Monthly Archives: April 2017

Ke Singapura Lewat Senai Airport: Pengalaman Mendapatkan Tiket Murah hingga “Ditahan” Imigrasi Singapura

Tugu Pesawat di Senai Airport (dokumen pribadi)

Bulan Februari lalu saya mendapatkan tiket promo AirAsia Surabaya-Johor seharga Rp 650.000 pulang pergi. Meski sudah sering singgah di Johor Bahru, ini merupakan pengalaman pertama masuk Malaysia melalui Bandara Senai. Setelah mencari info yang cukup detail mengenai Bandara Senai dan cara menuju ke kota, Bulan April akhirnya saya berkesempatan mendarat di kota paling selatan di semenanjung Malaysia itu.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Malaysia | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Smarter without Smartphone

Sudah sekitar dua minggu lebih saya tidak menggunakan telepon pintar atau smartphone. Beberapa hari pertama rasanya gelisah karena tidak ada sesuatu untuk dipegang dan dilihat-lihat. Tetapi, beberapa hari setelahnya malah enjoy aja dan belum terpikir untuk beli hp baru. Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan selama tidak memegang gadget  sama sekali, termasuk ketika bepergian ke Singapura beberapa waktu lalu. Awalnya saya ragu apakah mungkin traveling tanpa membawa satu alat komunikasi pun. Meski sudah sering pergi ke Singapura, saya merasa akan lebih “aman” jika ada hp selama jalan-jalan di sana. Nyatanya, bepergian tanpa memiliki koneksi internet justru merupakan hal yang sangat menarik.

Menurut saya, hal tersulit atas ketiadaan hp adalah sulitnya mengakses jalur dan peta selama berkeliling. Tidak ada panduan real time kapan dan dimana saya bisa naik MRT dan bus  menuju suatu tempat. Nyatanya, tidak membawa smartphone justru membuat saya lebih jeli mengamati peta kertas, jadwal dan laluan bus, serta merencanakan perjalanan. Saya tidak sibuk log in media sosial dan mengecek berapa like yang saya terima. Alih-alih sibuk bermedia sosial, saya jadi lebih fokus pada hal-hal yang sebelumnya tidak menarik perhatian saya.

Sebagian dari Anda yang membaca tulisan ini mungkin akan melontarkan beberapa komentar serupa seperti; “Di Singapura mah emang udah gampang kali transportasinya” atau “coba di Indonesia ngga pakai smartphone, bisa ngga loe?”, dan lain sebagainya. Saya akui, bepergian tanpa hp di Singapura memang lebih mudah dibandingkan saat berada di Indonesia.

Barangkali saya tidak pernah sadar bahwa hidup saya sudah terlalu bergantung dengan media sosial dan ponsel pintar hingga ponsel saya raib. Salah satu hal yang sudah seperti “candu” adalah akses transpotasi daring yang begitu mudah dan murah. Setibanya di Stasiun Wonokromo pukul setengah dua hari, saya tidak tahu apapun agar bisa sampai di Bandara Juanda sebelum pukul lima pagi. Di luar stasiun, ada beberapa angkot yang sudah siap mengangkut penumpang sampai ke Terminal Purabaya. Oke, saya naik angkot itu dengan ongkos…….SEPULUH RIBU RUPIAH! I was like uhmm it would be less expensive to order Uber or Gocar. Tetapi kemudian saya ingat bahwa saya tidak memiliki akses untuk itu.

Pun ketika sampai Terminal Purabaya saya seperti orang bingung yang sedang menunggu Shuttle Bus Damri beroperasi. Bus ini biasanya akan mulai beroperasi pukul tiga atau empat pagi, tetapi saat itu baru pukul dua dini hari. Saya ada pilihan untuk menunggu bus tersebut hingga seorang bapak ojek yang cukup tua datang dan menghampiri saya bermaksud menawarkan jasanya. “Berapa, pak?”, tanya saya. “Sudah seperti biasanya saja, tiga puluh lima ribu rupiah”. Dengan TIGA PULUH LIMA RIBU RUPIAH sebenarnya saya bisa pesan gojek dari Stasiun Gubeng ke Juanda tanpa tawar menawar.

Lain lagi cerita sepulangnya dari Singapura. Mendarat di Bandara Juanda pukul 12 siang, saya dihadapkan dengan pilihan moda transportasi untuk sampai ke Stasiun Wonkoromo. Setidaknya saya sudah harus sampai disana sebelum pukul 13.30 agar bisa mengejar kereta Sri Tanjung tujuan Yogyakarta. I wish I had booked a seat. Karena tidak bisa memesan tiket secara daring, tentu saja saya tidak siap ketika petugas loket mengatakan bahwa tiket yang ingin saya beli sudah habis. Padahal dengan aplikasi Traveloka atau KA, saya bisa dengan mudah mendapatkan tiket kereta dalam beberapa kali sentuhan jari.

Baru setelah pindah ke Stasiun Gubeng naik angkot, yang saya pun tidak tahu jurusan apa dan berapa bayarnya, saya mendapatkan tiket kereta Sancaka pukul 17.30. Itu artinya, saya harus menunggu kurang lebih empat jam. Empat jam tanpa hp ternyata cukup lama diibandingkan saat sedang asyik berselancar di explore instagram. Social media is surely a time killer.

Selama  perjalanan saya berpikir which one is smarter; the phone or the person? Memang benar bahwa dalam banyak hal, ponsel pintar menjadi andalan untuk menyediakan layanan yang efektif dan efisien. Seseorang tidak harus berlama-lama menunggu bus atau angkot, tidak juga harus kehabisan tiket kereta, dan tersesat karena tidak tahu arah. Tetapi apakah itu cukup untuk menjadikan manusia menjadi lebih pintar daripada ponselnya?

Bepergian dengan cara konvensional memang melelahkan dan membuang banyak uang, tenaga, dan waktu. Tetapi, saya memiliki lebih ruang gerak dan imajinasi membayangkan rute yang harus saya ambil, menghitung pengeluaran dengan lebih teliti, dan menggunakan kemampuan bertanya “secara fisik” jika kebingungan. Kemampuan otak yang beberapa tahun belakangan digantikan oleh keberadaan Google kembali saya manfaatkan. Ada proses berpikir yang lebih dalam sebagai pengganti ponsel pintar yang hilang.

Tanpa hp, saya tidak bisa setiap saat memberikan kabar terbaru kepada keluarga di rumah. Tidak juga secara cepat merespon surel yang berhubungan dengan kerjaan. Akibatnya, saya membuat prioritas pesan mana yang harus saya balas terlebih dahulu atau hal mendesak apa yang harus saya sampaikan. Hal yang tidak saya lakukan ketika WhatsApp, Gmail, dan sebagainya begitu mudahnya saya buka. Semua pesan menjadi penting dan memiliki urgensi untuk segera dibaca dan diberikan umpan balik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan dar kita bahkan bisa melakukan rapat kapan pun dan dimana pun. Dokumen rapat pun dengan mudah bisa dibagikan melalui aplikasi pesan-yang-tak-lagi-singkat.

Terjadi reaksi kaget yang berlebihan ketika hal ini saya ceritakan kepada seorang rekan dari Australia. Satu kalimat yang dia lontarkan, “Do you really have the meeting through WhatsApp?”. Unfortunately yes! Saya bukan orang yang paham IT tapi kalau boleh menebak, mungkin orang ini penasaran mengapa kita –orang Indonesia – begitu mudahnya berbagi dokumen resmi (dan mungkin bersifat penting dan rahasia) melalui jaringan yang tidak aman (?). Ya…ini hanya dugaan saya saja kok.

Saya belum tahu sampai kapan saya bertahan tanpa smartphone, mungkin seminggu, dua minggu, atau sebulan lagi. Jari saya sih sebenernya sudah tidak tahan untuk berselancar di instagram, Path, dan media sosial lainnya yang kemarin-kemarin sudah menyita banyak waktu. Tanpa hp saya mampu menyelesaikan sebuah novel selama perjalanan, hal yang tidak banyak saya lakukan dengan hp. Sebab, dengan hp saya malah sibuk nonton drama korea yang saya simpan.

Fakta bahwa smartphone membantu manusia dalam banyak aktivitas memang tidak dapat dipungkiri. Teknologi yang mumpuni memberikan kesempatan pada manusia untuk mempergunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Tetapi jangan menggerutu saat tiba-tiba ada telepon tidak dikenal menawarkan jasa asuransi.”Darimana mereka dapat nomerku?”, mungkin saja dari data pribadi yang secara sukarela kita bagikan lewat penyedia layanan transportasi online atau situs jual beli barang bekas. Tidak ada yang gratis bahkan untuk mendapatkan diskon 20 ribu pembelian tiket pesawat lewat aplikasi dalam smartphone. Tenang saja, saya juga sudah tidak sabar memiliki smartphone lagi dan membagi-bagikan data pribadi secara percuma.

 

Categories: Campur-Campur | 3 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: