Posts Tagged With: mrt

Transportasi di Bangkok: dari MRT hingga Ojek Motor

Peta Transportasi Bangkok (courtesy: Bangkok.com)

Berdasarkan data INRIX Inc, Bangkok merupakah salah satu negara yang memiliki tingkat kemacetan terparah dengan rerata 64.1 jam setahun. Itu artinya, pengguna jalan di Bangkok menghabiskan lebih dari 60 jam  secara sia-sia. Meski tingkat kemacetan sangat tinggi, Bangkok adalah salah satu negara yang banyak menawarkan alternatif transportasi seperti MRT, bus kota, hingga ojek motor. Setidaknya ada delapan moda transportasi yang pernah saya gunakan selama di Bangkok, berikut adalah ulasannya.

  1. Airport Rail Link (ARL)

Jalur SA City Line (source: http://suvarnabhumiairport.com/)

Airport Rail Link menghubungakan Bandar Udara Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok yang berjarak 30 km. Suvarnabhumi Airport (SA) City Line berhenti di enam stasiun antara lain; Lat Krabang,  Ban Thap Chang, Hua Mak, Ramkamhaeng, Makkasan, dan Ratchaprarop, sebelum tiba di pemberhentian terakhir yaitu Phayathai dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Tarif SA City Line bervariasi antara 25-45 baht sekali jalan bergantung jarak.

ARL beroperasi mulai pukul 6 pagi hingga tengah malam dengan frekuensi 10-15 menit sekali. Menggunakan ARL dari dan ke bandara terjangkau bagi pejalan yang bepergian berdua dan tidak membawa barang atau koper terlalu banyak. Jika bepergian dalam rombongan lebih dari tiga orang dan membawa banyak barang dapat mempertimbangakan untuk naik taksi dengan ongkos sekitar 300 baht hingga ke hotel tujuan di daerah kota. Stasiun SA City Line terletak di lantai paling bawah (1st level) Bandara Suvarnabhumi.

 

  1. Bangkok Train System (BTS)

Bangkok Sky Train (source: http://www.bangkok.com/)

BTS memiliki dua rute yaitu Sukhumvit Line dan Silom Line. Sukhumvit Line terbentang dari utara, Stasiun Mo Chit yang merupakan stasiun terdekat dengan Chatuchak, hingga ke timur tepatnya di Stasiun Bearing. Setiap stasiun diberi kode N untuk utara dan E untuk timur, dengan 1 kode angka yang meunjukkan urutan stasiun. Silom Line terbentang dari barat, Stasiun National Stadium yang dekat dengan MBK/Siam, hingga ke selatan berakhir di stasiun Bang Wa. Kode untuk setiap stasiun menggunakan huruf W untuk barat dan S untuk Selatan.

Tarif menggunakan BTS berkisar antara 20-55 baht sekali jalan. Beberapa stasiun populer selain Mochit dan National Stadium diantaranya adalah; Central (CEN) tepat di persimpangan Siam (Siam Center, MBK, Paragon), Saphan Thaksin (S6) dermaga perahu ke Grand Palace, Ratchadewi (N1) terdekat dengan KBRI di Bangkok, Phayathai (N2) terhubung dengan ARL, Victory Monument (N3), Asok (E4) tersambung dengan skywalk  Terminal 21 Mall, dan Ekkamai (E7) dekat dengan terminal bus ke Pattaya.

 

  1. Mass Rapid Transit (Metro)

    Stasiun bawah tanah Metro (source: http://www.bangkok.com/)

Berbeda dengan BTS yang jalurnya ada di atas tanah (atau lebih tepatnya melayang), MRT di Bangkok memiliki jalur bawah tanah seperti di Singapura.

Bangkok hanya memiliki satu jalur MRT yang menghubungkan Hua Lamphong dan Bang Sue. Meski berbeda jalur, penumpang masih bisa transit ke jalur BTS atau ARL. MRT terhubung dengan BTS Sukhumvit Line di Stasiun Asok dan BTS Silom di Stasiun Sala Daeng. Bagi penumpang yang menuju Bandara Suvarnabhumi dapat naik MRT tujuan Petchaburi kemudian disambung jalan kaki menuju Stasiun Makkasan naik ARL ke bandara.

 

 

  1. Bus kota

Bus di Bangkok

Bagi saya, bus kota di Bangkok adalah moda transportasi yang misterius. Ada bus kota yang penampilannya sangat “tua” seperti Metromini dan bus AC yang mirip seperti bus Patas Damri. Pengalaman pertama naik bus di Bangkok tahun 2013, saya akan menuju ke Golden Mountain. Karena tidak paham Bahasa Thai saya jadi susah mengutarakan tujuan kepada kondektur, pun sebaliknya dia juag kesusahan memahami kalimat yang saya ucapkan. Saya hanya melihat google map selama di bus berjaga-jaga kalau bus sudah dekat dengan lokasi. Begitu hampir tiba, kondektur tidak mau menerima uang yang saya berikan karena dia kira saya kesasar.

Bus tidak memiliki monitor untuk memberi tahu halte mana yang akan dilewati. Jadi, penumpang asing akan sangat kesusahan untuk menjajal bus ini. Tipsnya hanya satu, selalu perhatikan arah jalan bus lewat Google Maps. Ongkos naik bus kota biasa hanya 5-10 baht saja, sedangkan bus AC mulai 15 baht ke atas tergantung jarak yang ditempuh. Mungkin tidak terlalu direkomendasikan naik bus di Bangkok, tapi perlu sesekali “menyasarkan” dan bergabung dengan orang Bangkok.

 

  1. River boat

    Dermaga Maharaj Tha Chang di pinggir Chao Phraya

Ini dia transportasi yang paling unik di Bangkok! Saya salut dengan orang Bangkok yang setiap hari pergi bekerja harus pindah-pindah moda transportasi dari bus kota, BTS, MRT, hingga naik perahu yang melintasi Sungai Chao Praya. Setahu saya memang tidak ada tempat yang benar-benar dilewati oleh semua jenis transportasi atau bahkan hanya ada satu jenis transportasi di suatu daerah. Misalnya daerah Rattanakosin (Grand Palace dan Wat Pho) yang paling mudah dijangkau dengan boat. Ada bus yang lewat tapi ya itu tadi, tidak jelas arahnya (hanya supir, kenek, dan orang Bangkok yang tahu).

Terdapat lima jenis perahu yang melayani rute sepanjang Chao Phraya, dimana setiap perahu ditandai dengan warna bendera yaitu kuning, hijau, biru, oranye, dan tanpa bendera. Bendera biru adalah Tourist Express boat yang berhenti di spot wisata saja dengan tarif 40 baht sekali jalan. Bendera oranye dan perahu tanpa bendera berhenti di hampir semua dermaga dengan ongkos 15 baht sekali jalan. Bendera kuning juga disebut tourist boat tetapi hanya melayani pada saat jam sibuk (pagi dan sore) dengan tarif 20-29 baht. Terakhir adalah bendera hijau yang lebih banyak melayani penumpang pekerja dari bagian utara sungai.

Bagi wisatawan yang hendak menuju destinasi terkenal cukup perhatikan bendera biru dan oranye saja. Perahu tanpa bendera juga hampir sama dengan bendera oranye tetapi hanya beroperasi pada hari kerja. Beberapa dermaga penting tujuan wisata adalah; Central Pier terhubung dengan BTS Saphan Thaksin, Tha Tien (N8) untuk Wat Pho dan Wat Arun, Maharaj Tha Chang (N9) untuk Grand Palace, Phra Arthit (N13) untuk Khaosan dan Thammasat University, serta Wat Rajsingkorn (S3) untuk ke Asiatique.

 

  1. Taksi

Taksi Bangkok (source: http://www.bangkok.com/)

Bagi sebagian budget traveler, taksi mungkin bukan pilihan yang tepat ya? Tapi tidak perlu khawatir karena taksi di Bangkok argonya masih cukup terjangkau. Dengan desain warna taksi yang warna-warni, tidak ada salahnya mencoba naik taksi dan “uji nyali” dengan sopir yang kadang hanya bisa berbahasa Thai. Tarif buka pintu taksi di Bangkok mulai 35 baht atau sekitar Rp 16.000 saja. Argonya bertambah 2-3 baht perkilometer, sedangkan untuk waktu tunggu taksi sebesar 1,25-1,5 baht permenit.

Mengambil taksi bisa jadi pilihan tepat jika sudah terlalu malam dan kemacetan sudah terurai. Pada jam sibuk argo taksi bisa lebih mahal 1,5 kali lipat daripada jam biasa. Masalahnya adalah Bangkok yang tidak pernah tidak macet cukup menguras waktu dan energi. Sebagai contoh dari Platinum Fashion Mall ke Asiatique yang berjarak 11 km, saya merogoh kocek sebanyak 100 baht (Rp 80.000). Harga tersebut sudah termasuk waktu tempuh selama hampir 50 menit karena saya bepergian pada jam sibuk pukul 7 malam.

Mencoba memesan taksi melalui aplikasi, seperti Uber dan Grab,juga menyenangkan dan mudah. Harga yang ditawarkan pun tidak jauh beda dengan taksi konvensional. Hanya saja, kadang aplikasi taksi memberikan banyak diskon kepada pengguna sehingga terlihat lebih murah. Tetapi pada dasarnya tarif taksi konvensional dan modern tidak jauh berbeda.

 

  1. Tuk-tuk

Moda transportasi yang satu ini tidak ada di tempat lain kecuali di Bangkok. Hampir mirip seperti bajaj, tuk-tuk mampu menampung penumpang lebih banyak. Beberapa pengemudi tuktuk yang nekad, bisa membawa hingga 6 penumpang sekali jalan padahal normalnya Cuma 3-4 saja termasuk barang bawaan.

Percaya tidak percaya, ongkos naik tuk-tuk ini lebih mahal daripada naik taksi lho. Misalnya saja saya naik tuk-tuk dari MBK menuju Phaythai. Jika naik taksi saya hanya membayar 50 baht saja, tetapi dengan tuk-tuk malah harus membayar 100 baht. Karena tidak ada tarif resmi, satu-satunya cara adalah menawar ongkosnya kepada pengemudi. Tentu ini adalah hal yang melelahkan ya karena kendala bahasa inggris yang pas-pasan. Tapi tak apa lah, kapan lagi bisa naik tuk-tuk sambil merasakan terpaan angin kencang karena pengemudi yang ngebut?

 

  1. Ojek

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang pengalaman saya naik ojek di Bangkok. Tapi yang jelas, naik ojek sangat efisien waktu dan biaya. Para tukang ojek yang mangkal di daerah-daerah keramaian biasanya sudah punya tarif sendiri. Di beberapa tempat mereka malah sudah menuliskan tarif pasti ke tujuan tertentu. Dari MBK ke Platinum naik ojek saya dikenakan ongkos ojek sebesar 40 baht saja dengan waktu tempuh 3 kali lebih cepat daripada naik taksi. Tidak perlu tawar menawar, langsung saja sebut tujuan maka wuuzzzzz…tukang ojek akan megantarkan kita.

Itu tadi delapan moda transportasi di Bangkok yang pernah saya coba. Semuanya menyenangkan dan membuat saya seolah-olah jadi warga Bangkok. Kendala bahasa mungkin memang masalah tapi justru di situlah seni menikmati negeri yang kita kunjungi.

Advertisements
Categories: Jalan-Jalan, Thailand | Tags: , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

Jalan-Jalan ke Singapura: Pertunjukkan-Pertunjukkan Gratis yang Tak Boleh Dilewatkan

Singapura tak hanya patung singa setengah duyung! Negara yang luasnya hanya sepertujuh Malang ini selalu memiliki daya tarik tersendiri. Dikenal sebagai kota dengan biaya hidup tinggi tak membuat backpacker beranggaran rendah menyiutkan nyalinya. Ada saja hiburan dan pertunjukkan gratis yang ditawarkan oleh negeri LKY.

Sebagai negara serba modern, Singapura tak mau kalah dengan negara-negara maju di belahan dunia lainnya dalam hal pariwisatanya. Beberapa pertunjukkan berikut mungkin saja menjadi destinasi wajib saat mengunjungi Singapura entah itu untuk pertama, kedua, atau kesekiankalinya. Yang paling penting, pertunjukkan  ini gratis!

Wonderful at Marina Bay Sands

Permainan laser warna-warni nan cantik dan megah akan memanjakan mata setiap penontonnya. Pertunjukkan berdurasi sekitar 13 menit ini bercerita tentang kisah hidup manusia sejak lahir hingga tua. Sebuah proyektor akan ditembakkan kepada media air yang disemburkan menyerupai setengah lingkaran dengan iringan melodi lagu “What a Wonderful World” yang menawan. Pertunjukkan ini dapat disaksikan setiap hari pukul 20.00 dan 21.30.

Rute: Naik MRT jalur biru (DT) atau oranye (circle line), turun di Bayfront. Kemudian pilih exit yang menuju promenade atau waterfront. Pertunjukkan diadakan tepat di depan pintu utama The Shopes at Marina. Sebaiknya datang 30 menit sebelum pertunjukkan dimulai agar mendapatkan posisi yang pas untuk menyaksikan.

Crane Dance at Sentosa

Pertunjukkan laser ini mungkin tidak begitu populer seperti Wonderful Marina Bay Sands. Padahal kualitas pertunjukkannya juga tidak kalah memukau. Sesuai dengan namany crane, alat berat yang biasanya digunakan untuk mengangkat kontainer, digunakan sebagai “tokoh utama” angsa yang menari begitu luwesnya. Pertunjukkan bercerita tentang kisah cinta sepasang angsa sejak kecil hingga mereka dewasa. Pertunjukkan ditampilkan setiap hari  Senin, Jumat, Sabtu, Minggu, hari libur dan malam hari libur pukul 21.00 dan dilakukan menghadap ke laut (pertunjukkan dapat ditiadakan tergantung cuaca).

Rute: naik MRT jalur oranye (circle line) atau ungu (NS), turun di Harbor Front. Stasiun Harbor Front terletak di basement mall Vivo City. Naiklah menuju L1 dan cari petunjuk menuju Sentosa Boardwalk, jembatan kayu sepanjang 600 meter yang menghubungkan mall dengan pulau Sentosa. Info terkahir yang saya baca pada Agustus 2015, pengunjung tidak dikenakan biaya (biasanya dikenakan biaya masuk SGD 1) hingga 31 Desember 2015. Sesampainya di pulau Sentosa berbeloklah ke kanan dan ikuti petunjuk ke Crane Dance. Sebagai tambahan,panggung lokas Crane Dance tidak jauh dari Globe Universal Studio Singapore ynag kekinian itu J

Garden Rhapsody at Garden By The Bay

Satu lagi pertunjukkan paling anyar dari Singapura. Menyaksikan supertree yang menjulang tinggi mengerlap-kerlipkan lampu warna-warni yang cantik diiringi alunan musik yang sangat keren. Pertunjukkan berlangsung setip hari pada pukul 19.45 dan 20.45. Sekali jalan setelah menonton pertunjukkan  Wonderful Lasershow, kita bisa langsung menuju Gardens By The Bay.

Rute: sama dengan rute menuju Wonderful MBS. Tetapi pilih exit menuju link atau jembatan bawah tanah menuju Gardens by the bay.

Categories: Jalan-Jalan, Singapura | Tags: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Jalan-Jalan ke Singapura Hari ke-3: Universal Studio Singapore

Ada beberapa teman yang harus pulang pada hari ketiga, Saya sebagai ketua rombongan mengantarkan teman-teman ke Changi Airport. Pesawat mereka akan terbang jam 11.25 jadi paling tidak jam 9 kami sudah sampai di bandara. Penting sekali untuk tiba di bandara dua  jam sebelum keberangkatan, selain mengalokasikan waktu yang cukup untuk cek in, datang lebih awal juga menghindarkan dari ketinggalan pesawat. Pernah ada seorang teman yang ketinggalan pesawat dari Singapura ke Surabaya karena cek in satu jam sebelum berangkat tidak diperbolehkan. Nah, kalau sudah begini tentu akan ada tambahan biaya lagi yang menguras kantong ya.

Kebetulan jam 9 pagi Saya juga ada janji di MRT Changi dengan Ko Budi, warga Indonesia yang tinggal di Singapura. Saya membeli tiket masuk Universal Studio Singapore dari dia dengan harga yang lebih murah. Kalau kita beli langsung di loket USS, harga tiketnya SGD 74, tapi dari Ko Budi Saya mendapat harga SGD 65 saja. Selain tiket USS, Ko Budi ini juga menjual berbagai macam tiket atraksi dengan harga yang lebih murah dari harga normalnya. Jika ingin masuk USS dan atraksi lainnya silakan saja langsung kontak dia melaui facebook disini.

Changi Aiport Terminal 3

Tiket USS sudah ditangan, Saya segera kembali  ke hostel menjemput teman yang lain dan berangkat ke USS bersama-sama. Agar tidak lapar ketika main-main di USS, sebelum berangkat kami membeli makanan di  Unlce Wahyu lagi. Kali ini pilihan kami jatuh pada nasi ayam penyet seharga SGD 5. Kami minta nasinya dibungkus saja karena masih kenyang, rencananya nasi akan kami makan ketika sudah tiba di USS. Alasan kami bawa bekal sederhana saja, karena sepertinya beli makanan di USS mahal-mahal. Untuk mengehemat pengeluaran tidak ada salahnya kan bawa bekal.

Nasi Ayam Penyet SGD 5 di Uncle Wahyu

Nasi Ayam Penyet SGD 5 di Uncle Wahyu

Ada 2 jalur MRT yang menuju ke Sentosa yaitu jalur Circle Line (oranye) dan North South (ungu). Keduanya berhenti di MRT Harbour Front. MRT Harbour Front terletak di bawah Vivo City, pusat perbelanjaaan yang lokasinya berseberangan dengan Pulau Sentosa. Ada beberapa cara menuju Sentosa dari Vivo City. Yang pertama dengan naik monorel Sentosa yang stasiunnya terletak di L3 Vivocity. Seperti sudah Saya ceritakan bahwa untuk naik monorel dan masuk Sentosa kita dikenakan biaya sebesar SGD 4.

Monorel Sentosa (sumber: websire sentsosa island)

Monorel Sentosa (sumber: websire sentsosa island)

Alternatif lainnya untuk sampai ke Sentosa dari Vivo adalah melewati Sentosa Broadwalk yang bisa diakses dari L1 Vivo City, keluar dari MRT Harbour Front cari penunjuk arah menuju ke Broadwalk. Seperti namanya, broadwalk merupakan jembatan yang menghubungkan pulau Singapura dengan Sentosa, dari ujung ke ujung pengunjung berjalan kaki diatas selat sambil menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi. Tidak perlu khawatir lelah berjalan di jembatan sepanjang hampir 1 km ini sebab disepanjang jembatan ada beberapa travelator yang sangat membantu pejalan kaki. Kali ini Saya mencoba melewati broadwalk dan hanya dikenakan biaya SGD 1 saja untuk masuk ke Sentosa. Walaupun terkesan lebih lama waktu tempuh ke Sentosa, berjalan di atas broadwalk ini tidak kalah serunya dengan naik monorel Sentosa.

Broadwalk Sentosa

Broadwalk Sentosa

USS buka dari jam 10 pagi sampai 7 malam pada hari biasa dan sampai jam 8 malam saat akhir pekan atau hari libur. Di pintu masuk USS memang tertulis tidak boleh membawa makan dari luar, namun jika jumlahnya masih wajar untuk dikonsumsi sendiri tidak perlu takut makanannya akan disita oleh petugas. Tiket USS hanya berupa kertas kecil biasa dengan cetakan barcode disalah satu sisinya. Keuntungan membeli dari luar yaitu tidak perlu mengantri di loket USS sebab pada hari-hari tertentu antrian akan sangat panjang. Tips dari Saya, cobalah masuk USS sepagi mungkin kalau bisa sudah siap di depan gerbang USS sebelum jam 10. Jadi ketika gerbang dibuka segera bisa menikmati wahana-wahana seru di USS.

Gerbang Universal Studio Singapore

Gerbang Universal Studio Singapore

USS terbagi menjadi tujuh zona yaitu New York, Hollywood, Sci-Fi City, Far Far Away, Ancient Egypt, dan Lost World. Setiap zona memiliki wahana permainan seru yang harus dicoba. Bagi Saya yang paling menarik sekaligus menantang adalah Transformer Ride di zona Sci-Fi City. Transformer menawarkan sensasi dimana kita menjadi salah autobot yang harus melawan decepticon. Sekitar 10-15 menit kita dibawa naik turun dengan coaster dan layar 4D yang super canggih. Perlu diketahui bahwa wahana ini memang merupakan salah satu wahana favorit pengunjung USS. Worth dying for queuing almost an hour. Selain Transformer Ride masih ada wahana galaktika, roller coaster yang menjadi salah satu ikon di USS. Ada dua macam coaster yaitu werah dan biru. Sayangnya, pada saat berkunjug ke sana wahana galaktika sedang dalam masa perbaikan yang kabarnya hingga pertengahan tahun 2014. Padahal kalau sempat naik wahana ini tentu akan menjadi pengalaman yang pasti mendebarkan.

Pose di depan Sci-Fi City - New York - Galaktika

Pose di depan Sci-Fi City – New York – Galaktika

Selain Transformer Ride beberapa wahana yang juga harus dicoba adalah  wahana Revenge of The Mummy. Wahana ini bercerita tentang kisah Mummy Return dimana kita harus mengambil sebuah buku yang diambil oleh mumi. Hampir sama seperti Transformer Ride, permainan ini merupakan high speed indoor roller coaster yang membawa kita ke dunia yang sama sekali gelap. Permainan ini tidak disarankan bagi mereka yang mempunyai sakit jantung atau penyakit akut lainnya. Di zona New York ada wahana “Light, Camera, Action” yang dirancang langsung oleh sutradara kawakan Hollywood, Steven Spielberg. Kita diajak melihat cara pembuatan efek-efek dahsyat yang sering ditampikan di film Hollywood; angin kencang, badai, api, atau hujan petir semuanya terasa nyata.

Salah satu sudut di New York Zone yang berasa di Brooklyn

Salah satu sudut di New York Zone yang membuat kita serasa di Brooklyn

Saya akan berikan beberapa tips lain yang mungkin bisa berguna saat mengunjungi USS:

  1. Datanglah sepagi mungkin saat gerbang USS baru dibuka jam 10 pagi. Usahakan datang sudah dalam kondisi sarapan dan untuk sedikit berhemat tidak ada salahnya untuk membawa bekal makan siang.
  2. Saat masuk gerbang langsung ambil peta lokasi zona-zona di USS. Hal ini penting untuk memandu lokasi mana yang ingin kita kunjungi terlebih dahulu.
  3. Langsunglah menuju wahana yang paling banyak peminatnya seperti Transformer Ride dan Return of Mummy, biasanya semakin siang antrian akan semakin panjang. Antrian di beberapa wahana bisa mencapai satu jam lebih, oleh karena itu pastikan perut sudah terisi saat akan mengantri permainan.
  4. Membawa tumbler atau tempat minum akan sangat membantu saat berkeliling USS sebab disana terdapat beberapa water tap yang tersebar di beberapa lokasi yang strategis.
  5. Seringlah lihat beberapa pengumuman pertunjukkan yang sedang berlangsung, ini akan berguna untuk mengetahui kapan figur-figur USS (seperti Kungfu Panda, Sesame Street, Mummy, dll) muncul. Jika melewati pertunjukkan segerakan mengantri ikut foto sebab biasanya mereka hanya muncul sehari sekali.
  6. Memakai alas kaki yang  nyaman baik itu sepatu atau sandal. Jika menggunakan sepatu maka harus sedikit repot saat naik wahana Lost World (permainan yang mirip arung jeram di Dufan) karena akan sedikit basah-basahan. Saat mengantri permaian ini ada vending machine  yang menjual ponco. Cobalah menengok ke pintu keluar Lost World untuk mengambil ponco bekas yang banyak diletakkan orang-orang disana.
  7. Jika berkesempatan berkunjung ke USS pada saat akhir pekan, kita bisa menyaksikan pertunjukkan parade penghuni USS setiap pukul 17.30 dan kembang api pada saat USS akan ditutup.
  8. Bagi yang tidak suka mengantri, bisa membeli tiket USS express yang harganya tentu lebih mahal. Dengan tiket ini kita berkesempatan untuk mencoba semua wahana tanpa perlu mengantri sebab ada antrian khusus. Satu orang hanya boleh mencoba satu kali setiap wahana, jika ingin mencoba kembali kita harus mengantri seperti biasa.
  9. Di beberapa wahana ada antrian khusus untuk ”single rider”. Antrian ini akan berguna untuk mereka yang pergi sendiri atau  berdua karena biasanya petugas akan “menyisipkan” kita jika ada bangku yang masih kosong.
Lake Spectacular di USS (source: http://www.rwsentosa.com)

Lake Spectacular di USS (source: http://www.rwsentosa.com)

Saya menghabiskan waktu hampir 9 jam di dalam USS hingga tutup pukul 7 malam. Sebelum pulang Saya menyempatkan untuk beli popcorn yang super lezat di Gareth Popcorn yang juga cocok dijadikan oleh-oleh. Pada saat akan kembali ke Vivo naik monorel ternyata antrian sangat panjang karena orang-orang pulang dalam waktu yang bersamaan, jadilah mengantri hampir 30 menit dibawa halte waterfront. Overall, kegiatan seharian di USS ini sangat menyenangkan dengan harga tiket yang menurut Saya memang sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan. Kami langsung menuju MRT Harbour Front menuju Hotel turun di Little India bersiap-siap untuk pulang keesokan harinya.

Budget hari ke-3

Budget hari ke-3

Categories: Jalan-Jalan, Singapura | Tags: , , , , , , , , , , , , , , | 28 Comments

Jalan-Jalan Ke Singapura Hari ke-2

Rasanya malam berlau begitu cepat, pegal-pegal di kaki masih terasa saat bangun tidur keesokan paginya. Setelah mandi dan beres-beres kasur kami segera sarapan di pantry hostel di lantai bawah. Di Footprints hostel, sarapan disediakan mulai jam 07.30 sampai jam 11.30 setiap harinya. Selain kamar mandi yang bersih dan shower yang sangat kencang, sarapan hostel ini adalah nilai tambah lainnya. Di pantry sudah tersedia sereal beserta susu cair kemasan, roti tawar dengan aneka pilihan selai, serta minuman teh dan kopi. Jangan lupa untuk mencuci sendiri peralatan makan yang digunakan karena di kebanyakan hostel, termasuk di sini, kita harus melakukan beberapa hal secara self service.

Footprints: Kamar dormitory - ruangan lobi - resepsionis - menu sarapan

Footprints: Kamar dormitory – ruangan lobi – resepsionis – menu sarapan

Selesai sarapan kami bergegas untuk melanjutkan jalan-jalan kami di hari kedua. Tujuan pertama hari ini adalah Chinesse Garden yang terletak di sisi barat Singapura di daerah Jurong. Kami menuju stasiun MRT Little India sembari menikmati suasana pagi hari beraroma rempah-rempah khas India yang sangat menyengat. Penjual bunga-bunga untuk puja juga sudah mulai menggelar dagangannya. Kami  berjalan menyusuri Buffalo Road di belakang Tekka Center hingga menemukan sebuah bangunan bercat warna-warni khas India yang unik. Kami menyempatkan untuk foto-foto di dinding bangunan yang merupakan balai pengobatan ini. Setelah melijat hasil fotonya Saya baru sadar bahwa tempat ini pernah digunakan setting foto Asia’s Next Top Model.

Berpose ala Asia's Next Top Model :p

Berpose ala Asia’s Next Top Model :p

Chinese Garden bisa ditempuh dengan naik MRT jalur hijau tapi karena kami naik MRT jalur ungu dari Little India, kami harus pindah jalur di stasiun Outram Park kemudian naik MRT jalur hijau  tujuan Joo Koon. Perjalanan dari Little India hingga ke Chinese Garden membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sesampainya di stasiun MRT Chinesse Garden kita langsung disambut dengan hamparan rumput hijau dan jalan setapak yang menuju ke pintu masuk taman. Tidak ada biaya untuk masuk ke taman yang terbagi menjadi dua bagian: Chinesse Garden dan Japanesse Garden.

Ketika sampai di pintu masuknya kami disambut Pagoda setinggi 8 lantai. Di sini terdapat beberapa taman-taman lainnya yang sangat menarik dijadikan objek foto. Selain dua taman yang tadi Saya sebutkan masih banyak taman-taman lain seperti taman-taman dengan patung tokoh-tokoh Cina, Twin Pagoda, Turtle lake, dan beberapa tempat lainnya. Warna hijau dan penataan taman yang rapi membuat banyak orang tertarik untuk foto pre wedding di sini. Waktu itu sekitar jam 10 siang tapi cuaca sangat  panas. Saran Saya jika ingin berfoto-foto hingga puas datanglah lebih pagi dan jangan lupa membawa payung.

Chinese Garden : Twin Pagoda - Pagoda Utama

Chinese Garden : Twin Pagoda – Pagoda Utama

Perjalanan kami lanjutkan ke Sentosa Island naik MRT jalur hijau ke arah sebaliknya dan transit lagi di Outram Park untuk mengambil jalur ungu yang mengarah ke Vivo City. Dari vivo city kami langsung naik ke L3 menuju stasiun monorail Sentosa. Pada saat tulisan ini dibuat harga tiket masuk ke Sentosa Island menjadi SGD 4 dibandingkan tahun lalu Saya kesana hanya SGD 3 (mungkin tahun depan SGD 5). Ez-link yang kita miliki bisa digunakan untuk masuk dan naik monorel Sentosa, penggunaannya pun sama tinggal di tap ke mesin entry. Bagi yang tidak memiliki Ez-link tetap bisa masuk dengan membeli karcis monorel di konter depan pintu masuk.  Kami turun di stasiun Waterfront, pintu masuk ke beberapa lokasi seperti Universal Studio, SEA Marine, dan kasino. Kami tidak masuk ke USS karena memang niat kami hanya berfoto di depan globe Universal yang terkenal itu. Kami sempat membeli es krim di Candylicious seharga SGD 10 , baru kali ini Saya makan es krim 4 rasa dalam satu cone yang jika dirupiahkan menjadi Rp 93.000. Untung es krimnya enak jadi Saya relakan saja uang Saya berpindah ke mesin  kasirnya.

Masih di Sentosa, kami menuju ke Imbiah dengan berjalan kaki melewati deretan hotel-hotel mewah di Sentosa. Di Imbiah yang bisa dilihat adalah tulisan SENTOSA warna-warni dengan latar patung Merlion setinggi 30 meter yang merupakan patung Merlion tertinggi di Singapura. Di bawah patung tersebut adalah museum asal usul Negara Singapura dan berbagai mitos tentang singa berkepala ikan ini. Bagi yang ingin naik ke mulut singa juga bisa dengan membayar admission fee terlebih dulu tentunya. Kami menyempatkan diri untuk “ngemper” dulu di bawah kanopi karena lumayan capek. Sebenarnya masih ada satu stasiun lagi di Sentosa yaitu Beach Station yang menuju Palawan dan Siloso Beach tapi karena  cuaca yang panas kami tidak melanjutkan perjalanan ke sana.

Resort World Sentosa (courtesy : http://www.wisatasingapura.web.id)

Resort World Sentosa (courtesy : http://www.wisatasingapura.web.id)

Setelah energi sedikit pulih kami kembali keVivo City naik monorel tanpa perlu membayar lagi sebab harga SGD 4 yang kita bayarkan di awal adalah untuk pulang pergi ke Sentosa. Perut sudah mulai lapar ketika sampai di Vivo, kami sempat meliihat-melihat (harga) makanan di Food Republic Vivo. Di pujasera ini tersedia berbagai jenis makanan dengan harga mulai SGD 5. Alih-alih mengirit pengeluaran, kami malah memutuskan untuk menahan lapar sampai di hostel agar kami bisa makan di Uncle Wahyu lagi.

Kami segera menuju ke basement Vivo naik MRT jalur ungu menuju destinasi kami berikutnya, Chinatown. Nah, disinilah bisa mendapatkan pernak-pernik khas Singapura dengan harga yang sangat miring. Promosi yang ditawarkan mulai hiasan 3 for 10 (3 barang seharga SGD 10) hingga gantungan kunci yang paling murah 36 for 10 (36 buah gantungan kunci seharga SGD 10). Murah sekali bukan? Tidak perlu terburu-buru membeli barang-barang tersebut. Telusuri saja dulu semua kios di sini agar bisa mengetahui kios mana yang harganya paling murah. Bagi penggemar tokoh detektif Tin Tin silakan langsung menuju Tin Tin Shop yang kiosnya tidak jauh dari exit A MRT Chinatown. Harus teliti melihat ke kiri karena toko ini tertutup tenda kios lainnya. Jadi, best buy di Chinatown ini memang gantungan kunci seharga SGD 10 untuk 36 buah.

Chinatown di malam hari

Chinatown di malam hari

Puas berbelanja kami kemudian kembali ke hostel untuk meletakkan barang-barang yang sudah terbeli dan segera menuju ke Uncle Wahyu memesan sepiring nasi lemak. Entah karena kami yang sangat lapar atau nasi lemak ini yang enak sekali, nafsu makan kita benar-benar seperti orang tidak makan seharian (tapi memang iya). Hari masih sore dan sangat cerah saat kami selesai makan. Saatnya menghabiskan uang lagi di Bugis Street!

Bugis street merupakan tempat belanja oleh-oleh khas Singapura, hampir sama seperti Chinatown, tapi dengan harga yang sedikit lebih mahal. Sebenarnya tidak  hanya oleh-oleh saja, karena dilantai 2 dan 3 Bugis Street  menjual baju-baju dan item fashion ala Korea yang lucu-lucu. Baju baju yang dijual disini mulai harga SGD 5 dan seterusnya. Tempat ini cocok bagi mereka yang suka berdandan seperti bintang drama korea atau ala boyband dan girlband  yang menjadi tren sekarang ini. kami menghabiskan waktu hingga hampir malam hari disini karena memang sudah tidak ada tujuan lainnya lagi. Beberapa orang teman harus kembali esok hari sehingga mereka memulai packing.

Pengeluaran hari ke-2

Pengeluaran hari ke-2

Categories: Jalan-Jalan, Singapura | Tags: , , , , , , , , , , | 4 Comments

Jalan-Jalan ke Singapura Hari ke-1

Salam jumpa lagi di blog Saya yang kali ini akan mengulas perjalanan ke Singapura pada tanggal 2-5 Oktober 2013. Beberapa hal di tulisan ini bisa menjadi versi up-to-date dari tulisan saya tentang Singapura sebelumnya.

Pesawat Tiger Air (Mandala) yang Saya tumpangi berangkat pukul 07.25 dari Juanda Surabaya menuju Changi Airport di Singapura. Pesawat tiba di Singapura tepat pukul 10.25 mendarat di Terminal 2 yang merupakan terminal untuk pesawat middle class (entah kenapa Tiger tidak mendarat di Terminal 1 untuk pesawat Low Cost Carrier seperti Air Asia).Setelah menyelesaikan urusan imigrasi (dan foto-foto) Saya bersama 5 orang teman lain segera ke arrival hall dan menuju ke stasiun MRT yang terletak di terminal yang sama. Sebagian teman yang hanya menginap tiga hari membeli EZ-Link dan mengisi kartunya sebesar SGD 10. Harga EZ-Link sebesar SGD 12 yang terdiri dari SGD 5 untuk kartu (non-refundable) dan SGD 7 untuk isi kartu. Sehingga nilai kartu menjadi SGD 17 setelah di-top up.

clockwise: Juanda - Changi Airport - Inside Changi Airport

clockwise: Juanda – Changi Airport – Inside Changi Airport

Saya memilih untuk menginap di Footprints Hostel yang terletak didaerah Little India berada ditengah antara stasiun MRT Bugis dan Little India. Hal ini tentunya sangat memudahkan mobilisasi selama di Singapura. Harga permalam untuk 10 bed mixed dorm sebesar SGD 22 (weekday) dan SGD 24 (weekend). Info lengkap mengenai hostel ini silakan klik di http://www.footprintshostel.com.sg/

Tujuan pertama kami adalah Orchard untuk makan siang. Berangkat pukul 3 pagi dari Malang rupanya membuat kami kelaparan sebab tidak sempat sarapan (nasi). Namun belum sampai ke MRT Bugis menuju Orchard kita memutuskan untuk makan diwarung Uncle Wahyu (lokasinya tepat di belakang hostel) yang menyediakan berbagai makanan khas Indonesia. Si pemilik warung ternyata memang orang Indonesia yang sudah menetap di Singapura selama 10 tahun. Warung ini menyediakan makanan yang sangat Jawa seperti ayam penyet, soto mi, tetapi dikombinasikan dengan masakan melayu lainnya. Tanpa pikir dua kali kami langsung saja memesan Nasi Lemak yang super lezat dengan harga yang sangat murah SGD 3.

20131002_131524

Nasi lemak warna hijau super enak dan murah hanya SGD 3.

Di kawasan Orchard sebenarnya tidak ada yang kami tuju selain papan jalan “Orchard” yang terkenal itu. Katanya sih belum ke Singapura kalau belum berfoto di bawah plang tersebut. Orchard ini memang surga belanja bagi mereka yang membawa banyak uang, beragam merk internasional seperti Dior, Channel, Louis Vitton, dan lainnya. Sepanjang jalan Orchard berjejer pusat perbelanjaan mewah seperti ION Orchard, Nge-Ann City, dan Lucky Plaza. Nah di Lucky Plaza inilah banyak kios penjual cinderamata, parfum, kaos-kaos, dan foodcourt. Saya sarankan untuk makan di resto Ayam Penyet Ria yang terletak di lantai 4 Lucky Plaza yang menyediakan makanan halal dengan harga yang terjangkau.  Kami juga sempat mampir ke Kinokuniya Book Store yang berada didalam Nge Ann City. Buat yang suka baca buku-buku berbahasa asing,  Kinokuniya adalah tempat yang sangat cocok.

Orchard Road

Orchard Road

Dari Orchard kita berpindah ke National Museum of Singapore yang berlokasi di area Dhobby Ghaut. Kami kembali ke stasiun Orchard yang terletak di basement ION Orchard mengambil MRT jalur merah menuju ke MRT Dhobby Ghaut. Setelah sempat berputar-putar sana sini mencari lokasinya akhirnya kami menemukan museum ini walaupun harus masuk lewat pintu belakang. Pada saat kembali dari museum kami baru sadar bahwa lokasinya tidak jauh dari MRT Dhobby Ghaut. Seharusnya kami cukup menyusuri jalan di depan stasiun dan menyebrang taman. *sigh*

National Museum of Singapore

National Museum of Singapore (source: Wikipedia)

Menjelang pukul 5 sore kami bergegas menuju ke CBD dan Merlion naik MRT jalur merah menuju MRT Raffles Palace. Di stasiun Raffles Palace jika tujuannya adalah Merlion  maka pilihlah exit A kemudian cari tulisan Battery Road yang letaknya di belakang Fullerton Hotel. Kami melewati Battery Road dulu ke sungai Singapura dimana di lokasi ini terdapat beberapa objek menarik seperti Cavenagh Bridge, Asian Civilization Museum, Raffles Landing Site, dan masih banyak yang lainnya. Cuaca masih cukup terik dan panas saat kami menyusuri sungai yang bermuara di Teluk Marina ini. Jangan lewatkan untuk menikmati sepotong es krim roti yang banyak dijajakan disekitar lokasi, orang-orang biasanya menyebutnya “Uncle Ice Cream”. Harganya pun murah hanya SGD 1 kami menikmati romantisnya sore hari di tepian sungai sambil merasakan dinginnya es krim yang langsung lumer di mulut.

Selanjutnya kami berjalan melewati Esplanade Drive yang menghubungkan Merlion dengan Esplanade, sebuah gedung  yang atapnya berbentuk kulit durian. Esplanade ini adalah gedung pertunjukkan yang dipadukan dengan berbagai macam tempat makan dibeberapa lantainya. Sepanjang Esplanade Drive ini dihiasi oleh warna merah keunguan yang sangat cantik dari bunga bougenvile yang tumbuh disisi kiri jalnana.  Kami langsung menuju ke rooftop Esplanade melihat area CBD dari kejauhan dengan cantiknya. Singapura benar-benar kota yang rapi.

A view from Esplanade rooftop - Eat this "subway"

A view from Esplanade rooftop – Eat this “subway”

Salah satu pertunjukkan gratis yang wajib dicoba adalah pertunjukkan laser dan air mancur di depan Marina Bay Sands (MBS) atau tepatnya di broadwalk The Shopes Marina. Jam 7 tepat kita segera ke stasiun MRT Esplanade jalur oranye ke stasiun Bayfront yang tepat berada di bawah MBS. Pertunjukkan “Wonderful MBS” ini dilaksansakan setiap hari setiap jam 20.00 dan 21.30 jika cuacanya baik. Pertunjukkan ini adalah gabungan pertunjukkan laser dan air mancur yang dipadukan dengan musik orkestra yang menggema. Tak ayal jika penonton pun terpukau menyaksikan pertunjukkan berdurasi 15 menit ini.

Marina Bay Sands ; The Wonderful Show

Pertunjukkan gratis lainnya ada di Gardens by The Bay yang lokasinya tepat di belakang MBS. Gardens By The Bay adalah taman artifisial yang dibuka sejak pertengahan tahun 2012. Di taman ini ada supertree yaitu pohon dengan lampu-lampu cantik dari ujung bawah sampai atasnya. Setiap jam 20.45 ada pertunjukkan lampu-lampu supertree yang memukau. Permainan lampu warna-warni diiringi musik berdurasi sekitar 10 menit.  Selain supertree, di sini ada 2 hutan buatan yang sangat besar dalam gedung kaca. Sayang, untuk masuk ke sana dikenakan admisiion fee sebesar SGD 28.

Jam 9 malam pas, rasanya kaki sudah semakin “gempor” untuk diajak berjalan lagi. Namun karena terlalu bersemangat, kami masih menguatkan diri mampir ke Mustafa Center di Little India. Sepertinya hampir semua barang dijual di sini mulai dari alat tulis, perlengkapan rumah tangga,makanan, mainan, hingga perhiasan  dijual di “toko” yang buka 24 jam ini. berbagai macam gantungan pernak-pernik khas Singapura juga dijual di sini namun dengan harga yang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan Chinatown. Saya rekomendasikan untuk mencoba cokelat merk Alfredo dengan harga SGD 15 per satu kilo. Rasanya yang enak pasti cocok dijadikan oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Dari Mustafa kami kembali ke hotel berjalan kaki selama 10 menit menuju Footprints. Kehebohan hari ini pun ditutup dengan perasaan senang dan kaki yang “mati rasa”. Kami segera beristirahat agar esok hari bisa bangun lebih pagi dan bersiap untuk perjalanan di hari kedua.

Budget hari ke-1

Budget hari ke-1

//

Categories: Jalan-Jalan, Singapura | Tags: , , , , , , , , , , , , , , | 43 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: