Nyastra

Ide sastra , ide gila, ide menulis tumpah di sini

Inside Out, Drama Korea, dan Pola Asuh Anak

Barangkali belum tentu setahun sekali Saya mau menulis topik parenting. Tapi, ide ini muncul setelah beberapa hari lalu Saya tergelitik dengan cerita dalam film Inside Out. Film yang rilis pada musim panas 2015 lalu ini adalah film Disney, yang menurut Saya sukses memberikan pesan moral yang sangat mengena bagi setiap penontonnya terutama bagi Saya dan istri yang baru berperan sebagai orang tua selama 7 bulan terakhir.

Semula Saya tak menyadari cerita yang diangkat dalam film karena Saya tidak membaca sinopsisnya terlebih dulu. Barulah setelah film berjalan sekitar 10 menit Saya mulai mengerti kemana alur akan dibawa oleh penulis ceritanya. Kemunculan tokoh Joy, Sadness, Disgust, Fear, dan Anger dalam tubuh (otak) Riley, gadis kecil asal Minnestoa,  bukan satu kebetulan tentunya. Nama tokoh-tokoh tersebut terinspirasi dari lima emosi dasar manusia yaitu gembira, sedih, jijik, takut, dan amarah. Ingatan akan emosi Riley menghasilkan bola berwarna sesuai dengan emosi masing-masing. Emas untuk Joy,biru untuk Sadness, hijau-abu-merah masing-masing untuk Disgust, Fear, dan Anger. Voila! Tiba-tiba seperti muncul bolam terang menyala di otak.

Masing-masing tokoh, sebagai analogi emosi dasar manusia, mempunyai perannya masing-masing. Joy yang berperan dalam ingatan-ingatan menyenangkan, Fear yang menjaga Riley selalu waspada, Anger yang menyerukan keadilan, Disgust yang memproteksi Riley dari bahaya keracunan (baik fisik dan sosial), dan Sadness yang menjadi sumber kesedihan. Setiap kejadian yang berkontribusi dalam ingatan Riley akan menjadi ingatan inti atau core memory yang membangun kepribadian Riley. Sayangnya, Sadness tak pernah mendapatkan porsi dalam ingatan Riley atau bahkan tidak mengetahui apa sebenarnya tujuan Sadness ada di sana.Hingga suatu hari, muncullah ingatan inti berwarna biru (kesedihan).

Lalu apa hubungannya dengan K-Drama? Karena Saya penggemar K-drama tidak ada salahnya kan menghubungan cerita Disney dengan cerita romantis dari negeri ginseng? Beberapa drama terakhir yang Saya tonton memiliki kemiripan ide dasar cerita, semuanya bercerita tentang kepribadian dan bagaimana masa lalu membentuk kepribadian tokoh utama. Sebut saja drama yang diperankan oleh Jo In Sung dalam It’s Okay That’s Love atau drama yang sempat trending Kill Me Heal Meyan dibintangi So Ji Sub. Satu lagi drama yang bercerita tentang kepribadian ganda yang dibintangi oleh Hallyu Star Korea, Hyun Bin. Tokoh-tokoh utama pria dalam drama tersebut memiliki kenangan masa lalu yang sangat pahit dan membekas di ingatannya. Walaupun secara fisik tidak terlihat ada luka di bagian mana, dalam drama diceritakan bagaimana kepribadian-kepribadian dan ingatan tersebut saling mempengaruhi hidup pemilik tubuh.

Saya setuju dan sepakat bahwa di usia putri Saya yang baru menginjak 7 bulan ini akan banyak sekali kejadian-kejadian yang nantinya akan berperan dalam membentuk kepribadiannya. Orang-orang menyebutkan bahwa 1000 hari pertama terhitung sejak janin dalam kandungan adalah masa emas (golden age) yang tidak boleh disia-siakan. Sejak anak Saya lahir, Saya dan istri terbiasa mengasuh bayi berdua saja karena kami tinggal jauh dari orang tua. Orang tua di Malang sedangkan kami berada di Yogya. Praktis, pola asuh yang kami terapkan pada bayi terbatas pada pengetahuan kami yang terbatas karena tidak bisa dengan leluasa tanya sana sini atau  jika “beruntung” mendapat petuah dari orang tua cara mengasuh anak.

Salah satu cara yang kami lakukan untuk menambah khasanah dalam bidang pengasuhan anak adalah dengan membeli buku-buku parenting, membaca sumber-sumber terpercaya dari internet, dan jika ada waktu mengikuti kegiatan-kegiatan kajian pengasuhan anak. Tentu itu saja tidak cukup jika hanya teori saja. Semuanya butuh kesabaran dan ketelatenan karena tidak semua anak bisa diperlakuan dengan cara yang sama. Misalnya sekarang ini, anak Saya sedang belajar makan sendiri. Iya, makan sendiri dengan tangannya. Ketika kebanyakan orang tua di luar sana menyuapi anak-anaknya dengan begitu lahapnya, Saya dan istri membiarkan anak bereksplorasi dengan panca inderanya sendiri mulai dari memegang makanan sampai memasukkannya ke mulut. Efeknya makanan jadi ceteh kemana-mana, tidak semua makanan masuk ke mulut, dan kotor di baju sana-sini. Tapi biarlah, itu pembelajaran.

Lain hal lagi dengan membiasakan anak berbahasa asing di lingkungan rumah. Saya seniri, terbiasa mengajak anak berbicara dalam tiga bahasa sekaligus, bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris. Setiap dia bangun pagi kami ucapkan “Selamat Pagi” dan  “Good Morning”. Kasus lain misalnya saat anak terserang penyakit batuk pilek untuk pertama kalinya. Sebagai orang tua rookie tentu kami panik harus diapakan bayi ini. Dan masih-masih banyak kasus lainnya yang menantang orang tua untuk selalu berpikir maju dan tidak ketinggalan jaman.

Kembali ke film Inside Out, di akhir cerita setelah Joy dan Sadness yang tersesat di otak Riley akhirnya berhasil kembali ke ruang kendali utama, keadaan mulai berubah. Sadness akhirnya memiliki peran penting dalam mengembangkan kepribadian Riley. Jika saja saat itu Sadness tidak ambil bagian dan membuat Riley menangis, mungkin perasaan mengganjal yang ada pada tubuh anak tersebut tidak akan diketahui oleh kedua orang tuanya. Artinya, emosi apapun itu penting bagi pertumbuhan anak. Kita tidak bisa mencegah anak dari rasa sedih karena rasa sedih itu yang mengimbangi kegembirannya agar ia tidak tumbuh sebagai anak yang terlalu sombong dan percaya diri. Tidak pula kita bisa mencegah amarah karena dari sanalah ia mampu mengeluarkan pendapatnya. Begitu juga halnya dengan emosi jijik dan takut. Mungkin benar adanya bahwa anak yang nakal adalah anak yang banyak akal. Emosi jiik dan takut (khawatir) akan menjadi perisai alami saat si anak mulai berskplorasi. Kami, masih menyiapkan mental untuk menyaksikan perkembangan anak jika nanti ia tumbuh sebagai anak yang banyak akal dan tinggi rasa ingin tahunya.

Tentu, tidak ada kesepakatan pola asuh mana yang paling benar dan paling baik. Itu semua kembali kepada orang tua masing-masing ingin jadi seperti apakah anak kita kelak. Maka, tak perlu juga menyindir mereka yang pola asuhnya tidak sama dengan kita. Yakin saja bahwa setiap yang dilakukan itu ada alasannya. Emosi-emosi dasar itu secara seimbang harus dikembangkan. Satu hal juga yang perlu digarisbawahi, orang tua tidak pernah tahu sekecil apa ingatan anak akan membekas di ingatan dan membentuk kepribadiannya seperti kisah-kisah K-drama yang saya ceritakan di atas. Kembali lagi, ini hanya pendapat dari mahasiswa akuntansi. Bukan mahasiswa psikologi yang belajar betul spesifik mengenai itu. Tapi satu hal, entah itu Disney, K-drama, atau dari mana pun sumbernya, semuanya selalu ada hikmah yang bisa diambil.

Categories: Nyastra | Tags: , , | 3 Comments

Skripsi Butuh Spasi

Ada spasi dalam skripsi, ada kisah kasih saat menulis skripsi. Hanya setahun yang lalu, kami hanya teman yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir demi gelar Sarjana Ekonomi. Bersama beberapa teman lainnya, perpustakaan menjadi “sarang” baru bagi kami. Mencari refereni, membaca, menelaah, kemudian menuliskan berbaris-baris teori bahan skripsi, dengan spasi.

Hanya hampir setahun yang lalu, aku berdiri di teras fakultas. Menemani seorang teman yang ujian skripsi. Menyemangatinya yang hampir lesu karena takut diberondong pertanyaan penguji. Karena skripsi butuh spasi, karena sebelum diuji kita butuh disemangati.

Hanya hampir setahun setelahnya, dia yang ku temani saat ujian skripsi sekarang tengah bersiap menjadi seorang ibu. Tidak hanya menemani mengerjakan skripsi, kami sekarang berumah tangga. Membangun istana dalam ruang tanpa batas, tanpa spasi, namun penuh dengan esensi.

Spasi, sebuah prosa karangan Dewi Lestari nampaknya menginspirasiku menulis catatan ini. Berawal dari hubungan pertemanan mengerjakan skripsi, kami menemukan kisah kasih yang layak untuk dibagi. Siapa yang sangka hanya dari berlembar-lembar kertas putih berisi teori, kini kami menjadi sepasang kekasih yang siap mendidik Si Buah Hati.

Spasi yang menginspirasi, spasi yang mengilhami, spasi yang membuat jarak tapi malah semakin mendekatkan dan memberi arti. Prosa yang apik dan menarik.

Di akhir prosa, Dewi Lestari menuliskan beberapa kalimat yang aku rasa sangat baik mendeskripsikan bagaimana spasi, jarak, menjadikan dua manusia menguasai kisah.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

Karena Skripsi Butuh Spasi, Spasi pun Menjadi Saksi

Karena Skripsi Butuh Spasi, Spasi pun Menjadi Saksi

Categories: Nyastra | 2 Comments

Menukar Rindu

Malam itu langit mendekap lekat dalam bayangan

Menyimpan erat cerita yang terlanjur rancu

Lelaki muda menengadah

Ditulisnya sajak cinta dalam balutan mesra

Rindunya tak terputus malam ini

Bintang paling terang lantas meredup

Merestas buih cinta dari yang kasat

Lelaki muda kembali menengadah

Ditemukannya sosok rindu yang didamba

Malam itu langit melepas tanya

Sudikah ia menukar rindu dengannku?

Untukmu aku tak kan menukar itu

Categories: Nyastra | Leave a comment

Meyakini Tuhan

Meyakini bahwa segala sesuatunya akan berjalan lancar seperti meyakini bahwa sebuah kekuatan besar menyertai setiap langkah kita. Tak peduli seberapa berat beban yang terangkat di pundak atau betapa kasar jalanan yang rusak diterjang hujan, berjlaanlah seperti tidak ada waktu untuk beristirahat.

Bila pagi datang maka segeralah mencari apa yang seharsunya menjadi milikmu seutuhnya. Menjelang siang jangan pernah berpikir sekalipun untuk berhenti ketika matahari sedang kuat-kuatnya menyinari. Saat sore, santailah sejenak, bukan untuk melupakan mimpi tapi untuk berancang-anacng untuk malam pkeat yang mengancam. Dan bila malam sudah pekat, yakinlah semakin dekat surya mengampiri kita.

Apa yang tidak disediakan Tuhan? Jika Dia menciptakan pedih, bahagia akan muncul sesudahnya. Tidak peduli seberapa lelah kau berusaha, manis yang kau terima juga tak kalah lekat dari apa yang kau perbuat. Melebihkan usaha dari orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih.

Kita tidak sendiri atau lebih tepatnya tidak benar-benar sendiri. Jika tak ada teman tentu Tuhan lebih dekat dari urat leher kita. Jika tak ada Tuhan, mampukah kau bernafas saat ini?

Categories: Nyastra | Leave a comment

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] [Rajah Ajaib dan Pasar Malam Rahasia]

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Rajah Ajaib dan Pasar Malam Rahasia

Keyword : Pasar malam, pohon pisang, cerpelai, rajah, palung, polkadot, gula-gula.

 Sore itu senja enggan datang, hujan yang sejak pagi mengguyur kota tak kunjung berhenti. Matahari dibuat malas menampakkan wajah walau sepintas. Jalanan basah, mobil menyipratkan semburat air ke samping jalan dan…

            “Ish, mobil sialan! Basah kan bajuku”, Evan.

           “Hahahaha….!”, empat anak lainnya tertawa melihat temannya terkena air cipratan mobil yang baru saja lewat.

            Mereka adalah Evan, Julia, Devina, Izar, dan Yudha. Lima orang anak SMP yang baru saja pulang dari bereksperimen di rumah kosong dekat gedung sekolah mereka. Layaknya anak usia 13 tahun yang penasaran isi rumah yang tak lagi berpenghuni tersebut, mereka meringsek masuk mencari entah apa berharap harta karun tersimpan di dalamnya.

            “Tuh kan, apa kubilang. Udah basah-basah gini ga dapet juga kan harta karunnya. Kamu sih sok tahu, Van”, Julia.

            Kelima anak tadi masih saja berseteru tentang rumah kosong yang tak ada isinya sama sekali.  Kali ini pihak laki-laki melawan pihak perempuan. Evan, Izar, dan Yudha yakin sekali bahwa ada sesuatu terdapat di rumah misteri itu. Sedangkan Julia dan Devina menolak mentah-mentah opini gila para lelaki.

            Adzan maghrib dan mereka telah sampai di rumah masing-masing. Evan masih termenung dan terlihat berpikir keras. Ia yakin bahwa di dalam rumah itu ada pasar malam rahasia. Pak Bondan, tetangga depan rumahnya, sempat memberikan kode tentang itu.

            Kriiiiiing…………

            Seketika ratusan siswa berseragam biru-putih keluar kelas dengan gembiranya. Ujian akhir semester telah selesai dan mereka bebas mengisi waktu liburnya. Nampaknya, lima jagoan sok tahu tadi juga telah siap dengan rencana-rencana gila.

            “Kamu yakin mau langsung tanya ke Pak Bondan?”, tanya Izar dengan nada tidak yakin.

            Tak banyak yang mengenal Pak Bondan. Terlebih sejak masuk rumah sakit Jiwa 10 tahun yang lalu. Dia kemudian pindah ke perumahan tempat Evan tinggal bersama orangtuanya. Orang-orang tak berani menyapa bapak tua yang selalu setia membawa seekor cerpelai dipundaknya itu.

            Evan bersikeras ingin agar idenya diterima oleh teman-temannya. Dia membujuk teman-temannya untuk ikut dengan proyek gilanya mencari tahu isi rumah misteri. Pak Bondan lah satu-satunya jalan keluar untuk misteri ini. Mau tak mau empat orang lainnya menurut kepada perintah ketua kelompok yang selalu memakai kacamata itu.

            Rumah Pak Bondan hanya rumah biasa. Tak banyak ornamen kecuali sebuah pohon pisang yang dibiarkannya tumbuh di muka rumah. Lampu dirumahnya hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 10 malam saja. Setelah itu, gelap sampai esok matahari datang lagi.

            Tok…Tok…Tok…

            “Permisi…..”, ucap mereka bersama-sama.

            Tak ada respon seperti yang diharapkan mereka.

            “Sepertinya Pak Bondan ga ada di rumah, teman-teman”, celetuk Yudha.

            Evan, Julia, Devina, Izar, dan Yudha kecewa sebab orang yang dipikirnya akan memecahkan misteri ternyata sedang tidak di rumah. Mereka memandangi pintu coklat yang nyaris mengelupas catnya. Hingga saat mereka berbalik hendak pulang,

            “Aaaaaaaaaa!!!”,

            Pak Bondan tiba-tiba muncul dari arah depan sambil mengelus-elus cerpelai yang menggelayut manja di pundak kanannya. Semuanya kaget melihat kedatangannya secara mendadak. Tercekat seketika membuat semua  lupa tentang hal yang ingin mereka sampaikan.

            Bapak tua yang umurnya sekitar 60 tahun tadi langsung menghampiri anak-anak yang terduduk dibawah jendela rumah. Mereka semakin gemetar karena takut akan diapa-apakan oleh Pak Bondan.

            “Apa yang kalian cari? Mencariku?”, ujarnya semabri melangkahkan kaki ke pintu dan membuka pintu rumahnya. “Masuklah ke dalam, aku buatkan teh untuk kalian semua”.

            Dengan langkah ragu mereka masuk ke rumah Pak Bondan. Mulut mereka kembali menganga ketika mereka melihat ornamen-ornamen antik berjejer rapi di dinding. Ada lukisan palung dengan hiasan batuan koral warna-warni, badut berbaju polkadot yang memainkan bola tenis, dan foto-foto pasar malam yang sarat akan lampu-lampu cantik nan gemerlap.

            Tidak lama kemudian terhidang enam cangkir berisi teh hangat dan sepiring biskuit kelapa di meja tamu. Anak-anak yang tadinya gemetar mulai seidkit lega karena Pak Bondan tidak semisterius yang mereka kira. “Ini pasar malam dimana ya, Pak? Saya belum pernah melihat pasar malam sebagus itu”, Izar memulai pembicaraan.

            Entah kenapa, sepertinya orang yang ditanyai tampak tidak antusias dengan pertanyaan Izar. Dia hanya melemas dan merunduk lesu di kursi goyang yang diletakkan di pojok ruangan. Dia kemudian mengambil cangkir teh nya dan mulai menceritakan sedikit kisah hidupnya. Anak-anak nampak menjadi serius menyimak cerita yang disampaikan.

            “Itu yang difoto memang bukan pasar malam sembarangan. Itu pasar malam rahasia.”, jawabnya pelan.

            “RAHASIA?!!”, anak-anak melongo mendengar jawaban tersebut.

            Mereka tidak percaya bahwa Pak Bondan jago mendongeng. Sampai-sampai dia menyebutkan sebuah pasar malam rahasia. Tidak ada yang percaya tapi juga tidak ada yang  berani menanyakan kebenaran cerita itu. Pak Bondan melanjutkan ceritanya.

            Dulunya, Pak Bondan tinggal disebuah rumah yang cukup megah bersama seorang istri dan kedua anaknya. Yang laki-laki namanya Reza dan yang perempuan namanya Lisa. Reza dan Lisa adalah anak yang cerdas dan selalu menjadi juara di kelasnya.

            Suatu hari ketika Pak Bondan sedang bekerja dia mendapat telepon dari istrinya bahwa anaknya hilang saat bermain-main. Segera dia pulang ke rumah karena panik anaknya hilang. Sesampainya di rumah dia mendapati istrinya menangis. Dia segera mendekati istrinya yang duduk di depan komputer Reza.

            “Mana anak-anak? Bagaimana mungkin mereka bisa hilang?”, Pak Bondan bertanya panik kepada istrinya.

            Istrinya menggeleng, dia hanya menunjuk-nunjuk layar komputer bergambar sebuah bianglala raksasa dengan hiasan lampu diseluruh tiangnya. Pak Bondan jelas tak paham maksud istrinya. Dia menenangkan istrinya dan memberikannya segelas air putih.

            “A…nak kita masuk ke dalam komputer itu. Mereka melihat ada pasar malam tiba-tiba Reza dan Lisa hilang, Pa”, jelas Ibu Tika dengan sedikit menangis.

            Sungguh tidak bisa dipercaya. Anaknya hilang ditelan oleh komputer. Tak ada petunjuk bagaimana mereka bisa hilang dan bagaimana menyelamatkan anaknya yang bisa saja terkurung di pasar malam rahasia itu selamanya.

            Yang jelas waktu kejadian, Ibu Tika sedang pergi berbelanja sedang Pak Bondan bekerja di kantornya. Pak Bondan adalah pemilik sebuah Kantor Akuntan Publik yang cukup terkenal di kota. Dia banyak sekali mendapat pekerjaan dari perusahaan besar untuk melakuka auditing. Tak heran, rumahnya besar dan kaya raya.

           Istrinya belum bisa menerima hilangnya buah hati mereka yang saat hilang sedang bersekolah di bangku SMP. Reza kelas 2 SMP dan Lisa kelas 1 SMP. Dia yang selalu murung akhirnya disarankan dokter untuk dirawat di rumah sakit khusus kejiwaan. Ini pukulan berat bagi Pak Bondan yang kehilangan anaknya dan kini harus merelakan istrinya menjadi gila.

            Dia ingat satu hal. Hari pada saat anaknya hilang, istrinya membawa sebuah kertas buram bertuliskan huruf dan angka-angka yang sama sekali tidak di pahami. Dia mengira itu adalah mantra untuk bisa menembus pasar malam rahasia. Satu lagi peninggalan anaknya adalah seekor cerpelai yang menjadi binatang kesayangan Reza dan Lisa.

            Sepuluh tahun berlalu, yang menjadi temannya hanya seekor cerpelai yang menggantung lucu dipundaknya. Kertas mantra tadi disimpannya di dalam dompet. Foto-foto pasar malam yang ada di dindingnya adalah foto dari komputer yang dicetaknya. Dia meninggalkan rumah megahnya begitu saja.

            “Rumah Pak Bondan yang ada di dekat sekolah kami kah?”, Tanya Julia ragu.

            Pak Bondan mengangguk. Benar saja, teka-teki rumah misteri itu kini terpecahkan. Itu adalah rumah Pak Bondan yang ditiggalkan sepuluh tahun yang lalu. Bukan harta karun yang tersimpan di dalamnya tetapi sebuah pasar malam rahasia.

            “Pak, boleh kami lihat kertas ajaibnya?”, ucap Evan yang sok tahu.

            Tidak lama kemudian selembar kertas berada di tangan Evan dan dengan hati-hati dibukanya selmbar kertas itu. Dia menggeleng, kemudian mengangguk, lalu mengangat sebelah alisnya. Entah apa yang dibaca, semua penasaran tak terkecuali Pak Bondan.

            “Saya tidak pernah mengerti apa maksud kertas itu, itu seperti sebuah mantra untuk mereka yang percaya dengan ke-mustahil-an”, Pak Bondan.

            Jika Pak Bondan tidak percaya, anak-anak tadi malah asyik menyelesaikan teka-teki yang tersembunyi di dalamnya. Dan secara ajaib huruf acak tadi berubah tulisannya menjadi berbunyi

            “BUMI 45, BULAN 50, MATAHARI?”

            “Hanya satu soal ini?”, ujar Yudha remeh.

            Semuanya kembali berpikir apa maksud mantra ini. Bumi, bulan, dan matahari seperti pejaran IPA saja. Tapi mereka belum paham maksud angka 45 dan 50. Sambil berpikir mereka menyeruput teh yang sudah muali dingin.

            “Pak, bagaimana kalau besok pagi kita pergi ke rumah itu saja? Kami juga sudah menyimpan penasaran sejak beberapa waktu lalu”, ajak Evan meyakinkan.

            Semuanya setuju. Tulisan di kertas tadi mereka salin dan mereka bawa pulang. Di rumah, mereka berpikir keras mengenai kode yang belum terpecahkan tersebut. Mungkin dengan kode tersebut mereka bisa masuk ke pasar malam dan menemuka Reza dan Lisa yang sudah hilang sepuluh tahun ini.

            Evan menelungkupkan badannya di atas kasur sambil memandang secarik kertas yang dianggapnya ajaib. Kertas itu mungkin jalan satu-satunya cara membuka portal menuju pasar malam rahasia. Tapi apa maksudnya? Dia tak kunjung mendapatkan ide dari tulisannnya.

            Evan kemudian menuliskan huruf A-Z secara vertikal dan menomori A sebagai angka 1, B angka 2, dan seterusnya. Hingga akhirnya dia menemukan formulanya.

            Keesokan paginya kelima anak pemberani ini sudah siap di depan rumah misteri ditemani Pak Bondan. Pak Bondan menbambil komputer yang disimpannya di dalam gudang. Komputer yang sudah sepuluh tahun menghentikan operasinya kini berjalan lagi di tangan anak-anak cerdas. Setelah komputer siap, Evan langsung memilih shotcut “pasar malam rahasia” dan ketika diminta kodenya, dengan percaya diri Evan mengetik angka 71.

            Tiba-tiba angin menderu masuk ke dalam rumah. Angin yang cukup kencang hingga mereka tidak sadar bahwa rumah telah berubah menjadi sebuah tempat yang berbeda. Pasar malam rahasia!

            Bianglala besar berputar dihiasi lampu kelap-kelipnya. Seorang badut berbaju polkadot menari-nari ditengah kehampaan, dan seorang penjual gula-gula wanita yang menunggu pengunjung semu. Pak Bondan langsung mengenali badut dan penjual gula-gula itu. Mereka adalah Reza dan Lisa yang sudah sepuluh tahun terpenjara di dalam pasar malam rahasia.

            Perasaan haru dan sedih kemudian menghampiri keluarga yang lama terpisah tadi. Mereka berpelukan sambil tak percaya akan apa yang mereka hadapi saat ini. Terpisah sepuluh tahun dan sekarang bertemu di dunia yang entah dimana letaknya.

            “Segera cari komputer tadi dan shutdown komputernya, itu jalan untuk keluar dari sini”, teriak Evan.

                                    ******

            Evan benar-benar anak yang cerdas. Dia menemukan bahwa jika huruf diibaratkan angka, maka BUMI berjumlah 45 dengan B (2) + U (21) + M (13) + I (9) = 45. Begitu juga untuk BULAN dan MATAHARI.

            Mereka semua selamat dan terpecahkan sudah misteri rajah ajaib dan pasar malam rahasia.

NB : Informasi lomba fiksi fantasi bisa dilihat di http://9lightsproduction.multiply.com/journal/item/12/Lomba_Fiksi_Fantasi_2012

Categories: Nyastra | 1 Comment

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: