Thailand

Transportasi di Bangkok: dari MRT hingga Ojek Motor

Peta Transportasi Bangkok (courtesy: Bangkok.com)

Berdasarkan data INRIX Inc, Bangkok merupakah salah satu negara yang memiliki tingkat kemacetan terparah dengan rerata 64.1 jam setahun. Itu artinya, pengguna jalan di Bangkok menghabiskan lebih dari 60 jam  secara sia-sia. Meski tingkat kemacetan sangat tinggi, Bangkok adalah salah satu negara yang banyak menawarkan alternatif transportasi seperti MRT, bus kota, hingga ojek motor. Setidaknya ada delapan moda transportasi yang pernah saya gunakan selama di Bangkok, berikut adalah ulasannya.

  1. Airport Rail Link (ARL)

Jalur SA City Line (source: http://suvarnabhumiairport.com/)

Airport Rail Link menghubungakan Bandar Udara Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok yang berjarak 30 km. Suvarnabhumi Airport (SA) City Line berhenti di enam stasiun antara lain; Lat Krabang,  Ban Thap Chang, Hua Mak, Ramkamhaeng, Makkasan, dan Ratchaprarop, sebelum tiba di pemberhentian terakhir yaitu Phayathai dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Tarif SA City Line bervariasi antara 25-45 baht sekali jalan bergantung jarak.

ARL beroperasi mulai pukul 6 pagi hingga tengah malam dengan frekuensi 10-15 menit sekali. Menggunakan ARL dari dan ke bandara terjangkau bagi pejalan yang bepergian berdua dan tidak membawa barang atau koper terlalu banyak. Jika bepergian dalam rombongan lebih dari tiga orang dan membawa banyak barang dapat mempertimbangakan untuk naik taksi dengan ongkos sekitar 300 baht hingga ke hotel tujuan di daerah kota. Stasiun SA City Line terletak di lantai paling bawah (1st level) Bandara Suvarnabhumi.

 

  1. Bangkok Train System (BTS)

Bangkok Sky Train (source: http://www.bangkok.com/)

BTS memiliki dua rute yaitu Sukhumvit Line dan Silom Line. Sukhumvit Line terbentang dari utara, Stasiun Mo Chit yang merupakan stasiun terdekat dengan Chatuchak, hingga ke timur tepatnya di Stasiun Bearing. Setiap stasiun diberi kode N untuk utara dan E untuk timur, dengan 1 kode angka yang meunjukkan urutan stasiun. Silom Line terbentang dari barat, Stasiun National Stadium yang dekat dengan MBK/Siam, hingga ke selatan berakhir di stasiun Bang Wa. Kode untuk setiap stasiun menggunakan huruf W untuk barat dan S untuk Selatan.

Tarif menggunakan BTS berkisar antara 20-55 baht sekali jalan. Beberapa stasiun populer selain Mochit dan National Stadium diantaranya adalah; Central (CEN) tepat di persimpangan Siam (Siam Center, MBK, Paragon), Saphan Thaksin (S6) dermaga perahu ke Grand Palace, Ratchadewi (N1) terdekat dengan KBRI di Bangkok, Phayathai (N2) terhubung dengan ARL, Victory Monument (N3), Asok (E4) tersambung dengan skywalk  Terminal 21 Mall, dan Ekkamai (E7) dekat dengan terminal bus ke Pattaya.

 

  1. Mass Rapid Transit (Metro)

    Stasiun bawah tanah Metro (source: http://www.bangkok.com/)

Berbeda dengan BTS yang jalurnya ada di atas tanah (atau lebih tepatnya melayang), MRT di Bangkok memiliki jalur bawah tanah seperti di Singapura.

Bangkok hanya memiliki satu jalur MRT yang menghubungkan Hua Lamphong dan Bang Sue. Meski berbeda jalur, penumpang masih bisa transit ke jalur BTS atau ARL. MRT terhubung dengan BTS Sukhumvit Line di Stasiun Asok dan BTS Silom di Stasiun Sala Daeng. Bagi penumpang yang menuju Bandara Suvarnabhumi dapat naik MRT tujuan Petchaburi kemudian disambung jalan kaki menuju Stasiun Makkasan naik ARL ke bandara.

 

 

  1. Bus kota

Bus di Bangkok

Bagi saya, bus kota di Bangkok adalah moda transportasi yang misterius. Ada bus kota yang penampilannya sangat “tua” seperti Metromini dan bus AC yang mirip seperti bus Patas Damri. Pengalaman pertama naik bus di Bangkok tahun 2013, saya akan menuju ke Golden Mountain. Karena tidak paham Bahasa Thai saya jadi susah mengutarakan tujuan kepada kondektur, pun sebaliknya dia juag kesusahan memahami kalimat yang saya ucapkan. Saya hanya melihat google map selama di bus berjaga-jaga kalau bus sudah dekat dengan lokasi. Begitu hampir tiba, kondektur tidak mau menerima uang yang saya berikan karena dia kira saya kesasar.

Bus tidak memiliki monitor untuk memberi tahu halte mana yang akan dilewati. Jadi, penumpang asing akan sangat kesusahan untuk menjajal bus ini. Tipsnya hanya satu, selalu perhatikan arah jalan bus lewat Google Maps. Ongkos naik bus kota biasa hanya 5-10 baht saja, sedangkan bus AC mulai 15 baht ke atas tergantung jarak yang ditempuh. Mungkin tidak terlalu direkomendasikan naik bus di Bangkok, tapi perlu sesekali “menyasarkan” dan bergabung dengan orang Bangkok.

 

  1. River boat

    Dermaga Maharaj Tha Chang di pinggir Chao Phraya

Ini dia transportasi yang paling unik di Bangkok! Saya salut dengan orang Bangkok yang setiap hari pergi bekerja harus pindah-pindah moda transportasi dari bus kota, BTS, MRT, hingga naik perahu yang melintasi Sungai Chao Praya. Setahu saya memang tidak ada tempat yang benar-benar dilewati oleh semua jenis transportasi atau bahkan hanya ada satu jenis transportasi di suatu daerah. Misalnya daerah Rattanakosin (Grand Palace dan Wat Pho) yang paling mudah dijangkau dengan boat. Ada bus yang lewat tapi ya itu tadi, tidak jelas arahnya (hanya supir, kenek, dan orang Bangkok yang tahu).

Terdapat lima jenis perahu yang melayani rute sepanjang Chao Phraya, dimana setiap perahu ditandai dengan warna bendera yaitu kuning, hijau, biru, oranye, dan tanpa bendera. Bendera biru adalah Tourist Express boat yang berhenti di spot wisata saja dengan tarif 40 baht sekali jalan. Bendera oranye dan perahu tanpa bendera berhenti di hampir semua dermaga dengan ongkos 15 baht sekali jalan. Bendera kuning juga disebut tourist boat tetapi hanya melayani pada saat jam sibuk (pagi dan sore) dengan tarif 20-29 baht. Terakhir adalah bendera hijau yang lebih banyak melayani penumpang pekerja dari bagian utara sungai.

Bagi wisatawan yang hendak menuju destinasi terkenal cukup perhatikan bendera biru dan oranye saja. Perahu tanpa bendera juga hampir sama dengan bendera oranye tetapi hanya beroperasi pada hari kerja. Beberapa dermaga penting tujuan wisata adalah; Central Pier terhubung dengan BTS Saphan Thaksin, Tha Tien (N8) untuk Wat Pho dan Wat Arun, Maharaj Tha Chang (N9) untuk Grand Palace, Phra Arthit (N13) untuk Khaosan dan Thammasat University, serta Wat Rajsingkorn (S3) untuk ke Asiatique.

 

  1. Taksi

Taksi Bangkok (source: http://www.bangkok.com/)

Bagi sebagian budget traveler, taksi mungkin bukan pilihan yang tepat ya? Tapi tidak perlu khawatir karena taksi di Bangkok argonya masih cukup terjangkau. Dengan desain warna taksi yang warna-warni, tidak ada salahnya mencoba naik taksi dan “uji nyali” dengan sopir yang kadang hanya bisa berbahasa Thai. Tarif buka pintu taksi di Bangkok mulai 35 baht atau sekitar Rp 16.000 saja. Argonya bertambah 2-3 baht perkilometer, sedangkan untuk waktu tunggu taksi sebesar 1,25-1,5 baht permenit.

Mengambil taksi bisa jadi pilihan tepat jika sudah terlalu malam dan kemacetan sudah terurai. Pada jam sibuk argo taksi bisa lebih mahal 1,5 kali lipat daripada jam biasa. Masalahnya adalah Bangkok yang tidak pernah tidak macet cukup menguras waktu dan energi. Sebagai contoh dari Platinum Fashion Mall ke Asiatique yang berjarak 11 km, saya merogoh kocek sebanyak 100 baht (Rp 80.000). Harga tersebut sudah termasuk waktu tempuh selama hampir 50 menit karena saya bepergian pada jam sibuk pukul 7 malam.

Mencoba memesan taksi melalui aplikasi, seperti Uber dan Grab,juga menyenangkan dan mudah. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh beda dengan taksi konvensional. Hanya saja, kadang aplikasi taksi memberikan banyak diskon kepada pengguna sehingga terlihat lebih murah. Tetapi pada dasarnya tarif taksi konvensional dan modern tidak jauh berbeda.

 

  1. Tuk-tuk

Moda transportasi yang satu ini tidak ada di tempat lain kecuali di Bangkok. Hampir mirip seperti bajaj, tuk-tuk mampu menampung penumpang lebih banyak. Beberapa pengemudi tuktuk yang nekad, bisa membawa hingga 6 penumpang sekali jalan padahal normalnya Cuma 3-4 saja termasuk barang bawaan.

Percaya tidak percaya, ongkos naik tuk-tuk ini lebih mahal daripada naik taksi lho. Misalnya saja saya naik tuk-tuk dari MBK menuju Phaythai. Jika naik taksi saya hanya membayar 50 baht saja, tetapi dengan tuk-tuk malah harus membayar 100 baht. Karena tidak ada tarif resmi, satu-satunya cara adalah menawar ongkosnya kepada pengemudi. Tentu ini adalah hal yang melelahkan ya karena kendala bahasa inggris yang pas-pasan. Tapi tak apa lah, kapan lagi bisa naik tuk-tuk sambil merasakan terpaan angin kencang karena pengemudi yang ngebut?

 

  1. Ojek

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang pengalaman saya naik ojek di Bangkok. Tapi yang jelas, naik ojek sangat efisien waktu dan biaya. Para tukang ojek yang mangkal di daerah-daerah keramaian biasanya sudah punya tarif sendiri. Di beberapa tempat mereka malah sudah menuliskan tarif pasti ke tujuan tertentu. Dari MBK ke Platinum naik ojek saya dikenakan ongkos ojek sebesar 40 baht saja dengan waktu tempuh 3 kali lebih cepat daripada naik taksi. Tidak perlu tawar menawar, langsung saja sebut tujuan maka wuuzzzzz…tukang ojek akan megantarkan kita.

Itu tadi delapan moda transportasi di Bangkok yang pernah saya coba. Semuanya menyenangkan dan membuat saya seolah-olah jadi warga Bangkok. Kendala bahasa mungkin memang masalah tapi justru di situlah seni menikmati negeri yang kita kunjungi.

Advertisements
Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Makanan Halal di Bangkok, Tidak Banyak tetapi Cukup Mudah Ditemukan

Bangkok is about shopping and dinning!

Siapapun yang pernah ke sini pasti setuju bahwa Bangkok menawarkan sejuta pilihan untuk berbelanja dan makan. Meski tidak mudah bagi wisatawan Muslim menemukan tempat makan yang halal, di beberapa lokasi masih dapat dijumpai makanan yang tidak hanya halal tetapi juga cocok di lidah orang Indonesia.

Berikut ini adalah rangkuman beberapa tempat makan halal di Bangkok yang pernah saya coba.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , | 2 Comments

Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-4 : Madame Tussaud, Pratunam, Siam Area

Melanjutkan catatan perjalan Saya ke Bangkok di hari keempat saatnya mengunjungi komersial area alias tempat perbelanjaan. Berbicara mengenai komersial area di Bangkok, tentu yang paling terkenal adalah area Siam yang banyak diisi oleh mall-mall besar.

Tujuan pertama hari ini adalah Madame Tussaud Museum yang berada di lantai 6 Siam Discovery Mall. Dari depan hotel Saya mengambil bus AC yang langsung menuju Siam. Saya harus berangkat pagi-pagi ke Tussaud karena tiket yang Saya beli adalah tiket “Early Bird”. Pengunjung yang membeli tiket ini mendapat diskon 40% hanya saja pengunjung harus datang sebelum jam 12 siang. Pembelian tiket Early Bird dilakukan dengan menggunakan kartu kredit dan tiket yang kita beli akan berlaku selama satu bulan setelah tanggal pembayaran. Pengalaman Saya ketika kesana, di loket masuk petugas meminta kartu kredit untuk dikonfirmasi ulang. Jika ingin menggunakan kartu kredit orang lain untuk membeli tiket, usahakan untuk memberikan catatan di email agar petugas tidak perlu menanyakan kartu kredit  lagi.(foto Siam area)

Siam Area (source: Google Maps)

Siam Area (source: Google Maps)

Sedikit cerita menarik saat mengunjungi Bangkok hari itu. Karena memiliki wajah yang hampir mirip dengan orang Thailand, selama 3 hari sebelumnya Saya selalu diajak berkomunikasi dengan bahasa Thai. Menyiasati kejadian serupa, hari itu Saya mengenakan batik pekalongan agar lebih dikenali sebagai orang Indonesia.  Buktinya, baru masuk ke lobi mal saja sudah ada turis Indonesia yang menyapa “Selamat Pagi!”. Dalam hati saya sempat berkata kemana saja turis-turis Indonesia ini baru menyapa saat berkunjung ke tempat belanja? Apakah orang Indonesia yang ke Bangkok memang tidak ada yang ke kuil-kuil alias hanya bepergian untuk berbelanja? Hehe.

Museum Madame Tussaud bisa menjadi alternatif bagi siapa saja yang ingin bertemu dengan patung lilin figur terkenal tetapi dengan biaya yang lebih murah dibandingkan harus terbang ke Hongkong. Sebagai penduduk Asia Tenggara kita harus bersyukur di Bangkok sudah ada ‘cabang’ museum yang tidak kalah menarik tentunya dengan museum lainnya. Informasi lengkap tentang Madame Tussaud bisa diklik disini.

Madame Tussaud Bangkok

Madame Tussaud Bangkok

Madame Tussaud Bangkok terdiri dari beberapa sektor diantaranya figur tokoh sejarah, pemimpin dunia, artis, atlet, aktor-aktris, musisi, dan tokoh-tokoh TV. Yang paling berkesan untuk orang Indonesia tentunya adalah Bapak Proklamator Indonesia, Bung Karno. Patungnya yang gagah tidak kalah bersanding dengan puluhan patung lainnya. Patung Bung Karno pulalah yang membuat Saya mengenakan batik hari itu sebab Saya ingin sekali foto bersama beliau dengan baju batik. Yang menarik lainnya adalah patung Barrack dan Michele Obama yang settingnya dibikin persis ruang kerja White House. And the las but not the least is the figure of Doraemon whom I adore so much!

Membutuhkan waktu antara dua sampai tiga jam untuk mengunjungi tempat ini. tidak perlu terburu-buru untuk mengamati seluruh isi museum karena tidak ada batasan waktu berapa lama pengunjung boleh berada di dalam. Dan tidak perlu takut jika berpergian sendirian ke Madame Tussaud karena banyak petugas yang siap sedia untuk mengabadikan momen-momen seru kita di sana.

This slideshow requires JavaScript.

Keluar dari Madame Tussaud Saya menuju ke Mah Boon Krong atau lebih dikenal dengan MBK Mall. Letaknya persis diseberang perempatan di depan Siam Discovery. MBK ini adalah mall (atau lebih tepatnya plaza) berlantai delapan dengan lebih dari 2000 toko yang ada di dalamnya. Tujuan utama Saya kemari adalah untuk makan siang sebab perut telah lapar sejak ditengah-tengah perjalanan di dalam museum. Layaknya pusat perbelanjaan lainnya, MBK juga dilengkapi dengan pujasera yang menjual berbagai macam makan yang terletak di lantai 5.

Mall MBK

Mall MBK

Sepertinya pengelola mall sudah paham jika yang datang kesana tidak hanya warga lokal saja namun juga para turis. Oleh karena itu tidak perlu khawatir bagi muslim untuk makan di sini. Beberapa stand penjual makanan telah memasang gambar bulan-bintang di papan namanya untuk menunjukkan bahwa makanan di tempat tersebut halal. Seingat Saya ada tiga hingga empat stand penjual makanan halal di sana (mungkin juga sudah bertambah sekarang).

Saya memesan dua porsi makanan sekaligus. Yang pertama adalah nasi kari ayam dan sup ayam. Dua-duanya termasuk sepotong ayam besar setiap porsinya. Jadi, siang itu Saya menghabiskan dua potong ayam yang lezat. Sekalian saja makan banyak karena sudah sangat lapar merapel makan siang dan makan malam. Harga makanan yang dijual di pujasera masih cukup terjangkau dan porsi yang disajikan pun sesuai dengan gambar yang tertera di menu.

Makan siang di pujasera MBK

Makan siang di pujasera MBK

Sebelum Saya berangkat ke Bangkok, adik Saya sempat minta dibelikan oleh-oleh kaos Jersey yang banyak dijual dengan harga murah. Berbekal informasi dari para bloggers dan tanya-tanya petugas MBK, tempat penjual jersey-jersey itu tidak jauh dari MBK. Lokasinya terletak di daerah bernama Supachalasai.  Dari MBK kita cukup keluar dari pintu yang persis di depan perempatan Siam, kemudian berjalan ke kiri kearah National Stadium. Supachalasai terletak di jalan belakang National Stadium, tempatnya paling ujung. Kira-kira butuh waktu 10 menit untuk sampai ke sana dari MBK.

Wah, ternyata tempat ini memang pusat penjualan keperluan olahraga termasuk jersey tim bola di seluruh dunia. Harganya bervariasi mulai dari THB 100 – 400 tergantung kualitas dan modelnya. Saya membeli dua kaos yang masing-masing harganya THB  100 dan 200. Itu pun sudah cukup bagus sebagai oleh-oleh, kalau di Indonesia harganya bisa lebih dari Rp 100.000.

Salah satu kios di Supachalasai - Jersey THB 100

Salah satu kios di Supachalasai – Jersey THB 100

Hari ini benar-benar harinya berbelanja! Dari Supachalasai Saya menuju Pratunam Market. Pratunam market ini menjual oleh-oleh khas Bangkok dengan harga yang lebih murah dari MBK. Di Pratunam saya mendapatkan tas Bangkok yang harganya hanya THB 70 saja. Dari hasil keliling-keliling selama di Bangkok, tas di Pratunam ini yang paling murah harganya. Penjual memberikan bonus permen asam karena Saya berbelanja lebih dari THB 1000. Sebanyak itu? Iya, Saya lupa waktu itu beli apa saja. Hahaha.

Tepat diseberang Pratunam ada Platinum Mall yang isinya kurang lebih hampir sama dengan ITC. Lowest to highest, left to right, semuanya adalah produk garmen yang dijual. Semuanya pakaian wanita, untuk pria hanya ada satu sektor di lantai 4 itu pun hanya sayap kanan saja. Benar-benar kota ini tahu apa yang disukai oleh para turis (Indonesia) rupanya. Baju-baju yang dijual juga memiliki aneka bentuk, warna dan harga. Semuanya ada di sini.

Pratunam Market

Pratunam Market

Masih belum puas dengan mall-mall di Bangkok, sekitar jam 7 malam Saya kembali ke daerah Siam lagi tepatnya ke Siam Paragon yang merupakan mall termewah di kawasan ini.  Tujuan kami tentu saja (bukan) untuk berbelanja. Tujuan satu-satunya ke sini adalah menonton film Hunger Games : Catching Fire yang saat itu sedang tayang di bisokop.

Ada kejadian unik saat baru pertama kali menonton di Bioskop Bangkok. Saya sudah sangat capek ketika masuk ke studio dan duduk di kursi yang tertera di karcis. Ketika sudah siap menikmati kerennya Katniss Everdeen tiba-tiba seluruh penonton berdiri sebelum film dimainkan karena ada pemutaran lagu untuk raja.  Saya baru tahu kalau lagu untuk raja ini tidak hanya diputar jam 8 pagi saja tetapi juga sebelum film dimainkan di bioskop. Sekali lagi salut untuk orang Thailand yang begitu mencintai rajanya.

Film selesai hampir jam 12 malam, satu-satunya transportasi yang aman dan cepat adalah naik BTS dan ARL ke hotel. Saatnya beristirahat dan menyiapkan hari terakhir di Bangkok.

Pengeluaran hari 4

Pengeluaran hari 4

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , | 7 Comments

Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-3 Ayutthaya, Asiatique

Perjalanan di hari ketiga akan kami lanjutkan menuju sebuah kota yang berjarak sekitar 80 km dari Bangkok. Ayutthaya, demikian nama kota yang dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Siam. Perjalanan dari Bangkok menuju Ayuttahaya bisa ditempuh baik menggunakan bus antar kota dan kereta api. Dalam perjalanan Saya ke sana kali ini Saya memilih menggunakan kereta api. Selain harganya yang murah, naik kereta api juga salah satu kegemaran Saya sebab bisa melihat “sampel” dari negara Thailand.

Kereta menuju Ayuttahaya berangkat dari Stasiun Hua Lamphong yang merupakan stasiun utama di Bangkok. Saya naik bus nomor 113 persis dari depan hotel. Perjalanan dari hotel menuju stasiun kurang lebih satu jam karena berangkat ketika masih jam sibuk orang berangkat kerja. Satu tiket kereta Bangkok- Ayutthaya harganya THB 15 untuk kelas ekonomi dan THB  200 untuk kelas eksekutif. Sama dengan kereta di Indonesia, tiket seharga THB 15 ini tidak mendapatkan nomor tempat duduk. Setelah ada informasi bahwa kereta segera berangkat, Saya menuju jalur kereta yang dimaksud.

Hua Lamphong Station

Hua Lamphong Station

Suasana di dalam kereta menuju Ayutthaya bisa dikatakan sama persis dengan kereta Penataran Malang-Surabaya yang biasanya Saya tumpangi. Banyak pedagang asongan menjajakan jualannya di dalam kereta. Saya beli nasi dan telur kepada seorang ibu pedagang asongan yang kebetulan lewat, lumayan untuk mengganjal perut. Di jadwal seharusnya kereta berangkat jam 9.25 pagi tapi terlambat hingga pukul 10. Saat kereta sudah berangkat pun sempat berhenti lama di stasiun Bang Sue. Ada 16 stasiun yang akan dilewati dari Hua Lampong hingga Ayutthaya dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.

Sepanjang perjalanan Saya bisa menyaksikan bagaiamana kehidupan orang Thailand lebih dalam. Ada ibu-ibu yang sibuk menggendong bayi, kakek-kakek yang berpergian sendirian, anak-anak muda Thailand yang sepertinya akan berlibur di pinggir kota, dan tentunya turis-turis yang sedang menantikan eksotisnya Ayutthaya, termasuka Saya. Pedagang asongan juga masih sibuk berjalan dari ujung ke ujung sambil sesekali meneriakkan barang dagannya. Di luar kereta pemandangan gedung-gedung tinggi Bangkok perlahan digantikan pemandang sawah dan ladang yang masih luas.  Cuaca cerah cenderung panas bertahan selama saya di sana. Tak sabar rasanya menanti kota yang kabarnya hanya tinggal reruntuhan saja ini.

Jam 12 tepat kereta tiba di Stasiun Ayutthaya. Banyak sekali calo tuk tuk yang menawarkan paket tur keliling Ayutthaya. Harga sewa tuk-tuk sekaligus turnya mulai dari THB 150  perjam, ini bisa jadi alternatif untuk wisatawan yang malas membaca peta (karena peta Ayutthaya yang diberikan susah dipahami). Di depan  stasiun juga banyak tempat persewaan sepeda motor dan sepeda kayuh. Saya menyewa sepeda motor matic dengan biaya THB 200 selama satu hari (rata-rata di Ayutthaya menyewakan motor dari pagi hingga jam 6 sore). Apabila ingin menyewa sepeda kayuh biayanya hanya THB 40 satu hari penuh. Pemilik persewaan motor meminta fotokopi paspor ketika Saya akan memnyewa sepeda motornya tanpa uang deposit. Kunci motor dan peta sudah di tangan, saatnya mengelilingi Ayutthaya!

atas: Stasiunn Ayuthhaya bawah: Naik motor di Ayutthaya

atas: Stasiunn Ayuthhaya
bawah: Naik motor di Ayutthaya

Kota kecil ini memang luar biasa cantiknya. Hampir di setiap  sudut kota terlihat puing-puing kuil yang yang menjadi daya  tarik wisatawan. Perlu diketahui bahwa kota ini telah dinobatkan menjadi World Heritage oleh UNESCO sejak tahun 2000. Dulunya, Ayutthaya adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri dari abad 14-18. Meskipun reruntuhan kuil yang ada di sini bisa dikatakan lebih baru daripada candi-candi yang ada di Indonesia, kekayaan sejarahnya memang patut diapresiasi. Terutama bagaimana pemerintah Thailand memberikan perhatian lebih terhadap kota ini. Kotanya terbilang cukup sepi dan lengang serta  jauh dari keramaian kendaraan seperti di Bangkok.

Kuil pertama yang Saya kunjungi adalah Wat Mahathat terletak di sebelah timur Grand Palace dekat dengan Pha Tan Bridge. Setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar THB 50 sekali masuk. Wat Mahathat ini dibangun oleh King Borom Rachathirat I pada tahun 1384. Sesuai dengan namanya, kuil ini merupakan salah satu kuil yang besar dengan pilar-pilar yang masih menjulang. Salah satu peninggalan sejarah yang paling terkenal dari lokasi ini adalah patung kepala Budha yang terlilit akar pohon. Pengunjung tidak diperkenankan berdiri lebih tinggi dari patung tersebut jika akan berfoto. Selain kepala Budha tersebut juga ada patung-patung Budha tanpa kepala yang berjajar di salah satu bagian kuil. Petugas menyiakan audio guide untuk pengunjung yang ingin mengetahui sejarah lengkapnya. Biaya menyewa audio ini sebesar THB 50, pengunjung tinggal memilih nomor-nomor track audio disesuaikan dengan nomor yang telah dipasang di bagian kuil.

Wat Mahathat

Wat Mahathat

Diseberang Wah Mahathat terdapat Wat Ratchaburana yang dibangun oleh King Borom Rachathirat II yang memerintahkan membuat dua pagoda untuk mengenang dua pejuang kerajaan yaitu Chao Ai dan Chao Yi yang bertarung di atas gajah hingga keduanya terbunuh. Kemudian, raja mendirikan pagoda Wihan serta membangun sebuah biara di lokasi yang sama. Tiket masuk ke lokasi ini sebesar THB 50 dan dibuka dari jam 8 pagi hingga 6 sore.

DSC00439 copy

Dari Wat Ratchaburana Saya melanjutkan tujuan berikutnya yaitu Wat Lokayasutha. Tempat ini dulunya merupakan biara yang jaraknya 1 km lebih dibelakang Grand Palace. Wat Lokayasutha memiliki patung reclining Budha sepanjang kurang lebih 42 meter, terbuat dari bata yang diplester biasa. Di sekitar lokasi banyak ditemukan reruntuhkan pilar heksagonal yang dipercaya sebagai reruntuhan kuil Ubosot. Di depan patung juga terdapat semacam altar bagi pengunjung yang ingin meletakkan sesajen yang dijual oleh ibu-ibu di sana. Tidak ada biaya masuk untuk mengunjungi lokasi yang bisa diakses dari jalan belakang Ancient Palace, melewati Wat Worapho, dan Wat Worachetharam.

Wat Lokayasutha

Wat Lokayasutha

Sebenarnya masih banyak sekali tempat-tempat unik yang bisa dikunjungi di Ayutthaya namun karena uang yang terbatas Saya tidak dapat mengunjunginya. Yang Saya lakukan adalah berkeliling komplek Ayutthaya dengan  motor melihat dari kejauhan kuil-kuil yang eksotis seperti Grand Palace yang terletak disamping danau, Wat Phra Si Shanpet yang memiliki 3 chedi yang indah, dan masih banyak yang lainnya. Saat itu hari masih panas, Saya berhenti di sebuah bangunan modern di tengah-tengah megahnya sejarah Ayutthaya.

Ayutthata Tourism Centre, terletak di bekas balai kota provinsi yang didirikan oeh Departemen Seni Rupa (Fine Art Department) dan dikembangkan sebagai pusat informasi wisatawan oleh Tourism Authority of Thailand (TAT). Menariknya, tempat ini dibangun di depan enam figur Raja dan Ratu Ayuttahaya, yaitu King U-Thong, King Borommatrailokanat, Queen Suriyothai, King Naresuan the Great, King Narai the Great, dan King Taksin the Great. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, di lantai pertama adalah pusat informasi wisawatan yang buka setiap ahri dari jam 8.30 hingga 16.30, sedangkan di lantai kedua adalah galeri pameran yang sangat memukau.

Lantai 2 bangunan terdiri dari beberapa bagian yang membawa Saya kembali merekam jejak sejarah kota yang dikelilingi oleh sungai ini. Bagian pertama adalah ilustrasi sejarah dan letak geografis Ayutthaya serta rencana pengembangan kota di masa mendatang sehingga kota ini layak dijuluki warisan dunia oleh UNESCO. Bagian kedua dibuat untuk memberikan rekomendasi tempat-tempat yang wajib dikunjungi selama di Ayutthaya. Bagian ketiga menampilkan gambar kuil-kuil Ayuttahaya serta bagaimana penemuan emas saat melakuan ekskavasi Wat Mahathat dan Ratchaburana. Bagian keempat merupakan gambaran masyarakat Ayuttahaya dari jaman dulu hingga sekarang. Dan bagian terkahir menampilkan diorama pasar terapung yang sangat terkenal di Thailand. Dengan mengunjungi tempat ini rasanya Saya menikmati hampir seluruh hal yang ditawarkan Ayutthaya. Cukup mengobati kekecewaan Saya karena belum sempat mengunjungi seluruh situsnya.

This slideshow requires JavaScript.

Selain diorama sejarah Ayutthaya, di lantai yang sama juga terdapat National Art Galery yang menampilkan karya-karya besar pelukis dan perupa Thailand. Lukisan Raja Thailand, ukiran gajah yang terbuat dari logam, hingga miniatur perahu makanan menambah serunya perjalanan menikmati setiap jengkal Ayuttahya. Salut melihat usaha pemerintah Thailand untuk tidak hanya mempromosikan namun juga mengenalkan kekayaan seni yang mereka miliki. Terlebih lagi tempat ini tidak menarik biaya sama sekali untuk para pengunjung alias gratis.

Inside National Art Galery

Inside National Art Galery

Hari menjelang sore, kereta kembali ke Bangkok akan berangkat pukul 4 tepat. Sebelum menuju ke stasiun Saya menyempatkan diri mengunjungi Floating Market yang modern. Di pasar terapung ini dijual beragam kerajinan, cindermata, dan makanan-makanan khas Thailand.  Tidak banyak yang menarik dari tempat ini kecuali wisatawan yang suka berbelanja. Sebelum pukul 4 Saya sudah bersiap menunggu kedatangan kereta yang akan membawa Saya kembali ke Bangkok.

Floating Market di Ayutthaya

Floating Market di Ayutthaya

Di dalam kereta Saya bertemu dengan dua wisatawan asal Jerman, Anna dan Hans. Sepanjang permpir dua jalanan selama dua jam kami habiskan untuk bercerita tentang keunikan tinggal di negeri tropis. Salah satunya adalah kesegaran buah nanas yang sangat digemari oleh Anna. Dia becerita bahwa dia belum pernah merasakan buah nanas sesegar buah di Thailand karena di Jerman sana, buah harus diimpor dan melalui proses panjang untuk sampai di lidah. Intinya, buah di Thailand itu “fresh from the oven”. Inilah salah satu hal menyenangkan yang bisa diperoleh saat melakukan perjalanan. Bertemu dengan orang-orang baru di seluruh dunia dan menceritakan kisah-kisah uniknya.

Kereta berhenti tepat pukul 6 sore di stasiun Hua Lamphong. Dua bule tadi rupanya tertarik untuk bergabung ketika Saya bilang akan menuju Asiatique. Dari Hua Lamphong kami naik tuk-tuk dengan biaya THB 80 untuk 4 orang turun di dermaga Marina Dept (N4). Dari dermaga ini kami melanjutkan perjalanan naik kapal bendera oranye hingga sampai di dermaga Asiatique. Untuk mencapai Asiatique, wisatawan juga bisa naik kapal gratis (free shuttle boat) dari Saphan Thaksin (Central Pier). Jadi darimana pun Anda cara paling mudah untuk mencapainya adalah  dengan naik BTS turun di Saphan Thaksin terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan naik kapal.

Asiatique the Riverfront bisa dikatakan sebagai salah satu tempat ‘nongkrong’ baru di Bangkok. lokasinya persis di sisi sungai Chao Phraya. Tempat ini menawarkan beragam hiburan bagi wisatawan yang ingin melepas lelah setelah seharian berkliling. Asiatique merupakan penggabungan yang tepat antara tempat makan dan juga warehouse yang menjual beragam produk lokal Thailand. Makanan yang ditawarkan pun banyak sekali jenisnya mulai dari restoran makanan barat, asia, hingga fastfood tersedia di sini. Barang-barang yang dijual di sini pun hampir semuanya ada namun tentu saja dengan harga yang realtif lebih mahal daripada Pratunam dan Chatuchak. Selain itu, di lokasi ini juga terdapat bianglala superbesar dengan biaya sekitar THB 200-250 sekali naik. Seru pastinya bisa menikmati keindahan dan gemerlap Bangkok malam hari dari atas feriss wheel.

Gerbang Asiatique - Foto bersama bule - Suasana di area warehouse - Ferris Wheel Asiatique

Gerbang Asiatique – Foto bersama bule – Suasana di area warehouse – Ferris Wheel Asiatique

Kami  segera kembali ke  hotel karena sudah sengat lelah seharian keliling Ayutthaya. Esok hari Saya akan melanjutkan perjalanan ke kompleks perbelanjaan yang sangat terkenal di Thailand.

Pengeluaran Hari ke-3

Pengeluaran Hari ke-3

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-2 Wat Saket, Golden Mount, Grand Palace, Khaosan

Rencana perjalanan di hari kedua  masih Saya fokuskan untuk mengunjungi area Rattanakosin dan sekitarnya. Karena pada hari sebelumnya gagal mengunjungi Golden Mountain, hari ini Saya akan mengulangi kunjungan ke tempat tersebut. Ada cerita  lucu dibalik kunjungan Saya ke sana. Di awal tahun 2013 Saya pernah memasang foto Golden Mount dihalaman sosial media Saya. Saya berharap bisa mengunjungi tempat ini ketika Saya memajangnya sebagai foto. Kalau di The Secret ini yang disebut sebagai Law of Attraction, Alhamdulillah di tahun yang sama Saya bisa melihat secara langsung Golden Mount yang Saya impikan. Saya naik bus 47 lagi dari National Stadium untuk menuju Wat Saket dan lagi-lagi Saya tidak ditarik ongkos oleh kondektur bus.

Bus di Bangkok

Bus di Bangkok

Golden Mount ini memang identik dengan stupa emas yang berada di atap kuil. Untuk mencapai stupa tersebut Saya harus menaiki ratusan anak tangga. Di sepanjang perjalanan Saya menaiki tangga ini terdengar lantunan doa dari biksu yang dikeluarkan melalui pengeras suara. Walaupun memiliki ratusan anak tangga, berjalan di sini tidak membuat kita cepat lelah sebab tangga didesain landai. Di beberapa titik juga terdapat tempat untuk beristirahat dan lonceng-lonceng serta gong. Lonceng-lonceng ini dibunyikan oleh orang-orang sambil mengucapkan doa.

Golden Mountain - Tangga menuju Golden Mountain

Golden Mountain – Tangga menuju Golden Mountain

Sebelum mencapai atap puncak bangunan ini, Saya masuk dulu kesebuah ruangan yang berfungsi sebagai altar berdoa umat Budha. Saya sempat menyaksikan beberapa umat melakukan ibadah diruangan yang sangat sejuk ini. Selain tempat ibadah, tempat ini juga memiliki kedai kecil yang menjual pernak-pernik Budha serta makanan dan minuman ringnan. Tidak banyak turis yang datang kesini padahal lokasi ini  tak kalah cantiknya dengan kuil-kuil yang lebih terkenal. Stupa  emas di atas atap ini memang layak dinamakan Golden Mount. Dari atas Saya bisa melihat sekeliling Kota Bangkok termasuk King Rama Bridge yang melintas di atas Chao Praya.

Pemandangan dari atap Golden Mountain - Orang beribadah di dalam Golden Mountain - Altar - Sikap Budha

(clock wise) Pemandangan dari atap Golden Mountain – Orang beribadah di dalam Golden Mountain – Altar – Sikap Budha

Puas menikmati lokasi ini Saya segera turun dan keluar dari area Wat Saket. Saya kembali melewati rute jalan kaki hari sebelumnya untuk menuju Grand Palace. Banyak sekali keuntungan yang Saya dapat ketika berjalan kaki di sebuah tempat baru. Dengan berjalan kaki Saya bisa melihat lebih dekat dan merasakan lebih dalam suasana kota. Seperti sudah Saya ceritakan di bagian sebelumnya, hari ini Saya juga melihat wanita yang sempat bertanya-tanya pada Saya tetapi sepertinya wanita itu tidak berani lagi mendekati Saya.

Dibelakang Grand Palace ada bangunan megah yang tidak kalah cantik. Bangunan berkonsep Eropa kuno yang merupakan kantor Kemeneterian Pertahanan Thailand. Lebih seru lagi karena bangunan seperti ini tidak memiliki pagar malah dikelilingi oleh taman-taman bunga yang semakin menberikan kesan warna-warni dan tentunya sangat indah dipandang. Saya belok kanan dari ujung pertigaan Kalayana. Pintu Grand Palace ini memang sangat banyak, tidak heran jika banyak orang tertipu oleh supir tuk-tuk yang mengatakan bahwa tempat ini tutup karena ada acara kerajaan. Pintu masuk Grand Palace memang hanay satu dan terletak di bagian utara. Di pintu masuk pun sudah diberikan peringatan kepada wisatawan untuk tidak mempercayai orang-orang berpakain rapi yang menawarkan keliling kuil dengan tuk-tuk.

DSC00294 copy

Sebagai destinasi utama di Bangkok, Grand Palace tidak pernah sepi wisatawan. Grand Palace buka setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam setengah 5 sore. Setiap pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar THB 500 termasuk tiket untuk mengunjungi Vimanmek Mansion dan Abishek Dusit Throne Hall yang terletak di area Dusit. Pintu masuk Grand Palace dibedakan menjadi dua untuk wisatawan asing dan warga lokal Thailand. Saya pernah mendapat cerita ada kawan-kawan backpacker Indonesia yang pernah masuk ke sana melalui pintu khusus warga lokal sehingga tidak dikenakan biaya. Namun hal seperti ini kurang bagus tentunya, jadi jangan dicontoh ya.

Outer Area Grand Palace

Outer Area Grand Palace

Di dalam area seluas lebih dari 20 ha ini tidak hanya terdapat Grand Palace yang tersohor. Namun juga berapa lokasi yang tidak kalah menariknya. Secara umum Grand Palace dibagi menjadi empat bagian yaitu area terluar, area dalam, area tengah, dan The Emerald Budha. Setelah melewti pintu masuk,  pengunjung akan langsung diarahkan menuju Wat Phra Khrew. The Emeral Budha merupakan salah satu tujuan yang paling terkenal di sini. Sama halnya seperti di Wat Pho, pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki untuk masuk di dalam bangunan dimana terdapat patung Emeral Budha. Tempat ini merupakan tempat ibadah yang digunakan oleh keluarga kerajaaan. Pengunjung yang ingin mengenal tempat ini lebih detil bisa mendaftar untuk mengikuti tur secara gratis yang disediakan setiap pukul 10.30 dan 13.30.

Disepanjang dinding yang mengelilingi area ini terdapat lukisan yang menggambrarkan sejarah Thailand. Selain itu juga ada tempat orang meletakkan sesajen dan sembahyang. Keluar dari area ini, Saya langsung bisa melihat area tengah Grand Palace yang megah. Area tengah (middle court) ini adalah wilayah yang paling luas dan bisa diakses oleh pengunjung. Selain dapat menikmati arsitektur megah Phra Thinang Chakri Maha Prasat, di bagian bawah gedung ini juga ditampilkan senjata-senjata khas Thailand yang digunakan dalam pertempuran. Sayangnya, museum senjata ini dilarang diabadikan oleh pengunjung. Di depan lokasi ini ada taman luas yang banyak digunakan untuk beristirahat oleh wisatawan. Ada beberapa penjaga yang bertugas ditempat ini. Mereka melakukan pergantian penjaga setiap beberapa jam sekali. Saya sempat menyaksikan bagaimana proses pergantian penjaga ini.

Wat Phra Khew

Wat Phra Khew

Area terakhir yang bisa dikunjungi adalah area terluar tempat Saya baru saja masuk. Lapangan hijau yang luas dengan latar belakang stupa Wat Phra Khrew dan atap-atap Grand Palace yang mengintip dari balik tembok, tidak salah jika tempat ini merupakan atraksi utama para turis. Area dalam (inner) merupakan area terlarang untuk dikunjungi. Area ini hanya dikhususkan untuk keluarga kerajaan dan hanya digunakan jika ada acara-acara kerajaan.

Butuh waktu hampir 4 jam untuk mengunjungi tempat ini. Jadi sediakan waktu yang panjang untuk mengunjungi bekas tempat tinggal raja yang satu ini. Usahakan untuk datang pagi hari sehingga setelah mengunjungi tempat ini bisa dilanjutkan mengunjungi kuil lainnya seperti Wat Pho, Wat Mahathat, dan Wat Arun. Pastikan juga untuk mengenakan pakaian yang sopan ketika berkunjung ke Grand Palace sebab banyak sekali turis (terutama turis Barat) yang harus mengantri menyewa kain untuk menutupi baju mereka yang kurang sopan. Paling tidak kenakan baju berkerah dan tidak berlengan pendek, celana panjang, dan alas kaki yang sopan agar tidak dihadang petugas pintu masuk.

Grand Palace

Grand Palace

Saya segera melanjutkan perjalanan menuju Khaosan Road melewati Sanam Luang, sebuah taman yang berlokasi di sebelah barat daya Grand Palace. Waktu itu sekitar pukul 3 sore tetapi matahari masih sangat terik. Sebenarnya jarak antara kedua tempat ini tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit berjalan kaki. Saya sempat menanyakan ongkos naik tuk-tuk tetapi penawaran mereka masih terlalu mahal (THB 200). Rupanya masih terlalu siang ke Khaosan jam 3 sore. Walaupun sudah ramai, suasana jalanan disini tidak berbeda dengan kawasan berbelanja pecinan. Saya berhenti sebentar disebuah  kedai yang menjual padthai,  makanan khas Thailand yang banyak dijumpai di Khaosan. Padthai adalah perpaduan kwetiau, bakmi, dan bihun yang dimasak dengan sayuran segar, serta dibumbui gula pasir. Biarpun hanya sesederhana itu, padthai memiliki rasa yang sangat enak (atau mungkin perut Saya yang sangat lapar). Satu porsi padthai dihargai antara THB 35-60 tergantung isian yang diinginkan seperti daging ayam, telur, udang, atau campuran ketiganya.

Atas : Patthai Bawah : Khaosan Road siang dan malam hari

Atas : Patthai
Bawah : Khaosan Road siang dan malam hari

Saya menyusuri kawasan Khaosan ini hingga ujung. Ketika hampir sampai diujung jalan, Saya seperti mendegar suara orang-orang berkumpul meneriaki seseorang yang sedang berpidato (berorasi lebih tepatnya). Saat mendekati, Saya melihat ada keramaian yang berasal dari Democracy Monument. Nampak banyak sekali orang yang berdiri di sana. Saya baru tahu setelah pulang ke hotel bahwa apa yang Saya lihat adalah salah satu bentuk “Revolusi Bangkok” yang saat itu sudah mulai memanas. Saya melihat dari dekat bagaimana orang-orang meneriakkan semangat perubahan. Walaupun tidak tahu artinya, Saya bisa merasakan tekad orang-orang Thailand menuntut PM Thailand untuk mundur dari jabatannya.

Uniknya, di sepanjang jalan Democracy Monument ini disediakan makanan gratis bagi para pendemo. Saya ikut mengantri bersama warga lokal lainnya untuk mendapatkan makanan tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Saya merasa dijamu langsung oleh Kota Bangkok karena  bisa menikmati makanan khas secara gratis. Keramahan orang Thailand adalah salah satu hal yang membuat turis betah berwisata kesini. Mereka punya cara yang tertib untuk berdemo, membantu mereka yang berdemo dengan menyediakan makanan, serta mengadakan eksibisi lukisan yang dipajang disepanjang jalan.

Makanan gratis di area Bangkok Revolution

Makanan gratis di area Bangkok Revolution

Dari Democracy Monument Saya kembali ke Khaosan yang sudah mulai ramai. Dentuman musik dimana-mana,teriakan pelayan bar dan kafe-kafe juga mulai terdengar disepanjang jalan. Jalanan pun sudah ditutup dari mobil yang melintas. Saya tidak mendapatkan makanan yang Saya cari disini, kabarnya Khaosan terkenal dengan makanan ekstrim seperti gorengan serangga. Mungkin belum beruntung ya, suatu saat Saya akan kembali ke Khaosan lagi. Khaosan area bisa jadi merupakan tempat favorit para backpacker karena banyak penginapan rumah, all night entertainment, makanan murah, dan dekat dengan lokasi wisata. Tetapi, Khaosan juga bisa jadi tempat yang kurang nyaman bagi turis yang tidak terlalu suka keramaian. Oleh karena itu, ada baiknya menentukan lokasi menginap sebelum berkunjung.

Atas: Suasana demo di di Democarcy Monument siang dan malam hari Bawah: Pameran lukisan ekspresi demonstran

Atas: Suasana demo di di Democarcy Monument siang dan malam hari
Bawah: Pameran lukisan ekspresi demonstran

Dari Khaosan ada bus langsung menuju hotel bernomor 60. Membutuhkan waktu hampir satu jam dari Khaosan sampai ke hotel dengan ongkos sebesar THB 17 saja. Bus AC warna kuning yang membawa Saya kembali ke hotel menutup perjalanan hari kedua di Bangkok dengan penuh perasaan senang dan perut yang kenyang. Hari ketiga besok akan Saya manfaatkan untuk mengunjungi salah satu kota tertua di Thailand yang terkenal dengan reruntuhan kuil-kuilnya.

Pengeluaran hari ke-2

Pengeluaran hari ke-2

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , , | 9 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: