Posts Tagged With: budget travel

Ke Singapura Lewat Senai Airport: Pengalaman Mendapatkan Tiket Murah hingga “Ditahan” Imigrasi Singapura

Tugu Pesawat di Senai Airport (dokumen pribadi)

Bulan Februari lalu saya mendapatkan tiket promo AirAsia Surabaya-Johor seharga Rp 650.000 pulang pergi. Meski sudah sering singgah di Johor Bahru, ini merupakan pengalaman pertama masuk Malaysia melalui Bandara Senai. Setelah mencari info yang cukup detail mengenai Bandara Senai dan cara menuju ke kota, Bulan April akhirnya saya berkesempatan mendarat di kota paling selatan di semenanjung Malaysia itu.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Malaysia | Tags: , , , , , , , | Leave a comment

Transportasi di Bangkok: dari MRT hingga Ojek Motor

Peta Transportasi Bangkok (courtesy: Bangkok.com)

Berdasarkan data INRIX Inc, Bangkok merupakah salah satu negara yang memiliki tingkat kemacetan terparah dengan rerata 64.1 jam setahun. Itu artinya, pengguna jalan di Bangkok menghabiskan lebih dari 60 jam  secara sia-sia. Meski tingkat kemacetan sangat tinggi, Bangkok adalah salah satu negara yang banyak menawarkan alternatif transportasi seperti MRT, bus kota, hingga ojek motor. Setidaknya ada delapan moda transportasi yang pernah saya gunakan selama di Bangkok, berikut adalah ulasannya.

  1. Airport Rail Link (ARL)

Jalur SA City Line (source: http://suvarnabhumiairport.com/)

Airport Rail Link menghubungakan Bandar Udara Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok yang berjarak 30 km. Suvarnabhumi Airport (SA) City Line berhenti di enam stasiun antara lain; Lat Krabang,  Ban Thap Chang, Hua Mak, Ramkamhaeng, Makkasan, dan Ratchaprarop, sebelum tiba di pemberhentian terakhir yaitu Phayathai dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Tarif SA City Line bervariasi antara 25-45 baht sekali jalan bergantung jarak.

ARL beroperasi mulai pukul 6 pagi hingga tengah malam dengan frekuensi 10-15 menit sekali. Menggunakan ARL dari dan ke bandara terjangkau bagi pejalan yang bepergian berdua dan tidak membawa barang atau koper terlalu banyak. Jika bepergian dalam rombongan lebih dari tiga orang dan membawa banyak barang dapat mempertimbangakan untuk naik taksi dengan ongkos sekitar 300 baht hingga ke hotel tujuan di daerah kota. Stasiun SA City Line terletak di lantai paling bawah (1st level) Bandara Suvarnabhumi.

 

  1. Bangkok Train System (BTS)

Bangkok Sky Train (source: http://www.bangkok.com/)

BTS memiliki dua rute yaitu Sukhumvit Line dan Silom Line. Sukhumvit Line terbentang dari utara, Stasiun Mo Chit yang merupakan stasiun terdekat dengan Chatuchak, hingga ke timur tepatnya di Stasiun Bearing. Setiap stasiun diberi kode N untuk utara dan E untuk timur, dengan 1 kode angka yang meunjukkan urutan stasiun. Silom Line terbentang dari barat, Stasiun National Stadium yang dekat dengan MBK/Siam, hingga ke selatan berakhir di stasiun Bang Wa. Kode untuk setiap stasiun menggunakan huruf W untuk barat dan S untuk Selatan.

Tarif menggunakan BTS berkisar antara 20-55 baht sekali jalan. Beberapa stasiun populer selain Mochit dan National Stadium diantaranya adalah; Central (CEN) tepat di persimpangan Siam (Siam Center, MBK, Paragon), Saphan Thaksin (S6) dermaga perahu ke Grand Palace, Ratchadewi (N1) terdekat dengan KBRI di Bangkok, Phayathai (N2) terhubung dengan ARL, Victory Monument (N3), Asok (E4) tersambung dengan skywalk  Terminal 21 Mall, dan Ekkamai (E7) dekat dengan terminal bus ke Pattaya.

 

  1. Mass Rapid Transit (Metro)

    Stasiun bawah tanah Metro (source: http://www.bangkok.com/)

Berbeda dengan BTS yang jalurnya ada di atas tanah (atau lebih tepatnya melayang), MRT di Bangkok memiliki jalur bawah tanah seperti di Singapura.

Bangkok hanya memiliki satu jalur MRT yang menghubungkan Hua Lamphong dan Bang Sue. Meski berbeda jalur, penumpang masih bisa transit ke jalur BTS atau ARL. MRT terhubung dengan BTS Sukhumvit Line di Stasiun Asok dan BTS Silom di Stasiun Sala Daeng. Bagi penumpang yang menuju Bandara Suvarnabhumi dapat naik MRT tujuan Petchaburi kemudian disambung jalan kaki menuju Stasiun Makkasan naik ARL ke bandara.

 

 

  1. Bus kota

Bus di Bangkok

Bagi saya, bus kota di Bangkok adalah moda transportasi yang misterius. Ada bus kota yang penampilannya sangat “tua” seperti Metromini dan bus AC yang mirip seperti bus Patas Damri. Pengalaman pertama naik bus di Bangkok tahun 2013, saya akan menuju ke Golden Mountain. Karena tidak paham Bahasa Thai saya jadi susah mengutarakan tujuan kepada kondektur, pun sebaliknya dia juag kesusahan memahami kalimat yang saya ucapkan. Saya hanya melihat google map selama di bus berjaga-jaga kalau bus sudah dekat dengan lokasi. Begitu hampir tiba, kondektur tidak mau menerima uang yang saya berikan karena dia kira saya kesasar.

Bus tidak memiliki monitor untuk memberi tahu halte mana yang akan dilewati. Jadi, penumpang asing akan sangat kesusahan untuk menjajal bus ini. Tipsnya hanya satu, selalu perhatikan arah jalan bus lewat Google Maps. Ongkos naik bus kota biasa hanya 5-10 baht saja, sedangkan bus AC mulai 15 baht ke atas tergantung jarak yang ditempuh. Mungkin tidak terlalu direkomendasikan naik bus di Bangkok, tapi perlu sesekali “menyasarkan” dan bergabung dengan orang Bangkok.

 

  1. River boat

    Dermaga Maharaj Tha Chang di pinggir Chao Phraya

Ini dia transportasi yang paling unik di Bangkok! Saya salut dengan orang Bangkok yang setiap hari pergi bekerja harus pindah-pindah moda transportasi dari bus kota, BTS, MRT, hingga naik perahu yang melintasi Sungai Chao Praya. Setahu saya memang tidak ada tempat yang benar-benar dilewati oleh semua jenis transportasi atau bahkan hanya ada satu jenis transportasi di suatu daerah. Misalnya daerah Rattanakosin (Grand Palace dan Wat Pho) yang paling mudah dijangkau dengan boat. Ada bus yang lewat tapi ya itu tadi, tidak jelas arahnya (hanya supir, kenek, dan orang Bangkok yang tahu).

Terdapat lima jenis perahu yang melayani rute sepanjang Chao Phraya, dimana setiap perahu ditandai dengan warna bendera yaitu kuning, hijau, biru, oranye, dan tanpa bendera. Bendera biru adalah Tourist Express boat yang berhenti di spot wisata saja dengan tarif 40 baht sekali jalan. Bendera oranye dan perahu tanpa bendera berhenti di hampir semua dermaga dengan ongkos 15 baht sekali jalan. Bendera kuning juga disebut tourist boat tetapi hanya melayani pada saat jam sibuk (pagi dan sore) dengan tarif 20-29 baht. Terakhir adalah bendera hijau yang lebih banyak melayani penumpang pekerja dari bagian utara sungai.

Bagi wisatawan yang hendak menuju destinasi terkenal cukup perhatikan bendera biru dan oranye saja. Perahu tanpa bendera juga hampir sama dengan bendera oranye tetapi hanya beroperasi pada hari kerja. Beberapa dermaga penting tujuan wisata adalah; Central Pier terhubung dengan BTS Saphan Thaksin, Tha Tien (N8) untuk Wat Pho dan Wat Arun, Maharaj Tha Chang (N9) untuk Grand Palace, Phra Arthit (N13) untuk Khaosan dan Thammasat University, serta Wat Rajsingkorn (S3) untuk ke Asiatique.

 

  1. Taksi

Taksi Bangkok (source: http://www.bangkok.com/)

Bagi sebagian budget traveler, taksi mungkin bukan pilihan yang tepat ya? Tapi tidak perlu khawatir karena taksi di Bangkok argonya masih cukup terjangkau. Dengan desain warna taksi yang warna-warni, tidak ada salahnya mencoba naik taksi dan “uji nyali” dengan sopir yang kadang hanya bisa berbahasa Thai. Tarif buka pintu taksi di Bangkok mulai 35 baht atau sekitar Rp 16.000 saja. Argonya bertambah 2-3 baht perkilometer, sedangkan untuk waktu tunggu taksi sebesar 1,25-1,5 baht permenit.

Mengambil taksi bisa jadi pilihan tepat jika sudah terlalu malam dan kemacetan sudah terurai. Pada jam sibuk argo taksi bisa lebih mahal 1,5 kali lipat daripada jam biasa. Masalahnya adalah Bangkok yang tidak pernah tidak macet cukup menguras waktu dan energi. Sebagai contoh dari Platinum Fashion Mall ke Asiatique yang berjarak 11 km, saya merogoh kocek sebanyak 100 baht (Rp 80.000). Harga tersebut sudah termasuk waktu tempuh selama hampir 50 menit karena saya bepergian pada jam sibuk pukul 7 malam.

Mencoba memesan taksi melalui aplikasi, seperti Uber dan Grab,juga menyenangkan dan mudah. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh beda dengan taksi konvensional. Hanya saja, kadang aplikasi taksi memberikan banyak diskon kepada pengguna sehingga terlihat lebih murah. Tetapi pada dasarnya tarif taksi konvensional dan modern tidak jauh berbeda.

 

  1. Tuk-tuk

Moda transportasi yang satu ini tidak ada di tempat lain kecuali di Bangkok. Hampir mirip seperti bajaj, tuk-tuk mampu menampung penumpang lebih banyak. Beberapa pengemudi tuktuk yang nekad, bisa membawa hingga 6 penumpang sekali jalan padahal normalnya Cuma 3-4 saja termasuk barang bawaan.

Percaya tidak percaya, ongkos naik tuk-tuk ini lebih mahal daripada naik taksi lho. Misalnya saja saya naik tuk-tuk dari MBK menuju Phaythai. Jika naik taksi saya hanya membayar 50 baht saja, tetapi dengan tuk-tuk malah harus membayar 100 baht. Karena tidak ada tarif resmi, satu-satunya cara adalah menawar ongkosnya kepada pengemudi. Tentu ini adalah hal yang melelahkan ya karena kendala bahasa inggris yang pas-pasan. Tapi tak apa lah, kapan lagi bisa naik tuk-tuk sambil merasakan terpaan angin kencang karena pengemudi yang ngebut?

 

  1. Ojek

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang pengalaman saya naik ojek di Bangkok. Tapi yang jelas, naik ojek sangat efisien waktu dan biaya. Para tukang ojek yang mangkal di daerah-daerah keramaian biasanya sudah punya tarif sendiri. Di beberapa tempat mereka malah sudah menuliskan tarif pasti ke tujuan tertentu. Dari MBK ke Platinum naik ojek saya dikenakan ongkos ojek sebesar 40 baht saja dengan waktu tempuh 3 kali lebih cepat daripada naik taksi. Tidak perlu tawar menawar, langsung saja sebut tujuan maka wuuzzzzz…tukang ojek akan megantarkan kita.

Itu tadi delapan moda transportasi di Bangkok yang pernah saya coba. Semuanya menyenangkan dan membuat saya seolah-olah jadi warga Bangkok. Kendala bahasa mungkin memang masalah tapi justru di situlah seni menikmati negeri yang kita kunjungi.

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Makanan Halal di Bangkok, Tidak Banyak tetapi Cukup Mudah Ditemukan

Bangkok is about shopping and dinning!

Siapapun yang pernah ke sini pasti setuju bahwa Bangkok menawarkan sejuta pilihan untuk berbelanja dan makan. Meski tidak mudah bagi wisatawan Muslim menemukan tempat makan yang halal, di beberapa lokasi masih dapat dijumpai makanan yang tidak hanya halal tetapi juga cocok di lidah orang Indonesia.

Berikut ini adalah rangkuman beberapa tempat makan halal di Bangkok yang pernah saya coba.
Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , | 2 Comments

Jalan-Jalan ke Tokyo yang tak Terduga saat Tahun Baru

Salah satu sudut iluminasi di daerah Shinjuku

Salah satu sudut iluminasi di daerah Shinjuku

Liburan tahun baru saat musim dingin pasti sangat menyenangkan ya? Di Jepang, libur tahun baru disebut “fuyu yasumi” (冬休み) atau libur musim dingin yang dimulai tanggal 28 Desember – 4 Januari. Hampir semua penduduk dari siswa sekolah hingga pekerja kantoran di silakan berlibur dan mudik ke kampung halaman masing-masing. Bagi kebanyakan mahasiswa asing yang sedang kuliah di Jepang, momen ini dimanfaatkan untuk jalan-jalan mengunjungi daerah lainnya. Liburan kala itu saya memilih jalan-jalan ke Tokyo mengisi winter break selama beberapa hari.

Rombongan Mahasiswa Indonesia dalam Satu Gerbong Kereta menuju Tokyo

Rombongan Mahasiswa Indonesia dalam Satu Gerbong Kereta menuju Tokyo

Dari Kyoto saya berangkat ke Tokyo bersama rombongan mahasiswa Indonesia yang akan mengikuti Daurah Di Masjid Asakusa. Seperti catatan saya di sini, perjalanan tersebut ditempuh menggunakan kereta lokal dengan “Juhachi Kippu”. Satu lembar kippu seharga ¥11.500 bisa digunakan hingga 5 orang dalam 1 hari perjalanan. Jadi, setiap orang cukup membayar ¥2.300 yen sekali jalan dari Kyoto ke Tokyo. Jangan berharap perjalanan akan cepat seperti naik Shinkansen sebab tiket ini mengharuskan saya untuk berpindah-pindah kereta hingga tujuan terakhir. Dari Stasiun Kyoto berangkat jam 7 pagi tiba di Stasiun Tokyo jam 7 malam. Waktu 12 jam tersebut termasuk estimasi pindah jalur kereta dan 1 jam untuk ishoma di tengah perjalanan.

 Baca juga: Pilihan Transportasi Antar Kota di Jepang (Tokyo-Kyoto)

Saya menghabiskan waktu lima malam di Tokyo; empat malam di Masjid Asakusa dan satu malam di Capsule Hostel daerah Asakusa. Masjid Asakusa atau Darul Arqam Mosque terletak tak jauh dari pusat Asakusa. Ada dua stasiun terdekat dari masjid ini yaitu stasiun Metro-Asakusa (Ginza Line) dan Metro-Minami Senju (Hibiya Line). Alih-alih bangunan masjid yang megah dan berkubah, masjid ini lebih mirip ruko setinggi empat lantai. Lantai 1 untuk kantor, lantai 2 tempat sholat wanita, lantai 3 tempat sholat pria, dan lantai 4 dapur serta gudang. Di rooftop terdapat kubah kecil sebagai penanda masjid. Kabarnya sih, dulu masjid ini sering dipakai untuk mengiap wisatawan muslim (mungkin kebanyakan wisatawan Indonesia) yang akan megejar penerbangan pagi dari Narita. Tetapi hal itu sudah tidak diperbolehkan lagi oleh pengurus masjid. Masjid dibuka seharian penuh untuk beribadah dan tutup malam harinya.

Dalam catatan jalan-jalan ke Tokyo ini akan saya tuliskan beberapa tempat yang pernah saya kunjungi selama fuyu yasumi. Saya ceritakan juga pengalaman seru dan pertama kalinya merasakan tahun baru Di Tokyo yang ternyata …… (nanti baca sendiri).

Sumida-gawa (隅田川)

Matahari terbit di tepi Sungai Sumida

Matahari terbit di tepi Sungai Sumida

Meskipun bukan tempat wisata, tidak ada salahnya menyusuri tepian Sungai Sumida yang merupakan salah satu sungai terbesar di Tokyo. Salah satu spot terbaik untuk menikmati sungai terletak tak jauh dari Asakusa Mise. Dari tepian Sumidawa-gawa saya bisa melihat Tokyo Skytree yang menjulang di seberang sungai. Pada saat musim dingin matahari terbit lebih lambat. Sekitar pukul 6 pagi saya berjalan-jalan sambil menikmati matahai terbit. Wah, pemadangannya benar-benar luar biasa cantik. Sumidagawa yang berkilauan, matahari yang sedikit menghangatkan, siluet Skytree yang mempesona, dan angin musim dingin yang bertiup kencang. Di sekitar sungai terdapat taman bermain yang dapat digunakan untuk duduk santai sambil menikmati secangkir minuman hangat dari konbini terdekat.

Shibuya Cross-section

Shibuya (sebelum dan sesudah

Shibuya (sebelum dan sesudah

Selesai agenda hari pertama, saya dan teman-teman pergi ke salah satu must-see object di Tokyo yaitu perempatan Shibuya. Namun, pilihan untuk datang ke Shibuya demi berfoto bersama Hachiko nampaknya sia-sia karena jelang tahun baru jalanan sangat ramai. Banyak sekali wisatawan dari Asia terutama Cina dan Taiwan yang memenuhi area tersebut. Antriannya sangat panjang untuk bisa berfoto bersama patung anjing setia tersebut. Tidak sukses di hari pertama, Saya mencoba foto dengan Hachiko tepat pada tanggal 1 Januari pagi. Diluar dugaan, Shibuya yang biasanya tidak pernah lengang menjadi begitu sepi dan hening. Di leher patung Hachiko pun dikalungkan jimat atau hiasan tahun baru khas masyarakat Jepang. Perut kami sudah mulai lapar ketika tiba di Shibuya, kami memutuskan untuk mencari makan malam. Pilihan kami jatuh pada Ramen halal di Narita-ya.

Baca juga: Halal Food In Tokyo, Kyoto, and Osaka Beberapa Alternatif Tempat Makan bagi Pelancong Muslim)

Ueno Park (上の公園)

uenoAgenda hari kedua berakhir lebih cepat daripada hari pertama. Hari itu saya berkunjung ke Ueno Park, sebuah taman kota dengan kebun binatang di dalamnya. Sepertinya lokasi ini selalu dibahas di setiap cerita jalan-jalan ke Jepang. Memang santai sekali lho menghabiskan sore hari di taman ini. Tamannya luas dan aksesnya mudah dicapai dengan moda transpotasi apapun. Sedikit cerita menarik saat mengunjungi Ueno Park. Salah satu teman saya hampir lupa kalau dia belum sholat ashar. Kemudian dia menggelar jaket sebagai alas sholat di tepian taman. Orang-orang sekitar yang melihat hal ini nampaknya tidak keberatan ya ada seorang muslim yang melaksanakan ibadah di tempat umum? Keberadaan Jepang sebagai negara yang moslem-friendly memang terbukti dan semoga terus berkembang menjadi lebih baik. Perjalanan kami lanjutkan kembai, dari Ueno kami pergi ke salah satu masjid terbesar yang ada di Jepang, Tokyo Camii Mosque.

Baca juga: Panduan Transportasi Keliling Tokyo

Tokyo Cami Mosque

Tokyo Camii Mosque

Tokyo Camii Mosque

Sebenarnya ini bukan tujuan wisata sih tapi begitu mendengar bahwa di Tokyo ada masjid yang bernuansa Turki saya jadi ingin menyaksikan secara langsung. Tokyo Camii Mosque masih terletak di kawasan Shibuya tepatnya di distrik Choyama. Saya tiba di sana saat masuk waktu Maghrib dan menunggu di sana hingga waktu sholat Isya selesai. Arsitekturnya mirip dengan bangunan dari Turki (walaupun saya belum ke Turki sih), kubah warna biru serta menara yang terlihat dari kejauhan. Sepintas memandangi masjid ini membuat saya lupa bahwa saya masih menginjakkan kaki di negeri matahri terbit. Selepas sholat isya’ kami menuju ke lantai bawah masjid. Di lantai ini terdapat berbagai macam pernak pernik khas Turki yang unik seperti gelang, piring-piring, sajadah, dan lain-lain. Selain itu, terdapat kedai kecil yang menjual makanan halal. Sayangnya, karena sedang tahun baru kedai tersebut tutup sehingga tidak bisa menyediakan makanan untuk mengisi perut kami yang kosong. Sebagai gantinya kami membeli mie gelas halal yang bisa langsung dimakan disana. Mengetahui bahwa penjaga kedai dan toko souvenir adalah orang Turki, saya sempat mengucapkan “Tesekkur ederim” atau terima kasih dalam Bahasa Turki. Kami pun berbincang sebentar dan merasa senang karena perkembangan muslim di Jepang sudah cukup bagus.

Rute: Dari Shibuya naik Ginza line turun di Omote-Sando, kemudian berpindah ke Chiyoda line dengan tujuan Yoyogi Uehara. Dari stasiun Yoyogi Uehara tinggal menyusuri jalan menanjak sampai ujung hingga belok ke kanan. Dari situ sudah bisa melihat kubah masjid dengan jelas.

lorong-shinjuku-stationShinjuku (新宿区)

Dari Camii Mosque kami menuju Shinjuku, salah satu distrik yang dipadati gedung-gedung pencakar langit. Daerah ini merupakan daerah perkantoran dan pusat bisnis Kota Tokyo. Bisa dikatakan wajib  mengunjungi Shinjuku pada saat musim dingin karena ada banyak titik “illumination” alias lampu warna-warni yang semakin menambah kemeriahan Tokyo di akhir tahun. Tetapi perkiraan keramaian itu sirna saat kami tiba di Stasiun Shinjuku. Stasiunnya sepi, semua toko sudah tutup, dan hanya sedikit orang Jepang yang berlalu-lalang. Ketika itu saya ingat sekali tanggal 31 Desember, semua aktivitas di luar rumah berakhir sekitar pukul lima sore. Rencana kami untuk naik ke Tokyo Government Building pupus sudah karena kantor ditutup selama fuyu yasumi.  Sepanjang lorong stasiun Metro, yang saya perkirakan sangat padat pada hari-hari biasa, nampak kosong. Jika dibayangkan, malam tahun baru bagi masyarakat Jepang itu mirip dengan tradisi malam takbiran di Indonesia dimana masyarakat berkumpul di rumah bersama keluarga masing-masing. Hanya bedanya, di Indonesia masih banyak pusat perbelanjaan dan toko yang buka hingga tengah malam dengan diskonbesar-besaran. Kalau di Jepang sendiri, diskon besar-besaran justru ada setelah pergantian tahun yang akan saya ceritakan di bagian berikutnya.

 

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , | 7 Comments

Catatan Perjalanan ke Jepang, Menikmati Kyoto yang Kuno (Bagian 3/3)

Togetsuko Bridge Arashiyama

Togetsuko Bridge Arashiyama

Arashiyama (嵐山) & Togetsukyo Bridge (渡月橋)

Pindah ke kawasan barat Kyoto, Arashiyama menjadi salah satu destinasi terfavorit wisatawan. Salah satu objek wisata paling banyak dikunjungi adalah Tenryuji Temple (天竜寺) yang juga dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya versi UNESCO. Bisa dikatakan bahwa kuil Zen ini adalah kuil terpenting di distrik Arashiyama. Apalagi, kuil Tenryuji adalah satu-satunya kuil yang terhubung langsung dengan sekolah Budha. Distrik Arashiyama juga terkenal dengan jembatan Togetsukyo yang membentang di atas Sungai Katsura (桂川). Pemandangan dari jembatan ini juga tak kalah menakjubkan. Perpaduan aliran sungai yang jernih dan cukup deras dengan latar bukit, dan birunya langit membuat siapa saja pasti terpana dibuatnya. Jangan lewatkan pula untuk naik tricycle alias becak sambil berkeliling Arashiyama. Penampilan para penarik becak ini juga terlihat sangat menarik. Rata-rata penarik becaknya masih muda dan cocok sekali jadi aktor dorama. Diantaranya ternyata ada pula yang berstatus sebagai mahasiswa sambil melakukan pekerjaan paruh waktu sebagai penarik becak. Tak kalah nikmat jika kita membawa bekal saat datang ke Arashiyama. Waktu itu Saya bawa bekal sederhana nasi lauk mi goreng (khas orang Indonesia sekali ya hehehe) dan telur ceplok. Saya makan bekal di pinggir sungai Katsura sambil diterpa angin musim dingin yang lumayan bikin merinding. Tidak lupa juga saya bawa termos kecil air jahe hangat. Wah…rasanya benar-benar nikmat sekali.

Jam Operasional              : Pukul 08.30-17.00 (Tenryuji Temple)

Tiket Masuk                       : ¥500 (Rp60.000)

Panduan                             : Dari Stasiun Kyoto bisa naik bus No. 72 atau 73 (halte C6) langsung menuju ke halte Arashiyama. Bisa juga naik kereta dari Stasiun Kyoto mengambil Arashiyama JR yang menuju Saga Arashiyama dengan ongkos ¥240. Togetsukyo tepat berada di halte terakhir Arashiyama sedangkan Tenruji temple ambil belok kanan di persimpangan jembatan. Jika naik kereta dan turun di Saga Arashiyama, Tenryuji temple tepat berada di seberang stasiun.

 

Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: