Posts Tagged With: BTS

Transportasi di Bangkok: dari MRT hingga Ojek Motor

Peta Transportasi Bangkok (courtesy: Bangkok.com)

Berdasarkan data INRIX Inc, Bangkok merupakah salah satu negara yang memiliki tingkat kemacetan terparah dengan rerata 64.1 jam setahun. Itu artinya, pengguna jalan di Bangkok menghabiskan lebih dari 60 jam  secara sia-sia. Meski tingkat kemacetan sangat tinggi, Bangkok adalah salah satu negara yang banyak menawarkan alternatif transportasi seperti MRT, bus kota, hingga ojek motor. Setidaknya ada delapan moda transportasi yang pernah saya gunakan selama di Bangkok, berikut adalah ulasannya.

  1. Airport Rail Link (ARL)

Jalur SA City Line (source: http://suvarnabhumiairport.com/)

Airport Rail Link menghubungakan Bandar Udara Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok yang berjarak 30 km. Suvarnabhumi Airport (SA) City Line berhenti di enam stasiun antara lain; Lat Krabang,  Ban Thap Chang, Hua Mak, Ramkamhaeng, Makkasan, dan Ratchaprarop, sebelum tiba di pemberhentian terakhir yaitu Phayathai dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Tarif SA City Line bervariasi antara 25-45 baht sekali jalan bergantung jarak.

ARL beroperasi mulai pukul 6 pagi hingga tengah malam dengan frekuensi 10-15 menit sekali. Menggunakan ARL dari dan ke bandara terjangkau bagi pejalan yang bepergian berdua dan tidak membawa barang atau koper terlalu banyak. Jika bepergian dalam rombongan lebih dari tiga orang dan membawa banyak barang dapat mempertimbangakan untuk naik taksi dengan ongkos sekitar 300 baht hingga ke hotel tujuan di daerah kota. Stasiun SA City Line terletak di lantai paling bawah (1st level) Bandara Suvarnabhumi.

 

  1. Bangkok Train System (BTS)

Bangkok Sky Train (source: http://www.bangkok.com/)

BTS memiliki dua rute yaitu Sukhumvit Line dan Silom Line. Sukhumvit Line terbentang dari utara, Stasiun Mo Chit yang merupakan stasiun terdekat dengan Chatuchak, hingga ke timur tepatnya di Stasiun Bearing. Setiap stasiun diberi kode N untuk utara dan E untuk timur, dengan 1 kode angka yang meunjukkan urutan stasiun. Silom Line terbentang dari barat, Stasiun National Stadium yang dekat dengan MBK/Siam, hingga ke selatan berakhir di stasiun Bang Wa. Kode untuk setiap stasiun menggunakan huruf W untuk barat dan S untuk Selatan.

Tarif menggunakan BTS berkisar antara 20-55 baht sekali jalan. Beberapa stasiun populer selain Mochit dan National Stadium diantaranya adalah; Central (CEN) tepat di persimpangan Siam (Siam Center, MBK, Paragon), Saphan Thaksin (S6) dermaga perahu ke Grand Palace, Ratchadewi (N1) terdekat dengan KBRI di Bangkok, Phayathai (N2) terhubung dengan ARL, Victory Monument (N3), Asok (E4) tersambung dengan skywalk  Terminal 21 Mall, dan Ekkamai (E7) dekat dengan terminal bus ke Pattaya.

 

  1. Mass Rapid Transit (Metro)

    Stasiun bawah tanah Metro (source: http://www.bangkok.com/)

Berbeda dengan BTS yang jalurnya ada di atas tanah (atau lebih tepatnya melayang), MRT di Bangkok memiliki jalur bawah tanah seperti di Singapura.

Bangkok hanya memiliki satu jalur MRT yang menghubungkan Hua Lamphong dan Bang Sue. Meski berbeda jalur, penumpang masih bisa transit ke jalur BTS atau ARL. MRT terhubung dengan BTS Sukhumvit Line di Stasiun Asok dan BTS Silom di Stasiun Sala Daeng. Bagi penumpang yang menuju Bandara Suvarnabhumi dapat naik MRT tujuan Petchaburi kemudian disambung jalan kaki menuju Stasiun Makkasan naik ARL ke bandara.

 

 

  1. Bus kota

Bus di Bangkok

Bagi saya, bus kota di Bangkok adalah moda transportasi yang misterius. Ada bus kota yang penampilannya sangat “tua” seperti Metromini dan bus AC yang mirip seperti bus Patas Damri. Pengalaman pertama naik bus di Bangkok tahun 2013, saya akan menuju ke Golden Mountain. Karena tidak paham Bahasa Thai saya jadi susah mengutarakan tujuan kepada kondektur, pun sebaliknya dia juag kesusahan memahami kalimat yang saya ucapkan. Saya hanya melihat google map selama di bus berjaga-jaga kalau bus sudah dekat dengan lokasi. Begitu hampir tiba, kondektur tidak mau menerima uang yang saya berikan karena dia kira saya kesasar.

Bus tidak memiliki monitor untuk memberi tahu halte mana yang akan dilewati. Jadi, penumpang asing akan sangat kesusahan untuk menjajal bus ini. Tipsnya hanya satu, selalu perhatikan arah jalan bus lewat Google Maps. Ongkos naik bus kota biasa hanya 5-10 baht saja, sedangkan bus AC mulai 15 baht ke atas tergantung jarak yang ditempuh. Mungkin tidak terlalu direkomendasikan naik bus di Bangkok, tapi perlu sesekali “menyasarkan” dan bergabung dengan orang Bangkok.

 

  1. River boat

    Dermaga Maharaj Tha Chang di pinggir Chao Phraya

Ini dia transportasi yang paling unik di Bangkok! Saya salut dengan orang Bangkok yang setiap hari pergi bekerja harus pindah-pindah moda transportasi dari bus kota, BTS, MRT, hingga naik perahu yang melintasi Sungai Chao Praya. Setahu saya memang tidak ada tempat yang benar-benar dilewati oleh semua jenis transportasi atau bahkan hanya ada satu jenis transportasi di suatu daerah. Misalnya daerah Rattanakosin (Grand Palace dan Wat Pho) yang paling mudah dijangkau dengan boat. Ada bus yang lewat tapi ya itu tadi, tidak jelas arahnya (hanya supir, kenek, dan orang Bangkok yang tahu).

Terdapat lima jenis perahu yang melayani rute sepanjang Chao Phraya, dimana setiap perahu ditandai dengan warna bendera yaitu kuning, hijau, biru, oranye, dan tanpa bendera. Bendera biru adalah Tourist Express boat yang berhenti di spot wisata saja dengan tarif 40 baht sekali jalan. Bendera oranye dan perahu tanpa bendera berhenti di hampir semua dermaga dengan ongkos 15 baht sekali jalan. Bendera kuning juga disebut tourist boat tetapi hanya melayani pada saat jam sibuk (pagi dan sore) dengan tarif 20-29 baht. Terakhir adalah bendera hijau yang lebih banyak melayani penumpang pekerja dari bagian utara sungai.

Bagi wisatawan yang hendak menuju destinasi terkenal cukup perhatikan bendera biru dan oranye saja. Perahu tanpa bendera juga hampir sama dengan bendera oranye tetapi hanya beroperasi pada hari kerja. Beberapa dermaga penting tujuan wisata adalah; Central Pier terhubung dengan BTS Saphan Thaksin, Tha Tien (N8) untuk Wat Pho dan Wat Arun, Maharaj Tha Chang (N9) untuk Grand Palace, Phra Arthit (N13) untuk Khaosan dan Thammasat University, serta Wat Rajsingkorn (S3) untuk ke Asiatique.

 

  1. Taksi

Taksi Bangkok (source: http://www.bangkok.com/)

Bagi sebagian budget traveler, taksi mungkin bukan pilihan yang tepat ya? Tapi tidak perlu khawatir karena taksi di Bangkok argonya masih cukup terjangkau. Dengan desain warna taksi yang warna-warni, tidak ada salahnya mencoba naik taksi dan “uji nyali” dengan sopir yang kadang hanya bisa berbahasa Thai. Tarif buka pintu taksi di Bangkok mulai 35 baht atau sekitar Rp 16.000 saja. Argonya bertambah 2-3 baht perkilometer, sedangkan untuk waktu tunggu taksi sebesar 1,25-1,5 baht permenit.

Mengambil taksi bisa jadi pilihan tepat jika sudah terlalu malam dan kemacetan sudah terurai. Pada jam sibuk argo taksi bisa lebih mahal 1,5 kali lipat daripada jam biasa. Masalahnya adalah Bangkok yang tidak pernah tidak macet cukup menguras waktu dan energi. Sebagai contoh dari Platinum Fashion Mall ke Asiatique yang berjarak 11 km, saya merogoh kocek sebanyak 100 baht (Rp 80.000). Harga tersebut sudah termasuk waktu tempuh selama hampir 50 menit karena saya bepergian pada jam sibuk pukul 7 malam.

Mencoba memesan taksi melalui aplikasi, seperti Uber dan Grab,juga menyenangkan dan mudah. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh beda dengan taksi konvensional. Hanya saja, kadang aplikasi taksi memberikan banyak diskon kepada pengguna sehingga terlihat lebih murah. Tetapi pada dasarnya tarif taksi konvensional dan modern tidak jauh berbeda.

 

  1. Tuk-tuk

Moda transportasi yang satu ini tidak ada di tempat lain kecuali di Bangkok. Hampir mirip seperti bajaj, tuk-tuk mampu menampung penumpang lebih banyak. Beberapa pengemudi tuktuk yang nekad, bisa membawa hingga 6 penumpang sekali jalan padahal normalnya Cuma 3-4 saja termasuk barang bawaan.

Percaya tidak percaya, ongkos naik tuk-tuk ini lebih mahal daripada naik taksi lho. Misalnya saja saya naik tuk-tuk dari MBK menuju Phaythai. Jika naik taksi saya hanya membayar 50 baht saja, tetapi dengan tuk-tuk malah harus membayar 100 baht. Karena tidak ada tarif resmi, satu-satunya cara adalah menawar ongkosnya kepada pengemudi. Tentu ini adalah hal yang melelahkan ya karena kendala bahasa inggris yang pas-pasan. Tapi tak apa lah, kapan lagi bisa naik tuk-tuk sambil merasakan terpaan angin kencang karena pengemudi yang ngebut?

 

  1. Ojek

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang pengalaman saya naik ojek di Bangkok. Tapi yang jelas, naik ojek sangat efisien waktu dan biaya. Para tukang ojek yang mangkal di daerah-daerah keramaian biasanya sudah punya tarif sendiri. Di beberapa tempat mereka malah sudah menuliskan tarif pasti ke tujuan tertentu. Dari MBK ke Platinum naik ojek saya dikenakan ongkos ojek sebesar 40 baht saja dengan waktu tempuh 3 kali lebih cepat daripada naik taksi. Tidak perlu tawar menawar, langsung saja sebut tujuan maka wuuzzzzz…tukang ojek akan megantarkan kita.

Itu tadi delapan moda transportasi di Bangkok yang pernah saya coba. Semuanya menyenangkan dan membuat saya seolah-olah jadi warga Bangkok. Kendala bahasa mungkin memang masalah tapi justru di situlah seni menikmati negeri yang kita kunjungi.

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-3 Ayutthaya, Asiatique

Perjalanan di hari ketiga akan kami lanjutkan menuju sebuah kota yang berjarak sekitar 80 km dari Bangkok. Ayutthaya, demikian nama kota yang dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Siam. Perjalanan dari Bangkok menuju Ayuttahaya bisa ditempuh baik menggunakan bus antar kota dan kereta api. Dalam perjalanan Saya ke sana kali ini Saya memilih menggunakan kereta api. Selain harganya yang murah, naik kereta api juga salah satu kegemaran Saya sebab bisa melihat “sampel” dari negara Thailand.

Kereta menuju Ayuttahaya berangkat dari Stasiun Hua Lamphong yang merupakan stasiun utama di Bangkok. Saya naik bus nomor 113 persis dari depan hotel. Perjalanan dari hotel menuju stasiun kurang lebih satu jam karena berangkat ketika masih jam sibuk orang berangkat kerja. Satu tiket kereta Bangkok- Ayutthaya harganya THB 15 untuk kelas ekonomi dan THB  200 untuk kelas eksekutif. Sama dengan kereta di Indonesia, tiket seharga THB 15 ini tidak mendapatkan nomor tempat duduk. Setelah ada informasi bahwa kereta segera berangkat, Saya menuju jalur kereta yang dimaksud.

Hua Lamphong Station

Hua Lamphong Station

Suasana di dalam kereta menuju Ayutthaya bisa dikatakan sama persis dengan kereta Penataran Malang-Surabaya yang biasanya Saya tumpangi. Banyak pedagang asongan menjajakan jualannya di dalam kereta. Saya beli nasi dan telur kepada seorang ibu pedagang asongan yang kebetulan lewat, lumayan untuk mengganjal perut. Di jadwal seharusnya kereta berangkat jam 9.25 pagi tapi terlambat hingga pukul 10. Saat kereta sudah berangkat pun sempat berhenti lama di stasiun Bang Sue. Ada 16 stasiun yang akan dilewati dari Hua Lampong hingga Ayutthaya dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam.

Sepanjang perjalanan Saya bisa menyaksikan bagaiamana kehidupan orang Thailand lebih dalam. Ada ibu-ibu yang sibuk menggendong bayi, kakek-kakek yang berpergian sendirian, anak-anak muda Thailand yang sepertinya akan berlibur di pinggir kota, dan tentunya turis-turis yang sedang menantikan eksotisnya Ayutthaya, termasuka Saya. Pedagang asongan juga masih sibuk berjalan dari ujung ke ujung sambil sesekali meneriakkan barang dagannya. Di luar kereta pemandangan gedung-gedung tinggi Bangkok perlahan digantikan pemandang sawah dan ladang yang masih luas.  Cuaca cerah cenderung panas bertahan selama saya di sana. Tak sabar rasanya menanti kota yang kabarnya hanya tinggal reruntuhan saja ini.

Jam 12 tepat kereta tiba di Stasiun Ayutthaya. Banyak sekali calo tuk tuk yang menawarkan paket tur keliling Ayutthaya. Harga sewa tuk-tuk sekaligus turnya mulai dari THB 150  perjam, ini bisa jadi alternatif untuk wisatawan yang malas membaca peta (karena peta Ayutthaya yang diberikan susah dipahami). Di depan  stasiun juga banyak tempat persewaan sepeda motor dan sepeda kayuh. Saya menyewa sepeda motor matic dengan biaya THB 200 selama satu hari (rata-rata di Ayutthaya menyewakan motor dari pagi hingga jam 6 sore). Apabila ingin menyewa sepeda kayuh biayanya hanya THB 40 satu hari penuh. Pemilik persewaan motor meminta fotokopi paspor ketika Saya akan memnyewa sepeda motornya tanpa uang deposit. Kunci motor dan peta sudah di tangan, saatnya mengelilingi Ayutthaya!

atas: Stasiunn Ayuthhaya bawah: Naik motor di Ayutthaya

atas: Stasiunn Ayuthhaya
bawah: Naik motor di Ayutthaya

Kota kecil ini memang luar biasa cantiknya. Hampir di setiap  sudut kota terlihat puing-puing kuil yang yang menjadi daya  tarik wisatawan. Perlu diketahui bahwa kota ini telah dinobatkan menjadi World Heritage oleh UNESCO sejak tahun 2000. Dulunya, Ayutthaya adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri dari abad 14-18. Meskipun reruntuhan kuil yang ada di sini bisa dikatakan lebih baru daripada candi-candi yang ada di Indonesia, kekayaan sejarahnya memang patut diapresiasi. Terutama bagaimana pemerintah Thailand memberikan perhatian lebih terhadap kota ini. Kotanya terbilang cukup sepi dan lengang serta  jauh dari keramaian kendaraan seperti di Bangkok.

Kuil pertama yang Saya kunjungi adalah Wat Mahathat terletak di sebelah timur Grand Palace dekat dengan Pha Tan Bridge. Setiap pengunjung dikenakan biaya sebesar THB 50 sekali masuk. Wat Mahathat ini dibangun oleh King Borom Rachathirat I pada tahun 1384. Sesuai dengan namanya, kuil ini merupakan salah satu kuil yang besar dengan pilar-pilar yang masih menjulang. Salah satu peninggalan sejarah yang paling terkenal dari lokasi ini adalah patung kepala Budha yang terlilit akar pohon. Pengunjung tidak diperkenankan berdiri lebih tinggi dari patung tersebut jika akan berfoto. Selain kepala Budha tersebut juga ada patung-patung Budha tanpa kepala yang berjajar di salah satu bagian kuil. Petugas menyiakan audio guide untuk pengunjung yang ingin mengetahui sejarah lengkapnya. Biaya menyewa audio ini sebesar THB 50, pengunjung tinggal memilih nomor-nomor track audio disesuaikan dengan nomor yang telah dipasang di bagian kuil.

Wat Mahathat

Wat Mahathat

Diseberang Wah Mahathat terdapat Wat Ratchaburana yang dibangun oleh King Borom Rachathirat II yang memerintahkan membuat dua pagoda untuk mengenang dua pejuang kerajaan yaitu Chao Ai dan Chao Yi yang bertarung di atas gajah hingga keduanya terbunuh. Kemudian, raja mendirikan pagoda Wihan serta membangun sebuah biara di lokasi yang sama. Tiket masuk ke lokasi ini sebesar THB 50 dan dibuka dari jam 8 pagi hingga 6 sore.

DSC00439 copy

Dari Wat Ratchaburana Saya melanjutkan tujuan berikutnya yaitu Wat Lokayasutha. Tempat ini dulunya merupakan biara yang jaraknya 1 km lebih dibelakang Grand Palace. Wat Lokayasutha memiliki patung reclining Budha sepanjang kurang lebih 42 meter, terbuat dari bata yang diplester biasa. Di sekitar lokasi banyak ditemukan reruntuhkan pilar heksagonal yang dipercaya sebagai reruntuhan kuil Ubosot. Di depan patung juga terdapat semacam altar bagi pengunjung yang ingin meletakkan sesajen yang dijual oleh ibu-ibu di sana. Tidak ada biaya masuk untuk mengunjungi lokasi yang bisa diakses dari jalan belakang Ancient Palace, melewati Wat Worapho, dan Wat Worachetharam.

Wat Lokayasutha

Wat Lokayasutha

Sebenarnya masih banyak sekali tempat-tempat unik yang bisa dikunjungi di Ayutthaya namun karena uang yang terbatas Saya tidak dapat mengunjunginya. Yang Saya lakukan adalah berkeliling komplek Ayutthaya dengan  motor melihat dari kejauhan kuil-kuil yang eksotis seperti Grand Palace yang terletak disamping danau, Wat Phra Si Shanpet yang memiliki 3 chedi yang indah, dan masih banyak yang lainnya. Saat itu hari masih panas, Saya berhenti di sebuah bangunan modern di tengah-tengah megahnya sejarah Ayutthaya.

Ayutthata Tourism Centre, terletak di bekas balai kota provinsi yang didirikan oeh Departemen Seni Rupa (Fine Art Department) dan dikembangkan sebagai pusat informasi wisatawan oleh Tourism Authority of Thailand (TAT). Menariknya, tempat ini dibangun di depan enam figur Raja dan Ratu Ayuttahaya, yaitu King U-Thong, King Borommatrailokanat, Queen Suriyothai, King Naresuan the Great, King Narai the Great, dan King Taksin the Great. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, di lantai pertama adalah pusat informasi wisawatan yang buka setiap ahri dari jam 8.30 hingga 16.30, sedangkan di lantai kedua adalah galeri pameran yang sangat memukau.

Lantai 2 bangunan terdiri dari beberapa bagian yang membawa Saya kembali merekam jejak sejarah kota yang dikelilingi oleh sungai ini. Bagian pertama adalah ilustrasi sejarah dan letak geografis Ayutthaya serta rencana pengembangan kota di masa mendatang sehingga kota ini layak dijuluki warisan dunia oleh UNESCO. Bagian kedua dibuat untuk memberikan rekomendasi tempat-tempat yang wajib dikunjungi selama di Ayutthaya. Bagian ketiga menampilkan gambar kuil-kuil Ayuttahaya serta bagaimana penemuan emas saat melakuan ekskavasi Wat Mahathat dan Ratchaburana. Bagian keempat merupakan gambaran masyarakat Ayuttahaya dari jaman dulu hingga sekarang. Dan bagian terkahir menampilkan diorama pasar terapung yang sangat terkenal di Thailand. Dengan mengunjungi tempat ini rasanya Saya menikmati hampir seluruh hal yang ditawarkan Ayutthaya. Cukup mengobati kekecewaan Saya karena belum sempat mengunjungi seluruh situsnya.

This slideshow requires JavaScript.

Selain diorama sejarah Ayutthaya, di lantai yang sama juga terdapat National Art Galery yang menampilkan karya-karya besar pelukis dan perupa Thailand. Lukisan Raja Thailand, ukiran gajah yang terbuat dari logam, hingga miniatur perahu makanan menambah serunya perjalanan menikmati setiap jengkal Ayuttahya. Salut melihat usaha pemerintah Thailand untuk tidak hanya mempromosikan namun juga mengenalkan kekayaan seni yang mereka miliki. Terlebih lagi tempat ini tidak menarik biaya sama sekali untuk para pengunjung alias gratis.

Inside National Art Galery

Inside National Art Galery

Hari menjelang sore, kereta kembali ke Bangkok akan berangkat pukul 4 tepat. Sebelum menuju ke stasiun Saya menyempatkan diri mengunjungi Floating Market yang modern. Di pasar terapung ini dijual beragam kerajinan, cindermata, dan makanan-makanan khas Thailand.  Tidak banyak yang menarik dari tempat ini kecuali wisatawan yang suka berbelanja. Sebelum pukul 4 Saya sudah bersiap menunggu kedatangan kereta yang akan membawa Saya kembali ke Bangkok.

Floating Market di Ayutthaya

Floating Market di Ayutthaya

Di dalam kereta Saya bertemu dengan dua wisatawan asal Jerman, Anna dan Hans. Sepanjang permpir dua jalanan selama dua jam kami habiskan untuk bercerita tentang keunikan tinggal di negeri tropis. Salah satunya adalah kesegaran buah nanas yang sangat digemari oleh Anna. Dia becerita bahwa dia belum pernah merasakan buah nanas sesegar buah di Thailand karena di Jerman sana, buah harus diimpor dan melalui proses panjang untuk sampai di lidah. Intinya, buah di Thailand itu “fresh from the oven”. Inilah salah satu hal menyenangkan yang bisa diperoleh saat melakukan perjalanan. Bertemu dengan orang-orang baru di seluruh dunia dan menceritakan kisah-kisah uniknya.

Kereta berhenti tepat pukul 6 sore di stasiun Hua Lamphong. Dua bule tadi rupanya tertarik untuk bergabung ketika Saya bilang akan menuju Asiatique. Dari Hua Lamphong kami naik tuk-tuk dengan biaya THB 80 untuk 4 orang turun di dermaga Marina Dept (N4). Dari dermaga ini kami melanjutkan perjalanan naik kapal bendera oranye hingga sampai di dermaga Asiatique. Untuk mencapai Asiatique, wisatawan juga bisa naik kapal gratis (free shuttle boat) dari Saphan Thaksin (Central Pier). Jadi darimana pun Anda cara paling mudah untuk mencapainya adalah  dengan naik BTS turun di Saphan Thaksin terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan naik kapal.

Asiatique the Riverfront bisa dikatakan sebagai salah satu tempat ‘nongkrong’ baru di Bangkok. lokasinya persis di sisi sungai Chao Phraya. Tempat ini menawarkan beragam hiburan bagi wisatawan yang ingin melepas lelah setelah seharian berkliling. Asiatique merupakan penggabungan yang tepat antara tempat makan dan juga warehouse yang menjual beragam produk lokal Thailand. Makanan yang ditawarkan pun banyak sekali jenisnya mulai dari restoran makanan barat, asia, hingga fastfood tersedia di sini. Barang-barang yang dijual di sini pun hampir semuanya ada namun tentu saja dengan harga yang realtif lebih mahal daripada Pratunam dan Chatuchak. Selain itu, di lokasi ini juga terdapat bianglala superbesar dengan biaya sekitar THB 200-250 sekali naik. Seru pastinya bisa menikmati keindahan dan gemerlap Bangkok malam hari dari atas feriss wheel.

Gerbang Asiatique - Foto bersama bule - Suasana di area warehouse - Ferris Wheel Asiatique

Gerbang Asiatique – Foto bersama bule – Suasana di area warehouse – Ferris Wheel Asiatique

Kami  segera kembali ke  hotel karena sudah sengat lelah seharian keliling Ayutthaya. Esok hari Saya akan melanjutkan perjalanan ke kompleks perbelanjaan yang sangat terkenal di Thailand.

Pengeluaran Hari ke-3

Pengeluaran Hari ke-3

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: