Jalan-Jalan ke Jepang, Siapkan Hal-Hal Berikut!

_DSC0059

Shibuya Cross Junction (dokumen pribadi)

Berkunjung ke negara 4 musim barangkali merupakan salah satu impian para travelers terutama mereka yang berasal dari negara tropis seperti Indonesia. Beberapa waktu yang lalu Saya berkesempatan untuk mengunjungi Jepang selama dua bulan melalui program pertukaran mahasiswa kerja sama kampus Saya di Jogja dan Universitas Kyoto. Sebagai first timer, sangat senang rasanya membaca pengumuman bahwa Saya terpilih  sekaligus bingung apa saja yang harus dipersiapkan sebelum berangkat. Apakah Saya harus menyiapkan uang yang banyak? Karena Saya dengar Jepang merupakan negara yang serba mahal. Ternyata bukan perkara uang banyak atau sedikit, tetapi ada beberapa hal lain yang lebih penting yang wajib kita persiapkan jelang keberangkatan ke Negeri Sakura tersebut. Berikut rangkuman hal-hal penting yang perlu disiapkan berdasarkan pengalaman Saya.

  1. Visa

Mengurus Visa nampaknya masih menjadi ‘momok’ setiap traveler dengan anggaran pas-pasan, apalagi jika negara yang dituju adalah negara yang terkenal dengan biaya hidupnya yang tinggi. Rumor persiapan nominal rekening tabungan hingga puluhan juta seringkali menjadi syarat paling dikhawatirkan menyebabkan permohonan visa ditolak. Alih-alih rekening ‘gemuk’, sebenarnya KELENGKAPAN dan KESESUAIAN dokumen adalah hal yang lebih penting saat mengurus visa. Ada beberapa jenis visa yang dikeluarkan oleh Kedutaan Jepang di Indonesia; visa pelajar, visa wisatawan, visa bisnis, visa kunjungan keluarga, dan kunjungan teman. Saya disarankan mengambil visa bisnis yang mensyaratkan adanya penjamin dari pihak pengundang, dalam hal ini adalah profesor dari Universitas Kyoto, sehingga tidak perlu melampirkan rekening tabungan.

Di Indonesia, Kedutaan Jepang memiliki kantor di Jakarta, Surabaya, Medan, dan Makassar. Pilih kantor keduataan sesuai dengan alamat identitas KTP. Medan untuk wilayah Sumatera, Jakarta untuk Jawa (kecuali Jawa Timur) dan Kalimantan, Surabaya untuk wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, serta Makasar untuk wilayah Indonesia Timur. Pengalaman mengurus visa pertama kali ternyata tidak seseram bayangan Saya selama ini. Meski penjagaan sangat ketat, petugas-petugas di sana sangat ramah dan membantu. Beberapa kali Saya bertanya lewat telepon pun selalu mendapat respon yang positif. Jadi apakah mitos rekening gemuk untuk visa Jepang itu berlaku? Bisa ya, bisa tidak. Tipsnya, meskipun tidak memiliki nominal rekening puluhan juta pastikan arus kas di rekening kita selalu lancar dalam beberapa bulan terakhir. Serta sediakan nominal cukup, misalnya di Jepang kita butuh 1 juta rupiah perhari dikalikan dengan durasi jalan-jalan, serta ditambah cadangan uang untuk pesawat pulang jika terjadi hal lain di luar dugaan. Susun juga itinerary sewajar mungkin alias tidak muluk-muluk semua tempat dalam satu hari dan cantumkan tempat menginap secara jelas. Klik Formulir untuk daftar persyaratan pengurusan permohonan visa Jepang.

  1. Outfit

redKapan lagi bisa bergaya di luar negeri seperti pemain dorama, kan? Memilih pakaian sesuai dengan musim adalah hal yang sangat penting. Jangan sampai demi bergaya tapi salah kostum malah akhirnya tidak terpakai. Sebelum berangkat ke Jepang, Saya sudah membayangkan bagaimana rasanya musim dingin di sana. Jaket, longjohn, sweater, syal, sarung tangan, penutup telinga adalah beberapa perlengkapan yang disarankan untuk dibawa, tetapi tak perlu berlebihan dalam menyiapkan barang-barang tersebut. Jaket musim dingin dibeli di toko baju bekas dengan harga super murah berkisar antara 100-150 ribu rupiah per potong. Jika jeli dan teliti, kadang masih bisa menemukan jaket yang bagus dan cocok untuk musim dingin serta tidak kalah gaya dengan penampilan orang asli Jepang.  Longjohn, sarung tangan, kaos kaki wool, syal, penutup telinga dibeli di Toko Djohan. Toko Djohan punya gerai di Mangga Dua, tetapi karena tidak memungkinkan ke Jakarta pembelian dilakukan lewat online melalui website http://www.tokodjohan.com. Harga yang ditawarkan Toko Djohan menurut Saya cukup murah dibanding beberapa toko yang pernah saya survei di Surabaya dan pelayanannya pun maksimal. Tidak lama setelah pembayaran, barang sudah sampai di rumah dengan baik.

Alternatif lain bisa membeli pakaian musim dingin di Uniqlo atau toko-toko pakaian musim dingin yang ada di Jepang. Di Uniqlo longjohn disebut dengan ‘heat-tech’ dijual seharga 900-1200 yen perpotong yang sebenarnya made in Indonesia juga. Di toko 100 yen Jepang juga banyak menyediakan sarung tangan, kaos kaki, pelindung betis dengan harga 100 yen tentunya atau sekitar 11.500 rupiah saja. Jadi jika terlupa membawa kaos kaki, sarung tangan, dll tipsnya langsung saja cari toko 100 yen yang mudah ditemui di seantero kota. Satu-satunya barang yang jarang Saya pakai padahal saya bayangkan akan selalu dipakai saat musim dingin adalah sepatu boots kulit yang dibeli di Indonesia. Saya pikir musim dingin itu harus selalu pakai sepatu boots tetapi nyatanya sepatu casual atau running shoes cukup kok untuk jalan-jalan saja. Sepatu boots baru berguna jika bersalju atau hujan agak lebat. Pengalaman Saya dua bulan tinggal di Kyoto saat musim dingin hanya sempat turun salju dua kali saja.

  1. Universal Adaptor

1-0x0Apa jadinya kalau sudah bawa smartphone, laptop, kamera, bawa charger tetapi lupa bawa universal adaptor? Meskipun terlihat remeh, benda ini sangat penting dan banyak fungsinya karena Jepang memiliki bentuk stop kontak yang berbeda dengan Indonesia. Saya beli adaptor di toko listrik di Jogja seharga 40 ribu rupiah yang bisa digunakan di banyak negara di dunia seperti Jepang, Singapura, Amerika, dan Eropa. Jika berpergian dalam grup atau bersama teman-teman, tidak ada salahnya menyiapkan satu kabel rol yang dipakai bersamaan. Dengan begitu cukup bawa satu adaptor tapi bisa digunakan oleh rombongan sekaligus. Tipsnya, selain membawa kabel rol, jika terlupa tidak bawa adaptor maka toko 100 yen lah jawabannya. Entah kenapa, toko 100 yen ini rasanya menyediakan semua barang yang dibutuhkan dan barang yang sering terlupa.

  1. Sim Card Smartphone

tumblr_inline_ndyhqjran21qcuepzHal lain yang tidak boleh terlewat saat bepergian tentu saja adalah koneksi internet untuk komunikasi dengan keluarga di tanah air, cek google maps, dan check in media sosial. Sebelum berangkat Saya baca banyak tulisan yang mengatakan bahwa ponsel Indonesia tidak bisa dipakai di Jepang dan sebagainya. Nyatanya, ponsel Saya masih bisa dipakai selama di sana, sehingga sangat membantu saat jalan-jalan dan hampir hilang arah. Hanya saja, sebagai wisatawan yang tinggal dalam periode tertentu kurang dari tiga bulan, kita tidak bisa membeli kartu sim yang bisa digunakan untuk telepon dan sms, kecuali paket data saja. Tidak seperti di Singapura atau Thailand, dimana kita bisa bebas beli kartu sim untuk dimasukkan ke hp dan digunakan untuk telepon, prepaid data only sim di Jepang hanya menyediakan layanan koneksi internet saja. Rata-rata kartu tersebut memiliki masa aktif maksimal 60 hari. Untuk koneksi internet, Saya pilih menggunakan So-net keluaran Docomo. Harga yang ditawarkan mulai dari 3000-6000 yen tergantung periode masa berlaku kartu dan jumlah data yang diinginkan. Hampir semua perangkat berbasis android dan Iphone yang unlocked bisa diisi dengan kartu sim tersebut. Selain So-net ada juga provider lain seperti B-mobile, Softbank, dll yang menyediakan layanan data only. Tipsnya, beli kartu di bandara biasanya melalui vending machine atau pergi saja ke Yodobayashi yang hampir ada di setiap kota besar di Jepang. Di Yodobayashi ada konter khusus kartu sim sehingga kita bisa pilih merk, volume, periode, dan harga yang kita sukai. Yodobayashi di Tokyo ada di Akihabara sedangkan di Kyoto ada di seberang Stasiun Kyoto. Sedangkan kartu So-net yang Saya gunakan langsung bisa dibeli di bandara Kansai (arrival hall), Haneda, Narita, Stasiun Kyoto dan beberapa tempat lain yang bisa dicek di sini.

  1. Transportasi

13-shinkansen_1Tidak salah jika sistem transportasi Jepang disebut sebagai yang terbaik sekaligus terumit di dunia. Terutama di Tokyo yang sempat bikin pusing tujuh keliling saat pertama kali melihat peta transportasi (subway, yamanote, JR, dll). Tidak hanya dalam kota, sistem transportasi di Jepang sudah terintegrasi dengan baik antar kota dan antar prefekturnya. Pengalaman Saya naik kereta sambung-sambung alias ‘ketengan’ dari Kyoto ke Tokyo benar-benar luar biasa. Selain kereta yang nyaman dan banyak pilihan, sistem transportasinya sangat tepat waktu. Tips agar tidak ikut-ikutan pusing membaca peta transportasi yang rumit, gunakan aplikasi atau website hyperdia.com dan bantuan google maps untuk mengetahui moda transportasi apa yang bisa dipilih untuk menuju destinasi. Hyperdia adalah website khusus jalur kereta, baik itu kereta api (電車/densha) maupun kereta bawah tanah (地下鉄/chikatetsu) yang menampilkan kereta yang harus diambil, jam keberangkatan, dan biayanya. Sedangkan google maps, tidak hanya menampilkan pilihan moda kereta saja tetapi juga moda transportasi bus (バス) yang juga lengkap beserta jam keberangkat, jumlah halte yang dilewati, durasi, dan biayanya.

Demikian rangkuman beberapa hal penting yang harus disiapkan jelang keberangkatan ke Jepang. Tulisan ini akan diupdate lagi jika ada tambahan kemudian hari agar membantu para calon pejalan yang akan melakukan perjalanan ke sana. Semoga membantu. Happy Traveling! (okehore)

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

Post navigation

9 thoughts on “Jalan-Jalan ke Jepang, Siapkan Hal-Hal Berikut!

  1. kita sempet ketemuan ga ya kemarin? salam kenal.

    • Mungkin selalu jumatan bareng di KMA tapi belum kenal. Mas Zainuri masih dikyodai ini? Salam kenal, Mas Zainuri.

      • Iya. Banyak soalnya temen2 disini. Masih. Akhir bulan ini mbalik. Research Student 6 bulan saja.

  2. tanya donk, kalo hyperdia itu jadwal keretanya apa selalu tepat waktu? misal kalau ada kereta yang tertinggal apa masih bisa pakai jalur kereta yang sama? Makasihh😀

    • Halo Giska,
      Pengalaman saya sih selalu tepat waktu dan tidak ada keterlambatan. Bahkan menurut Saya sih sangat akurat. Saya juga sempet tanya ke temen pernahkan keretanya terlambat? Jawabannya pernah, itu pun dalam kondisi mendesak seperti badai misalnya.

      Kalau kita tertinggal kereta, kita bisa naik kereta jadwal keberangkatan lainnya yang waktunya bervariasi. Saya kemarin naik satu kereta dengan jadwal lebih mundur karena harus sholat duhur dan ashar di salah satu stasiun pemberhentian.

      • Wah makasih infonya , bermanfaat sekali hehe, mau tanya lagi donk, kalau misal saya sampai di haneda malem jam 11 apakah untuk pengambilan pocket wifi seperti pupuru masih buka sampai malam? *maaf ya banyak nanya*^^’

      • Selama di Jepang ngga pernah pake pocket wifi. Saya pakai data only sim card, 2 gb bisa buat sebulan. Hehehe. Tapi kalau mau tau soal wifi itu coba dibuka langsung aja di webnya. Tulisan tentang traveling jepang masih akan ada beberapa edisi lagi di blog ini. Terimakasih udah mampir.

      • Mas, saya mau tanya lagi, kalo maksudnya outer loop dan inner loop itu gimana ya? Misal seperti gambar ini
        http://postimg.org/image/7w6825g87/

        kenapa “JR Yamanote Line(Outer loop) for OSAKI” harus 2 kali ya? apa itu kereta yang berbeda? Dan maksudnya outer loop itu seperti apa?

        Makassiihh ^^

      • https://a0.muscache.com/im/pictures/106662253/89461814_original.jpg?aki_policy=x_large

        yamanote loop line itu kan keretanya muter non-stop, ngga ada stasiun awal atau akhir. Jadi cari kereta yang ke arah osaki, sampai di osaki tetep di kereta aja sampe menuju ke Shin-Okubo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: