How I Spend My Money in Japan

I’ve been asked slightly similar questions about how I ended up in Kyoto. Pertama, pertanyaan tentang pakai beasiswa apa di Kyoto. Kedua, setelah saya jawab pakai beasiswa apa, dilanjutkan beberapa pertanyaan seperti; lebih besar beasiswanya dari LPDP? Ada tunjangan anak-istri? Cukup beasiswanya untuk kebutuhan sehari-hari?

Tidak ada yang salah dengan pertanyaan seperti itu, but I feel urge to clarify why and how. Cukup tergelitik ketika ditanya mengapa akhirnya saya memutuskan ambil beasiswa ini alih-alih beasiswa yang lain-lain. Unfortunately, I won’t cover the reasonings through this writing, instead of explaining how I spent the given funds.

Saat ini saya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang untuk menyelesaikan studi master di Graduate School of Economics, Universitas Kyoto. Beasiswa yang saya dapatkan secara umum meliputi: tiket pesawat pergi (dan pulang setelah lulus), 100% SPP yang langsung dibayarkan ke pihak universitas, dan biaya hidup. Here I’d like to note that the latest, the living cost, is the allowance given for supporting my life, except my life-style because those are two distinctive things.

Pada umumnya pertanyaan yang diajukan menjadi, biaya hidupya ditanggung 100%? Hhhmm… typical tricky question, isn’t it? Definisi membiaya hidup 100% itu yang seperti apa ya? Sementara kita tahu, kebutuhan manusia itu tidak tak terbatas, tetapi keinginan itu tidak terbatas.

Setiap bulan saya mendapatkan uang sebesar JPY147,000, yang dirupiahkan dengan kurs saat ini (JPY1=IDR127) menjadi sekitar IDR18,7 juta something something. Wow that’s a huge amount of money! Indeed! Saya bahkan belum pernah merasakan punya penghasilan sebanyak itu saat bekerja di Indonesia. Mari saya uraikan, kemana saja uang itu pergi.

Beberapa pengeluaran utama yang harus saya bayarkan setiap bulan antara lain biaya sewa rumah, utilities, telepon dan internet, asuransi, transportasi, dan makanan. Biaya sewa menghabiskan porsi yang paling besar karena harga sewa apartemen di Kyoto berkisar JPY50,000-70,000 untuk tipe apartemen keluarga, atau JPY25,000-45,000 untuk tipe single. Beruntungnya selama setahun pertama saya masih bisa menempati International House yang disediakan universitas dengan harga JPY20,000/bulan, tipe couple room. So, you have a spare? Wait, I’ll tell you later.

Berikutnya adalah utilities alias kewajiban membayar gas, air, dan listrik. Tentu saja ini tergantung dengan pemakaian bulanan ya. Di musim dingin tagihan listrik melonjak drastis karena pemakaian heater/penghangat ruangan, begitu juga di musim panas dimana konsumsi listrik naik akibat penggunaan AC. Normalnya, saya hanya bayar masing-masing JPY3,000 untuk listrik dan gas. Di musim dingin atau panas, tagihannya bisa melonjak lebih dari dua kali lipat.

Ketiga adalah transportasi yang memegang peran cukup penting dalam menunjang kehidupan sehari-hari. For the sake of limted budget, I choose to ride a bike, mostly every day, going through around 5 km one-way from my house to the university. Tenang saja, saya ngga punya uang untuk beli sepeda baru, kebetulan ada mahasiswa yang akan kembali ke Indonesia dan menghibahkan sepedanya ke saya. Tetapi, saya masih butuh mengeluarkan biaya traspportasi untuk pergi di akhir pekan, atau saat hari tidak memungkinkan untuk bersepeda, atau saat bulan puasa. Rata-rata pengeluaran transporasi di sini sekitar JPY9,000-12,000/bulan untuk monthly commute (abonemen) subway dan bus.

Kemudian ada biaya telepon dan internet yang nominalnya juga cukup menguras kantong. FYI, there’s no such “konter pulsa” for you to buy the credit balance to call or connect to the internet. People here can choose either they want to buy a contract-phone or proceed for the sim-card only. Kontrak HP dengan provider utama di Jepang (AU, Softbank, Docomo) memberikan kesempatan untuk mendapatkan HP baru dengan syarat kontrak internet+telepon yang nominalnya JPY8,000-14,000. Atau cukup beli simcard baru dengan biaya JPY3,500-5,000 untuk internet saja.

Setiap orang yang tinggal di Jepang diwajibkan membayar National Health Insurance (NHI) yang besarannya dihitung dari jumlah pendapatan dan pembayaran pajak dalam setahun. For a foreigner like me, of course, I have to tell the zero tax and income, so that the authority would give me the lowest insurance premium. As for that, I need to pay JPY3,8000/month for the whole family.

Agak sulit merinci biaya makan sehari-hari. Oleh karena itu yang satu ini relatif satu sama lain. Yang selalu masak di rumah mungkin akan menghabiskan lebih sedikit uang daripada yang selalu beli makanan jadi. But that’s also difficult since finding Halal foods in Japan isn’t a piece of cake. Saya menganggarkan uang sebesar JPY-6,000-9,000 untuk belanja mingguan yang terdiri dari beras, daging ayam, telur, susu, tepung, minyak goreng, dsb. Most of the time, it’s not enough, but we stick doing it.

Komponen terakhir adalah biaya lain-lain yang tidak terduga. Misal, saya harus membawa anak ke dokter untuk periksa dan ban sepeda yang bocor. FYI, ngga ada tukang tambal ban di sini, jadi ban yang bocor langsung diganti dengan biaya JPY3,500-5,000.

Ada sisa ngga sih? Teorinya ada. Let me tell you one thing, sebelum berangkat ke Jepang saya sama sekali tidak punya tabungan. Saya pinjam uang sana sini untuk modal awal keberangkatan membeli perlengkapan, koper, mengurus visa, dan biaya hidup sebulan pertama karena beasiswa baru diberikan ketika saya sudah sampai di Kyoto. Untuk itu, saya hamper berhutang hamper TIGA PULUH JUTA RUPIAH yang berjanji saya kembalikan kurang dari setahun sejak berangkat. There I was, saving some amount of money to return. Di beberapa bulan pertama saya menyisihkan JPY40,000 dikirimkan ke Indonesia untuk bayar hutang. I can say I almost finish paying all of the debt, in less than one year, all thanks to high rate of JPY.

Eventually, it’s not about where I got the funds, and why I opted for particular choice. Nominal beasiswa yang lebih besar, lagi-lagi, tidak menjamin dapat memenuhi semua kebutuhan. Sebaliknya, nominal yang lebih kecil pun juga tidak menghilangkan kesempatan untuk sesekali melakukan penyegaran agar tidak stress dengan tuntutan kuliah. Everything is about spending it wisely in the right time, the right place, and the right amount. Semoga menjadi pencerahan bagi yang sedang bersiap menapakkan kaki di negeri orang. Cheers from Kyoto!

Advertisements
Categories: Campur-Campur, Jepang | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: