Posts Tagged With: Grand Palace

Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-2 Wat Saket, Golden Mount, Grand Palace, Khaosan

Rencana perjalanan di hari kedua  masih Saya fokuskan untuk mengunjungi area Rattanakosin dan sekitarnya. Karena pada hari sebelumnya gagal mengunjungi Golden Mountain, hari ini Saya akan mengulangi kunjungan ke tempat tersebut. Ada cerita  lucu dibalik kunjungan Saya ke sana. Di awal tahun 2013 Saya pernah memasang foto Golden Mount dihalaman sosial media Saya. Saya berharap bisa mengunjungi tempat ini ketika Saya memajangnya sebagai foto. Kalau di The Secret ini yang disebut sebagai Law of Attraction, Alhamdulillah di tahun yang sama Saya bisa melihat secara langsung Golden Mount yang Saya impikan. Saya naik bus 47 lagi dari National Stadium untuk menuju Wat Saket dan lagi-lagi Saya tidak ditarik ongkos oleh kondektur bus.

Bus di Bangkok

Bus di Bangkok

Golden Mount ini memang identik dengan stupa emas yang berada di atap kuil. Untuk mencapai stupa tersebut Saya harus menaiki ratusan anak tangga. Di sepanjang perjalanan Saya menaiki tangga ini terdengar lantunan doa dari biksu yang dikeluarkan melalui pengeras suara. Walaupun memiliki ratusan anak tangga, berjalan di sini tidak membuat kita cepat lelah sebab tangga didesain landai. Di beberapa titik juga terdapat tempat untuk beristirahat dan lonceng-lonceng serta gong. Lonceng-lonceng ini dibunyikan oleh orang-orang sambil mengucapkan doa.

Golden Mountain - Tangga menuju Golden Mountain

Golden Mountain – Tangga menuju Golden Mountain

Sebelum mencapai atap puncak bangunan ini, Saya masuk dulu kesebuah ruangan yang berfungsi sebagai altar berdoa umat Budha. Saya sempat menyaksikan beberapa umat melakukan ibadah diruangan yang sangat sejuk ini. Selain tempat ibadah, tempat ini juga memiliki kedai kecil yang menjual pernak-pernik Budha serta makanan dan minuman ringnan. Tidak banyak turis yang datang kesini padahal lokasi ini  tak kalah cantiknya dengan kuil-kuil yang lebih terkenal. Stupa  emas di atas atap ini memang layak dinamakan Golden Mount. Dari atas Saya bisa melihat sekeliling Kota Bangkok termasuk King Rama Bridge yang melintas di atas Chao Praya.

Pemandangan dari atap Golden Mountain - Orang beribadah di dalam Golden Mountain - Altar - Sikap Budha

(clock wise) Pemandangan dari atap Golden Mountain – Orang beribadah di dalam Golden Mountain – Altar – Sikap Budha

Puas menikmati lokasi ini Saya segera turun dan keluar dari area Wat Saket. Saya kembali melewati rute jalan kaki hari sebelumnya untuk menuju Grand Palace. Banyak sekali keuntungan yang Saya dapat ketika berjalan kaki di sebuah tempat baru. Dengan berjalan kaki Saya bisa melihat lebih dekat dan merasakan lebih dalam suasana kota. Seperti sudah Saya ceritakan di bagian sebelumnya, hari ini Saya juga melihat wanita yang sempat bertanya-tanya pada Saya tetapi sepertinya wanita itu tidak berani lagi mendekati Saya.

Dibelakang Grand Palace ada bangunan megah yang tidak kalah cantik. Bangunan berkonsep Eropa kuno yang merupakan kantor Kemeneterian Pertahanan Thailand. Lebih seru lagi karena bangunan seperti ini tidak memiliki pagar malah dikelilingi oleh taman-taman bunga yang semakin menberikan kesan warna-warni dan tentunya sangat indah dipandang. Saya belok kanan dari ujung pertigaan Kalayana. Pintu Grand Palace ini memang sangat banyak, tidak heran jika banyak orang tertipu oleh supir tuk-tuk yang mengatakan bahwa tempat ini tutup karena ada acara kerajaan. Pintu masuk Grand Palace memang hanay satu dan terletak di bagian utara. Di pintu masuk pun sudah diberikan peringatan kepada wisatawan untuk tidak mempercayai orang-orang berpakain rapi yang menawarkan keliling kuil dengan tuk-tuk.

DSC00294 copy

Sebagai destinasi utama di Bangkok, Grand Palace tidak pernah sepi wisatawan. Grand Palace buka setiap hari dari jam 9 pagi sampai jam setengah 5 sore. Setiap pengunjung dikenakan biaya masuk sebesar THB 500 termasuk tiket untuk mengunjungi Vimanmek Mansion dan Abishek Dusit Throne Hall yang terletak di area Dusit. Pintu masuk Grand Palace dibedakan menjadi dua untuk wisatawan asing dan warga lokal Thailand. Saya pernah mendapat cerita ada kawan-kawan backpacker Indonesia yang pernah masuk ke sana melalui pintu khusus warga lokal sehingga tidak dikenakan biaya. Namun hal seperti ini kurang bagus tentunya, jadi jangan dicontoh ya.

Outer Area Grand Palace

Outer Area Grand Palace

Di dalam area seluas lebih dari 20 ha ini tidak hanya terdapat Grand Palace yang tersohor. Namun juga berapa lokasi yang tidak kalah menariknya. Secara umum Grand Palace dibagi menjadi empat bagian yaitu area terluar, area dalam, area tengah, dan The Emerald Budha. Setelah melewti pintu masuk,  pengunjung akan langsung diarahkan menuju Wat Phra Khrew. The Emeral Budha merupakan salah satu tujuan yang paling terkenal di sini. Sama halnya seperti di Wat Pho, pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki untuk masuk di dalam bangunan dimana terdapat patung Emeral Budha. Tempat ini merupakan tempat ibadah yang digunakan oleh keluarga kerajaaan. Pengunjung yang ingin mengenal tempat ini lebih detil bisa mendaftar untuk mengikuti tur secara gratis yang disediakan setiap pukul 10.30 dan 13.30.

Disepanjang dinding yang mengelilingi area ini terdapat lukisan yang menggambrarkan sejarah Thailand. Selain itu juga ada tempat orang meletakkan sesajen dan sembahyang. Keluar dari area ini, Saya langsung bisa melihat area tengah Grand Palace yang megah. Area tengah (middle court) ini adalah wilayah yang paling luas dan bisa diakses oleh pengunjung. Selain dapat menikmati arsitektur megah Phra Thinang Chakri Maha Prasat, di bagian bawah gedung ini juga ditampilkan senjata-senjata khas Thailand yang digunakan dalam pertempuran. Sayangnya, museum senjata ini dilarang diabadikan oleh pengunjung. Di depan lokasi ini ada taman luas yang banyak digunakan untuk beristirahat oleh wisatawan. Ada beberapa penjaga yang bertugas ditempat ini. Mereka melakukan pergantian penjaga setiap beberapa jam sekali. Saya sempat menyaksikan bagaimana proses pergantian penjaga ini.

Wat Phra Khew

Wat Phra Khew

Area terakhir yang bisa dikunjungi adalah area terluar tempat Saya baru saja masuk. Lapangan hijau yang luas dengan latar belakang stupa Wat Phra Khrew dan atap-atap Grand Palace yang mengintip dari balik tembok, tidak salah jika tempat ini merupakan atraksi utama para turis. Area dalam (inner) merupakan area terlarang untuk dikunjungi. Area ini hanya dikhususkan untuk keluarga kerajaan dan hanya digunakan jika ada acara-acara kerajaan.

Butuh waktu hampir 4 jam untuk mengunjungi tempat ini. Jadi sediakan waktu yang panjang untuk mengunjungi bekas tempat tinggal raja yang satu ini. Usahakan untuk datang pagi hari sehingga setelah mengunjungi tempat ini bisa dilanjutkan mengunjungi kuil lainnya seperti Wat Pho, Wat Mahathat, dan Wat Arun. Pastikan juga untuk mengenakan pakaian yang sopan ketika berkunjung ke Grand Palace sebab banyak sekali turis (terutama turis Barat) yang harus mengantri menyewa kain untuk menutupi baju mereka yang kurang sopan. Paling tidak kenakan baju berkerah dan tidak berlengan pendek, celana panjang, dan alas kaki yang sopan agar tidak dihadang petugas pintu masuk.

Grand Palace

Grand Palace

Saya segera melanjutkan perjalanan menuju Khaosan Road melewati Sanam Luang, sebuah taman yang berlokasi di sebelah barat daya Grand Palace. Waktu itu sekitar pukul 3 sore tetapi matahari masih sangat terik. Sebenarnya jarak antara kedua tempat ini tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit berjalan kaki. Saya sempat menanyakan ongkos naik tuk-tuk tetapi penawaran mereka masih terlalu mahal (THB 200). Rupanya masih terlalu siang ke Khaosan jam 3 sore. Walaupun sudah ramai, suasana jalanan disini tidak berbeda dengan kawasan berbelanja pecinan. Saya berhenti sebentar disebuah  kedai yang menjual padthai,  makanan khas Thailand yang banyak dijumpai di Khaosan. Padthai adalah perpaduan kwetiau, bakmi, dan bihun yang dimasak dengan sayuran segar, serta dibumbui gula pasir. Biarpun hanya sesederhana itu, padthai memiliki rasa yang sangat enak (atau mungkin perut Saya yang sangat lapar). Satu porsi padthai dihargai antara THB 35-60 tergantung isian yang diinginkan seperti daging ayam, telur, udang, atau campuran ketiganya.

Atas : Patthai Bawah : Khaosan Road siang dan malam hari

Atas : Patthai
Bawah : Khaosan Road siang dan malam hari

Saya menyusuri kawasan Khaosan ini hingga ujung. Ketika hampir sampai diujung jalan, Saya seperti mendegar suara orang-orang berkumpul meneriaki seseorang yang sedang berpidato (berorasi lebih tepatnya). Saat mendekati, Saya melihat ada keramaian yang berasal dari Democracy Monument. Nampak banyak sekali orang yang berdiri di sana. Saya baru tahu setelah pulang ke hotel bahwa apa yang Saya lihat adalah salah satu bentuk “Revolusi Bangkok” yang saat itu sudah mulai memanas. Saya melihat dari dekat bagaimana orang-orang meneriakkan semangat perubahan. Walaupun tidak tahu artinya, Saya bisa merasakan tekad orang-orang Thailand menuntut PM Thailand untuk mundur dari jabatannya.

Uniknya, di sepanjang jalan Democracy Monument ini disediakan makanan gratis bagi para pendemo. Saya ikut mengantri bersama warga lokal lainnya untuk mendapatkan makanan tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Saya merasa dijamu langsung oleh Kota Bangkok karena  bisa menikmati makanan khas secara gratis. Keramahan orang Thailand adalah salah satu hal yang membuat turis betah berwisata kesini. Mereka punya cara yang tertib untuk berdemo, membantu mereka yang berdemo dengan menyediakan makanan, serta mengadakan eksibisi lukisan yang dipajang disepanjang jalan.

Makanan gratis di area Bangkok Revolution

Makanan gratis di area Bangkok Revolution

Dari Democracy Monument Saya kembali ke Khaosan yang sudah mulai ramai. Dentuman musik dimana-mana,teriakan pelayan bar dan kafe-kafe juga mulai terdengar disepanjang jalan. Jalanan pun sudah ditutup dari mobil yang melintas. Saya tidak mendapatkan makanan yang Saya cari disini, kabarnya Khaosan terkenal dengan makanan ekstrim seperti gorengan serangga. Mungkin belum beruntung ya, suatu saat Saya akan kembali ke Khaosan lagi. Khaosan area bisa jadi merupakan tempat favorit para backpacker karena banyak penginapan rumah, all night entertainment, makanan murah, dan dekat dengan lokasi wisata. Tetapi, Khaosan juga bisa jadi tempat yang kurang nyaman bagi turis yang tidak terlalu suka keramaian. Oleh karena itu, ada baiknya menentukan lokasi menginap sebelum berkunjung.

Atas: Suasana demo di di Democarcy Monument siang dan malam hari Bawah: Pameran lukisan ekspresi demonstran

Atas: Suasana demo di di Democarcy Monument siang dan malam hari
Bawah: Pameran lukisan ekspresi demonstran

Dari Khaosan ada bus langsung menuju hotel bernomor 60. Membutuhkan waktu hampir satu jam dari Khaosan sampai ke hotel dengan ongkos sebesar THB 17 saja. Bus AC warna kuning yang membawa Saya kembali ke hotel menutup perjalanan hari kedua di Bangkok dengan penuh perasaan senang dan perut yang kenyang. Hari ketiga besok akan Saya manfaatkan untuk mengunjungi salah satu kota tertua di Thailand yang terkenal dengan reruntuhan kuil-kuilnya.

Pengeluaran hari ke-2

Pengeluaran hari ke-2

Advertisements
Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , , | 11 Comments

Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-:1 Wat Suthat, Giant Swing, Wat Pho, Wat Arun

Perut kami mulai lapar ketika akan keliling Bangkok. Untung saja ada banyak penjual makanan yang lokasinya persis di depan hotel. Saya membeli nasi dan ayam seharga THB 20 untuk mengisi perut. Tidak perlu khawatir kesulitan mencari makanan halal sebab ditempat ini terdapat beberapa pedangan muslim yang tentunya menjual masakan halal. Melihat penjual nasi yang memakai jilbab Saya mencoba menanyakan barang kali ada masjid di sekitar lokasi. Ternyata ada satu buah masjid yang lokasinya tidak jauh dari situ. Saya melewati gang di sebelah 7-eleven depan hotel menuju Masjid Jamiul Islam Klongton yang berada di ujung gang.

clockwise: Menu Makan Siang - Masjid Klongton Ramkamhaeng - Teras Masjid - Suasana dalam Masjid

clockwise: Menu Makan Siang – Masjid Klongton Ramkamhaeng – Teras Masjid – Suasana dalam Masjid

Selesai shalat Saya langsung menuju ke stasiun Ramkamhaeng menuju Phaya Thai, kemudian dilanjutkan naik BTS ke National Stadium. Dari sini Saya naik bus nomor 47 di seberang stasiun untuk tujuan pertama yaitu Wat Sakhet dan Golden Mountain. Saya turun persis di depan sekolah Wat Sakhet dan langsung melihat stupa emas yang menjulang di atapnya. Wat Sakhet adalah sebuah kuil Budha yang dibangun di era Ayuttaya yang pembangunannya dilanjutkan oleh King Rama I. Wat Sakhet juga memiliki sebuah sekolah biksu di lantai bawah serta kuil untuk sembahyang di lantai atas. Namun sayang sekali, pada saat itu sedang ada pembersihan kuil sehingga  tidak diijinkan masuk. Di papan tertulis bahwa pengunjung baru boleh mengunjungi kuil ini keesokan harinya.

Ada cerita unik pada pengalaman pertama Saya naik bus di  Bangkok. Saya tidak yakin kalau bus yang saya tumpangi  melewati Wat Saket. Saat saya bertanya dengan bahasa (tubuh) seadanya sambil menunjukkan peta Wat Saket, ibu kondektur ini tidak memahami apa yang Saya maksud. Ibu ini malah mengembalikan uang THB 20 saya karena dia tidak tahu apakah bus yang saya naiki ini benar. Kalau hal ini terjadi di Indonesia, biasanya ada orang kesasar bisa bisa jadi sasaran empuk orang tidak bertanggung jawab.

Golden Mountain dan Wat Saket

Golden Mountain dan Wat Saket

Hari masih panjang sedangkan di jadwal tidak ada tempat yang direncanakan untuk dikunjungi. Hari pertama di Bangkok memang sengaja dikosongkan untuk melihat situasi kota sebelum berkeliling di hari berikutnya. Kami teruskan perjalanan menyusuri Boriphat Road kemudian belok kanan di perempatan Thanon Bamrung Muang Road. Di sepanjang jalan ini banyak sekali pengrajin patung-patung Budha dan perlengkapan ibadah lainnya. Dari jalan Thanon Bamrung Muang  langsung terlihat landmark  Bangkok yang konon kabarnya sudah banyak menewaskan peserta sayembara.

Kurang lebih membutuhkan waktu sepuluh menit jalan kaki hingga sampai di Giant Swing. Sesuai namanya, Giant Swing adalah sebuah ayunan raksasa ditengah-tengah jalanan Bangkok. Dulunya di tempat ini sering diadakan sayembara berayun namun karena banya yang tewas hingga sayembara kemudian ditiadakan. Di dekat Giant Swing ada sebuah kuil bernama Wat Suthat Tephawaram. Di dalam wat ini terdapat satu patung Budha yang sangat besar (kemudian baru Saya sadar jika semua patung Budha di Bangkok semuanya besar) dan hiasan-hiasan cantik mengelilingi kuilnya. Seharusnya ada tiket masuk seharga THB 20  tetapi Saya baru sadar ada tiket masuknya saat akan keluar  kuil.

Giant Swing - Wat Suthat Tephawaram

Giant Swing – Wat Suthat Tephawaram

Saya melanjutkan menikmati suasana sore di Kota Bangkok dengan berjalan kaki di sepanjang jalan Thanon Bamrung Muang lagi hingga melewati Kantor Ministry of Interior, kemudian melintasi jembatan kecil yang terhubung dengan jalan Kalayana Maitri. Diujung jalan ini ada sebuah benteng yang sangat lebar dan tinggi, bangunan tersebut adalah Grand Palace tampak dari belakang. Di ujung jalan Kalayana kami segera belok kiri kemudian belok kanan untuk mencari pintu masuk Grand Palace yang tidak ketemu-ketemu. Sebelum menemukan pintu masuk Grand Palace Saya sudah sampai di depan gerbang Wat Pho terlebih dulu ternyata. Langsung saja diputuskan untuk masuk Wat Pho karena hari sudah mulai sore dan rasanya tidak cukup waktu untuk mengunjungi Grand Palace dulu.

ALERT! Harap berhati-hati ketika melintasi jalan Thanon Bamrung Muang terutama  di trotoar depan Ministry of Interior. Ketika hendak menyeberang jalan ada seorang wanita yang tiba-tiba menyapa Saya dan teman Saya. Dia sedikit berbasa basi menanyakan asal kami dan tujuan kami hari itu. Saya hanya menjawab pertanyaan seperlunya dan menghiraukannya. Keesokan harinya ketika melewati jalan yang sama ternyata dia masih berada di daerah itu. Tidak bermaksud berprasangka buruk, tetapi sepertinya wanita itu ada maksud yang kurang baik mengingat ada sebuah tuk-tuk yang standby didekatnya. Seperti  banyak diketahui jika di Bangkok marak sekali terjadi penipuan wisatawan  bermodus menawarkan keliling  Bangkok dengan tuk-tuk menuju pusat perhiasan alih-alih mengunjungi kuil.(peta wat saket ke wat pho)

Peta Wat Suthat ke Grand Palace

Bisa dikatakan jika Wat Pho  merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke  Bangkok. Objek paling menarik di Wat Pho adalah patung reclining Budha yang sangat besar dan berlapis emas. Harga tiket masuk ke lokasi ini adalah THB 100 termasuk kupon untuk mengambil air mineral botol yang disediakan didalamnya. Pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki dan memasukkannya ke dalam kantong yang disediakan. Di belakang patung budha ada 108 mangkok perunggu yang berjajar rapi disalah satu sisi dindingnya. Cukup membayar THB 2- untuk mendapatkan segenggam koin untuk dimasukkan ke mangkok tersebut. Jika jumlah koin yang dimasukkan sejumlah mangkok yang ada, konon salah satu  keinginan kita bisa terwujud.

Wat Pho ; Reclining Budha - 108 Mangkok - Siswa Sekolah Bangkok Berkunjung ke Wat Pho

Wat Pho ; Reclining Budha – 108 Mangkok – Siswa Sekolah Bangkok Berkunjung ke Wat Pho

Puas memandangi  megahnya patung Budha tidur, Saya menuju ke bagian lain Wat Pho.  Di dalam komplek ini terdapat beberapa chedi  atau stupa yang banyak ditemukan di Thailand. Stupa ini, menurut Saya lebih modern dibandingkan stupa yang ada di Borobudur atau candi-candi Budha di Indonesia. Menariknya, stupa di sini berwarna-warni dari potongan-potongan keramik yang ditempelkan di permukaan stupa. Ada beberapa chedi besar yang menambah kekhasan Wat Pho.  Tempat ini sendiri merupakan salah satu pusat Thai Massage yang snagat tersohor. Dulunya lokasi ini adalah sekolah untuk belajar ilmu kesahatan dan obat-obatan. Untuk merasakan sensasi pijat di sini dikenakan biaya  antara THB 200-400.

Salah Satu Sudut Wat Pho

Salah Satu Sudut Wat Pho

Keluar dari Wat Pho, tujuan Saya berikutnya adalah Grand Palace. Tetapi karena hari sudah terlalu sore, niat mengunjungi diurungkan dan diganti esok hari. Sepertinya sore itu saya memutari hampir seluruh area luar Grand Palace hanya untuk mencari lokasi pintu masuk. Kaki  sudah mulai lelah, Saya beristirahat sebentar di taman yang berada di depan Grand Palace. Di sekitar taman ini banyak sekali penjual barang-barang antik maupun barang bekas. Persis seperti penjual yang ada di Indonesia. Taman ini menghadap langsung ke sungai Chao Praya dengan hiasan Wat Arun diseberangnya. Setelahh cukup beristirahat Saya hendak melanjutkann perjalanan ke kuil yang disebut sebagai “Temple of The Dawn” tersebut.

Sore Hari di Sebuah Taman di Tepi Chao Phraya

Sore Hari di Sebuah Taman di Tepi Chao Phraya

Untuk mencapai Wat Arun Saya harus menyeberang sungai menggunakan river cross boat­. Ikuti saja papan penunjuk menuju dermaga kecil dengan karcis hanya THB 3 sekali jalan. Tidak sampai lima menit perahu sudah sampai di dermaga seberang. Wat Arun yang sangat megah dan  tinggi telah nampak di depan mata. Untuk masuk ke Wat Arun dikenakan biaya sebesar THB 50 saja. Bagi yang tidak takut ketinggian boleh mencoba menaiki tangga hingga titik paling atas kuil ini. Dari atas  kita bisa melihat sibuknya sungai Chao Praya, bangunan-bangunan pencakar langit Bangkok, dan tentunya atap Grand Palace yang begitu cantiknya. Suasana hampir senja pun menambah kesan mendalam terhadap kuil yang memiliki nama lengkap Wat Arun Ratchawararam Ratchawaramahawihan. Walaupun mendapatkan sebutan Temple of The Dawn  kuil ini juga tidak kalah cantiknya ketika senja .

Pemandangan dari atas Wat Arun, terlihat Grand Palace dan sekitarnya

Pemandangan dari atas Wat Arun, terlihat Grand Palace dan sekitarnya

Wat Arun (source: siamfestival.com)

Wat Arun (source: siamfestival.com)

Di sekitar Wat Arun banyak sekali penjual-penjual cinderamata khas Thailand yang menawarkan dagangannya dalam Bahasa Indonesia. Bahkan, ada beberapa penjual yang menerima uang Rupiah untuk transaksi jual belinya. Semakin terlihat kalau orang Indonesia terkenal sebagai turis yang gemar berbelanja ya?!

Saya kembali naik river cross boar menuju Tha Tien Pier, dermaga awal saat akan menyeberang ke Wat Arun. Dari dermaga ini dilanjutkan naik river boat  bendera oranye  tujuan Central Pier dengan ongkos THB 15. Ada beberapa perahu  yang beroperasi di sepanjang Chao Praya. Yang warna putih mulai THB 4 tergantung jarak, biru yang harganya THB 40 langsung menuju ke Asiatique tanpa berhenti, dan oranye yang Saya tumpangi seharga THB 15. Dermaga Central Pier merupakan dermaga terdekat dengan BTS Saphan Taksin. Saya naik BTS dari Saphan Taksin (Silom Line) menuju ke Siam, dari sini  transit dan berpindah ke jalur Sukhumvit Line menuju  Phaya Thai. Di stasiun Phaya Thai kemnudian disambung naik ARL Phaya Thai – Ramkamhaeng.

Peta transportasi di Bangkok

Peta transportasi di Bangkok

Sebelum kembali ke hotel Saya membeli nasi putih seharga THB 5 sebagai peneman lauk sambal goreng tempe yang Saya bawa dari Indonesia. Saya baru tahu juga kalau ternyata nasi di Thailand itu ada jenis nasi putih, mereka menyebutnya white rice, dan nasi ketan atau sticky rice. Sayangnya Saya membeli nasi ketan yang terpaksa saya makan bersama tempe. Nasinya keras dan gurih tapi rasanya kurang cocok dengan lauk masakan Ibu Saya. But anyway, hari pertama di Bangkok benar-benar luar biasa. Dari semula no-plan-to-do ternyata malah bisa mengunjungi beberapa tempat sekaligus. Saatnya beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk hari kedua di City of Angels .

Satu tips untuk memudahkan berkomunikasi ketika berada di Thailand. Saya membeli sim card Happy Tourist yang banyak dijual di 7-eleven. Harga perdananya hanya THB 30 dan langsung saya  top up sebanyak THB 360 untuk paket internet smartphone. Agar hemat, Saya hanya beli satu nomor saja kemudian saya gunakan fasilitas thethering hotspot­ agar teman saya dapat menikmati fasiltas intenetan dengan wifi yang diambl dari sinyal HP Saya. Dengan begini, harga perdana dan paket  internet dapat dibagi dua orang dan lebih efisien untuk berkomunikasi.

Pengeluaran Hari ke-2

Pengeluaran Hari ke-2

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 10 Comments

Jalan-Jalan ke Bangkok Hari ke-1 (Prolog)

Salam traveling!

 Nampaknya Thailand mulai menjadi magnet   dalam industri wisata di Asia Tenggara: kuil-kuil cantik, makanan lezat, barang-barang murah dan masih banyak hal lainnya dari sebuah negara berbentuk monarkhi ini. Walaupun masih tergolong negara berkembang, Bangkok sebagai Ibu Kota Thailand dengan segala keunikannya mampu menarik minat banyak traveler untuk mengunjungi dan menikmati setiap jengkal eksotisnya kota yang disebut Khrung Tep atau kota malaikat oleh warga lokal. Saya berkesempatan mengunjungi Bangkok pada tanggal 20-24 November 2013 lalu, berikut cerita selengkapnya.

Grand Palace Bangkok

Grand Palace Bangkok

Rencana perjalanan Saya ke Bangkok kali ini berawal dari ajakan teman yang memprovokasi untuk memesan tiket promo Tiger Mandala pada bulan April 2013. Kala itu ada penawaran promo rute CGK-BKK-CGK mulai Rp 700.00, tetapi karena terlalu lama berdebat beli atau tidak, kami mendapatkan harga Rp 1.000.000 pulang pergi. Sengaja Saya memilih jadwal keberangkatan yang agak lama (kurang lebih enam bulan) untuk berkunjung ke Bangkok. Pikir Saya, yang penting dapat dulu tiket dari Jakarta menuju Bangkok. Hingga pada bulan Agustus ada promo tiket dari Citilink yang waktu itu sedang mempromosikan pesawat terbarunya dan memberikan harga spesial rute SUB-CGK seharga Rp 55.000 sekali jalan. Alhamdulillah Saya mendapat tiket promo tersebut dan berangkat tepat satu hari sebelum keberangkatan dari Jakarta menuju Bangkok.

Uang Baht

Uang Baht

Long story short, tanggal 19 November saya berangkat menuju Jakarta dari Surabaya dengan menggunakan pesawat Citilink. Sengaja Saya pilih penerbangan terakhir agar bisa bermalam di Soekarno-Hatta menantikan pesawat ke Bangkok keesokan harinya. Pesawat Citilink mendarat di Terminal 1 CGK tepat jam 23.30.  Saya segera menunggu shuttle bus antar terminal yang disediakan oleh pihak bandara. Bus berwarna kuning beroperasi 24 jam dengan waktu kedatangan di setiap terminal antara 10-15 menit. Benar saja, setelah bertanya petugas lokasi drop point, bus gratis yang saya tunggu datang juga. Walaupun sudah menjelang tengah malam, masih banyak sekali penumpang yang menggunakan fasilitas ini. Perlu diketahui bahwa maskapai Tiger, Air Asia dan Batik Air berada di Terminal 3. Kabarnya beberapa maskapai termasuk ketiganya ini akan dipindahkan ke Halim Perdana Kusuma pada tahun 2014.

Papan Tunggu Shuttle Bus CGK T1

Papan Tunggu Shuttle Bus CGK T1

Bisa dikatakan T3 CGK lebih nyaman dan lebih bagus dari T1. Kesibukan penumpang masih terlihat hingga larut malam. Saya memutuskan untuk bermalam di visitor area yang terletak di lantai 2 terminal. Di sini terdapat kursi-kursi yang dapat digunakan untuk tidur dan beberapa televisi  untuk pengunjung yang ingin mendapatkan hiburan. Saya segera menggabungkan dua kursi dan menyandarkan tubuh yang agak letih.

Jam 4.30 saya terbangun langsung ke mushola yang terletak di lantai 1. Setelah travelmate Saya tiba di T3, kami segera melakukan check in di konter Tiger yang sudah ramai antrian penumpang. Sebagai low cost carrier, Tiger rupanya tidak ingin kalah dalam memberikan pelayanan yang masksimal kepada penumpangnya. Selesai semua proses dari check in, imigrasi, waiting,  dan boarding pesawat lepas landas tepat jam 7 pagi menuju Bangkok. Saatnya menikmati 3 jam 30 menit diatas ketinggian 36.000 kaki.

Kursi di Terminal 3 yang dapat digunakan untuk tidur satu malam

Kursi di Terminal 3 yang dapat digunakan untuk tidur satu malam

Pukul 10.30 pesawat RI 900 mendarat dengan lancar di Bandara Suvarnabhumi. Dari kejauhan terlihat desain bandara yang unik dan siap menyambut kedatangan pertama Saya ke Bangkok ini. Suvarnabhumi memang merupakan bandara Internasional terbesar di Thailand yang didesain ramah lingkungan sebab diatapnya menggunakan kanopi kaca berbentuk melengkung, dengan begitu konsumsi listrik untuk lampu pada siang hari pun jauh lebih sedikit dibandingkan malam hari. Hal pertama yang Saya lakukan adalah mencari fasilitas wifi gratis bandara. Wifi gratis memang tersedia namun terlebih dulu meminta ID di bagian informasi dengan menunjukkan paspor. Setiap pengunjung diberikan ‘jatah’ wifi gratis selama satu jam.

Suvarnabhumi Airport (source: lastminute.com)

Suvarnabhumi Airport (source: lastminute.com)

Menuju ke kota Bangkok dari Suvarnabhum sangatlah mudah dan beragam pilihan transportasinya. Naik taxi menjadi pilihan yang tepat jika berkunjung ke Bangkok bersama lima orang. Ongkos taxi di Bangkok tidak terlalu mahal, hanya saja pada jam-jam sibuk, lalu lintas Bangkok akan sangat padat. Karena Saya hanya berdua pilihan menuju ke kota jatuh pada ARL (Airport Rail Link). Ada 3 macam ARL yang yaitu Phaya Thai Express, Makkasan  Express, dan City Line. Kereta express adalah jenis kereta yang hanya berhenti di stasiun akhir saja dan berangkat setiap jam, misalnya Phaya Thai Express yang langsung berhenti di Stasiun Phaya Thai dengan waktu tempuh hanya 20 menit seharga THB 90. Jenis kereta City Line adalah kereta yang berhenti dibeberapa stasiun dulu sebelum menuju stasiun akhir dengan waktu tempuh lebih lama tetapi dengan harga lebih murah pula antara THB 15-55.

clock wise: arrival Suvarnabhum - board sign to ARL - Waiting Area of ARL - Information Centre ARL

clock wise: arrival Suvarnabhum – board sign to ARL – Waiting Area of ARL – Information Centre ARL

Hotel yang kami pesan terletak ditengah-tengah rute, sehingga kami memutuskan untuk naik ARL City Line menuju stasiun Ramkamhaeng dengan biaya tiket sebesar THB 30. Dari bandara menuju hotel membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Keluar dari stasiun Ramkamhaeng Saya langsung bisa melihat papan nama hotel yang saya tuju, Nasa Vegas Hotel. Saya memesan hotel melalui Agoda yang waktu itu memberikan harga promo yang sangat murah. Saya mendapatkan harga Rp 581.143 untuk 4 malam, harga tersebut termasuk diskon 7% karena menggunakan kartu kredit Mandiri.

Nasa Vegas

Hotel Nasa Vegas persis di depan pintu keluar Stasiun Ramkamhaeng

Saya datang sebelum waktu check in sehinga Saya haya menitipkan tas dan menumpang toilet saja, setelah ini kami akan segera mengeksplorasi kota Bangkok selama 5 hari 4 malam. Sawasdee khrap…

Pengeluaran pre-departure

Pengeluaran pre-departure

Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: