Author Archives: tiology

About tiology

Smart, cheerful, inspiring!!

Ke Singapura Lewat Senai Airport: Pengalaman Mendapatkan Tiket Murah hingga “Ditahan” Imigrasi Singapura

Tugu Pesawat di Senai Airport (dokumen pribadi)

Bulan Februari lalu saya mendapatkan tiket promo AirAsia Surabaya-Johor seharga Rp 650.000 pulang pergi. Meski sudah sering singgah di Johor Bahru, ini merupakan pengalaman pertama masuk Malaysia melalui Bandara Senai. Setelah mencari info yang cukup detail mengenai Bandara Senai dan cara menuju ke kota, Bulan April akhirnya saya berkesempatan mendarat di kota paling selatan di semenanjung Malaysia itu.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Malaysia | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Smarter without Smartphone

Sudah sekitar dua minggu lebih saya tidak menggunakan telepon pintar atau smartphone. Beberapa hari pertama rasanya gelisah karena tidak ada sesuatu untuk dipegang dan dilihat-lihat. Tetapi, beberapa hari setelahnya malah enjoy aja dan belum terpikir untuk beli hp baru. Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan selama tidak memegang gadget  sama sekali, termasuk ketika bepergian ke Singapura beberapa waktu lalu. Awalnya saya ragu apakah mungkin traveling tanpa membawa satu alat komunikasi pun. Meski sudah sering pergi ke Singapura, saya merasa akan lebih “aman” jika ada hp selama jalan-jalan di sana. Nyatanya, bepergian tanpa memiliki koneksi internet justru merupakan hal yang sangat menarik.

Menurut saya, hal tersulit atas ketiadaan hp adalah sulitnya mengakses jalur dan peta selama berkeliling. Tidak ada panduan real time kapan dan dimana saya bisa naik MRT dan bus  menuju suatu tempat. Nyatanya, tidak membawa smartphone justru membuat saya lebih jeli mengamati peta kertas, jadwal dan laluan bus, serta merencanakan perjalanan. Saya tidak sibuk log in media sosial dan mengecek berapa like yang saya terima. Alih-alih sibuk bermedia sosial, saya jadi lebih fokus pada hal-hal yang sebelumnya tidak menarik perhatian saya.

Sebagian dari Anda yang membaca tulisan ini mungkin akan melontarkan beberapa komentar serupa seperti; “Di Singapura mah emang udah gampang kali transportasinya” atau “coba di Indonesia ngga pakai smartphone, bisa ngga loe?”, dan lain sebagainya. Saya akui, bepergian tanpa hp di Singapura memang lebih mudah dibandingkan saat berada di Indonesia.

Barangkali saya tidak pernah sadar bahwa hidup saya sudah terlalu bergantung dengan media sosial dan ponsel pintar hingga ponsel saya raib. Salah satu hal yang sudah seperti “candu” adalah akses transpotasi daring yang begitu mudah dan murah. Setibanya di Stasiun Wonokromo pukul setengah dua hari, saya tidak tahu apapun agar bisa sampai di Bandara Juanda sebelum pukul lima pagi. Di luar stasiun, ada beberapa angkot yang sudah siap mengangkut penumpang sampai ke Terminal Purabaya. Oke, saya naik angkot itu dengan ongkos…….SEPULUH RIBU RUPIAH! I was like uhmm it would be less expensive to order Uber or Gocar. Tetapi kemudian saya ingat bahwa saya tidak memiliki akses untuk itu.

Pun ketika sampai Terminal Purabaya saya seperti orang bingung yang sedang menunggu Shuttle Bus Damri beroperasi. Bus ini biasanya akan mulai beroperasi pukul tiga atau empat pagi, tetapi saat itu baru pukul dua dini hari. Saya ada pilihan untuk menunggu bus tersebut hingga seorang bapak ojek yang cukup tua datang dan menghampiri saya bermaksud menawarkan jasanya. “Berapa, pak?”, tanya saya. “Sudah seperti biasanya saja, tiga puluh lima ribu rupiah”. Dengan TIGA PULUH LIMA RIBU RUPIAH sebenarnya saya bisa pesan gojek dari Stasiun Gubeng ke Juanda tanpa tawar menawar.

Lain lagi cerita sepulangnya dari Singapura. Mendarat di Bandara Juanda pukul 12 siang, saya dihadapkan dengan pilihan moda transportasi untuk sampai ke Stasiun Wonkoromo. Setidaknya saya sudah harus sampai disana sebelum pukul 13.30 agar bisa mengejar kereta Sri Tanjung tujuan Yogyakarta. I wish I had booked a seat. Karena tidak bisa memesan tiket secara daring, tentu saja saya tidak siap ketika petugas loket mengatakan bahwa tiket yang ingin saya beli sudah habis. Padahal dengan aplikasi Traveloka atau KA, saya bisa dengan mudah mendapatkan tiket kereta dalam beberapa kali sentuhan jari.

Baru setelah pindah ke Stasiun Gubeng naik angkot, yang saya pun tidak tahu jurusan apa dan berapa bayarnya, saya mendapatkan tiket kereta Sancaka pukul 17.30. Itu artinya, saya harus menunggu kurang lebih empat jam. Empat jam tanpa hp ternyata cukup lama diibandingkan saat sedang asyik berselancar di explore instagram. Social media is surely a time killer.

Selama  perjalanan saya berpikir which one is smarter; the phone or the person? Memang benar bahwa dalam banyak hal, ponsel pintar menjadi andalan untuk menyediakan layanan yang efektif dan efisien. Seseorang tidak harus berlama-lama menunggu bus atau angkot, tidak juga harus kehabisan tiket kereta, dan tersesat karena tidak tahu arah. Tetapi apakah itu cukup untuk menjadikan manusia menjadi lebih pintar daripada ponselnya?

Bepergian dengan cara konvensional memang melelahkan dan membuang banyak uang, tenaga, dan waktu. Tetapi, saya memiliki lebih ruang gerak dan imajinasi membayangkan rute yang harus saya ambil, menghitung pengeluaran dengan lebih teliti, dan menggunakan kemampuan bertanya “secara fisik” jika kebingungan. Kemampuan otak yang beberapa tahun belakangan digantikan oleh keberadaan Google kembali saya manfaatkan. Ada proses berpikir yang lebih dalam sebagai pengganti ponsel pintar yang hilang.

Tanpa hp, saya tidak bisa setiap saat memberikan kabar terbaru kepada keluarga di rumah. Tidak juga secara cepat merespon surel yang berhubungan dengan kerjaan. Akibatnya, saya membuat prioritas pesan mana yang harus saya balas terlebih dahulu atau hal mendesak apa yang harus saya sampaikan. Hal yang tidak saya lakukan ketika WhatsApp, Gmail, dan sebagainya begitu mudahnya saya buka. Semua pesan menjadi penting dan memiliki urgensi untuk segera dibaca dan diberikan umpan balik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan dar kita bahkan bisa melakukan rapat kapan pun dan dimana pun. Dokumen rapat pun dengan mudah bisa dibagikan melalui aplikasi pesan-yang-tak-lagi-singkat.

Terjadi reaksi kaget yang berlebihan ketika hal ini saya ceritakan kepada seorang rekan dari Australia. Satu kalimat yang dia lontarkan, “Do you really have the meeting through WhatsApp?”. Unfortunately yes! Saya bukan orang yang paham IT tapi kalau boleh menebak, mungkin orang ini penasaran mengapa kita –orang Indonesia – begitu mudahnya berbagi dokumen resmi (dan mungkin bersifat penting dan rahasia) melalui jaringan yang tidak aman (?). Ya…ini hanya dugaan saya saja kok.

Saya belum tahu sampai kapan saya bertahan tanpa smartphone, mungkin seminggu, dua minggu, atau sebulan lagi. Jari saya sih sebenernya sudah tidak tahan untuk berselancar di instagram, Path, dan media sosial lainnya yang kemarin-kemarin sudah menyita banyak waktu. Tanpa hp saya mampu menyelesaikan sebuah novel selama perjalanan, hal yang tidak banyak saya lakukan dengan hp. Sebab, dengan hp saya malah sibuk nonton drama korea yang saya simpan.

Fakta bahwa smartphone membantu manusia dalam banyak aktivitas memang tidak dapat dipungkiri. Teknologi yang mumpuni memberikan kesempatan pada manusia untuk mempergunakan sumber daya secara efektif dan efisien. Tetapi jangan menggerutu saat tiba-tiba ada telepon tidak dikenal menawarkan jasa asuransi.”Darimana mereka dapat nomerku?”, mungkin saja dari data pribadi yang secara sukarela kita bagikan lewat penyedia layanan transportasi online atau situs jual beli barang bekas. Tidak ada yang gratis bahkan untuk mendapatkan diskon 20 ribu pembelian tiket pesawat lewat aplikasi dalam smartphone. Tenang saja, saya juga sudah tidak sabar memiliki smartphone lagi dan membagi-bagikan data pribadi secara percuma.

 

Categories: Campur-Campur | 3 Comments

Transportasi di Bangkok: dari MRT hingga Ojek Motor

Peta Transportasi Bangkok (courtesy: Bangkok.com)

Berdasarkan data INRIX Inc, Bangkok merupakah salah satu negara yang memiliki tingkat kemacetan terparah dengan rerata 64.1 jam setahun. Itu artinya, pengguna jalan di Bangkok menghabiskan lebih dari 60 jam  secara sia-sia. Meski tingkat kemacetan sangat tinggi, Bangkok adalah salah satu negara yang banyak menawarkan alternatif transportasi seperti MRT, bus kota, hingga ojek motor. Setidaknya ada delapan moda transportasi yang pernah saya gunakan selama di Bangkok, berikut adalah ulasannya.

  1. Airport Rail Link (ARL)

Jalur SA City Line (source: http://suvarnabhumiairport.com/)

Airport Rail Link menghubungakan Bandar Udara Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok yang berjarak 30 km. Suvarnabhumi Airport (SA) City Line berhenti di enam stasiun antara lain; Lat Krabang,  Ban Thap Chang, Hua Mak, Ramkamhaeng, Makkasan, dan Ratchaprarop, sebelum tiba di pemberhentian terakhir yaitu Phayathai dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Tarif SA City Line bervariasi antara 25-45 baht sekali jalan bergantung jarak.

ARL beroperasi mulai pukul 6 pagi hingga tengah malam dengan frekuensi 10-15 menit sekali. Menggunakan ARL dari dan ke bandara terjangkau bagi pejalan yang bepergian berdua dan tidak membawa barang atau koper terlalu banyak. Jika bepergian dalam rombongan lebih dari tiga orang dan membawa banyak barang dapat mempertimbangakan untuk naik taksi dengan ongkos sekitar 300 baht hingga ke hotel tujuan di daerah kota. Stasiun SA City Line terletak di lantai paling bawah (1st level) Bandara Suvarnabhumi.

 

  1. Bangkok Train System (BTS)

Bangkok Sky Train (source: http://www.bangkok.com/)

BTS memiliki dua rute yaitu Sukhumvit Line dan Silom Line. Sukhumvit Line terbentang dari utara, Stasiun Mo Chit yang merupakan stasiun terdekat dengan Chatuchak, hingga ke timur tepatnya di Stasiun Bearing. Setiap stasiun diberi kode N untuk utara dan E untuk timur, dengan 1 kode angka yang meunjukkan urutan stasiun. Silom Line terbentang dari barat, Stasiun National Stadium yang dekat dengan MBK/Siam, hingga ke selatan berakhir di stasiun Bang Wa. Kode untuk setiap stasiun menggunakan huruf W untuk barat dan S untuk Selatan.

Tarif menggunakan BTS berkisar antara 20-55 baht sekali jalan. Beberapa stasiun populer selain Mochit dan National Stadium diantaranya adalah; Central (CEN) tepat di persimpangan Siam (Siam Center, MBK, Paragon), Saphan Thaksin (S6) dermaga perahu ke Grand Palace, Ratchadewi (N1) terdekat dengan KBRI di Bangkok, Phayathai (N2) terhubung dengan ARL, Victory Monument (N3), Asok (E4) tersambung dengan skywalk  Terminal 21 Mall, dan Ekkamai (E7) dekat dengan terminal bus ke Pattaya.

 

  1. Mass Rapid Transit (Metro)

    Stasiun bawah tanah Metro (source: http://www.bangkok.com/)

Berbeda dengan BTS yang jalurnya ada di atas tanah (atau lebih tepatnya melayang), MRT di Bangkok memiliki jalur bawah tanah seperti di Singapura.

Bangkok hanya memiliki satu jalur MRT yang menghubungkan Hua Lamphong dan Bang Sue. Meski berbeda jalur, penumpang masih bisa transit ke jalur BTS atau ARL. MRT terhubung dengan BTS Sukhumvit Line di Stasiun Asok dan BTS Silom di Stasiun Sala Daeng. Bagi penumpang yang menuju Bandara Suvarnabhumi dapat naik MRT tujuan Petchaburi kemudian disambung jalan kaki menuju Stasiun Makkasan naik ARL ke bandara.

 

 

  1. Bus kota

Bus di Bangkok

Bagi saya, bus kota di Bangkok adalah moda transportasi yang misterius. Ada bus kota yang penampilannya sangat “tua” seperti Metromini dan bus AC yang mirip seperti bus Patas Damri. Pengalaman pertama naik bus di Bangkok tahun 2013, saya akan menuju ke Golden Mountain. Karena tidak paham Bahasa Thai saya jadi susah mengutarakan tujuan kepada kondektur, pun sebaliknya dia juag kesusahan memahami kalimat yang saya ucapkan. Saya hanya melihat google map selama di bus berjaga-jaga kalau bus sudah dekat dengan lokasi. Begitu hampir tiba, kondektur tidak mau menerima uang yang saya berikan karena dia kira saya kesasar.

Bus tidak memiliki monitor untuk memberi tahu halte mana yang akan dilewati. Jadi, penumpang asing akan sangat kesusahan untuk menjajal bus ini. Tipsnya hanya satu, selalu perhatikan arah jalan bus lewat Google Maps. Ongkos naik bus kota biasa hanya 5-10 baht saja, sedangkan bus AC mulai 15 baht ke atas tergantung jarak yang ditempuh. Mungkin tidak terlalu direkomendasikan naik bus di Bangkok, tapi perlu sesekali “menyasarkan” dan bergabung dengan orang Bangkok.

 

  1. River boat

    Dermaga Maharaj Tha Chang di pinggir Chao Phraya

Ini dia transportasi yang paling unik di Bangkok! Saya salut dengan orang Bangkok yang setiap hari pergi bekerja harus pindah-pindah moda transportasi dari bus kota, BTS, MRT, hingga naik perahu yang melintasi Sungai Chao Praya. Setahu saya memang tidak ada tempat yang benar-benar dilewati oleh semua jenis transportasi atau bahkan hanya ada satu jenis transportasi di suatu daerah. Misalnya daerah Rattanakosin (Grand Palace dan Wat Pho) yang paling mudah dijangkau dengan boat. Ada bus yang lewat tapi ya itu tadi, tidak jelas arahnya (hanya supir, kenek, dan orang Bangkok yang tahu).

Terdapat lima jenis perahu yang melayani rute sepanjang Chao Phraya, dimana setiap perahu ditandai dengan warna bendera yaitu kuning, hijau, biru, oranye, dan tanpa bendera. Bendera biru adalah Tourist Express boat yang berhenti di spot wisata saja dengan tarif 40 baht sekali jalan. Bendera oranye dan perahu tanpa bendera berhenti di hampir semua dermaga dengan ongkos 15 baht sekali jalan. Bendera kuning juga disebut tourist boat tetapi hanya melayani pada saat jam sibuk (pagi dan sore) dengan tarif 20-29 baht. Terakhir adalah bendera hijau yang lebih banyak melayani penumpang pekerja dari bagian utara sungai.

Bagi wisatawan yang hendak menuju destinasi terkenal cukup perhatikan bendera biru dan oranye saja. Perahu tanpa bendera juga hampir sama dengan bendera oranye tetapi hanya beroperasi pada hari kerja. Beberapa dermaga penting tujuan wisata adalah; Central Pier terhubung dengan BTS Saphan Thaksin, Tha Tien (N8) untuk Wat Pho dan Wat Arun, Maharaj Tha Chang (N9) untuk Grand Palace, Phra Arthit (N13) untuk Khaosan dan Thammasat University, serta Wat Rajsingkorn (S3) untuk ke Asiatique.

 

  1. Taksi

Taksi Bangkok (source: http://www.bangkok.com/)

Bagi sebagian budget traveler, taksi mungkin bukan pilihan yang tepat ya? Tapi tidak perlu khawatir karena taksi di Bangkok argonya masih cukup terjangkau. Dengan desain warna taksi yang warna-warni, tidak ada salahnya mencoba naik taksi dan “uji nyali” dengan sopir yang kadang hanya bisa berbahasa Thai. Tarif buka pintu taksi di Bangkok mulai 35 baht atau sekitar Rp 16.000 saja. Argonya bertambah 2-3 baht perkilometer, sedangkan untuk waktu tunggu taksi sebesar 1,25-1,5 baht permenit.

Mengambil taksi bisa jadi pilihan tepat jika sudah terlalu malam dan kemacetan sudah terurai. Pada jam sibuk argo taksi bisa lebih mahal 1,5 kali lipat daripada jam biasa. Masalahnya adalah Bangkok yang tidak pernah tidak macet cukup menguras waktu dan energi. Sebagai contoh dari Platinum Fashion Mall ke Asiatique yang berjarak 11 km, saya merogoh kocek sebanyak 100 baht (Rp 80.000). Harga tersebut sudah termasuk waktu tempuh selama hampir 50 menit karena saya bepergian pada jam sibuk pukul 7 malam.

Mencoba memesan taksi melalui aplikasi, seperti Uber dan Grab,juga menyenangkan dan mudah. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh beda dengan taksi konvensional. Hanya saja, kadang aplikasi taksi memberikan banyak diskon kepada pengguna sehingga terlihat lebih murah. Tetapi pada dasarnya tarif taksi konvensional dan modern tidak jauh berbeda.

 

  1. Tuk-tuk

Moda transportasi yang satu ini tidak ada di tempat lain kecuali di Bangkok. Hampir mirip seperti bajaj, tuk-tuk mampu menampung penumpang lebih banyak. Beberapa pengemudi tuktuk yang nekad, bisa membawa hingga 6 penumpang sekali jalan padahal normalnya Cuma 3-4 saja termasuk barang bawaan.

Percaya tidak percaya, ongkos naik tuk-tuk ini lebih mahal daripada naik taksi lho. Misalnya saja saya naik tuk-tuk dari MBK menuju Phaythai. Jika naik taksi saya hanya membayar 50 baht saja, tetapi dengan tuk-tuk malah harus membayar 100 baht. Karena tidak ada tarif resmi, satu-satunya cara adalah menawar ongkosnya kepada pengemudi. Tentu ini adalah hal yang melelahkan ya karena kendala bahasa inggris yang pas-pasan. Tapi tak apa lah, kapan lagi bisa naik tuk-tuk sambil merasakan terpaan angin kencang karena pengemudi yang ngebut?

 

  1. Ojek

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang pengalaman saya naik ojek di Bangkok. Tapi yang jelas, naik ojek sangat efisien waktu dan biaya. Para tukang ojek yang mangkal di daerah-daerah keramaian biasanya sudah punya tarif sendiri. Di beberapa tempat mereka malah sudah menuliskan tarif pasti ke tujuan tertentu. Dari MBK ke Platinum naik ojek saya dikenakan ongkos ojek sebesar 40 baht saja dengan waktu tempuh 3 kali lebih cepat daripada naik taksi. Tidak perlu tawar menawar, langsung saja sebut tujuan maka wuuzzzzz…tukang ojek akan megantarkan kita.

Itu tadi delapan moda transportasi di Bangkok yang pernah saya coba. Semuanya menyenangkan dan membuat saya seolah-olah jadi warga Bangkok. Kendala bahasa mungkin memang masalah tapi justru di situlah seni menikmati negeri yang kita kunjungi.

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Makanan Halal di Bangkok, Tidak Banyak tetapi Cukup Mudah Ditemukan

Bangkok is about shopping and dinning!

Siapapun yang pernah ke sini pasti setuju bahwa Bangkok menawarkan sejuta pilihan untuk berbelanja dan makan. Meski tidak mudah bagi wisatawan Muslim menemukan tempat makan yang halal, di beberapa lokasi masih dapat dijumpai makanan yang tidak hanya halal tetapi juga cocok di lidah orang Indonesia.

Berikut ini adalah rangkuman beberapa tempat makan halal di Bangkok yang pernah saya coba.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , | 2 Comments

Liburan Tahun Baru di Tokyo: Ropponggi, Odaiba, dan Fish Market

Patung Liberty versi Jepang di Odaiba

Patung Liberty versi Jepang di Odaiba

Maaf, kamu salah jika mengira foto di atas adalah Patung Liberty di New York. Slightly similar but it’s not. Itu adalah miniatur Liberty yang berada di Odaiba, Jepang.

Pergantian malam tahun baru di Jepang ternyata hanya dilewati begitu saja tanpa kembang api dan tanpa keramaian di tengah kota. Saya kembali ke penginapan (Masjid Asakusa) sekitar pukul 11 malam dan tidak ada tanda-tanda orang akan berkumpul di luar untuk merayakan tahun baru. Semua orang sepertinya sudah asyik berkumpul bersama keluarga di rumah, menyantap hidangan khas sambil menonton acara musik di televisi. Teman saya bercerita bahwa Senseinya bertanya mengapa dia tidak pulang kampung saat tahun baru sambil berkata “kasihan sekali…”. Dalam hati teman saya menjawab, “lebih kasihan kalau lebaran ngga bisa pulang, Sensei”.

Hachiko

Hachiko

Bangun keesokan harinya, saya melihat jalanan di sekitar Asakusa masih lengang dan sepi. Tidak ada aktivitas yang signifikan karena semua orang masih menikmati liburan hingga tanggal 4 Januari. Hari ini rencana saya adalah ke Odaiba dan bertemu kakak kelas SMA yang sedang mengambil master di Tokyo. Kami memutuskan untuk bertemu di Hachiko mengingat beberapa tulisan merekomendasikan titik ini sebagai lokasi yang paling sering dijadikan meeting point. Saya ragu bagaimana tempat seramai Shibuya bisa dijadikan lokasi ketemuan? Pertanyaan saya terjawab seketika saya sampai di Hachiko. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, tanggal 1 pagi Shibuya masih sepi dan sedikit sekali yang berfoto. Jadi keputusan untuk bertemu disini sangat tepat.

Sebelum menuju Odaiiba, saya bertanya kepada teman saya dimana bisa melihat Doraemon dan Nobita. Keinginan untuk mengunjungi Museum Fujiko di Kawasaki terpaksa kandas, karena tempat itu juga tutup selama libur  fuyu. Kemudian, teman saya merekomendasikan untuk mengunjungi Asahi TV di distrik Ropponggi, tempat serial kartun Doraemon ditayangkan.

Asahi TV

Searah jarum jam: Tokyo Tower dilihat dari Roppongi Hills, Nobita no Heya, Tetsuko Kuroyanagi, Doraemon

Searah jarum jam: Tokyo Tower dilihat dari Roppongi Hills, Nobita no Heya, Tetsuko Kuroyanagi, Doraemon

Lagi-lagi saya harus bilang bahwa Asahi TV tentu bukanlah tujuan wisata ya. Hanya saja saya ingin bertemu dengan tokoh idola saya semasa kecil. Di tengah perjalanan menuju gedung Asahi TV di distrik Ropponggi, saya dapat melihat salah satu landmark Tokyo yang terkenal yaitu Tokyo Tower. Tiba di gedung televisi, saya dapat melihat ada sesosok figur Doraemon yang langsung menyambut. Menyenangkan sekali sebab gedung kantor tersebut tetap dibuka untuk umum meskipun tanggal merah. Di lobi gedung ada beberapa patung doraemon dengan berbagai gaya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Nobita no Heya (のび太の部屋) alias kamarnya Nobita. Sebuah diorama yang menggambarkan kamar Nobita lengkap dengan meja belajar dan lemari, serta Nobita dan Doraemon yang sedang tidur siang. Serunya lagi, pengunjung boleh masuk ke diorama dan foto di kamar Nobita. Selain menampilkan serial terfavorit Asahi TV, di lobi gedung juga terdapat toko souvenir yang menjual barang-barang berkonsep Doraemon.

Rute: Dari Shibuya kami naik metro Ginza line tujuan Aoyama Itchome, dari sini pindah jalur kereta Oedo line tujuan Ropponggi. Karena tiket yang saya beli hari itu hanyalah tiket terusan Metro One Day pass seharga ¥600, maka saya harus membayar biaya tambahan untuk pindah ke jalur kereta Oedo kereta turun di stasiun Roppongi tidak jauh dari Asahi TV dan Ropponggi Hills.

(foto orang bakar ikan di tsukiji)

Tsukiji Fish Market

Pedagan ikan bakar di Tsuiki Fish Market

Pedagan ikan bakar di Tsuiki Fish Market

Dari Ropponggi saya melanjutkan perjalanan ke pinggiran kota Tokyo yaitu Tsukiji Fish Market. Tempat ini adalah pasar ikan terbesar yang terletak di pesisir teluk Tokyo. Namanya saja pasar ikan, yang dijual sudah pasti beragam jenis ikan dan hasil tangkapan laut lainnya. Tidak heran jika pasar ini selalu ramai pengunjung karena ikan merupakan bahan utama untuk membuat berbagai makanan seperti sushi, sashimi, dan sop ikan. Tempatnya bersih, tidak becek, dan tidak bau amis seperti pasar ikan pada umumnya. Mungkin karena inilah, Tsukiji Fish Market menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Pasar ikan ini masih sangat sepi saat tahun baru (tanggal 1 Januari), hanya ada beberapa penjual yang masih membuka dagangannya. Tetapi beruntung saya masih bisa merasakan geliat perdagangan ikan di sini dimana beberapa penjual memberikan sampel gratis daging ikan atau olahan cumi yang sudah diolah menjadi abon. Di beberapa sisi jalan juga ada penjual yang sedang memanggang sotong dan ikan bakar, bau asapnya membuat perut mendadak keroncongan. Saya juga melihat antrian yang cukup panjang di kedai-kedai sushi yang buka. Meski tergolong sepi saat tahun baru, antusiasme wisatawan untuk makan sushi dan sashimi yang fresh dari laut masih tinggi juga ya. Kalau hari biasa pasar buka secara penuh pasti antriannya akan semakin panjang.

Rute: Dari Ropponggi saya naik Oedo line tujuan Tsukijishijo. Kemudian saya melanjutkan jalan kaki sekitar 1 km menuju pasar Tsukiji.

Odaiba (お台場)

Rainbow Bridge saat siang dan malam hari

Rainbow Bridge saat siang dan malam hari

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, artinya saya harus segera menuju ke Odaiba. Saya rencanakan bisa sampai di sana sebelum hari gelap untuk mengejar senja. Pulau ini dulunya adalah benteng buatan yang dibangun pada jaman Edo abad ke-17. Seiring berkembangnya jaman, pemerintah Jepang membangun pulau ini sebagai pulau yang modern dan futuristik. Odaiba memang beda dengan distrik lain di Tokyo sebab di sini hanya sedikit penggunanaan tulisan kanji sebagai penunjuk jalan. Hampir semua penunjuk dan tulisan di pulau ini menggunakan bahasa Inggris. Beberapa tempat yang terkenal di Odaiba adalah Fuji TV yang merupakan “rumah” dari serial Digimon dan Chibi Maruko-Chan. Ada juga Aqua City, sebuah pusat perbelanjaan yang menawarkan berbagai macam kebutuhan. Di sana juga terdapat Warung Surabaya yang menjual makanan khas Indonesia.

Gundam Actual Size di depan Diver City, Odaiba, Tokyo

Gundam Actual Size di depan Diver City, Odaiba, Tokyo

Ada dua hal yang menjadi alasan saya menyempatkan diri main ke Odaiba. Pertama adalah Jembatan Pelangi alias Rainbow Bridge. Tepat sekali datang ke Odaiba sebelum hari gelap untuk mendapatkan pemandangan jembatan yang sekilas mirip dengan Golden Bridge di San Fransisco. Ketika hari sudah gelap lampu jembatan akan dinyalakan dan memberikan nuansa pelangi pada jembatan sepanjang 798 meter ini. Di lokasi ini pula dibangun miniatur patung Liberty yang tersohor dari Amerika. Kedua, adalah figur Gundam 1:1 yang terletak di depan Divericity Tokyo Plaza. Dinamakan Gundam 1:1 karena memang robot ini tingginya sama persis dengan Gundam yang asli (actual size). Pada pukul lima sore, Gundam akan menyala dan menggerakkan kepala serta tangannya sambil diiringi soundtrack serial Gundam yang populer hingga sekarang.

Rute: Ada beberapa pilihan transportasi menuju Odaiba; Yurikamone line, Rinkai Line, dan kapal. Saya sendiri memilih naik Yurikamone Line sebab hanya kereta ini yang melintas di atas Rainbow Bridge. Kereta Yurikamone dapat diakses melalui stasiun Shiodome (terkoneksi dengan Toei-Oedo Line) dengan tiket seharga ¥320 sekali jalan.

Pemandangan dari balik jendela kereta Yurikamone melintasi gedung pencakar langit dalam perjalanan menuju Odaiba

Pemandangan dari balik jendela kereta Yurikamone melintasi gedung pencakar langit dalam perjalanan menuju Odaiba

Tips: Naik Yurikamone line dari Shiodome paling seru jika mengambil posisi duduk paling depan. Kereta ini sepertinya sudah terkomputerisasi sehingga tidak perlu ada masinis. Pemandangan yang dapat dilihat sangat menakjubkan karena sepanjang perjalanan saya bisa melihat kereta membelah gedung pencakar langit dari balik jendela kereta yang lebar. Pemandangan akan semakin menarik ketika kereta melintasi jembatan di atas sungai dan memperlihatkan Odaiba yang modern dari kejauhan. Stasiun Daiba, stasiun terdekat dengan Aqua City, bukanlah tujuan akhir kereta. Yurikamone menlanjutkan perjalanan hingga ke Toyosu. Jadi pastikan tidak salah turun saat naik kereta karena terpukau dengan pemandangannya,

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: