Catatan Perjalanan ke Jepang: Menikmati Kyoto yang Kuno (Bagian 1/3)

Salah Satu Sudut Kiyomizu-dera

Salah Satu Sudut Kiyomizu-dera

Lama tidak menulis di blog karena sibuk tesis, saya akan melanjutkan rangkuman catatan perjalanan selama di Jepang. Barangkali sudah banyak dibahas di buku panduan traveling dan catatan perjalanan bloger lain. Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya berkunjung ke lima kota di Jepang yaitu Tokyo, Kyoto, Osaka serta sedikit catatan berkunjung ke Kobe dan Nara. Tulisan lengkap akan saya bagi ke dalam beberapa bagian sesuai dengan kota masing-masing . Bagian pertama akan membahas Kyoto karena di sinilah saya banyak menghabiskan waktu selama dua bulan di Jepang.

Kyoto (京都)
Sekitar dua bulan saya tinggal di Kyoto, tepatnya di daerah Kitashirakawa (北白川), Sakyo-ku (左京区), tidak jauh dari Universitas Kyoto. Hal pertama yang saya rasakan adalah kota yang lengang serta jauh dari keramaian. Baru kemudian saya sadari bahwa Sakyo-ku memang terletak kurang lebih enam kilometer dari pusat kota. Suasana yang sepi sangat mendukung perkuliahan karena memang di sekitaran ini banyak sekali apartemen khusus pelajar, sehingga belajar pun menjadi lebih kondusif.

Sebagai daerah yang pernah memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan negara Jepang di masa lampau, sangat terasa suasana tempo dulu saat menyusuri setiap jengkal Kyoto. Tidak salah jika kota ini dikenal sebagai kota seribu kuil karena hampir dimana-mana ada kuil Budha dan Sinto, beberapa diantaranya akan saya ulas dalam catatan ini. Kotanya sangat rapi, ruas jalannya seperti rangka bidang dua dimensi yang membujur dari barat ke timur serta melintang dari utara ke selatan secara simetris. Mirip seperti Yogyakarta, tidak sulit untuk menentukan arah mata angin di Kyoto.

Jangan harap bisa menjumpai gedung-gedung tinggi pencakar langit nan modern! Satu-satunya bangunan paling modern di Kyoto adalah Stasiun Kyoto, atau biasa disebut Kyoto Eki (京都駅). Dari rooftop stasiun Kyoto saya dapat mengamati 360 derajat tata letak kota. Kyoto nampak seperti sebidang kertas dengan susunan balok-balok di atasnya. Baik tinggi, lebar, dan bentuk bangunan di pusat kota hampir mirip dan sama. Tidak ada lobi megah dan vallet parkir di depan pusat-perbelanjaan melainkan trotoar yang cukup untuk jalur berjalan kaki.

Kyoto City View dari Rooftop Stasiun Kyoto

Kyoto City View dari Rooftop Stasiun Kyoto

Hal menarik lainnya yang saya temukan di kota yang pernah menjadi Ibu Kota Jepang selama lebih dari 1000 tahun ini adalah penyusunan kota menjadi beberapa blok. Di mulai dari utara adalah Ichijo (一条), Nijo (二条) yang terkenal dengan Kastil Nijo, Sanjo (三条) dan Shijo (四条) yang merupakan kawasan perbelanjaan, dan sisanya adalah Gojo (五条), Rokujo (六条), Sichijo (七条), Hachijo (八条), Kujo (九条), dan Jujo (十条) di selatan Stasiun Kyoto. Bagi yang bisa membaca kanji sudah pasti tahu pola nya kan? Yap, benar sekali bahwa penamaan blok menggunakan angka 1-10 yang ditulis dalam kanji. Jadi artinya adalah blok 1, blok 2, dan seterusnya. Hal ini tentu memudahkan pelancong untuk mengidentifikasi dan memperkirakan tujuan wisata.

Lantas tempat wisata apa saja sih yang layak dimasukkan ke rencana perjalanan ke Kyoto? Berikut ini saya tuliskan beberapa rekomendasi tempat wisata yang pernah saya kunjungi baik yang gratis maupun berbayar.

Kuil Ginkaku-ji

Kuil Ginkaku-ji

Ginkaku-ji (銀閣寺)
Ginkaku-ji, The Silver Pavilion, berlokasi tak jauh dari dormitory saya tinggal. Membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit berjalan kaki untuk sampai di kuil yang berada di kaki Gunung Daimonji (大文字山) ini. Termasuk kedalam salah satu warisan budaya UNESCO, Ginkakuji memiliki keunikan tersendiri. Memasuki gerbang kuil ada tembok Ginkakuji berupa tanaman yang disusun vertikal. Hal unik lainnya adalah istana pasir yang terdapat di tengah halaman kuil. Istana pasir disusun sangat indah dan artistik. Bangunan utamanya tentu saja adalah paviliun atau kuil perak. Tidak seperti The Golden Pavilion, Ginkakuji tidak dilapisi oleh perak di atapnya. Bangunan bertingkat yang disebut Kannon (Kannon-den) itu tentu saja tidak bisa dimasuki pengunjung. Di sekelilingnya terdapat kolam yang semakin menambah keindahan kuil yang terpantul di atas permukaan air.
Jam Operasional : Pukul 08.30-17.00 (1 Maret-30 Nov), 09.00-16.30 (1 Des-28 Feb)
Tiket Masuk : ¥500 (Rp60.000)
Panduan : Dari Stasiun Kyoto bisa naik Bus No. 5 (halte A1), bus No. 17 (halte A2), bus No. 100 (halte D-1) turun di Halte Ginkaku-ji Michi. Waktu tempuh dari Stasiun Kyoto hingga Ginkakuji-Michi sekitar 50 menit. Dari Ginkaku-ji michi langsung menyusuri The Philosopher Walk (kanal kecil seperti sungai) hingga menemukan gerbang Ginkaku-ji.

Torii di Are Heian Jingu Shrine (sumber: Wikipedia)

Heian Jingu-Shrine(平安神宮)
Jika kita naik bus No. 5 yang menuju Ginkaku-ji, bus akan melewati sebuah gapura tinggi besar berwarna oranye. Torii, gapura atau gerbang yang menjadi salah satu ciri khas Kyoto. Di ujung jalan torii terdapat kuil yang bernama Heian-Jingu (平安神宮). Berbeda dengan Ginkaku-ji yang merupakan kuil Zen (Budha), Heian Jingu merupakan kuil Sinto. Meskipun sedikit sulit membedakan kuil Zen dan Sinto, kuil Sinto biasanya lebih mudah terdeteksi dari gapura berwarna oranye yang mencolok. Di dalam area Heian terdapat beberapa bangunan seperti pagoda, tempat ibadah, dan Heian Jingu Secret Garden. Dinamakan taman rahasia sebab dari depan tidak nampak ada taman dalam bangunan itu. Namun begitu memasuki pintu, akan terlihat taman yang indah dan cukup luas termasuk di dalamnya adalah kolam ikan yang ikonik. Di halam depan kuil juga terdapat gentong-gentong kayu yang disusun serta gantungan kayu tempat orang-orang menuliskan harapan dan doa.
Jam Operasional : Pukul 08.30-17.30 (1 Maret-30 Nov), 09.00-16.30 (1 Des-28 Feb)
Tiket Masuk : ¥600 (Rp72.000) untuk Secret Garden, Heian Jingu gratis.
Panduan : Dari Stasiun Kyoto bisa naik Bus No. 5 (halte A1), turun di halte Heian Jingu-Shrine (平安神宮前). Waktu tempuh sekitar 40 menit. Di sekitar area ini terdapat beberapa lokasi menarik lainnya seperti Kyoto City Zoo, Kyoto Municipial Museum of Art, serta Miyako Messe (Kyoto International Exhibition Hall).

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: