Ke Singapura Lewat Senai Airport: Pengalaman Mendapatkan Tiket Murah hingga “Ditahan” Imigrasi Singapura

Tugu Pesawat di Senai Airport (dokumen pribadi)

Bulan Februari lalu saya mendapatkan tiket promo AirAsia Surabaya-Johor seharga Rp 650.000 pulang pergi. Meski sudah sering singgah di Johor Bahru, ini merupakan pengalaman pertama masuk Malaysia melalui Bandara Senai. Setelah mencari info yang cukup detail mengenai Bandara Senai dan cara menuju ke kota, Bulan April akhirnya saya berkesempatan mendarat di kota paling selatan di semenanjung Malaysia itu.

Bandara Senai tidak terlalu besar atau lebih tepatnya sangat kecil. Hanya terdapat empat pintu keberangkatan dan kedatangan dalam satu bangunan bernuansa putih. Bangunan utama terhubung dengan garbarata tetapi tidak dipergunakan karena penumpang naik dan turun melalui tangga portabel. Setibanya di pintu kedatangan, yang jadi satu dengan pintu keberangkatan, di ruangan yang sama para penumpang melewati konter imigrasi Malaysia. Ada empat konter yang melayani pengunjung yang tidak terlalu banyak. Karena konter imigrasi yang tidak disekat, beberapa penumpang salah mengantri imigrasi padahal seharusnya menuju pintu keberangkatan.

Pintu Masuk Senai Airport (dokumen pribadi)

Awalnya, saya berniat melanjutkan perjalanan ke Melaka dari Johor. Kebetulan saya mendapatkan promo hotel melalui Nida Room seharga 5 ringgit permalam. Tetapi, beberapa hari sebelum berangkat saya menerima email bahwa hotel yang saya pesan mengalami overbooked sehingga pesanan saya tidak bisa dilaksanakan. Pihak Nida Room memberikan kompensasi refund atau kredit voucher senilai 1000 ringgit yang harus digunakan selama dua bulan. Mood  sudah anjlok mendapatkan pemberitahuan tersebut. Kemudian saya putuskan melanjutkan perjalanan ke Singapura saja.

Perjalanan dari Senai ke kota Johor dapat ditempuh dengan beberapa pilihan transportasi seperti bus, taksi atau mobil sewa, dan belakangan baru saya ketahui jika ada Uber yang standby  di area bandara. Saya naik bus Causeway seharga RM 8 perorang sekali jalan. Tiket dapat dibeli di konter Causeway dekat pintu keluar atau langsung di dalam bus. Lama perjalanan menempuh jarak sekitar 30 km adalah satu jam hingga tiba di JB Sentral. Terminal JB Sentral terhubung dengan jembatan penyebrangan ke Bangunan Sultan Iskandar yang merupakan kantor imigrasi Malaysia.

Setelah selesai dengan urusan imigrasi di Johor, saya naik bus Causeway menuju Singapura. Terminal bus berada di bawah bangunan imigrasi. Di sana sudah ada beberapa jalur bus ke tujuan-tujuan sekitar Johor. Bus yang melayani perjalanan ke Singapura ada tiga macam; ke Kranji seharga RM 1,5, ke Queen Street Bugis seharga RM 3,5, dan Tanjong Pagar seharga RM 5. Uniknya, penumpang bisa membayar baik menggunakan SGD maupun Ringgit tetapi nilainya tidak dikonversi. Jadi, pilihannya adalah membayar RM 1,5 atau SGD 1,5 untuk bus dengan tujuan yang sama.

Bus menyeberangi causeway, sebuah jembatan yang terbentang di atas selat Singapura yang memisahkan Malaysia dan Singapura. Sampai di sini perjalanan masih sesuai dengan rencana hingga saya tiba di Woodlands Check Point, imigrasi Singapura. Tahun 2017 ini hampir tiap bulan saya pergi ke Singapura dan tidak pernah mengalami masalah sama sekali. Namun entah darimana datangnya “kesialan” yang membuat saya tertahan selama dua jam di kantor ICA, Immigration and Checkpoints Authority of Singapore.

Petugas di konter imigrasi tidak segera memberikan stempel masuk di paspor saya, malah memanggil rekannya. Oleh petugas imigrasi saya digiring menuju lantai dua (atau tiga) gedung imigrasi. Saya tidak tahu mengapa saya dibawa masuk ke ruang pemeriksaan yang super ketat itu. Di dalam ruangan sudah ada beberapa orang yang mengantri dipanggil untuk diperiksa. Ada yang baru menunggu selama 30 menit, ada juga yang sudah hampir tiga jam tetapi tidak kunjung selesai. Saya mendapatkan panggilan masuk ke ruangan setelah hampir satu jam menunggu. Seorang petugas separuh baya membawa saya ke ruangan dan mulai menginterogasi.

Petugas memberikan pertanyaan klarifikasi seputar identitas diri, tujuan datang ke Singapura, hingga berapa jumlah uang yang saya bawa. Saya juga ditanya seputar pekerjaan saya di Indonesia dan dengan siapa saya bepergian. Tas yang saya bawa pun tidak luput dari pemeriksaan, padahal isinya hanya pakaian dan alat mandi saja. Hehehe. Setelah dicecar dengan beberapa pertanyaan, saya dibiarkan menunggu beberapa saat sampai teman saya dipanggil petugas. Teman saya malah sempat dimasukkan ke dalam bilik yang ada mesin pendeteksi logam/senjata atau alat steril, saya tidak begitu paham. Saya lihat sepintas teman saya masuk ke mesin itu kemudian disemprot cairan (mungkin dikiranya ada penyakit apa ya?). Sungguh pengalaman yang tidak begitu menyenangkan.

Antrian di Imigrasi Johor Bahru (dokumen pribadi)

Sesampaianya di Singapura, saya makan di warung langganan saya di daerah Little India. Ada seorang bapak Warga Negara Singapura yang berdarah Indonesia. Orangtuanya asli Salatiga tetapi sudah pindah ke Singapura sejak jaman Indonesia belum merdeka. Saya ceritakan pengalaman ditahan ICA pada hari sebelumnya. Bapak itu menjelaskan bahwa kejadian random check tersebut memang sering terjadi. Apalagi jika seseorang masuk-keluar wilayah Malaysia-Singapura dalam waktu kurang dari 24 jam. Jatah kunjungan selama 30 hari tanpa visa sering disalahgunakan oknum untuk bekerja baik di Singapura/Malaysia. Motifnya sederhana, ketika jatah kunjungan akan habis, oknum itu pergi keluar perbatasan selama satu atau dua hari kemudian masuk lagi. Otomatis dia akan mendapatkan “perpanjangan” kunjungan di Singapura. Hal inilah yang membuat orang, termasuk saya, dicurigai karena baru masuk Johor pukul 10 tetapi langsung keluar pukul 11 siang.

Balik dari Singapura ke Johor pun lagi-lagi saya mengalami hal yang melelahkan. Antrian panjang di imigrasi Malaysia benar-benar tidak ada duanya. Hampir 18 konter penuh dengan manusia yang akan masuk Malaysia melalui Johor. Saya mengantri selama dua jam lima belas menit sampai akhirnya urusan selesai. Untung saja saya sudah makan di Stasiun Woodlands.

Berbicara soal Stasiun Woodlands, saya baru tau kalau stasiun ini juga terintegrasi dengan terminal bus yang melayani penumpang ke berbagai daerah di Singapura dan Johor. Di dalam gedung stasiun  banyak sekali kedai makanan yang kebanyakan cepat saji namun  halal. Saya sempat makan nasi ayam hainan seharga SGD 2 saja. Dari Woodlands ke arah Johor, terdapat pilihan bus 951 yang berhenti di Johor Sentral, seberang kantor imigrasi Johor (Bangunan Sultan Iskandar). Alternatif lain bisa ke Kranji, dilanjutkan naik bus SBS 170/170x yang mengantarkan sampai Terminal Larkin, JB.

Di Johor saya menginap di Double K Hostel. Lokasinya sangat dekat dengan Larkin. Dari larkin cukup berjalan ke arah belakang terminal hingga menemukan deretan ruko-ruko. Hostelnya tepat berada di jajaran ruko-ruko tersebut. Di hostel ini ada kamar asrama dan kamar privat. Kamar privat berdua tanpa kamar mandi dibanderol dengan harga RM 65 permalam cukup untuk dua orang. Harga ini termasuk light breakfast roti dan minuman hangat. Kamarnya sangat bersih, petugasnya ramah, dan wifi yang kencang. Saya boleh bilang bahwa hostel ini tergolong hostel syariah karena tidak boleh ada pasangan bukan muhrin menginap dalam satu kamar yang sama. Di tempelan Wi-fi juga diberikan peringatan bahwa penggunaan koneksi nirkabel tidak dibenarkan untuk mengakses film atau hal-hal pornografi. Overall,  nilai 8,5 dari 10 untuk hostel ini. Dari Double K ke Senai Airport saya cukup order Uber dengan tarif RM 21 saja.

Saya hitung total perjalanan tiga hari dua malam kali ini tidak sampai Rp 1,5 juta. Rp 665.000 untuk tiket Air Asia SUB-JHB-SUB dan Rp 120.000 untuk hostel di Singapura. Saya bawa uang saku SGD 70  (Rp 650.000) dan RM 100 (Rp 310.000). Itupun uang SGD masih sisa 45 sedangkan ringgit saya habiskan untuk bayar hostel di Johor sebesar RM 35 dan beli Subway di Senai Airport untuk sarapan. Despite all of the experiences of being interograted by the ICA, the journey was miraculously cheap!

Advertisements
Categories: Jalan-Jalan, Malaysia | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: