Posts Tagged With: jalan-jalan tanpa kartu kredit

Liburan Tahun Baru di Tokyo: Ropponggi, Odaiba, dan Fish Market

Patung Liberty versi Jepang di Odaiba

Patung Liberty versi Jepang di Odaiba

Maaf, kamu salah jika mengira foto di atas adalah Patung Liberty di New York. Slightly similar but it’s not. Itu adalah miniatur Liberty yang berada di Odaiba, Jepang.

Pergantian malam tahun baru di Jepang ternyata hanya dilewati begitu saja tanpa kembang api dan tanpa keramaian di tengah kota. Saya kembali ke penginapan (Masjid Asakusa) sekitar pukul 11 malam dan tidak ada tanda-tanda orang akan berkumpul di luar untuk merayakan tahun baru. Semua orang sepertinya sudah asyik berkumpul bersama keluarga di rumah, menyantap hidangan khas sambil menonton acara musik di televisi. Teman saya bercerita bahwa Senseinya bertanya mengapa dia tidak pulang kampung saat tahun baru sambil berkata “kasihan sekali…”. Dalam hati teman saya menjawab, “lebih kasihan kalau lebaran ngga bisa pulang, Sensei”.

Hachiko

Hachiko

Bangun keesokan harinya, saya melihat jalanan di sekitar Asakusa masih lengang dan sepi. Tidak ada aktivitas yang signifikan karena semua orang masih menikmati liburan hingga tanggal 4 Januari. Hari ini rencana saya adalah ke Odaiba dan bertemu kakak kelas SMA yang sedang mengambil master di Tokyo. Kami memutuskan untuk bertemu di Hachiko mengingat beberapa tulisan merekomendasikan titik ini sebagai lokasi yang paling sering dijadikan meeting point. Saya ragu bagaimana tempat seramai Shibuya bisa dijadikan lokasi ketemuan? Pertanyaan saya terjawab seketika saya sampai di Hachiko. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, tanggal 1 pagi Shibuya masih sepi dan sedikit sekali yang berfoto. Jadi keputusan untuk bertemu disini sangat tepat.

Sebelum menuju Odaiiba, saya bertanya kepada teman saya dimana bisa melihat Doraemon dan Nobita. Keinginan untuk mengunjungi Museum Fujiko di Kawasaki terpaksa kandas, karena tempat itu juga tutup selama libur  fuyu. Kemudian, teman saya merekomendasikan untuk mengunjungi Asahi TV di distrik Ropponggi, tempat serial kartun Doraemon ditayangkan.

Asahi TV

Searah jarum jam: Tokyo Tower dilihat dari Roppongi Hills, Nobita no Heya, Tetsuko Kuroyanagi, Doraemon

Searah jarum jam: Tokyo Tower dilihat dari Roppongi Hills, Nobita no Heya, Tetsuko Kuroyanagi, Doraemon

Lagi-lagi saya harus bilang bahwa Asahi TV tentu bukanlah tujuan wisata ya. Hanya saja saya ingin bertemu dengan tokoh idola saya semasa kecil. Di tengah perjalanan menuju gedung Asahi TV di distrik Ropponggi, saya dapat melihat salah satu landmark Tokyo yang terkenal yaitu Tokyo Tower. Tiba di gedung televisi, saya dapat melihat ada sesosok figur Doraemon yang langsung menyambut. Menyenangkan sekali sebab gedung kantor tersebut tetap dibuka untuk umum meskipun tanggal merah. Di lobi gedung ada beberapa patung doraemon dengan berbagai gaya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Nobita no Heya (のび太の部屋) alias kamarnya Nobita. Sebuah diorama yang menggambarkan kamar Nobita lengkap dengan meja belajar dan lemari, serta Nobita dan Doraemon yang sedang tidur siang. Serunya lagi, pengunjung boleh masuk ke diorama dan foto di kamar Nobita. Selain menampilkan serial terfavorit Asahi TV, di lobi gedung juga terdapat toko souvenir yang menjual barang-barang berkonsep Doraemon.

Rute: Dari Shibuya kami naik metro Ginza line tujuan Aoyama Itchome, dari sini pindah jalur kereta Oedo line tujuan Ropponggi. Karena tiket yang saya beli hari itu hanyalah tiket terusan Metro One Day pass seharga ¥600, maka saya harus membayar biaya tambahan untuk pindah ke jalur kereta Oedo kereta turun di stasiun Roppongi tidak jauh dari Asahi TV dan Ropponggi Hills.

(foto orang bakar ikan di tsukiji)

Tsukiji Fish Market

Pedagan ikan bakar di Tsuiki Fish Market

Pedagan ikan bakar di Tsuiki Fish Market

Dari Ropponggi saya melanjutkan perjalanan ke pinggiran kota Tokyo yaitu Tsukiji Fish Market. Tempat ini adalah pasar ikan terbesar yang terletak di pesisir teluk Tokyo. Namanya saja pasar ikan, yang dijual sudah pasti beragam jenis ikan dan hasil tangkapan laut lainnya. Tidak heran jika pasar ini selalu ramai pengunjung karena ikan merupakan bahan utama untuk membuat berbagai makanan seperti sushi, sashimi, dan sop ikan. Tempatnya bersih, tidak becek, dan tidak bau amis seperti pasar ikan pada umumnya. Mungkin karena inilah, Tsukiji Fish Market menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Jepang. Pasar ikan ini masih sangat sepi saat tahun baru (tanggal 1 Januari), hanya ada beberapa penjual yang masih membuka dagangannya. Tetapi beruntung saya masih bisa merasakan geliat perdagangan ikan di sini dimana beberapa penjual memberikan sampel gratis daging ikan atau olahan cumi yang sudah diolah menjadi abon. Di beberapa sisi jalan juga ada penjual yang sedang memanggang sotong dan ikan bakar, bau asapnya membuat perut mendadak keroncongan. Saya juga melihat antrian yang cukup panjang di kedai-kedai sushi yang buka. Meski tergolong sepi saat tahun baru, antusiasme wisatawan untuk makan sushi dan sashimi yang fresh dari laut masih tinggi juga ya. Kalau hari biasa pasar buka secara penuh pasti antriannya akan semakin panjang.

Rute: Dari Ropponggi saya naik Oedo line tujuan Tsukijishijo. Kemudian saya melanjutkan jalan kaki sekitar 1 km menuju pasar Tsukiji.

Odaiba (お台場)

Rainbow Bridge saat siang dan malam hari

Rainbow Bridge saat siang dan malam hari

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, artinya saya harus segera menuju ke Odaiba. Saya rencanakan bisa sampai di sana sebelum hari gelap untuk mengejar senja. Pulau ini dulunya adalah benteng buatan yang dibangun pada jaman Edo abad ke-17. Seiring berkembangnya jaman, pemerintah Jepang membangun pulau ini sebagai pulau yang modern dan futuristik. Odaiba memang beda dengan distrik lain di Tokyo sebab di sini hanya sedikit penggunanaan tulisan kanji sebagai penunjuk jalan. Hampir semua penunjuk dan tulisan di pulau ini menggunakan bahasa Inggris. Beberapa tempat yang terkenal di Odaiba adalah Fuji TV yang merupakan “rumah” dari serial Digimon dan Chibi Maruko-Chan. Ada juga Aqua City, sebuah pusat perbelanjaan yang menawarkan berbagai macam kebutuhan. Di sana juga terdapat Warung Surabaya yang menjual makanan khas Indonesia.

Gundam Actual Size di depan Diver City, Odaiba, Tokyo

Gundam Actual Size di depan Diver City, Odaiba, Tokyo

Ada dua hal yang menjadi alasan saya menyempatkan diri main ke Odaiba. Pertama adalah Jembatan Pelangi alias Rainbow Bridge. Tepat sekali datang ke Odaiba sebelum hari gelap untuk mendapatkan pemandangan jembatan yang sekilas mirip dengan Golden Bridge di San Fransisco. Ketika hari sudah gelap lampu jembatan akan dinyalakan dan memberikan nuansa pelangi pada jembatan sepanjang 798 meter ini. Di lokasi ini pula dibangun miniatur patung Liberty yang tersohor dari Amerika. Kedua, adalah figur Gundam 1:1 yang terletak di depan Divericity Tokyo Plaza. Dinamakan Gundam 1:1 karena memang robot ini tingginya sama persis dengan Gundam yang asli (actual size). Pada pukul lima sore, Gundam akan menyala dan menggerakkan kepala serta tangannya sambil diiringi soundtrack serial Gundam yang populer hingga sekarang.

Rute: Ada beberapa pilihan transportasi menuju Odaiba; Yurikamone line, Rinkai Line, dan kapal. Saya sendiri memilih naik Yurikamone Line sebab hanya kereta ini yang melintas di atas Rainbow Bridge. Kereta Yurikamone dapat diakses melalui stasiun Shiodome (terkoneksi dengan Toei-Oedo Line) dengan tiket seharga ¥320 sekali jalan.

Pemandangan dari balik jendela kereta Yurikamone melintasi gedung pencakar langit dalam perjalanan menuju Odaiba

Pemandangan dari balik jendela kereta Yurikamone melintasi gedung pencakar langit dalam perjalanan menuju Odaiba

Tips: Naik Yurikamone line dari Shiodome paling seru jika mengambil posisi duduk paling depan. Kereta ini sepertinya sudah terkomputerisasi sehingga tidak perlu ada masinis. Pemandangan yang dapat dilihat sangat menakjubkan karena sepanjang perjalanan saya bisa melihat kereta membelah gedung pencakar langit dari balik jendela kereta yang lebar. Pemandangan akan semakin menarik ketika kereta melintasi jembatan di atas sungai dan memperlihatkan Odaiba yang modern dari kejauhan. Stasiun Daiba, stasiun terdekat dengan Aqua City, bukanlah tujuan akhir kereta. Yurikamone menlanjutkan perjalanan hingga ke Toyosu. Jadi pastikan tidak salah turun saat naik kereta karena terpukau dengan pemandangannya,

Advertisements
Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Jalan-Jalan ke Tokyo yang tak Terduga saat Tahun Baru

Salah satu sudut iluminasi di daerah Shinjuku

Salah satu sudut iluminasi di daerah Shinjuku

Liburan tahun baru saat musim dingin pasti sangat menyenangkan ya? Di Jepang, libur tahun baru disebut “fuyu yasumi” (冬休み) atau libur musim dingin yang dimulai tanggal 28 Desember – 4 Januari. Hampir semua penduduk dari siswa sekolah hingga pekerja kantoran di silakan berlibur dan mudik ke kampung halaman masing-masing. Bagi kebanyakan mahasiswa asing yang sedang kuliah di Jepang, momen ini dimanfaatkan untuk jalan-jalan mengunjungi daerah lainnya. Liburan kala itu saya memilih jalan-jalan ke Tokyo mengisi winter break selama beberapa hari.

Rombongan Mahasiswa Indonesia dalam Satu Gerbong Kereta menuju Tokyo

Rombongan Mahasiswa Indonesia dalam Satu Gerbong Kereta menuju Tokyo

Dari Kyoto saya berangkat ke Tokyo bersama rombongan mahasiswa Indonesia yang akan mengikuti Daurah Di Masjid Asakusa. Seperti catatan saya di sini, perjalanan tersebut ditempuh menggunakan kereta lokal dengan “Juhachi Kippu”. Satu lembar kippu seharga ¥11.500 bisa digunakan hingga 5 orang dalam 1 hari perjalanan. Jadi, setiap orang cukup membayar ¥2.300 yen sekali jalan dari Kyoto ke Tokyo. Jangan berharap perjalanan akan cepat seperti naik Shinkansen sebab tiket ini mengharuskan saya untuk berpindah-pindah kereta hingga tujuan terakhir. Dari Stasiun Kyoto berangkat jam 7 pagi tiba di Stasiun Tokyo jam 7 malam. Waktu 12 jam tersebut termasuk estimasi pindah jalur kereta dan 1 jam untuk ishoma di tengah perjalanan.

 Baca juga: Pilihan Transportasi Antar Kota di Jepang (Tokyo-Kyoto)

Saya menghabiskan waktu lima malam di Tokyo; empat malam di Masjid Asakusa dan satu malam di Capsule Hostel daerah Asakusa. Masjid Asakusa atau Darul Arqam Mosque terletak tak jauh dari pusat Asakusa. Ada dua stasiun terdekat dari masjid ini yaitu stasiun Metro-Asakusa (Ginza Line) dan Metro-Minami Senju (Hibiya Line). Alih-alih bangunan masjid yang megah dan berkubah, masjid ini lebih mirip ruko setinggi empat lantai. Lantai 1 untuk kantor, lantai 2 tempat sholat wanita, lantai 3 tempat sholat pria, dan lantai 4 dapur serta gudang. Di rooftop terdapat kubah kecil sebagai penanda masjid. Kabarnya sih, dulu masjid ini sering dipakai untuk mengiap wisatawan muslim (mungkin kebanyakan wisatawan Indonesia) yang akan megejar penerbangan pagi dari Narita. Tetapi hal itu sudah tidak diperbolehkan lagi oleh pengurus masjid. Masjid dibuka seharian penuh untuk beribadah dan tutup malam harinya.

Dalam catatan jalan-jalan ke Tokyo ini akan saya tuliskan beberapa tempat yang pernah saya kunjungi selama fuyu yasumi. Saya ceritakan juga pengalaman seru dan pertama kalinya merasakan tahun baru Di Tokyo yang ternyata …… (nanti baca sendiri).

Sumida-gawa (隅田川)

Matahari terbit di tepi Sungai Sumida

Matahari terbit di tepi Sungai Sumida

Meskipun bukan tempat wisata, tidak ada salahnya menyusuri tepian Sungai Sumida yang merupakan salah satu sungai terbesar di Tokyo. Salah satu spot terbaik untuk menikmati sungai terletak tak jauh dari Asakusa Mise. Dari tepian Sumidawa-gawa saya bisa melihat Tokyo Skytree yang menjulang di seberang sungai. Pada saat musim dingin matahari terbit lebih lambat. Sekitar pukul 6 pagi saya berjalan-jalan sambil menikmati matahai terbit. Wah, pemadangannya benar-benar luar biasa cantik. Sumidagawa yang berkilauan, matahari yang sedikit menghangatkan, siluet Skytree yang mempesona, dan angin musim dingin yang bertiup kencang. Di sekitar sungai terdapat taman bermain yang dapat digunakan untuk duduk santai sambil menikmati secangkir minuman hangat dari konbini terdekat.

Shibuya Cross-section

Shibuya (sebelum dan sesudah

Shibuya (sebelum dan sesudah

Selesai agenda hari pertama, saya dan teman-teman pergi ke salah satu must-see object di Tokyo yaitu perempatan Shibuya. Namun, pilihan untuk datang ke Shibuya demi berfoto bersama Hachiko nampaknya sia-sia karena jelang tahun baru jalanan sangat ramai. Banyak sekali wisatawan dari Asia terutama Cina dan Taiwan yang memenuhi area tersebut. Antriannya sangat panjang untuk bisa berfoto bersama patung anjing setia tersebut. Tidak sukses di hari pertama, Saya mencoba foto dengan Hachiko tepat pada tanggal 1 Januari pagi. Diluar dugaan, Shibuya yang biasanya tidak pernah lengang menjadi begitu sepi dan hening. Di leher patung Hachiko pun dikalungkan jimat atau hiasan tahun baru khas masyarakat Jepang. Perut kami sudah mulai lapar ketika tiba di Shibuya, kami memutuskan untuk mencari makan malam. Pilihan kami jatuh pada Ramen halal di Narita-ya.

Baca juga: Halal Food In Tokyo, Kyoto, and Osaka Beberapa Alternatif Tempat Makan bagi Pelancong Muslim)

Ueno Park (上の公園)

uenoAgenda hari kedua berakhir lebih cepat daripada hari pertama. Hari itu saya berkunjung ke Ueno Park, sebuah taman kota dengan kebun binatang di dalamnya. Sepertinya lokasi ini selalu dibahas di setiap cerita jalan-jalan ke Jepang. Memang santai sekali lho menghabiskan sore hari di taman ini. Tamannya luas dan aksesnya mudah dicapai dengan moda transpotasi apapun. Sedikit cerita menarik saat mengunjungi Ueno Park. Salah satu teman saya hampir lupa kalau dia belum sholat ashar. Kemudian dia menggelar jaket sebagai alas sholat di tepian taman. Orang-orang sekitar yang melihat hal ini nampaknya tidak keberatan ya ada seorang muslim yang melaksanakan ibadah di tempat umum? Keberadaan Jepang sebagai negara yang moslem-friendly memang terbukti dan semoga terus berkembang menjadi lebih baik. Perjalanan kami lanjutkan kembai, dari Ueno kami pergi ke salah satu masjid terbesar yang ada di Jepang, Tokyo Camii Mosque.

Baca juga: Panduan Transportasi Keliling Tokyo

Tokyo Cami Mosque

Tokyo Camii Mosque

Tokyo Camii Mosque

Sebenarnya ini bukan tujuan wisata sih tapi begitu mendengar bahwa di Tokyo ada masjid yang bernuansa Turki saya jadi ingin menyaksikan secara langsung. Tokyo Camii Mosque masih terletak di kawasan Shibuya tepatnya di distrik Choyama. Saya tiba di sana saat masuk waktu Maghrib dan menunggu di sana hingga waktu sholat Isya selesai. Arsitekturnya mirip dengan bangunan dari Turki (walaupun saya belum ke Turki sih), kubah warna biru serta menara yang terlihat dari kejauhan. Sepintas memandangi masjid ini membuat saya lupa bahwa saya masih menginjakkan kaki di negeri matahri terbit. Selepas sholat isya’ kami menuju ke lantai bawah masjid. Di lantai ini terdapat berbagai macam pernak pernik khas Turki yang unik seperti gelang, piring-piring, sajadah, dan lain-lain. Selain itu, terdapat kedai kecil yang menjual makanan halal. Sayangnya, karena sedang tahun baru kedai tersebut tutup sehingga tidak bisa menyediakan makanan untuk mengisi perut kami yang kosong. Sebagai gantinya kami membeli mie gelas halal yang bisa langsung dimakan disana. Mengetahui bahwa penjaga kedai dan toko souvenir adalah orang Turki, saya sempat mengucapkan “Tesekkur ederim” atau terima kasih dalam Bahasa Turki. Kami pun berbincang sebentar dan merasa senang karena perkembangan muslim di Jepang sudah cukup bagus.

Rute: Dari Shibuya naik Ginza line turun di Omote-Sando, kemudian berpindah ke Chiyoda line dengan tujuan Yoyogi Uehara. Dari stasiun Yoyogi Uehara tinggal menyusuri jalan menanjak sampai ujung hingga belok ke kanan. Dari situ sudah bisa melihat kubah masjid dengan jelas.

lorong-shinjuku-stationShinjuku (新宿区)

Dari Camii Mosque kami menuju Shinjuku, salah satu distrik yang dipadati gedung-gedung pencakar langit. Daerah ini merupakan daerah perkantoran dan pusat bisnis Kota Tokyo. Bisa dikatakan wajib  mengunjungi Shinjuku pada saat musim dingin karena ada banyak titik “illumination” alias lampu warna-warni yang semakin menambah kemeriahan Tokyo di akhir tahun. Tetapi perkiraan keramaian itu sirna saat kami tiba di Stasiun Shinjuku. Stasiunnya sepi, semua toko sudah tutup, dan hanya sedikit orang Jepang yang berlalu-lalang. Ketika itu saya ingat sekali tanggal 31 Desember, semua aktivitas di luar rumah berakhir sekitar pukul lima sore. Rencana kami untuk naik ke Tokyo Government Building pupus sudah karena kantor ditutup selama fuyu yasumi.  Sepanjang lorong stasiun Metro, yang saya perkirakan sangat padat pada hari-hari biasa, nampak kosong. Jika dibayangkan, malam tahun baru bagi masyarakat Jepang itu mirip dengan tradisi malam takbiran di Indonesia dimana masyarakat berkumpul di rumah bersama keluarga masing-masing. Hanya bedanya, di Indonesia masih banyak pusat perbelanjaan dan toko yang buka hingga tengah malam dengan diskonbesar-besaran. Kalau di Jepang sendiri, diskon besar-besaran justru ada setelah pergantian tahun yang akan saya ceritakan di bagian berikutnya.

 

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , | 7 Comments

Catatan Perjalanan ke Jepang, Menikmati Kyoto yang Kuno (Bagian 3/3)

Togetsuko Bridge Arashiyama

Togetsuko Bridge Arashiyama

Arashiyama (嵐山) & Togetsukyo Bridge (渡月橋)

Pindah ke kawasan barat Kyoto, Arashiyama menjadi salah satu destinasi terfavorit wisatawan. Salah satu objek wisata paling banyak dikunjungi adalah Tenryuji Temple (天竜寺) yang juga dinobatkan sebagai salah satu warisan budaya versi UNESCO. Bisa dikatakan bahwa kuil Zen ini adalah kuil terpenting di distrik Arashiyama. Apalagi, kuil Tenryuji adalah satu-satunya kuil yang terhubung langsung dengan sekolah Budha. Distrik Arashiyama juga terkenal dengan jembatan Togetsukyo yang membentang di atas Sungai Katsura (桂川). Pemandangan dari jembatan ini juga tak kalah menakjubkan. Perpaduan aliran sungai yang jernih dan cukup deras dengan latar bukit, dan birunya langit membuat siapa saja pasti terpana dibuatnya. Jangan lewatkan pula untuk naik tricycle alias becak sambil berkeliling Arashiyama. Penampilan para penarik becak ini juga terlihat sangat menarik. Rata-rata penarik becaknya masih muda dan cocok sekali jadi aktor dorama. Diantaranya ternyata ada pula yang berstatus sebagai mahasiswa sambil melakukan pekerjaan paruh waktu sebagai penarik becak. Tak kalah nikmat jika kita membawa bekal saat datang ke Arashiyama. Waktu itu Saya bawa bekal sederhana nasi lauk mi goreng (khas orang Indonesia sekali ya hehehe) dan telur ceplok. Saya makan bekal di pinggir sungai Katsura sambil diterpa angin musim dingin yang lumayan bikin merinding. Tidak lupa juga saya bawa termos kecil air jahe hangat. Wah…rasanya benar-benar nikmat sekali.

Jam Operasional              : Pukul 08.30-17.00 (Tenryuji Temple)

Tiket Masuk                       : ¥500 (Rp60.000)

Panduan                             : Dari Stasiun Kyoto bisa naik bus No. 72 atau 73 (halte C6) langsung menuju ke halte Arashiyama. Bisa juga naik kereta dari Stasiun Kyoto mengambil Arashiyama JR yang menuju Saga Arashiyama dengan ongkos ¥240. Togetsukyo tepat berada di halte terakhir Arashiyama sedangkan Tenruji temple ambil belok kanan di persimpangan jembatan. Jika naik kereta dan turun di Saga Arashiyama, Tenryuji temple tepat berada di seberang stasiun.

 

Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Jepang | Tags: , , , , , , , , , , , , , | 6 Comments

Jalan-Jalan ke Melaka, a 24-hrs Journey that Blow Your Mind Up

Dataran Merdeka

Dataran Merdeka

Melaka (Malacca) sudah menjadi top list Saya sejak beberapa tahun yang lalu. Rasa penasaran akan kota yang katanya sangat kental dengan peninggalan bersejarahnya, mebawa saya berkunjung ke sana tidak lama ini. Walaupun tak lebih dari 24 jam menikmati kota seluas 1600 km persegi ini, rasa penasaran saya terjawab sudah.  Saya berangkat dari Kuala Lumpur (Terminal Bersepadu Selatan) menuju Melaka pukul 10 pagi naik bus Metro seharga RM 10 (Rp 35.000). Perjalanan memakan waktu 2 jam hingga tiba di terminal Melaka Sentral. Dari Melaka Sentral ada banyak bus yang menuju banyak lokasi ke seluruh area kota.

Salah satu (atau mungkin satu-satunya) bus dalam kota yang beroperasi di Melaka adalah Panorama Bus. Bus ini berwarna dominan merah dengan ongkos antara 1-2 ringgit sekali jalan tergantung jarak tempuh. Saya naik bus Panorama nomor 17 yang langsung membawa penumpang ke dataran merah atau Stadhuyst, landmark  paling terkenal karena bangunan merahnya banyak dipajang dimana-mana. Memang tidak semua tempat wisata bisa dikunjungi dalam waktu yang sangat singkat. Tapi tidak mengapa, jika hanya punya waktu yang terbatas pun tetap bisa keliling ke tujuan-tujuan utamanya saja.

Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Malaysia | Tags: , , , , , , , , , , , , | 5 Comments

Tips: Naik Bus Melintasi Malaysia-Singapura (bagian 2-tamat)

Terminal Bersepadu Selatan Kuala Lumpur (courtesy: webiste TBS)

Kuala Lumpur-Melaka

TBS buka selama 24 jam penuh. Tidak perlu khawatir jika tiba di sana saat masih dini hari. Tiga kali naik bus Singapura-KL, tiga kali pula Saya numpang tidur di TBS. Salah satu keuntungan menuju Melaka dari TBS adalah bus, frekuensi berangkat, dan harga yang bervariasi. Dibandingkan dengan terminal lainnya di KL, TBS  yang fokus pada penyediaan layanan bus antar kota bagian selatan Malaysia sangat memudahkan calon penumpang yang hendak menuju Melaka.

Tips: Jika Anda berrencana mengunjungi KL dulu baru Melaka seperti Saya, sebaiknya langsung beli tiket bus ke Melaka di konter untuk keberangkatan esok hari atau menyesuaikan dengan jadwal. Pembelian di awal untuk mengantisipasi kehabisan tiket terutama pada akhir pekan dimana penumpang biasanya sangat ramai.

Bus yang Saya tumpangi adalah Metrobus, salah satu PO yang melayani rute KL-Melaka. Tiket sekali jalan hanya MYR 10. Meskipun murah tapi kualitas bus tidak murahan. Tidak senyaman Konsortium memang tapi lebih dari cukup mengingat bus yang berisi 40 bangku ini murah harga tiketnya. Perjalanan dari TBS Kuala Lumpur menuju Melaka memakan waktu kurang lebih dua jam, tidak kurang tidak lebih. Satu hal yang Saya sukai bahwa supir bus di sana tidak ugal-ugalan. Walaupun jalanan lengang, bus tidak dikendalikan melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan. Jalan tolnya pun halus tidak beregelombang dan sangat lengang. Kalau sudah begini tidak ada alasan untuk tidak tidur selama perjalanan, toh pemandangan sepanjang jalan tidak lebih dari kebun kelapa sawit.

Tips: Pastikan untuk datang dan siap di pintu keberangkatan bus 30 menit sebelum jam berangkat. Bus di KL sangat tepat waktu baik keberangkatan maupun kedatangannya. Di tiket suda tertera di pintu berapa bus akan berangkat. Selain itu, datang lebih awal akan memudahkan penumpang mengingat TBS lebih besar daripada Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Bus akan berhenti di terminal Melaka Sentral. Di dalam terminal banyak warung makan seperti di terminal pada umumya. Harganya pun relatif terjangkau, cukup untuk mengganti energi yang hilang selama perjalanan. Jika tujuan langsung ke destinasi wisata Melaka di daerah Bangunan Merah, maka carilah pintu keberangkatan domestik (dalam kota) dan naik bus Panorama No. 17. Panorama adalah nama bus resmi yang beroperasi di Kota Melaka. Bus berwarna merah dengan nomer-nomer tertentu penanda tujuan yang dilewati. Ongkos sekali naik dari Melaka Sentral menuju Bangunan Merah sebesar MYR 1,5.

Continue reading

Categories: Jalan-Jalan, Malaysia, Singapura | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: