Jalan-Jalan

informasi jalan-jalan dan tempat wisata yang pernah dikunjungi khususnya daerah Malang Raya

Ke Singapura Lewat Senai Airport: Pengalaman Mendapatkan Tiket Murah hingga “Ditahan” Imigrasi Singapura

Tugu Pesawat di Senai Airport (dokumen pribadi)

Bulan Februari lalu saya mendapatkan tiket promo AirAsia Surabaya-Johor seharga Rp 650.000 pulang pergi. Meski sudah sering singgah di Johor Bahru, ini merupakan pengalaman pertama masuk Malaysia melalui Bandara Senai. Setelah mencari info yang cukup detail mengenai Bandara Senai dan cara menuju ke kota, Bulan April akhirnya saya berkesempatan mendarat di kota paling selatan di semenanjung Malaysia itu.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Malaysia | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Transportasi di Bangkok: dari MRT hingga Ojek Motor

Peta Transportasi Bangkok (courtesy: Bangkok.com)

Berdasarkan data INRIX Inc, Bangkok merupakah salah satu negara yang memiliki tingkat kemacetan terparah dengan rerata 64.1 jam setahun. Itu artinya, pengguna jalan di Bangkok menghabiskan lebih dari 60 jam  secara sia-sia. Meski tingkat kemacetan sangat tinggi, Bangkok adalah salah satu negara yang banyak menawarkan alternatif transportasi seperti MRT, bus kota, hingga ojek motor. Setidaknya ada delapan moda transportasi yang pernah saya gunakan selama di Bangkok, berikut adalah ulasannya.

  1. Airport Rail Link (ARL)

Jalur SA City Line (source: http://suvarnabhumiairport.com/)

Airport Rail Link menghubungakan Bandar Udara Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok yang berjarak 30 km. Suvarnabhumi Airport (SA) City Line berhenti di enam stasiun antara lain; Lat Krabang,  Ban Thap Chang, Hua Mak, Ramkamhaeng, Makkasan, dan Ratchaprarop, sebelum tiba di pemberhentian terakhir yaitu Phayathai dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Tarif SA City Line bervariasi antara 25-45 baht sekali jalan bergantung jarak.

ARL beroperasi mulai pukul 6 pagi hingga tengah malam dengan frekuensi 10-15 menit sekali. Menggunakan ARL dari dan ke bandara terjangkau bagi pejalan yang bepergian berdua dan tidak membawa barang atau koper terlalu banyak. Jika bepergian dalam rombongan lebih dari tiga orang dan membawa banyak barang dapat mempertimbangakan untuk naik taksi dengan ongkos sekitar 300 baht hingga ke hotel tujuan di daerah kota. Stasiun SA City Line terletak di lantai paling bawah (1st level) Bandara Suvarnabhumi.

 

  1. Bangkok Train System (BTS)

Bangkok Sky Train (source: http://www.bangkok.com/)

BTS memiliki dua rute yaitu Sukhumvit Line dan Silom Line. Sukhumvit Line terbentang dari utara, Stasiun Mo Chit yang merupakan stasiun terdekat dengan Chatuchak, hingga ke timur tepatnya di Stasiun Bearing. Setiap stasiun diberi kode N untuk utara dan E untuk timur, dengan 1 kode angka yang meunjukkan urutan stasiun. Silom Line terbentang dari barat, Stasiun National Stadium yang dekat dengan MBK/Siam, hingga ke selatan berakhir di stasiun Bang Wa. Kode untuk setiap stasiun menggunakan huruf W untuk barat dan S untuk Selatan.

Tarif menggunakan BTS berkisar antara 20-55 baht sekali jalan. Beberapa stasiun populer selain Mochit dan National Stadium diantaranya adalah; Central (CEN) tepat di persimpangan Siam (Siam Center, MBK, Paragon), Saphan Thaksin (S6) dermaga perahu ke Grand Palace, Ratchadewi (N1) terdekat dengan KBRI di Bangkok, Phayathai (N2) terhubung dengan ARL, Victory Monument (N3), Asok (E4) tersambung dengan skywalk  Terminal 21 Mall, dan Ekkamai (E7) dekat dengan terminal bus ke Pattaya.

 

  1. Mass Rapid Transit (Metro)

    Stasiun bawah tanah Metro (source: http://www.bangkok.com/)

Berbeda dengan BTS yang jalurnya ada di atas tanah (atau lebih tepatnya melayang), MRT di Bangkok memiliki jalur bawah tanah seperti di Singapura.

Bangkok hanya memiliki satu jalur MRT yang menghubungkan Hua Lamphong dan Bang Sue. Meski berbeda jalur, penumpang masih bisa transit ke jalur BTS atau ARL. MRT terhubung dengan BTS Sukhumvit Line di Stasiun Asok dan BTS Silom di Stasiun Sala Daeng. Bagi penumpang yang menuju Bandara Suvarnabhumi dapat naik MRT tujuan Petchaburi kemudian disambung jalan kaki menuju Stasiun Makkasan naik ARL ke bandara.

 

 

  1. Bus kota

Bus di Bangkok

Bagi saya, bus kota di Bangkok adalah moda transportasi yang misterius. Ada bus kota yang penampilannya sangat “tua” seperti Metromini dan bus AC yang mirip seperti bus Patas Damri. Pengalaman pertama naik bus di Bangkok tahun 2013, saya akan menuju ke Golden Mountain. Karena tidak paham Bahasa Thai saya jadi susah mengutarakan tujuan kepada kondektur, pun sebaliknya dia juag kesusahan memahami kalimat yang saya ucapkan. Saya hanya melihat google map selama di bus berjaga-jaga kalau bus sudah dekat dengan lokasi. Begitu hampir tiba, kondektur tidak mau menerima uang yang saya berikan karena dia kira saya kesasar.

Bus tidak memiliki monitor untuk memberi tahu halte mana yang akan dilewati. Jadi, penumpang asing akan sangat kesusahan untuk menjajal bus ini. Tipsnya hanya satu, selalu perhatikan arah jalan bus lewat Google Maps. Ongkos naik bus kota biasa hanya 5-10 baht saja, sedangkan bus AC mulai 15 baht ke atas tergantung jarak yang ditempuh. Mungkin tidak terlalu direkomendasikan naik bus di Bangkok, tapi perlu sesekali “menyasarkan” dan bergabung dengan orang Bangkok.

 

  1. River boat

    Dermaga Maharaj Tha Chang di pinggir Chao Phraya

Ini dia transportasi yang paling unik di Bangkok! Saya salut dengan orang Bangkok yang setiap hari pergi bekerja harus pindah-pindah moda transportasi dari bus kota, BTS, MRT, hingga naik perahu yang melintasi Sungai Chao Praya. Setahu saya memang tidak ada tempat yang benar-benar dilewati oleh semua jenis transportasi atau bahkan hanya ada satu jenis transportasi di suatu daerah. Misalnya daerah Rattanakosin (Grand Palace dan Wat Pho) yang paling mudah dijangkau dengan boat. Ada bus yang lewat tapi ya itu tadi, tidak jelas arahnya (hanya supir, kenek, dan orang Bangkok yang tahu).

Terdapat lima jenis perahu yang melayani rute sepanjang Chao Phraya, dimana setiap perahu ditandai dengan warna bendera yaitu kuning, hijau, biru, oranye, dan tanpa bendera. Bendera biru adalah Tourist Express boat yang berhenti di spot wisata saja dengan tarif 40 baht sekali jalan. Bendera oranye dan perahu tanpa bendera berhenti di hampir semua dermaga dengan ongkos 15 baht sekali jalan. Bendera kuning juga disebut tourist boat tetapi hanya melayani pada saat jam sibuk (pagi dan sore) dengan tarif 20-29 baht. Terakhir adalah bendera hijau yang lebih banyak melayani penumpang pekerja dari bagian utara sungai.

Bagi wisatawan yang hendak menuju destinasi terkenal cukup perhatikan bendera biru dan oranye saja. Perahu tanpa bendera juga hampir sama dengan bendera oranye tetapi hanya beroperasi pada hari kerja. Beberapa dermaga penting tujuan wisata adalah; Central Pier terhubung dengan BTS Saphan Thaksin, Tha Tien (N8) untuk Wat Pho dan Wat Arun, Maharaj Tha Chang (N9) untuk Grand Palace, Phra Arthit (N13) untuk Khaosan dan Thammasat University, serta Wat Rajsingkorn (S3) untuk ke Asiatique.

 

  1. Taksi

Taksi Bangkok (source: http://www.bangkok.com/)

Bagi sebagian budget traveler, taksi mungkin bukan pilihan yang tepat ya? Tapi tidak perlu khawatir karena taksi di Bangkok argonya masih cukup terjangkau. Dengan desain warna taksi yang warna-warni, tidak ada salahnya mencoba naik taksi dan “uji nyali” dengan sopir yang kadang hanya bisa berbahasa Thai. Tarif buka pintu taksi di Bangkok mulai 35 baht atau sekitar Rp 16.000 saja. Argonya bertambah 2-3 baht perkilometer, sedangkan untuk waktu tunggu taksi sebesar 1,25-1,5 baht permenit.

Mengambil taksi bisa jadi pilihan tepat jika sudah terlalu malam dan kemacetan sudah terurai. Pada jam sibuk argo taksi bisa lebih mahal 1,5 kali lipat daripada jam biasa. Masalahnya adalah Bangkok yang tidak pernah tidak macet cukup menguras waktu dan energi. Sebagai contoh dari Platinum Fashion Mall ke Asiatique yang berjarak 11 km, saya merogoh kocek sebanyak 100 baht (Rp 80.000). Harga tersebut sudah termasuk waktu tempuh selama hampir 50 menit karena saya bepergian pada jam sibuk pukul 7 malam.

Mencoba memesan taksi melalui aplikasi, seperti Uber dan Grab,juga menyenangkan dan mudah. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh beda dengan taksi konvensional. Hanya saja, kadang aplikasi taksi memberikan banyak diskon kepada pengguna sehingga terlihat lebih murah. Tetapi pada dasarnya tarif taksi konvensional dan modern tidak jauh berbeda.

 

  1. Tuk-tuk

Moda transportasi yang satu ini tidak ada di tempat lain kecuali di Bangkok. Hampir mirip seperti bajaj, tuk-tuk mampu menampung penumpang lebih banyak. Beberapa pengemudi tuktuk yang nekad, bisa membawa hingga 6 penumpang sekali jalan padahal normalnya Cuma 3-4 saja termasuk barang bawaan.

Percaya tidak percaya, ongkos naik tuk-tuk ini lebih mahal daripada naik taksi lho. Misalnya saja saya naik tuk-tuk dari MBK menuju Phaythai. Jika naik taksi saya hanya membayar 50 baht saja, tetapi dengan tuk-tuk malah harus membayar 100 baht. Karena tidak ada tarif resmi, satu-satunya cara adalah menawar ongkosnya kepada pengemudi. Tentu ini adalah hal yang melelahkan ya karena kendala bahasa inggris yang pas-pasan. Tapi tak apa lah, kapan lagi bisa naik tuk-tuk sambil merasakan terpaan angin kencang karena pengemudi yang ngebut?

 

  1. Ojek

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang pengalaman saya naik ojek di Bangkok. Tapi yang jelas, naik ojek sangat efisien waktu dan biaya. Para tukang ojek yang mangkal di daerah-daerah keramaian biasanya sudah punya tarif sendiri. Di beberapa tempat mereka malah sudah menuliskan tarif pasti ke tujuan tertentu. Dari MBK ke Platinum naik ojek saya dikenakan ongkos ojek sebesar 40 baht saja dengan waktu tempuh 3 kali lebih cepat daripada naik taksi. Tidak perlu tawar menawar, langsung saja sebut tujuan maka wuuzzzzz…tukang ojek akan megantarkan kita.

Itu tadi delapan moda transportasi di Bangkok yang pernah saya coba. Semuanya menyenangkan dan membuat saya seolah-olah jadi warga Bangkok. Kendala bahasa mungkin memang masalah tapi justru di situlah seni menikmati negeri yang kita kunjungi.

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Makanan Halal di Bangkok, Tidak Banyak tetapi Cukup Mudah Ditemukan

Bangkok is about shopping and dinning!

Siapapun yang pernah ke sini pasti setuju bahwa Bangkok menawarkan sejuta pilihan untuk berbelanja dan makan. Meski tidak mudah bagi wisatawan Muslim menemukan tempat makan yang halal, di beberapa lokasi masih dapat dijumpai makanan yang tidak hanya halal tetapi juga cocok di lidah orang Indonesia.

Berikut ini adalah rangkuman beberapa tempat makan halal di Bangkok yang pernah saya coba.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , | 2 Comments

Liburan Tahun Baru di Tokyo: Ropponggi, Odaiba, dan Fish Market

Patung Liberty versi Jepang di Odaiba

Patung Liberty versi Jepang di Odaiba

Maaf, kamu salah jika mengira foto di atas adalah Patung Liberty di New York. Slightly similar but it’s not. Itu adalah miniatur Liberty yang berada di Odaiba, Jepang.

Pergantian malam tahun baru di Jepang ternyata hanya dilewati begitu saja tanpa kembang api dan tanpa keramaian di tengah kota. Saya kembali ke penginapan (Masjid Asakusa) sekitar pukul 11 malam dan tidak ada tanda-tanda orang akan berkumpul di luar untuk merayakan tahun baru. Semua orang sepertinya sudah asyik berkumpul bersama keluarga di rumah, menyantap hidangan khas sambil menonton acara musik di televisi. Teman saya bercerita bahwa Senseinya bertanya mengapa dia tidak pulang kampung saat tahun baru sambil berkata “kasihan sekali…”. Dalam hati teman saya menjawab, “lebih kasihan kalau lebaran ngga bisa pulang, Sensei”.

Hachiko

Hachiko

Bangun keesokan harinya, saya melihat jalanan di sekitar Asakusa masih lengang dan sepi. Tidak ada aktivitas yang signifikan karena semua orang masih menikmati liburan hingga tanggal 4 Januari. Hari ini rencana saya adalah ke Odaiba dan bertemu kakak kelas SMA yang sedang mengambil master di Tokyo. Kami memutuskan untuk bertemu di Hachiko mengingat beberapa tulisan merekomendasikan titik ini sebagai lokasi yang paling sering dijadikan meeting point. Saya ragu bagaimana tempat seramai Shibuya bisa dijadikan lokasi ketemuan? Pertanyaan saya terjawab seketika saya sampai di Hachiko. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, tanggal 1 pagi Shibuya masih sepi dan sedikit sekali yang berfoto. Jadi keputusan untuk bertemu disini sangat tepat.

Sebelum menuju Odaiiba, saya bertanya kepada teman saya dimana bisa melihat Doraemon dan Nobita. Keinginan untuk mengunjungi Museum Fujiko di Kawasaki terpaksa kandas, karena tempat itu juga tutup selama libur  fuyu. Kemudian, teman saya merekomendasikan untuk mengunjungi Asahi TV di distrik Ropponggi, tempat serial kartun Doraemon ditayangkan.

Asahi TV

Searah jarum jam: Tokyo Tower dilihat dari Roppongi Hills, Nobita no Heya, Tetsuko Kuroyanagi, Doraemon

Searah jarum jam: Tokyo Tower dilihat dari Roppongi Hills, Nobita no Heya, Tetsuko Kuroyanagi, Doraemon

Lagi-lagi saya harus bilang bahwa Asahi TV tentu bukanlah tujuan wisata ya. Hanya saja saya ingin bertemu dengan tokoh idola saya semasa kecil. Di tengah perjalanan menuju gedung Asahi TV di distrik Ropponggi, saya dapat melihat salah satu landmark Tokyo yang terkenal yaitu Tokyo Tower. Tiba di gedung televisi, saya dapat melihat ada sesosok figur Doraemon yang langsung menyambut. Menyenangkan sekali sebab gedung kantor tersebut tetap dibuka untuk umum meskipun tanggal merah. Di lobi gedung ada beberapa patung doraemon dengan berbagai gaya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Nobita no Heya (のび太の部屋) alias kamarnya Nobita. Sebuah diorama yang menggambarkan kamar Nobita lengkap dengan meja belajar dan lemari, serta Nobita dan Doraemon yang sedang tidur siang. Serunya lagi, pengunjung boleh masuk ke diorama dan foto di kamar Nobita. Selain menampilkan serial terfavorit Asahi TV, di lobi gedung juga terdapat toko souvenir yang menjual barang-barang berkonsep Doraemon.

Rute: Dari Shibuya kami naik metro Ginza line tujuan Aoyama Itchome, dari sini pindah jalur kereta Oedo line tujuan Ropponggi. Karena tiket yang saya beli hari itu hanyalah tiket terusan Metro One Day pass seharga ¥600, maka saya harus membayar biaya tambahan untuk pindah ke jalur kereta Oedo kereta turun di stasiun Roppongi tidak jauh dari Asahi TV dan Ropponggi Hills.

(foto orang bakar ikan di tsukiji)

Tsukiji Fish Market

Pedagan ikan bakar di Tsuiki Fish Market

Pedagan ikan bakar di Tsuiki Fish Market

Dari Ropponggi saya melanjutkan perjalanan ke pinggiran kota Tokyo yaitu Tsukiji Fish Market. Tempat ini adalah pasar ikan terbesar yang terletak di pesisir teluk Tokyo. Namanya saja pasar ikan, yang dijual sudah pasti beragam jenis ikan dan hasil tangkapan laut lainnya. Tidak heran jika pasar ini selalu ramai pengunjung karena ikan merupakan bahan utama untuk membuat berbagai makanan seperti sushi, sashimi, dan sop ikan. Tempatnya bersih, tidak becek, dan tidak bau amis seperti pasar ikan pada umumnya. Mungkin karena inilah, Tsukiji Fish Market menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Pasar ikan ini masih sangat sepi saat tahun baru (tanggal 1 Januari), hanya ada beberapa penjual yang masih membuka dagangannya. Tetapi beruntung saya masih bisa merasakan geliat perdagangan ikan di sini dimana beberapa penjual memberikan sampel gratis daging ikan atau olahan cumi yang sudah diolah menjadi abon. Di beberapa sisi jalan juga ada penjual yang sedang memanggang sotong dan ikan bakar, bau asapnya membuat perut mendadak keroncongan. Saya juga melihat antrian yang cukup panjang di kedai-kedai sushi yang buka. Meski tergolong sepi saat tahun baru, antusiasme wisatawan untuk makan sushi dan sashimi yang fresh dari laut masih tinggi juga ya. Kalau hari biasa pasar buka secara penuh pasti antriannya akan semakin panjang.

Rute: Dari Ropponggi saya naik Oedo line tujuan Tsukijishijo. Kemudian saya melanjutkan jalan kaki sekitar 1 km menuju pasar Tsukiji.

Odaiba (お台場)

Rainbow Bridge saat siang dan malam hari

Rainbow Bridge saat siang dan malam hari

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, artinya saya harus segera menuju ke Odaiba. Saya rencanakan bisa sampai di sana sebelum hari gelap untuk mengejar senja. Pulau ini dulunya adalah benteng buatan yang dibangun pada jaman Edo abad ke-17. Seiring berkembangnya jaman, pemerintah Jepang membangun pulau ini sebagai pulau yang modern dan futuristik. Odaiba memang beda dengan distrik lain di Tokyo sebab di sini hanya sedikit penggunanaan tulisan kanji sebagai penunjuk jalan. Hampir semua penunjuk dan tulisan di pulau ini menggunakan bahasa Inggris. Beberapa tempat yang terkenal di Odaiba adalah Fuji TV yang merupakan “rumah” dari serial Digimon dan Chibi Maruko-Chan. Ada juga Aqua City, sebuah pusat perbelanjaan yang menawarkan berbagai macam kebutuhan. Di sana juga terdapat Warung Surabaya yang menjual makanan khas Indonesia.

Gundam Actual Size di depan Diver City, Odaiba, Tokyo

Gundam Actual Size di depan Diver City, Odaiba, Tokyo

Ada dua hal yang menjadi alasan saya menyempatkan diri main ke Odaiba. Pertama adalah Jembatan Pelangi alias Rainbow Bridge. Tepat sekali datang ke Odaiba sebelum hari gelap untuk mendapatkan pemandangan jembatan yang sekilas mirip dengan Golden Bridge di San Fransisco. Ketika hari sudah gelap lampu jembatan akan dinyalakan dan memberikan nuansa pelangi pada jembatan sepanjang 798 meter ini. Di lokasi ini pula dibangun miniatur patung Liberty yang tersohor dari Amerika. Kedua, adalah figur Gundam 1:1 yang terletak di depan Divericity Tokyo Plaza. Dinamakan Gundam 1:1 karena memang robot ini tingginya sama persis dengan Gundam yang asli (actual size). Pada pukul lima sore, Gundam akan menyala dan menggerakkan kepala serta tangannya sambil diiringi soundtrack serial Gundam yang populer hingga sekarang.

Rute: Ada beberapa pilihan transportasi menuju Odaiba; Yurikamone line, Rinkai Line, dan kapal. Saya sendiri memilih naik Yurikamone Line sebab hanya kereta ini yang melintas di atas Rainbow Bridge. Kereta Yurikamone dapat diakses melalui stasiun Shiodome (terkoneksi dengan Toei-Oedo Line) dengan tiket seharga ¥320 sekali jalan.

Pemandangan dari balik jendela kereta Yurikamone melintasi gedung pencakar langit dalam perjalanan menuju Odaiba

Pemandangan dari balik jendela kereta Yurikamone melintasi gedung pencakar langit dalam perjalanan menuju Odaiba

Tips: Naik Yurikamone line dari Shiodome paling seru jika mengambil posisi duduk paling depan. Kereta ini sepertinya sudah terkomputerisasi sehingga tidak perlu ada masinis. Pemandangan yang dapat dilihat sangat menakjubkan karena sepanjang perjalanan saya bisa melihat kereta membelah gedung pencakar langit dari balik jendela kereta yang lebar. Pemandangan akan semakin menarik ketika kereta melintasi jembatan di atas sungai dan memperlihatkan Odaiba yang modern dari kejauhan. Stasiun Daiba, stasiun terdekat dengan Aqua City, bukanlah tujuan akhir kereta. Yurikamone menlanjutkan perjalanan hingga ke Toyosu. Jadi pastikan tidak salah turun saat naik kereta karena terpukau dengan pemandangannya,

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Jalan-Jalan ke Tokyo yang tak Terduga saat Tahun Baru

Salah satu sudut iluminasi di daerah Shinjuku

Salah satu sudut iluminasi di daerah Shinjuku

Liburan tahun baru saat musim dingin pasti sangat menyenangkan ya? Di Jepang, libur tahun baru disebut “fuyu yasumi” (冬休み) atau libur musim dingin yang dimulai tanggal 28 Desember – 4 Januari. Hampir semua penduduk dari siswa sekolah hingga pekerja kantoran di silakan berlibur dan mudik ke kampung halaman masing-masing. Bagi kebanyakan mahasiswa asing yang sedang kuliah di Jepang, momen ini dimanfaatkan untuk jalan-jalan mengunjungi daerah lainnya. Liburan kala itu saya memilih jalan-jalan ke Tokyo mengisi winter break selama beberapa hari.

Rombongan Mahasiswa Indonesia dalam Satu Gerbong Kereta menuju Tokyo

Rombongan Mahasiswa Indonesia dalam Satu Gerbong Kereta menuju Tokyo

Dari Kyoto saya berangkat ke Tokyo bersama rombongan mahasiswa Indonesia yang akan mengikuti Daurah Di Masjid Asakusa. Seperti catatan saya di sini, perjalanan tersebut ditempuh menggunakan kereta lokal dengan “Juhachi Kippu”. Satu lembar kippu seharga ¥11.500 bisa digunakan hingga 5 orang dalam 1 hari perjalanan. Jadi, setiap orang cukup membayar ¥2.300 yen sekali jalan dari Kyoto ke Tokyo. Jangan berharap perjalanan akan cepat seperti naik Shinkansen sebab tiket ini mengharuskan saya untuk berpindah-pindah kereta hingga tujuan terakhir. Dari Stasiun Kyoto berangkat jam 7 pagi tiba di Stasiun Tokyo jam 7 malam. Waktu 12 jam tersebut termasuk estimasi pindah jalur kereta dan 1 jam untuk ishoma di tengah perjalanan.

 Baca juga: Pilihan Transportasi Antar Kota di Jepang (Tokyo-Kyoto)

Saya menghabiskan waktu lima malam di Tokyo; empat malam di Masjid Asakusa dan satu malam di Capsule Hostel daerah Asakusa. Masjid Asakusa atau Darul Arqam Mosque terletak tak jauh dari pusat Asakusa. Ada dua stasiun terdekat dari masjid ini yaitu stasiun Metro-Asakusa (Ginza Line) dan Metro-Minami Senju (Hibiya Line). Alih-alih bangunan masjid yang megah dan berkubah, masjid ini lebih mirip ruko setinggi empat lantai. Lantai 1 untuk kantor, lantai 2 tempat sholat wanita, lantai 3 tempat sholat pria, dan lantai 4 dapur serta gudang. Di rooftop terdapat kubah kecil sebagai penanda masjid. Kabarnya sih, dulu masjid ini sering dipakai untuk mengiap wisatawan muslim (mungkin kebanyakan wisatawan Indonesia) yang akan megejar penerbangan pagi dari Narita. Tetapi hal itu sudah tidak diperbolehkan lagi oleh pengurus masjid. Masjid dibuka seharian penuh untuk beribadah dan tutup malam harinya.

Dalam catatan jalan-jalan ke Tokyo ini akan saya tuliskan beberapa tempat yang pernah saya kunjungi selama fuyu yasumi. Saya ceritakan juga pengalaman seru dan pertama kalinya merasakan tahun baru Di Tokyo yang ternyata …… (nanti baca sendiri).

Sumida-gawa (隅田川)

Matahari terbit di tepi Sungai Sumida

Matahari terbit di tepi Sungai Sumida

Meskipun bukan tempat wisata, tidak ada salahnya menyusuri tepian Sungai Sumida yang merupakan salah satu sungai terbesar di Tokyo. Salah satu spot terbaik untuk menikmati sungai terletak tak jauh dari Asakusa Mise. Dari tepian Sumidawa-gawa saya bisa melihat Tokyo Skytree yang menjulang di seberang sungai. Pada saat musim dingin matahari terbit lebih lambat. Sekitar pukul 6 pagi saya berjalan-jalan sambil menikmati matahai terbit. Wah, pemadangannya benar-benar luar biasa cantik. Sumidagawa yang berkilauan, matahari yang sedikit menghangatkan, siluet Skytree yang mempesona, dan angin musim dingin yang bertiup kencang. Di sekitar sungai terdapat taman bermain yang dapat digunakan untuk duduk santai sambil menikmati secangkir minuman hangat dari konbini terdekat.

Shibuya Cross-section

Shibuya (sebelum dan sesudah

Shibuya (sebelum dan sesudah

Selesai agenda hari pertama, saya dan teman-teman pergi ke salah satu must-see object di Tokyo yaitu perempatan Shibuya. Namun, pilihan untuk datang ke Shibuya demi berfoto bersama Hachiko nampaknya sia-sia karena jelang tahun baru jalanan sangat ramai. Banyak sekali wisatawan dari Asia terutama Cina dan Taiwan yang memenuhi area tersebut. Antriannya sangat panjang untuk bisa berfoto bersama patung anjing setia tersebut. Tidak sukses di hari pertama, Saya mencoba foto dengan Hachiko tepat pada tanggal 1 Januari pagi. Diluar dugaan, Shibuya yang biasanya tidak pernah lengang menjadi begitu sepi dan hening. Di leher patung Hachiko pun dikalungkan jimat atau hiasan tahun baru khas masyarakat Jepang. Perut kami sudah mulai lapar ketika tiba di Shibuya, kami memutuskan untuk mencari makan malam. Pilihan kami jatuh pada Ramen halal di Narita-ya.

Baca juga: Halal Food In Tokyo, Kyoto, and Osaka Beberapa Alternatif Tempat Makan bagi Pelancong Muslim)

Ueno Park (上の公園)

uenoAgenda hari kedua berakhir lebih cepat daripada hari pertama. Hari itu saya berkunjung ke Ueno Park, sebuah taman kota dengan kebun binatang di dalamnya. Sepertinya lokasi ini selalu dibahas di setiap cerita jalan-jalan ke Jepang. Memang santai sekali lho menghabiskan sore hari di taman ini. Tamannya luas dan aksesnya mudah dicapai dengan moda transpotasi apapun. Sedikit cerita menarik saat mengunjungi Ueno Park. Salah satu teman saya hampir lupa kalau dia belum sholat ashar. Kemudian dia menggelar jaket sebagai alas sholat di tepian taman. Orang-orang sekitar yang melihat hal ini nampaknya tidak keberatan ya ada seorang muslim yang melaksanakan ibadah di tempat umum? Keberadaan Jepang sebagai negara yang moslem-friendly memang terbukti dan semoga terus berkembang menjadi lebih baik. Perjalanan kami lanjutkan kembai, dari Ueno kami pergi ke salah satu masjid terbesar yang ada di Jepang, Tokyo Camii Mosque.

Baca juga: Panduan Transportasi Keliling Tokyo

Tokyo Cami Mosque

Tokyo Camii Mosque

Tokyo Camii Mosque

Sebenarnya ini bukan tujuan wisata sih tapi begitu mendengar bahwa di Tokyo ada masjid yang bernuansa Turki saya jadi ingin menyaksikan secara langsung. Tokyo Camii Mosque masih terletak di kawasan Shibuya tepatnya di distrik Choyama. Saya tiba di sana saat masuk waktu Maghrib dan menunggu di sana hingga waktu sholat Isya selesai. Arsitekturnya mirip dengan bangunan dari Turki (walaupun saya belum ke Turki sih), kubah warna biru serta menara yang terlihat dari kejauhan. Sepintas memandangi masjid ini membuat saya lupa bahwa saya masih menginjakkan kaki di negeri matahri terbit. Selepas sholat isya’ kami menuju ke lantai bawah masjid. Di lantai ini terdapat berbagai macam pernak pernik khas Turki yang unik seperti gelang, piring-piring, sajadah, dan lain-lain. Selain itu, terdapat kedai kecil yang menjual makanan halal. Sayangnya, karena sedang tahun baru kedai tersebut tutup sehingga tidak bisa menyediakan makanan untuk mengisi perut kami yang kosong. Sebagai gantinya kami membeli mie gelas halal yang bisa langsung dimakan disana. Mengetahui bahwa penjaga kedai dan toko souvenir adalah orang Turki, saya sempat mengucapkan “Tesekkur ederim” atau terima kasih dalam Bahasa Turki. Kami pun berbincang sebentar dan merasa senang karena perkembangan muslim di Jepang sudah cukup bagus.

Rute: Dari Shibuya naik Ginza line turun di Omote-Sando, kemudian berpindah ke Chiyoda line dengan tujuan Yoyogi Uehara. Dari stasiun Yoyogi Uehara tinggal menyusuri jalan menanjak sampai ujung hingga belok ke kanan. Dari situ sudah bisa melihat kubah masjid dengan jelas.

lorong-shinjuku-stationShinjuku (新宿区)

Dari Camii Mosque kami menuju Shinjuku, salah satu distrik yang dipadati gedung-gedung pencakar langit. Daerah ini merupakan daerah perkantoran dan pusat bisnis Kota Tokyo. Bisa dikatakan wajib  mengunjungi Shinjuku pada saat musim dingin karena ada banyak titik “illumination” alias lampu warna-warni yang semakin menambah kemeriahan Tokyo di akhir tahun. Tetapi perkiraan keramaian itu sirna saat kami tiba di Stasiun Shinjuku. Stasiunnya sepi, semua toko sudah tutup, dan hanya sedikit orang Jepang yang berlalu-lalang. Ketika itu saya ingat sekali tanggal 31 Desember, semua aktivitas di luar rumah berakhir sekitar pukul lima sore. Rencana kami untuk naik ke Tokyo Government Building pupus sudah karena kantor ditutup selama fuyu yasumi.  Sepanjang lorong stasiun Metro, yang saya perkirakan sangat padat pada hari-hari biasa, nampak kosong. Jika dibayangkan, malam tahun baru bagi masyarakat Jepang itu mirip dengan tradisi malam takbiran di Indonesia dimana masyarakat berkumpul di rumah bersama keluarga masing-masing. Hanya bedanya, di Indonesia masih banyak pusat perbelanjaan dan toko yang buka hingga tengah malam dengan diskonbesar-besaran. Kalau di Jepang sendiri, diskon besar-besaran justru ada setelah pergantian tahun yang akan saya ceritakan di bagian berikutnya.

 

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , | 7 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: