. Kita tidak bisa mencegah anak dari rasa sedih karena rasa sedih itu yang mengimbangi kegembirannya agar ia tidak tumbuh sebagai anak yang terlalu sombong dan percaya diri. Tidak pula kita bisa mencegah amarah karena dari sanalah ia mampu mengeluarkan pendapatnya. Begitu juga halnya dengan emosi jijik dan takut. Mungkin benar adanya bahwa anak yang nakal adalah anak yang banyak akal. Emosi jiik dan takut (khawatir) akan menjadi perisai alami saat si anak mulai berskplorasi. Kami, masih menyiapkan mental untuk menyaksikan perkembangan anak jika nanti ia tumbuh sebagai anak yang banyak akal dan tinggi rasa ingin tahunya.

Tentu, tidak ada kesepakatan pola asuh mana yang paling benar dan paling baik. Itu semua kembali kepada orang tua masing-masing ingin jadi seperti apakah anak kita kelak. Maka, tak perlu juga menyindir mereka yang pola asuhnya tidak sama dengan kita. Yakin saja bahwa setiap yang dilakukan itu ada alasannya. Emosi-emosi dasar itu secara seimbang harus dikembangkan. Satu hal juga yang perlu digarisbawahi, orang tua tidak pernah tahu sekecil apa ingatan anak akan membekas di ingatan dan membentuk kepribadiannya seperti kisah-kisah K-drama yang saya ceritakan di atas. Kembali lagi, ini hanya pendapat dari mahasiswa akuntansi. Bukan mahasiswa psikologi yang belajar betul spesifik mengenai itu. Tapi satu hal, entah itu Disney, K-drama, atau dari mana pun sumbernya, semuanya selalu ada hikmah yang bisa diambil.

Categories: Nyastra | Tags: , , | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Inside Out, Drama Korea, dan Pola Asuh Anak

  1. Hallo Okehoree.. tulisan yang menarik… koreksi aja : Kill Me Heal Me dibintangi oleh Ji Sung, bukan So Ji Sub.. aw aw aw… g terima kalo salah sebut bias.. hehehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: